Bab 13. USG (Ultrasonografi).

Hari-hari yang ditunggu Ratna mau pun Wisnu akhirnya tiba. Apa lagi kalau bukan kontrol rutin kehamilan Intan.

Intan yang sebelumnya melakukan pemeriksaan di rumah sakit kecil, kini pindah ke sebuah rumah sakit elit yang biasa menjadi langganan artis-artis dan para pejabat, atas perintah sang ibu mertua. Padahal kepada Adelia saja, dia tidak pernah melakukannya.

Berdalih malu, Ratna justru meminta Adelia melakukan pemeriksaan kesehatan di sebuah rumah sakit kecil yang berada satu jam perjalanan dari rumah.

"Tanaman-tanaman ini sudah harus rapi setelah kami pulang, Del!" titah Ratna kepada sang menantu tertua. Wanita itu menyuruh Adelia untuk membantu pekerjaan tukang kebun mereka pagi ini.

Adelia menganggukkan kepala. Adelia yang kini hanya memakai celana panjang dan kaos rumahan, sembari menenteng ember berisi perkakas kebun, terlihat sangat menyedihkan jika dibandingkan dengan Intan yang tampak modis dan bersinar.

Adelia meraih tangan Ratna untuk menciumnya, dan Ratna buru-buru menarik tangannya sebelum bibir Adelia berhasil menyentuh punggung tangan tersebut.

Sementara Wisnu enggan membalas tatapan Adelia meski sang istri mencium tangannya selembut mungkin.

"Sudah, sana pergi! Ngapain masih di sini? Mau ikut? Yang ada nangis kamu!" celetuk Ratna kasar begitu mendapati Adelia tak kunjung pergi. Padahal wanita itu memang biada menunggu sang suami hingga benar-benar pergi meninggalkan rumah.

Mendengar cemoohan Ratna, Intan tersenyum kecil. Adelia bahkan bisa melihat wanita muda itu tengah meliriknya dengan tatapan yang kurang menyenangkan di hati.

Adelia pun mengalah dan memilih pergi. Tak berapa lama, mobil Wisnu pun beranjak meninggalkan kediaman mereka.

"Ibu beneran mau bantu saya? Tidak usah Bu, biar saya saja. Nanti saya akan bilang kalau Ibu sudah membantu saya." Mang Ujang yang bertugas sebagai tukang kebun rumah ini, merasa tak enak hati saat mengetahui Adelia akan membantu pekerjaannya. Pria berusia 45 tahun itu sebenarnya merasa perihatin dengan perlakuan yang didapatkan Adelia di sini.

"Tidak apa-apa, Mang, hitung-hitung saya belajar berkebun. Tolong dibantu ya Mang, mana-mana saja yang harus saya lakukan," jawab Adelia ramah.

Mang Ujang menganggukkan kepala. Selama hampir lima menit pria itu menjelaskan secara singkat bagaimana cara Adelia memotong daun-daun atau tangkai tanaman yang telah mati, juga menanam bibit-bibit baru di rumah kaca kecil milik sang ibu mertua.

...**********...

Intan tak bisa menutupi kekagumannya kala gadis itu menginjakkan kaki di rumah sakit mewah tersebut. Bahkan dia tak perlu repot-repot mengantri panjang seperti yang dilakukannya di rumah sakit sebelumnya.

Setelah mendaftar, Intan, Wisnu, dan Ratna langsung naik ke lantai tiga gedung menuju ruang praktek Dokter Kusuma, dokter kandungan terbaik dan termahal di rumah sakit ini.

Kursi tunggu yang ada di luar ruangan sang dokter hanya ada tiga pasien ibu-ibu dengan penampilan glamour khas orang kaya.

Intan tersentak, ketika mendapati tangan Wisnu dingin saat tak sengaja bersentuhan dengannya.

"Mas, kamu kenapa? Tanganmu dingin sekali," ujar Intan.

Wisnu terdiam sejenak. "Aku ... gugup."

Mendengar itu, Intan tertawa kecil. Dia maklum mendapati reaksi demikian dari sang suami, sebab pria itu tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

Ratna yang duduk di sisi lain Intan pun juga mengatakan demikian. "Setelah sepuluh tahun akhirnya Mama diberi kesempatan untuk ikut melihat perkembangan cucu Mama," ujar Ratna dengan mata berkaca-kaca.

Intan langsung memeluk tubuh mertuanya lembut.

