"Tidak!" Hanya itu sepenggal kata yang meluncur dari mulut Wisnu, ketika Adelia mengutarakan niatnya untuk bekerja.
"Kenapa? Aku tidak pernag melarangmu saat hendak melakukan sesuatu, tetapi kamu selalu melarangku. Aku bahkan tidak marah saat ...." Adelia yang terlihat sangat kecewa dengan jawaban suaminya hampir saja kelepasan bicara.
Wisnu mengernyit tak suka. Dia tahu istri tuanya hendak membahas kesalahan yang telah dia perbuat dengan Intan. "Jangan pernah mengungkit hal-hal yang tidak aku inginkan, Adelia! Kau pun punya andil mengapa aku melakukannya!" desis Wisnu sinis.
Adelia terdiam. Nyalinya yang semula terkunpul mendadak hilang tak berbekas. Entah mengapa, Adelia tak pernah bisa membalas sikap menyakitkan Wisnu.
"Kalau begitu, tolong biarkan aku bekerja," pinta Adelia sekali lagi.
Wisnu bergeming sejenak lalu pergi meninggalkannya begitu saja.
Adelia marah dan kecewa. Selalu saja begini, Wisnu selalu saja pergi di tengah-tengah perdebatan mereka, tanpa mau menyelesaikannya terlebih dahulu.
"Mbak Adel?" Tiba-tiba Intan muncul menghampirinya. Wanita itu menyapa Adelia dengan raut biasa, seolah kemarin tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
"Mbak Adel habis bertengkar dengan Mas Wisnu? Tadi kau lihat, Mas Wisnu juga terlihat kesal dan marah?" tanya wanita itu dengan mimik wajah perihatin, padahal dalam hati, dia tengah bersorak kegirangan.
"Tidak ada apa-apa, Intan," jawab Adelia tersenyum. Dia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya pada sang lebah madu.
Mendengar jawaban Adelia, Intan menganggukkan kepala. "Mas Wisnu itu sedang banyak pikiran Mbak. Dia sedang mengkhawatirkan aku yang sedang hamil ini, jadi maaf kalau sikapnya terhadap Mbak sedikit lain. Maklumi saja ya Mbak, biar bagaimana pun ini adalah anak pertama Mas Wisnu."
Entah apa tujuan Intan sebenarnya, dia tiba-tiba membahas hal yang tidak terlalu berkaitan dengan perbincangan mereka saat ini.
Demi menekan perasaan tersinggungnya, Adelia hanya bisa mengangguk dan pamit meninggalkan wanita muda itu.
Intan diam-diam tersenyum sinis, ketika Adelia berbalik pergi dengan langkah gontai.
**********
Malam harinya saat Adelia sedang beristirahat di kamar, tiba-tiba suara gedoran pintu terdengar keras. Itu jelas bukan berasal dari Aminah, melainkan dari sang ibu mertua yang baru saja pulang arisan bersama teman-teman sosialitanya.
"Iya Ma, ada apa?" tanya Adelia begitu mendapati sosok sang ibu mertua berdiri angkuh di luar kamarnya.
"Untuk apa kamu meminta bekerja di luar? Kamu mau mempermalukan Wisnu, agar orang-orang mengira Wisnu tidak mau menafkahi kamu? Apa lagi dia baru saja menikah lagi. Jangan kurang aja kamu, Adelia!" Tanpa basa-basi Ratna langsung menghardik Adelia yang kini hanya bisa termangu di tempat.
Adelia benar-benar lupa, bahwa bukan hanya Wisnu saja yang tidak menyetujuinya bekerja, melainkan sang ibu mertua. Alasannya tentu bukan karena menyayangi Adelia, tetapi karena hal yang baru saja beliau sebutkan tadi.
Lagi pula, pembahasan itu sudah berlalu dan Adelia juga tidak mendesak Wisnu. Lalu mengapa Ratna yang sejak pagi tidak ada di rumah tiba-tiba mengetahui hal tersebut? Padahal mereka hanya mengobrol berdua tanpa seorang pun tahu.
Wanita itu seketika tersentak, ketika mengingat
bahwa Intan juga ada di sana setelah Wisnu pergi.
Wanita muda itu lah yang sudah pasti mengadukan hal tersebut pada Ratna.
