Hari itu pun tiba. Sejak dini hari tadi Adelia sudah sibuk membantu menyiapkan keperluan sang suami, seperti pakaian, sepatu, dan juga keperluan lainnya.
Adelia sendiri lah yang menawarkan diri untuk melakukannya sebagai wujud bakti terakhir menjadi istri satu-satunya.
Wisnu sendiri sebenarnya merasa sangat sakit sekaligus tersinggung melihat betapa tegarnya Adelia menghadapi hari ini. Dia sempat berharap Adelia menampar wajahnya guna meyakinkan diri untuk meninggalkan Intan. Wisnu ingin melihat Adelia memohon untuk selalu menjadikannya istri satu-satunya yang dia miliki.
Akan tetapi, harapan itu tampaknya sirna. Sebab, Adelia memang dianugerahi hati yang lembut. Sejak mengenal Adelia, Wisnu tak pernah sekali pun mendengar bentakannya. Bila marah Adelia akan memilih bungkam dan menangis seorang diri.
"Del," panggil Wisnu ketika dia baru saja selesai mandi.
Adelia dengan telaten menyiapkan air mandi Wisnu dengan menyampurkannya menggunakan rempah-rempah yang dia beli sendiri. Tak hanya itu saja, dia juga turut membersihkan kamar Wisnu dan mengganti pengharum ruangan di sana.
"Iya Mas," jawab Adelia. Senyumnya yang manis membuat jantung Wisnu tiba-tiba berdetak keras.
Apa ini? Mengapa hanya dengan melihat senyuman sang istri bisa membuat pria itu gugup? Padahal jelas-jelas dia tak pernah lagi memiliki perasaan cinta pada Adelia.
Wisnu bahkan lupa kapan terakhir kali jantungnya berdegup kencang hanya dengan menatap wajah cantik Adelia.
Wisnu perlahan berjalan menghampiri wanita itu dan berhenti tepat di hadapannya.
"Ada apa Mas? Air mandinya nyaman, kan? Aku sengaja menyampurkan rempa-rempah agar kamu b—"
"Del!" potong Wisnu. "Maafkan aku."
Adelia tersentak. Wisnu memang pernah mengatakan maaf sebelumnya, tetapi kali ini jelas terdengar berbeda. Belum lagi raut penyesalan yang terpatri di wajah pria itu.
Pertahanan Adelia pun runtuh seketika. Air mata sontak mengalir deras membasahi pipi wanita itu, yang tanpa diduga langsung dihapus oleh tangan besar nan hangat milik Wisnu.
"Jangan menangis," pinta Wisnu.
Adelia mengangguk. "Berbahagialah Mas, insha Allah aku ikhlas," ucapnya dengan suara bergetar.
Wisnu menarik tubuh Adelia dan memeluknya seerat mungkin.
Air mata Adelia semakin deras mengalir. Entah kapan terakhir kali Wisnu melakukannya setulus ini. Kontak fisik yang mereka lakukan pun hanya sekadar memenuhi kebutuhan biologis saja. Adelia tahu itu dan bisa merasakannya.
Wisnu dengan lembut mengelus kepala Adelia dan kembali menggumamkan kata maaf, sebelum akhirnya melepaskan pelukan tersebut dan menggantinya dengan sebuah kecupan panjang nan penuh perasaan.
Adelia terlena. Sebagai wanita normal yang juga masih sangat mencintai suaminya, dia menyambut tindakan Wisnu. Namun, saat tangan Wisnu mulai menuntut lebih, Adelia secara spontan melepaskan diri.
"Ini tidak benar Mas! Besok kamu akan menikah dengan Intan dan malam ini aku menyiapkan segalanya untuk kamu persembahkan pada Intan!" kata Adelia tegas.
"Aku menginginkanmu, Del. Kamu istriku juga dan kita berhak melakukannya meski di malam sebelum pernikahanku sekali pun!"
Adelia menggelengkan kepala. Dia pun buru-buru pamit meninggalkan Wisnu. Namun, pria itu dengan cepat memeluk Adelia dari belakang.
"Del, aku mohon," bisik Wisnu.
Adelia terdiam. Dia sadar dirinya bodoh, tetapi Wisnu tetaplah suaminya. Jadi, sebagai istri seharusnya dia tidak boleh menolak ajakan sang suami.
"Kamu jahat, Mas!"
...**********...
Intan yang ternyata berada di balik pintu kamar Wisnu, sontak mengepalkan tangannya erat, saat mendapati suara-suara dari dalam sana.
