Hari-hari yang ditunggu Ratna mau pun Wisnu akhirnya tiba. Apa lagi kalau bukan kontrol rutin kehamilan Intan.
Intan yang sebelumnya melakukan pemeriksaan di rumah sakit kecil, kini pindah ke sebuah rumah sakit elit yang biasa menjadi langganan artis-artis dan para pejabat, atas perintah sang ibu mertua. Padahal kepada Adelia saja, dia tidak pernah melakukannya.
Berdalih malu, Ratna justru meminta Adelia melakukan pemeriksaan kesehatan di sebuah rumah sakit kecil yang berada satu jam perjalanan dari rumah.
"Tanaman-tanaman ini sudah harus rapi setelah kami pulang, Del!" titah Ratna kepada sang menantu tertua. Wanita itu menyuruh Adelia untuk membantu pekerjaan tukang kebun mereka pagi ini.
Adelia menganggukkan kepala. Adelia yang kini hanya memakai celana panjang dan kaos rumahan, sembari menenteng ember berisi perkakas kebun, terlihat sangat menyedihkan jika dibandingkan dengan Intan yang tampak modis dan bersinar.
Adelia meraih tangan Ratna untuk menciumnya, dan Ratna buru-buru menarik tangannya sebelum bibir Adelia berhasil menyentuh punggung tangan tersebut.
Sementara Wisnu enggan membalas tatapan Adelia meski sang istri mencium tangannya selembut mungkin.
"Sudah, sana pergi! Ngapain masih di sini? Mau ikut? Yang ada nangis kamu!" celetuk Ratna kasar begitu mendapati Adelia tak kunjung pergi. Padahal wanita itu memang biada menunggu sang suami hingga benar-benar pergi meninggalkan rumah.
Mendengar cemoohan Ratna, Intan tersenyum kecil. Adelia bahkan bisa melihat wanita muda itu tengah meliriknya dengan tatapan yang kurang menyenangkan di hati.
Adelia pun mengalah dan memilih pergi. Tak berapa lama, mobil Wisnu pun beranjak meninggalkan kediaman mereka.
"Ibu beneran mau bantu saya? Tidak usah Bu, biar saya saja. Nanti saya akan bilang kalau Ibu sudah membantu saya." Mang Ujang yang bertugas sebagai tukang kebun rumah ini, merasa tak enak hati saat mengetahui Adelia akan membantu pekerjaannya. Pria berusia 45 tahun itu sebenarnya merasa perihatin dengan perlakuan yang didapatkan Adelia di sini.
"Tidak apa-apa, Mang, hitung-hitung saya belajar berkebun. Tolong dibantu ya Mang, mana-mana saja yang harus saya lakukan," jawab Adelia ramah.
Mang Ujang menganggukkan kepala. Selama hampir lima menit pria itu menjelaskan secara singkat bagaimana cara Adelia memotong daun-daun atau tangkai tanaman yang telah mati, juga menanam bibit-bibit baru di rumah kaca kecil milik sang ibu mertua.
...**********...
Intan tak bisa menutupi kekagumannya kala gadis itu menginjakkan kaki di rumah sakit mewah tersebut. Bahkan dia tak perlu repot-repot mengantri panjang seperti yang dilakukannya di rumah sakit sebelumnya.
Setelah mendaftar, Intan, Wisnu, dan Ratna langsung naik ke lantai tiga gedung menuju ruang praktek Dokter Kusuma, dokter kandungan terbaik dan termahal di rumah sakit ini.
Kursi tunggu yang ada di luar ruangan sang dokter hanya ada tiga pasien ibu-ibu dengan penampilan glamour khas orang kaya.
Intan tersentak, ketika mendapati tangan Wisnu dingin saat tak sengaja bersentuhan dengannya.
"Mas, kamu kenapa? Tanganmu dingin sekali," ujar Intan.
Wisnu terdiam sejenak. "Aku ... gugup."
Mendengar itu, Intan tertawa kecil. Dia maklum mendapati reaksi demikian dari sang suami, sebab pria itu tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.
Ratna yang duduk di sisi lain Intan pun juga mengatakan demikian. "Setelah sepuluh tahun akhirnya Mama diberi kesempatan untuk ikut melihat perkembangan cucu Mama," ujar Ratna dengan mata berkaca-kaca.
Intan langsung memeluk tubuh mertuanya lembut.
"Sehat selalu sampai melahirkan ya Nak, hanya anakmu lah yang bisa meneruskan tahta keluarga kencana," kata Ratna di sela-sela isak tangisnya.
