Bagi Adelia esok adalah hari yang paling menyedihkan dalam hidupnya. Sebab, besok sang suami akan mengucapkan ijab qobul kembali dengan seorang wanita yang akan menjadi madu dalam rumah tangga mereka.
Hingga saat ini Adelia masih berusaha untuk ikhlas, kendati air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipi wanita itu.
Demi menenangkan hatinya, Adelia meminta izin pada sang suami untuk menjemput keluarganya agar bisa menemani dirinya di sana. Namun, Ratna tidak mengizinkan. Akan tetapi berkat bantuan Wisnu, Ratna akhirnya memperbolehkan keluarga Adelia untuk menginap di sana, tetapi hanya ibunya seorang.
Begitu melihat sang ibu turun dari mobil yang menjemputnya, Adelia bergegas memeluk beliau erat. Keduanya saling melepaskan kerinduan setelah hampir satu minggu tidak bertemu.
"Kamu baik, Nak?" tanya Aini seraya memandangi putrinya dari atas ke bawah. "Ya Allah, Nak, kenapa kamu jadi kurusan begini," sambungnya dengan nada perihatin.
Adelia mengembangkan senyumnya. "Tidak, Bu. Aku baik-baik saja dan berat badanku sama sekali tidak berkurang," jawabnya lembut.
Aini sebenarnya ingin membantah, tetapi dia lebih memilih diam saja. Saat ini yang dibutuhkan Adelia adalah dukungan darinya bukan perdebatan tidak penting seperti berat badan.
Adelia pun mengajak Aini ke pekarangan belakang rumah, tempat di mana akad nikah akan dilaksanakan. Kebetulan di sana ada sebuah gazebo besar yang sangat cocok sebagai tempat akad nikah nanti.
Ratna yang tengah asyik mengatur beberapa dekorasi sederhana menyambut kedatangan Aini ramah. Meski sempat bersitegang Ratna berniat untuk berdamai demi kelangsungan acara mereka. Ya, dia lebih takut acara tersebut batal karena ulah keluarga Adelia yang sengaja berbuat onar di hari pernikahan Wisnu dan Intan.
Aini menatap gazebo bercat putih itu dengan tatapan sendu. Ada seutas luka yang tersirat di hatinya jika mengingat nasib putri bungsunya yang akan memiliki madu di pernikahan mereka.
Selain sebagai seorang ibu, sebagai sesama wanita, Aini tentu tahu betapa sakitnya harus berbagi suami dengan wanita lain. Terlebih prosesnya sedemikian menyakitkan ini. Namun, dia amat yakin Adelia akan mampu menjalani semua ini, sebab putrinya adalah wanita yang kuat.
Aini mengalihkan pandangannya pada Adelia yang ternyata juga turut memandangi tempat tersebut.
Sebuah genggaman tangan membuat Adelia tersentak. Ternyata sang ibu lah yang menggenggam tangannya.
"Silakan beristirahat di dalam saja Bu," ujar Ratna yang datang menghampiri mereka. Dia pun meminta Adelia untuk membawa ibunya ke dalam.
Mereka berdua pun segera pergi meninggalkan tempat. Di sana Aini dan Adelia berpapasan dengan Intan yang baru saja keluar dari kamarnya dan Wisnu. Kamar itu sekarang milik mereka berdua.
"Intan, kenalkan ini ibu," sapa Adelia pada wanita hamil itu. Dia pun juga ikut mengenalkan Intan pada beliau.
Aini menatap pintu kamar tersebut. Dia tahu benar bahwa kamar itu adalah kamar Wisnu dan Adelia. Matanya kemudian beralih pada prlerut Intan yang membuncit. Pakaian ketat yang dikenakan Intan membuat bentuk perutnya tercetak jelas.
Intan memang sengaja melakukan itu untuk menyakiti Adelia, si istri pertama yang sangat dia benci.
"Saya Intan, Bu, salam kenal." Intan dengan ramah menyapa ibu Adelia dan memeluknya. Dia pun berpura-pura bersedih di pelukan Aini seraya meminta maaf pada beliau.
"Maafkan saya karena telah hadir di rumah tangga Mbak Adelia ya, Bu? Saya harap, Ibu tidak membenci saya," ucap wanita itu lirih. Padahal tanpa sepengetahuan mereka, bibir Intan tengah tersenyum tipis.
"Yang terjadi biarlah terjadi, sekarang yang penting kamu harus menjaga kondisimu ya, Intan. Ibu do'akan semua kamu dan bayimu selalu sehat."
Mendengar ucapan tulus yang terlontar dari mulut sang ibu, hati Adelia mencelos. Dia sama sekali tidak menyangka, beliau bisa tetap tulus berkata dan mendo'akan wanita yang telah menyakiti putri bungsunya.