"Ma, aku—"
"Pokoknya, ingat ya Adelia, kamu tidak diperkenankan bekerja di luar. Jika kamu mau bekerja, mulai besok kamu akan bekerja membantu para asisten rumah tangga di rumah ini!" Jari telunjuk Ratna yang lentik dan tajam kontan menoyor kening Adelia dua kali.
Adelia mengaduh. "Maksud Mama?" tanyanya sembari meringis.
"Kamu itu benar-benar wanita bodoh ya? Masa begitu saja tidak mengerti! Mulai besok kamu harus membantu mengerjakan tugas rumah!" pekik Ratna.
Adelia terdiam, lalu sedetik kemudian terlonjak kaget saat Ratna meminta persetujuannya.
"Iya, Ma," ucap wanita itu lirih.
Ratna menatap sinis sebelum berlalu dari hadapannya. Saat pergi, Adelia masih bisa mendengar gerutuan sang ibu mertua perihal dirinya yang tidak pernah melakukan sesuatu selama menikah dengan Wisnu.
"Memasak saja tidak becus! Wisnu, kok, apes sekali dapat istri sepertinya!"
Adelia hanya bisa memejamkan matanya demi menahan perih yang kembali melanda batinnya.
...**********...
Alhasil, bukannya karir di luar rumah seperti yang dia inginkan, Adelia harus menerima tugas rumah seperti layaknya asisten rumah tangga.
Dari pagi dia sudah berkutat di dapur untuk membantu menyiapkan sarapan seluruh keluarga suaminya, termasuk Intan. Hal yang biasa dilakukannya sesekali kini harus dilakukan wanita itu setiap hari.
Tak ada satu pun orang yang sudi menanyakan keadaannya, walau itu sang ayah mertua sekali pun. Jangankan menanyakan kondisinya, mengajak Adelia bergabung untuk makan bersama saja tidak.
Alhasil, Adelia mengambil kursi makan paling ujung, jauh dari tempat mereka. Sementara Intan dengan wajah bahagia duduk tepat di sebelah Wisnu, sembari bermanja-manja dengan sang suami. Sekali lagi wanita muda itu mengambil tempatnya.
"Bolehkah Mama ikut? Mama ingin sekali melihat kondisi cucu Mama." Ratna sengaja mengeraskan suaranya saat dia, Wisnu, dan Intan tengah berkumpul bersama di ruang keluarga. Mereka bertiga sedang berbincang soal Intan yang akan melakukan kontrol kehamilan sehari sebelum Wisnu masuk kantor.
Adelia yang sedang sibuk membersihkan perabot di sana, sama sekali tidak bereaksi, kendati telinganya mendengar jelas percakapan tersebut.
"Tentu saja Mama boleh ikut! Mama harus melihat kondisi calon cucu Mama secara langsung," ujar Intan sumringah. Wanita muda itu pun menceritakan bagaimana hati merasa sangat bahagia ketika mendengar degupan jantung sang buah hati pertama kali.
"Meski awalnya takut karena aku harus hamil tanpa menikah, aku tidak bisa memungkiri perasaan bahagia ini," kata Intan dengan mata berkaca-kaca.
Wisnu segera merangkul tubuh sang istri mesra, seraya mengecup keningnya lembut.
"Oh Sayangku, andai saja kamu lebih dulu bertemu dengan Wisnu." Ratna ikut menenangkan Intan dengan mengelus-elus rambut panjangnya.
Adelia yang merasa panas, akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan mereka menuju ke tempat lain.
Tepat di ruang laundry, Adelia menyembunyikan diri sembari menangis sesenggukan. Tangannya dengan perlahan mengusap-ucap perutnya sendiri.
Adelia tidak munafik. Dia hanya manusia biasa yang iri melihat perlakuan suami dan keluarganya terhadap Intan, hanya karena wanita muda itu sedang mengandung pewaris keluarga mereka.
Seharusnya dia lah yang berada di posisi Intan. Seharusnya Intan tidak ada di antara mereka.
Adelia meremas perutnya kuat-kuat, seraya jatuh terduduk. Air matanya terus menganak sungai membasahi pipi wanita malang tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Tri Widayanti
Nangis aja trs dipojokan
2024-08-19
0
Ma Em
bertahanlah Adelia sama mati karena kamukan cinta sama si Wisnu biarkan kamu tahan saja penderitaan kamu jadi wanita kok bodoh banget aku jadi kesel dibuatnya.
2023-11-15
0
Ahmy Putri
kuatkan hatimu adellll
2023-09-28
1