"Sehat selalu sampai melahirkan ya Nak, hanya anakmu lah yang bisa meneruskan tahta keluarga kencana," kata Ratna di sela-sela isak tangisnya.

"Iya, Ma, aku pasti akan menjaga anak ini sekuat tenaga!" jawab Intan yakin.

"Jangan hanya anakmu, tetapi kamu juga."

Intan yang masih berpelukan dengan Ratna pun menganggukkan kepalanya. Tak ada satu orang pun yang menyadari, raut wajah misterius Intan saat ini.

Setelah menunggu beberapa saat, perawat pun memanggil nama Intan.

"Selamat pagi, Nyonya Kencana," sapa dokter Kusuma yang ternyata merupakan dokter berusia hampir enam puluh tahun dengan sederet gelar pendidikan medis baik dalam mau pun luar negeri.

"Pagi, dok," jawab Intan. Wanita itu tak kalah gugup dengan semua penanganan dan penampilan berkelas sang dokter mau pun perawat rumah sakit.

Mereka berempat pun berbincang sejenak mengenai buku kehamilan yang Intan dapatkan dari rumah sakit sebelumnya.

"Bagus, semua bagus. Saat ini usianya memasuki minggu ke-sembilan belas, mari kita lihat perkembangannya." Dokter Kusuma kemudian meminta salah seorang perawat yang mendampinginya untuk membantu Intan berbaring di ranjang guna melakukan USG empat dimensi.

Begitu mendengar denyut jantung sang bayi, Wisnu dan Ratna tak berhenti mengucapkan syukur sembari menitikkan air mata. Terlebih ketika mengetahui bahwa bayi yang dikandung Intan adalah bayi laki-laki.

Tanpa malu, Ratna bahkan dengan gamblang menceritakan pada Dokter Kusuma bahwa ini adalah cucu pertamanya yang dia nantikan selama sepuluh tahun dari istri kedua sang putra. Ratna juga menceritakan bagaimana pengobatan yang dilakukan Adelia selama bertahun-tahun tetapi tidak pernah membuahkan hasil.

"Ahh, begitu rupanya. Kalau memang mau, coba saja menantu pertama Anda dibawa ke sini agar bisa saya periksa. Siapa tahu memang ada sesuatu yang terlewat, walau pun sebenarnya mustahil. Sebab, saya yakin dokter yang menangani menantu Anda juga pasti sangat kompeten." Demi menghormati cerita Ratna, Dokter Kusuma menawarkan diri untuk membantu memeriksa kondisi Adelia.

Ratna sontak menggelengkan kepala. "Tidak perlu, Dok, saya tahu benar hal itu akan sia-sia. Lagi pula, bagi saya sudah tidak penting lagi, karena sekarang saya memiliki menantu lain yang sehat."

Dokter Kusuma hanya bisa menyunggingkan senyum saat mendengar jawaban Ratna, meski dalam hati dia menyayangkan sikap wanita itu. Namun, sebagai dokter profesional, beliau tak berhak ikut campur urusan pribadi pasiennya.

Setelah selesai melakukan USG, sang dokter kemudian menuliskan beberapa resep vitamin untuk dikonsumsi rutin oleh Intan.

"Terima kasih, Dok," ucap Wisnu dengan wajah sumringah, diikuti oleh Intan dan Ratna.

"Sama-sama," jawab sang dokter. Ketiganya pun pergi ke lantai satu untuk menebus vitamin yang telah diresepkan.

Selagi menunggu, Wisnu terus menerus menggenggam tangan kanan Intan seraya menciumnya sesekali.

Hal itu tentu saja membuat Intan merasa senang. "Mas, malu dilihat orang! Ada Mama juga, ih!" desis Intan pura-pura marah.

"Biarkan saja! Biar mereka semua melihat, bahwa aku saat ini sedang bahagia karena kehamilan istriku," jawab Wisnu. Pria tampan berhidung mancung itu kemudian menurunkan kepalanya ke perut Intan dan menciumnya lembut.

"Tumbuh lah dengan sehat dan sempurna, jagoan Daddy," bisik Wisnu lirih.

Ratna kembali berkaca-kaca melihat putra kesayangannya seemosional itu. Setelah penantian panjang selama sepuluh tahun, akhirnya dia bisa merasakan bagaimana indahnya menjadi seorang ayah.

Terpopuler

Comments

S

S

Humm..bekum tentu juga itu milik wisnu siapa tahu justru wisnulah yg bermasalah.Bisa jadi penyesalan yg seumur hidup nantinya.