Intan melepaskan pelukannya pada Aini. "Aamiin, terima kasih banyak, Bu," jawab Intan yang kemudian berpamitan hendak menemui calon ibu mertuanya di pekarangan belakang rumah.
"Nak, kamu sudah tidak tinggal di kamar itu?" tanya Aini begitu mereka sampai di kamar baru Adelia yang sangat sederhana dan jauh lebih sempit. Luas kamar itu pun tak sampai setengah dari kamarnya dulu.
"Tidak, Bu. Aku yang meminta Intan untuk tinggal di kamar itu karena dia sedang hamil," jawab Adelia berdusta.
"Lalu, mengapa ranjangmu ini hanya cukup untuk satu orang? Memangnya Wisnu tidak akan tidur di sini?" tanya Aini lagi.
Kali ini Adelia terdiam sejenak, sebelum kemudian kembali menjawab, "hanya sementara Bu, sebab aku dan Intan pindah mendadak sekali. Nanti setelah akad aku akan mengganti ranjangnya. Maklum, tempat ini dulu kamar tamu." Sekali lagi Adelia terpaksa berbohong pada sang ibu demi menenangkan hatinya.
Dia tak mungkin berkata keluarga Wisnu sengaja menyiapkan ranjang single, dan dia juga tak ingin berkata kalau kamar tersebut dulunya merupakan gudang yang beralih fungsi menjadi kamar tamu. Bahkan, belum ada satu tamu pun yang tidur di sana.
Tamu-tamu pasti lebih sering diperkenankan tidur di kamar lain, salah satunya adalah kamar yang kemarin sempat ditempati Intan.
Demi mengalihkan perhatian, Adelia pun sengaja membahas hal lain dengan Aini, seperti apa yang saat ini dilakukan keluarganya di rumah.
"Kakakmu kini selalu marah-marah dan menangis. Dia bahkan sempat membentak Tiwi dan melampiaskan kemarahannya pada Mas Doni," jawab sang ibu seraya menggelengkan kepala.
Mendengar itu, Adelia jadi merasa sangat bersalah. "Katakan pada Mbak Dinda, aku baik-saja Bu," ucapnta lirih.
"Sudah, tetapi kamu tahu sendiri bagaimana tabiatnya, kan? Mbakmu juga sudah bilang tidak akan menghadiri acara besok, begitu pula dengan Bapak."
Adelia memejamkan matanya sejenak sebelum membuka kembali. "Katakan Bu, salahkah pilihanku untuk tetap bertahan dengan Mas Wisnu? Bila salah, aku akan mencoba melepaskan diri meski Mas Wisnu tidak berkenan." Air mata mengalir membasahi pipi Adelia setelah mengatakan hal tersebut.
Aini dengan sigap mengusap air mata tersebut. "Soal salah atau tidak, Ibu tidak pantas menilainya Sayang, sebab kamu lah yang lebih tahu dan merasakannya. Ibu hanya bisa berharap, kamu bisa melewati semua ini dengan baik. Yakin lah, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya."
Adelia menggigit bibirnya agar tidak terisak. Melihat itu, Aini segera membawa menuntun sang putri untuk merebahkan kepala di atas pangkuannya.
"Menangislah Nak, menangislah sepuas hatimu. Namun, besok kamu harus menjadi pribadi yang kuat dan bahagia. Jangan membenci suamimu dan istri barunya. Kamu harus tetap menjadi istri yang baik. Layani sebagaimana selama ini kamu melayaninya, jangan pernah berubah. Ya Sayang?" ucap Aini dengan suara bergetar. Tangannya yang mulai ringkih senantiasa mengelus rambut sang putri dengan penuh kasih sayang.
Adelia mengangguk. Detik itu juga tangisnya kembali pecah. Berkali-kali dia hanya mampu memanggil-manggil sang ibu sembari mencengkeram erat rok yang dikenakan beliau.
Ketabahan hati Aini membuat Adelia semakin mencintainya, sebagaimana sang ibu yang juga sangat mencintai dirinya.
Aini pun tak kuasa menahan air matanya. Wanita berusia enam puluh tahunan itu menangis tanpa suara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Wo Lee Meyce
aku jdi sakit kepala dan pingin tuk benturkan kepala si Adel ke tembok biar geger otak sekalian
2023-10-03
2
Ahmy Putri
Adel bodoh
2023-09-28
0
S
Ada tempat yang teduh yang nyaman tp Adel milih di atas bara api klo aku ada di sana tak benturkan kepalanya biar ambyar sekalian.
2023-07-11
1