"Iya, Ma, aku pasti akan menjaga anak ini sekuat tenaga!" jawab Intan yakin.
"Jangan hanya anakmu, tetapi kamu juga."
Intan yang masih berpelukan dengan Ratna pun menganggukkan kepalanya. Tak ada satu orang pun yang menyadari, raut wajah misterius Intan saat ini.
Setelah menunggu beberapa saat, perawat pun memanggil nama Intan.
"Selamat pagi, Nyonya Kencana," sapa dokter Kusuma yang ternyata merupakan dokter berusia hampir enam puluh tahun dengan sederet gelar pendidikan medis baik dalam mau pun luar negeri.
"Pagi, dok," jawab Intan. Wanita itu tak kalah gugup dengan semua penanganan dan penampilan berkelas sang dokter mau pun perawat rumah sakit.
Mereka berempat pun berbincang sejenak mengenai buku kehamilan yang Intan dapatkan dari rumah sakit sebelumnya.
"Bagus, semua bagus. Saat ini usianya memasuki minggu ke-sembilan belas, mari kita lihat perkembangannya." Dokter Kusuma kemudian meminta salah seorang perawat yang mendampinginya untuk membantu Intan berbaring di ranjang guna melakukan USG empat dimensi.
Begitu mendengar denyut jantung sang bayi, Wisnu dan Ratna tak berhenti mengucapkan syukur sembari menitikkan air mata. Terlebih ketika mengetahui bahwa bayi yang dikandung Intan adalah bayi laki-laki.
Tanpa malu, Ratna bahkan dengan gamblang menceritakan pada Dokter Kusuma bahwa ini adalah cucu pertamanya yang dia nantikan selama sepuluh tahun dari istri kedua sang putra. Ratna juga menceritakan bagaimana pengobatan yang dilakukan Adelia selama bertahun-tahun tetapi tidak pernah membuahkan hasil.
"Ahh, begitu rupanya. Kalau memang mau, coba saja menantu pertama Anda dibawa ke sini agar bisa saya periksa. Siapa tahu memang ada sesuatu yang terlewat, walau pun sebenarnya mustahil. Sebab, saya yakin dokter yang menangani menantu Anda juga pasti sangat kompeten." Demi menghormati cerita Ratna, Dokter Kusuma menawarkan diri untuk membantu memeriksa kondisi Adelia.
Ratna sontak menggelengkan kepala. "Tidak perlu, Dok, saya tahu benar hal itu akan sia-sia. Lagi pula, bagi saya sudah tidak penting lagi, karena sekarang saya memiliki menantu lain yang sehat."
Dokter Kusuma hanya bisa menyunggingkan senyum saat mendengar jawaban Ratna, meski dalam hati dia menyayangkan sikap wanita itu. Namun, sebagai dokter profesional, beliau tak berhak ikut campur urusan pribadi pasiennya.
Setelah selesai melakukan USG, sang dokter kemudian menuliskan beberapa resep vitamin untuk dikonsumsi rutin oleh Intan.
"Terima kasih, Dok," ucap Wisnu dengan wajah sumringah, diikuti oleh Intan dan Ratna.
"Sama-sama," jawab sang dokter. Ketiganya pun pergi ke lantai satu untuk menebus vitamin yang telah diresepkan.
Selagi menunggu, Wisnu terus menerus menggenggam tangan kanan Intan seraya menciumnya sesekali.
Hal itu tentu saja membuat Intan merasa senang. "Mas, malu dilihat orang! Ada Mama juga, ih!" desis Intan pura-pura marah.
"Biarkan saja! Biar mereka semua melihat, bahwa aku saat ini sedang bahagia karena kehamilan istriku," jawab Wisnu. Pria tampan berhidung mancung itu kemudian menurunkan kepalanya ke perut Intan dan menciumnya lembut.
"Tumbuh lah dengan sehat dan sempurna, jagoan Daddy," bisik Wisnu lirih.
Ratna kembali berkaca-kaca melihat putra kesayangannya seemosional itu. Setelah penantian panjang selama sepuluh tahun, akhirnya dia bisa merasakan bagaimana indahnya menjadi seorang ayah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
S
Humm..bekum tentu juga itu milik wisnu siapa tahu justru wisnulah yg bermasalah.Bisa jadi penyesalan yg seumur hidup nantinya.
2023-07-11
1
Rosnelli Sihombing S Rosnelli
periksa wisnu siapa tau spermanya tak ada yg bagus jangan senang dulu kau anjing
2023-07-06
0