Sore hari pun tiba. Acara pernikahan antara Wisnu dan Intan yang diselenggarakan secara sederhana itu akhirnya selesai. Seluruh tamu undangan yang datang pun sudah sepenuhnya meninggalkan kediaman besar Keluarga Kencana. Kini hanya tinggal keluarga Adelia dan Intan saja yang terdiri dari om dan tantenya.
Tepat di ruang keluarga, Ratna terlihat begitu perhatian pada Intan. Entah sengaja atau tidak, di seolah tidak peduli pada keluarga Adelia yang juga bergabung di sana.
"Pokoknya kalau kamu butuh apa-apa jangan sungkan untuk bilang pada Mama ya, Sayang?" ujar Ratna seraya mengelus perut buncit menantu keduanya itu.
"Iya, Ma. Terima kasih," ucap wanita itu malu-malu. Sesekali dia melirik ke arah Adelia yang saat ini lebih banyak diam.
Ratna tersenyum. Tak lupa dia juga meminta Wisnu untuk lebih memperhatikan kondisi sang istri muda yang tengah berbadan dua. Wanita itu bahkan mengatur Wisnu untuk lebih banyak menemani Intan tidur dari pada Adelia.
"Baik Ma, aku akan memerhatikan Intan." Pria itu kemudian menatap sang istri kedua dengan penuh kehangatan. Tangan mereka bahkan saling bertautan seolah tidak memerdulikan keberadaan Adelia.
Akan tetapi, Intan ternyata merasa tidak enak hati. Dia pun menatap sang istri tua dengan raut wajah bersalah. "Samakan saja Ma, Mas. Aku tidak mau Mas Wisnu atau keluarga ini memperlakukan kami tidak adil. Sebab, biar bagaimana pun juga aku adalah orang baru di sini, jadi tidak sepantasnya mendapat perhatian begini besar."
Ratna mengerutkan keningnya. "Oh, baik hati sekali kamu Sayang. Tidak, ini adil kok, Nak, karena kamu itu sedang hamil. Adelia pasti mengerti. Iya, kan, Adelia?" tanya wanita itu seraya menatap Adelia dengan bibir tersenyum penuh arti.
Adelia tahu benar senyum itu hanya senyum palsu yang ditujukan Ratna di hadapan keluarganya.
"Antara istri yang sedang hamil atau tidak, tetap saja seorang suami harus memperlakukan mereka secara adil. Lagi pula jika ditelisik lebih dalam, hati yang terluka lah yang seharusnya membutuhkan perhatian lebih!" Dinda yang tidak tahan dengan pertunjukan Ratna akhirnya buka suara. Wanita itu bahkan menatap sinis Intan.
Mendapati tatapan demikian, Intan tertunduk takut.
Dinda sontak mendecih. Pengalaman hidup merantau di negeri orang selama beberapa tahun dulu, membuat Dinda paham betul bagaimana melihat sisi buruk orang lain. Dan Intan jelas menyembunyikan banyak keburukan yang mungkin saja akan terkuak satu persatu nanti. Sekarang-sekarang Intan mungkin terlihat sangat polos dan baik hati, tetapi lihat saja dalam beberapa waktu kedepan.
Singkat cerita, wanita muda perusak rumah tangga orang itu memiliki kecocokan dengan Ratna. Adelia sungguh malang terjebak di antara mereka.
Ratna yang mendengar perkataan tajam dari Dinda pun membuatnya hampir naik pitam, jika tidak menghormati keberadaan keluarga Intan.
Aini hendak menegur Dinda, karena beliau tidak ingin kembali berselisih seperti tempo hari. Namun, Ratna kembali membuka suara.
"Tahu apa kamu soal ini Dinda? Intan itu membawa nyawa di perutnya jadi wajar saja bila Wisnu lebih memerhatikan Intan. Kamu tidak akan bisa mengerti soal pernikahan seperti ini bila tidak mengalami hal serupa," kata Ratna sengit.
"Oh, maaf Bu Ratna, suamiku bukan pria breengssekk yang langsung mencari wanita lain hanya untuk memenuhi ego keluarganya. Dia pria setia yang selalu mau mendukung dan menutupi kekuranganku! Lihat sekarang! Berkat kesabarannya, kami kini memiliki putri yang sangat cantik dan pintar!"
Semua orang yang berada di ruangan tersebut sontak terdiam. Balasan Dinda benar-benar menohok mereka semua.
"Dinda!"
"Mbak!"
Aini dan Adelia kontan kompak menegur Dinda yang mulai kelewat batas. Aini pun segera meminta maaf pada Ratna yang hendak berdiri dari sofa. Beruntung Wisnu langsung menahan ibunya agar tidak melakukan hal-hal yang dapat membuat keluarga Intan berpikiran buruk.