2023-07-11

1

Rosnelli Sihombing S Rosnelli

Rosnelli Sihombing S Rosnelli

periksa wisnu siapa tau spermanya tak ada yg bagus jangan senang dulu kau anjing

2023-07-06

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Adelia Cempaka Maharani.
2 Bab 2. Perlakuan Wisnu.
3 Bab 3. Fakta menyakitkan.
4 Bab 4. Sebuah pilihan untuk Adelia.
5 Bab 5. Menjelang Pernikahan Wisnu dan Intan.
6 Bab 6. Kasih sayang seorang ibu.
7 Bab 7. SAH!
8 Bab 8. Sang kakak yang selalu menjadi pembela.
9 Bab 9. Tuduhan Intan.
10 Bab 10. Ratna mengambil sikap.
11 Bab 11. Barang penuh kenangan yang terbuang.
12 Bab 12. Istri rasa asisten rumah tangga.
13 Bab 13. USG (Ultrasonografi).
14 Bab 14. Ratna murka.
15 Bab 15. Bahagiamu bukan karena aku.
16 Bab 16. Perasaan Wisnu yang tidak menentu.
17 Bab 17. Kehangatan keluarga yang dirindukan Adelia.
18 Bab 18. Mona dan Intan.
19 Bab 19. Pertemuan tak terduga Intan.
20 Bab 20. Kerinduankah?
21 Bab 21. Perpustakaan.
22 Bab 22. Niat terselubung Intan.
23 Bab 23. Kepalsuan Intan.
24 Bab 24. Hariadi mulai gerah.
25 Bab 25. Tawaran Hariadi.
26 Bab 26. Ingatan Adelia.
27 Bab 27. Ultrasonografi.
28 Bab 28. Intan pendarahan.
29 Bab 29. Tekad bulat Adelia.
30 Bab 30. Kehadiran Steve.
31 Bab 31. Pencarian Adelia.
32 Bab 32. Keributan antara Wisnu dan keluarga sang mertua.
33 Bab 33. Kepedulian sang ayah mertua.
34 Bab 34. Keadaan rumah.
35 Bab 35. Polemik Intan dan Attan.
36 Bab 36. Ketakutan Intan dan satu fakta terkuak.
37 Bab 37. Sikap Alex.
38 Bab 38. Batas.
39 Bab 39. Pertemuan mengejutkan.
40 Bab 40. Pertengkaran.
41 Bab 41. Sikap tegas Hariadi.
42 Bab 42. Tudingan Wisnu dan Ketegasan Adelia.
43 Bab 43. Ketakutan Intan.
44 Bab 44. Gugatan.
45 Bab 45. Keributan besar di rumah keluarga Adelia.
46 Bab 46. Pertemuan Steve dan Adelia.
47 Bab 47. Steve harus beradaptasi.
48 Bab 48: Putusan Cerai.
49 Bab 49. Merayakan kehidupan baru.
50 Bab 50. Kemarahan Wisnu dan penantian Alex.
51 Bab 51. Kehadiran Intan di kantor.
52 Bab 52: Amarah Wisnu dan kekesalan Ratna.
53 Bab 53: Berita perceraian.
54 Bab 54: Pertemuan pertama Steve dan Wisnu.
55 Bab 55: Pertemuan Adelia dan Wisnu setelah perceraian.
56 Bab 56: Ajakan Steve.
57 Bab 57: Pesta perusahaan.
58 Bab 58: Terkuak.
59 Bab 59: Berusaha mempertahankan kepercayaan.
60 Bab 60: Steve dan Adelia.
61 Bab 61. Azoospermia.
62 Bab 62. Rencana jahat yang tidak pernah terealisasi.
63 Bab 63: Hyacint.
64 64. Akhir Kisah.
65 PENGUMUMAN.
66 Bab 1 (Season 2): Belum ingin memulai.
67 Bab 2 (Season 2): Kehadiran masa lalu.
68 Bab 3 (Season 2): Kesialan Wisnu.
69 Bab 4 (Season 2): Kehadiran Carla di kantor.
70 Bab 5 (Season 2): Cemburu?
71 Bab 6 (Season 2): Peringatan.
72 Bab 7 (Season 2): Pertemuan kembali.
73 Bab 8 (Season 2): Alex memberanikan diri.
74 Bab 9 (Season 2): Pencarian Steven berakhir.
75 Bab 10 (Season 2): Perpisahan (lagi).