Hatinya sakit mengetahui sang suami masih sudi menyentuh istri pertamanya itu, apa lagi di malam sebelum pernikahan mereka. Padahal jelas-jelas pria itu pernah berkata bahwa perasaannya pada Adelia telah hilang. Namun, apa yang terjadi sekarang? Mereka berdua malah mengunci diri di kamar yang akan menjadi kamarnya besok.
"Adelia brrengseekk! Tunggu saja, aku akan membuat Mas Wisnu menendangmu keluar dari keluarga ini! Dia adalah milikku dan selamanya akan begitu!"
...**********...
Tepuk tangan dari para tamu undangan pun bergema memenuhi pekarangan rumah yang telah disulap menjadi tempat akad nikah. Kini, Wisnu dan Intan telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Sebanyak seratus undangan yang terdiri dari keluarga besar dan kerabat paling dekat kedua mempelai, menjadi sakai mata akan kelancaran ijab qobul yang dilakukan Wisnu, termasuk Adelia dan ibunya.
Adelia yang memilih duduk beberapa meter di belakang Wisnu, terlihat tegar menyaksikan acara pernikahan tersebut. Dia tak ingin para tamu undangan mendapati kesedihan di matanya.
Adelia menghapus setitik air mata yang muncul di sudut matanya saat melihat Intan mencium tangan Wisnu dan Wisnu mencium kening Intan.
Di mata Adelia, kedua mempelai terlihat sangat serasi. Aura kebahagiaan mereka bahkan jelas terpancar di wajah masing-masing. Terlebih, Ratna yang sangat berbahagia karena telah memiliki menantu baru yang kini tengah mengandung cucu pertamanya.
Ratna juga tak henti-hentinya memuji kecantikan Intan sebelum acara berlangsung.
Beberapa keluarga dan saudara Wisnu Sebenarnya menyayangkan kelakuan pria itu. Namun, mereka tidak bisa ikut campur dan berharap Adelia bisa tabah menjalani rumah tangga.
Ketika para tamu undangan akhirnya satu persatu mendatangi kedua mempelai itu untuk memberikan selamat, Adelia memilih menepi sendirian di sudut tempat. Wanita itu menatap sekeliling area dan tidak mendapati sosok ayah dan kakaknya di sana. Mereka benar-benar tidak sudi datang padahal dia butuh sandaran selain pada ibunya.
Sang ibu sendiri dengan legowo ikut berbaris menyalami para tamu undangan. Sesekali dia bahkan membantu mengawasi makanan yang akan dihidangkan untuk para tamu.
Saat sedang asyik melamun, tepukan ringan di bahu Adelia tiba-tiba terasa.
Adelia sontak membalikkan badan. Mata teduhnya lantas berkaca-kaca, ketika mendapati sosok sang kakak dan kakak iparnya berdiri tepat di hadapan wanita itu.
"Kenapa sendirian di sini?" tanya Dinda lembut.
Tanpa menghiraukan pertanyaan Dinda, Adelia lamgsung memeluk tubuhnya seerat mungkin. Tak ada tangisan berlebihan, hanya ada setetes air mata yang langsung dihapus oleh Doni agar para tamu undangan tidak melihat jejak-jejak tangisan di wajah sang adik ipar.
Tangan Adelia terangkat ke arah Doni, kakak ipar yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandung laki-laki yang tidak pernah dimiliki Adelia.
Doni menggenggam erat tangan Adelia dan memgelus rambutnya lembut.
"Jangan menangis. Kamu hanya akan membuat wanita itu tertawa!" bisik Dinda tegas. Adelia menganggukkan kepala. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan air matanya lagi.
Dinda pun akhirnya melepaskan pelukannya. "Bapak titip salam saja. Bapak takut tidak kuat melihat acara ini, jadi Tiwi menemani bapak di rumah," kata Dinda kemudian.
"Aku mengerti Mbak. Terima kasih, Mbak dan Mas sudah mau datang kemari," ucap Adelia lirih.
Dinda mengangguk. Sebenarnya dia sama sekali tak berkenan menginjakkan kaki ke tempat ini. Sang suami lah yang mengajaknya agar bisa memberi support untuk adik mereka.
Itu lah mengapa akhirnya Dinda bersedia datang meski sengaja terlambat. Dia tak sudi melihat proses ijab qobul adik iparnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Ma Em
sudahlah Adelia jangan menahan sakit hati kamu lebih baik tinggalkan saja si Wisnu biarkan dia menyesal karena telah menyakiti kamu biarkan dia sekeluarga akan dapat karmanya.
2023-11-15
0
S
lembut tapi bodoh aku gak simpati sama sekali lembut tp cerdas baru tak dukung ini mah di apa apain mau aja kayak batang pisang gak berotak dong.
2023-07-11
1