Demi menghindari pertikaian yang sama, Doni pun mengajak istrinya untuk pulang bersama ibu mereka.
"Terima kasih atas jamuannya, Bapak dan Ibu, kami permisi," ujar Aini. Adelia ikut mengantar mereka keluar rumah.
Selepas kepergian keluarga itu, Ratna pun mulai mengoceh. Dia sepertinya tidak peduli pada opini keluarga Intan. "Dasar orang kampung tidak punya etika! Berani sekali dia berbicara seperti itu pada keluarga terpandang seperti kita. Mereka seharusnya berterima kasih karena putri bungsunya berhasil mengangkat derajat keluarga dengan menikahi Wisnu!" Wajah Ratna sudah sangat memerah karena menahan amarah.
Diam-diam Intan bertukar pandang dengan Mona dan Attan sambil tersenyum sinis.
"Mbak Ratna, sudah Mbak, jangan terlalu emosi. Wajar saja mereka marah ... kami sangat memahami mereka." Mona tiba-tiba beringsut menghampiri Ratna guna menenangkannya.
"Terima kasih, Jeng. Kalian benar-benar keluarga yang baik. Andai saja takdir mempertemukan Intan dan Wisnu lebih dulu," kata Ratna terharu.
"Jangan begitu Mbak, jangan disesali. Adelia adalah menantu yang baik."
"Aku tak butuh baik saja, Jeng, tetapi juga sehat seperti Intan," jawab Ratna. Intan langsung ikut menenangkan Ratna dan memeluk lengannya.
Sementara itu Wisnu meminta izin keluar untuk menghampiri Adelia.
Di luar rumah, Dinda dan Aini nyaris berdebat sengit. Terlebih ketika tahu Wisnu tak kunjung keluar menemui mereka yang hendak pulang.
"Lihat menantu kaya Ibu, mertuanya pulang malah tidak muncul sama sekali!" seru Dinda kesal. Namun, beberapa saat kemudian Wisnu tiba di sana.
"Masih punya muka kamu menemui kami. Aku pikir, kau akan terus berdiri di ketiak ibumu dan tak sudi menemui kami!"
"Mbak, please," ujar Adelia lirih. Sejujurnya dia sudah lelah dengan semua ini.
Wisnu sengaja mengabaikan perkataan sang kakak ipar, dia lebih memilih mencium tangan Aini dan meminta maaf. "Maafkan aku, Bu, maaf," ucap Wisnu.
Aini tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Nak, tidak apa-apa. Hanya saja Ibu minta, tolong perlakukan Adelia sebagaimana mestinya kalian berdua dulu ya? Ibu titip Adelia utuh, jadi tolong jangan sakiti anak ibu lebih dari ini Wisnu." Ada getaran yang kentara terdengar dari suara Aini.
"Iya, Bu. Aku akan berusaha," janji Wisnu. Dia pun beralih pada Doni dan Dinda. Namun, Dinda menepis kasar tangan Wisnu.
Adelia hanya bisa menghela napas pasrah. Setelah wanita itu bersalaman dengan semua keluarganya, mereka pun pergi meninggalkan kediaman ini menggunakan mobil kijang lama yang terparkir di sudut halaman. Itu adalah mobil satu-satunya yang dimiliki keluarga Adelia sejak dulu.
Sepeninggal mereka, Adelia pun memegang tangan Wisnu. Seharian ini mereka berdua memang belum benar-benar bertemu dan berkomunikasi.
"Lelah tidak Mas? Syukur lah ijab tadi berjalan dengan baik. Tidak seperti denganku dulu yang harus mengulang dua kali, kini Mas lancar mengucapkan ijab satu kali saja." Adelia tersenyum tulus. Namun, ketulusan tersebut malah dibalas Wisnu dengan sentakan kasar.
"Seharusnya kamu lebih bisa mengontrol keluargamu, terutama mulut kakakmu itu. Bikin malu saja!"
Adelia terkejut bukan kepalang. Dia hendak mengeluarkan suaranya lagi, tetapi Wisnu sudah keburu pergi meninggalkan tempat.
Tangan Adelia mendadak terasa kebas. Ke mana janji yang baru saja terucap di hadapan ibunya? Hanya dalam waktu kurang dari satu menit saja, Wisnu sudah mengingkarinya.
Adelia dengan cepat mengerjap-erjapkan matanya demi menghindari air mata yang sudah bersiap turun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Ma Em
Adelia sudah tinggalkan Wisnu jangan jadi orang bodoh kamu, kamu sudah tidak diharapkan dikeluarga Wisnu apalagi mertuamu si Ratna mulutnya nyinyir begitu.
2023-11-15
0
Ahmy Putri
adellll...minggat aja
2023-09-28
0