76 Bab 11 (Season 2): Akhir kisah (lembaran baru).
77 Extra Part.
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Bab 1. Adelia Cempaka Maharani.
2
Bab 2. Perlakuan Wisnu.
3
Bab 3. Fakta menyakitkan.
4
Bab 4. Sebuah pilihan untuk Adelia.
5
Bab 5. Menjelang Pernikahan Wisnu dan Intan.
6
Bab 6. Kasih sayang seorang ibu.
7
Bab 7. SAH!
8
Bab 8. Sang kakak yang selalu menjadi pembela.
9
Bab 9. Tuduhan Intan.
10
Bab 10. Ratna mengambil sikap.
11
Bab 11. Barang penuh kenangan yang terbuang.
12
Bab 12. Istri rasa asisten rumah tangga.
13
Bab 13. USG (Ultrasonografi).
14
Bab 14. Ratna murka.
15
Bab 15. Bahagiamu bukan karena aku.
16
Bab 16. Perasaan Wisnu yang tidak menentu.
17
Bab 17. Kehangatan keluarga yang dirindukan Adelia.
18
Bab 18. Mona dan Intan.
19
Bab 19. Pertemuan tak terduga Intan.
20
Bab 20. Kerinduankah?
21
Bab 21. Perpustakaan.
22
Bab 22. Niat terselubung Intan.
23
Bab 23. Kepalsuan Intan.
24
Bab 24. Hariadi mulai gerah.
25
Bab 25. Tawaran Hariadi.
26
Bab 26. Ingatan Adelia.
27
Bab 27. Ultrasonografi.
28
Bab 28. Intan pendarahan.
29
Bab 29. Tekad bulat Adelia.
30
Bab 30. Kehadiran Steve.
31
Bab 31. Pencarian Adelia.
32
Bab 32. Keributan antara Wisnu dan keluarga sang mertua.
33
Bab 33. Kepedulian sang ayah mertua.
34
Bab 34. Keadaan rumah.
35
Bab 35. Polemik Intan dan Attan.
36
Bab 36. Ketakutan Intan dan satu fakta terkuak.
37
Bab 37. Sikap Alex.
38
Bab 38. Batas.
39
Bab 39. Pertemuan mengejutkan.
40
Bab 40. Pertengkaran.
41
Bab 41. Sikap tegas Hariadi.
42
Bab 42. Tudingan Wisnu dan Ketegasan Adelia.
43
Bab 43. Ketakutan Intan.
44
Bab 44. Gugatan.
45
Bab 45. Keributan besar di rumah keluarga Adelia.
46
Bab 46. Pertemuan Steve dan Adelia.
47
Bab 47. Steve harus beradaptasi.
48
Bab 48: Putusan Cerai.
49
Bab 49. Merayakan kehidupan baru.
50
Bab 50. Kemarahan Wisnu dan penantian Alex.
51
Bab 51. Kehadiran Intan di kantor.
52
Bab 52: Amarah Wisnu dan kekesalan Ratna.
53
Bab 53: Berita perceraian.
54
Bab 54: Pertemuan pertama Steve dan Wisnu.
55
Bab 55: Pertemuan Adelia dan Wisnu setelah perceraian.
56
Bab 56: Ajakan Steve.
57
Bab 57: Pesta perusahaan.
58
Bab 58: Terkuak.
59
Bab 59: Berusaha mempertahankan kepercayaan.
60
Bab 60: Steve dan Adelia.
61
Bab 61. Azoospermia.
62
Bab 62. Rencana jahat yang tidak pernah terealisasi.
63
Bab 63: Hyacint.
64
64. Akhir Kisah.
65
PENGUMUMAN.
66
Bab 1 (Season 2): Belum ingin memulai.
67
Bab 2 (Season 2): Kehadiran masa lalu.
68
Bab 3 (Season 2): Kesialan Wisnu.
69
Bab 4 (Season 2): Kehadiran Carla di kantor.
70
Bab 5 (Season 2): Cemburu?
71
Bab 6 (Season 2): Peringatan.
72
Bab 7 (Season 2): Pertemuan kembali.
73
Bab 8 (Season 2): Alex memberanikan diri.
74
Bab 9 (Season 2): Pencarian Steven berakhir.
75
Bab 10 (Season 2): Perpisahan (lagi).
76
Bab 11 (Season 2): Akhir kisah (lembaran baru).
77
Extra Part.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!