Air mata sontak menggenang dan mengaburkan penglihatan Adelia. "Mas," ucapnya lirih.
Sementara itu tangisan Intan masih terus terdengar memilukan, meski Ratna telah berusaha menenangkannya.
"Aku memang belum meminum teh itu. Aku menangis juga bukan sepenuhnya karena teh yang dibuat Mbak Adelia, melainkan karena Mbak Adelia sendiri yang sudah kuanggap sebagai kakak, tega melakukannya. Padahal aku ingin sekali membangun hubungan baik dengan Mbak Adelia. Namun, kalau begini aku bahkan jadi takut untuk tinggal di tempat ini."
Ratna seketika panik begitu mendengar pernyataan dari Intan. Bagaimana tidak, sejak dulu dia tidak pernah berpisah dengan Wisnu, dan wanita itu terancam akan 'kehilangan' putranya karena ulah menantu tertuanya yang tidak tahu diri seperti Adelia.
"ADELIA!" teriak Ratna keras seraya melangkah lebar menghampirinya. Sedetik kemudian suara tamparan pun terdengar memenuhi setiap sudut ruangan.
"MA!" Hariadi sontak membentak Ratna. "Jangan keterlaluan kamu, Ma! Adelia jelas-jelas telah berkata jujur, dan kita tahu sendiri seperti apa Adelia selama ini!" sambungnya.
Ratna memiringkan bibirnya dan menatap sinis sang suami. "Oh, jadi Papa membela wanita mandul itu! Asal Papa tahu ya, tidak semua orang baik itu akan terlihat baik selamanya. Justru bisa saja ini lah sifat asli Adelia. Licik dan jahat!" seru Ratna tak mau kalah. Keduanya berdebat sengit selama beberapa saat, sebelum kemudian Hariadi meminta mereka untuk menyaksikan CCTV yang terpasang di sana.
Mengetahui ada kamera CCTV yang terpasang di rumah mewah tersebut, Intan mendadak pucat pasi. Wajahnya terlihat sedikit panik. Tangisannya pun tiba-tiba berhenti.
"Sudah Pa, Ma, aku sudah tidak apa-apa. Mbak Adelia mungkin tidak sengaja. Aku sudah memaafkannya," sergah Intan.
"Tidak bisa Sayang. Benar kata papa, kita harus melihat CCTV untuk tahu kebenarannya sekaligus membuktikan pada papa seperti apa menantunya yang satu lagi!" Ratna buka suara.
Intan semakin panik. Terlebih ketika Wisnu menyetujui usul mereka.
Hariadi pun akhirnya memanggil Pak Tono, kepala keamanan rumah mereka.
Selagi menunggu kedatangan sang kepala keamanan, Intan tiba-tiba memegangi perutnya.
"Ada apa Sayang?" tanya Wisnu khawatir.
"Badan aku tiba-tiba tidak enak Mas. Aku mual sekali!" jawab Intan sembari meringis.
"Ayo, kita ke kamar! Kamu harus beristirahat." Saat hendak memapah sang istri, Pak Toni pun tiba di dalam rumah.
"Pak, tolong saya untuk memperlihatkan rekaman CCTV di ruangan ini pagi tadi," pinta Hariadi.
Tono seketika meringis. "Maaf, Pak, beberapa CCTV di rumah sedang mengalami gangguan. Bahkan ada juga yan mati total ... salah satunya adalah CCTV di tempat ini. Sampai sekarang saya masih menunggu teknisi selesai memperbaikinya baru setelah itu memberitahu Anda."
Hariadi terkejut. "Kalau begitu rekaman-rekaman tersebut masih bisa dilihat, kan?"
"Sayangnya tidak Pak. Semua rekaman CCTV akan hilang dan terinstal ulang kembali."
Mendengar jawaban Pak Tono, Intan sontak bernapas lega. Dia pun dengan senyum tipis meminta mereka untuk tidak memperpanjang lagi.
Adelia yang semulai memiliki harapan untuk lepas dari jerat tuduhan tak berdasar, kini hanya bisa memejamkan matanya penuh kekecewaan.
Wisnu kembali menatap dingin Adelia. Sambil memapah Intan, dia melewati Adelia tanpa memerdulikan air mata yang turun membasahi pipi istri pertamanya tersebut.
Ya Allah, tolong kuatkan aku! Batin Adelia.
...**********...
"Kamu ini bagaimana sih, Wisnu! Sudah jelas-jelas Adelia berusaha menyelakai menantu dan cucu Mama, yang membuat Intan jadi takut tinggal di sini. Jadi dari pada Mama harus kehilangan kalian, lebih baik Mama kehilangan menantu tidak berguna itu! Sekarang usir Adelia dari rumah, atau kamu bisa sekalian menceraikannya, Wisnu!" pekik Ratna pada samg putra tunggal. Keduanya terlihat sedang berdebat sengit di ruang keluarga lantai dua.
Setelah kejadian tadi pagi, Ratna bersikeras meminta Wisnu untuk mengusir dan memulangkan Adelia kembali ke keluarganya. Dia bahkan memaksa Wisnu untuk menceraikan Adelia. Namun, Wisnu dengan tegas menolak.
"Apa sih yang kamu harapkan dari wanita itu, Wisnu? Dia tidak memiliki peran sama sekali sebagai istri! Hidupmu sudah sempurna bersama Intan dan calon anak kalian, jadi lebih baik tinggalkan dia! Sudah bagus Mama memintamu untuk memulangkan wanita itu, bukan membuangnya ke jalanan!"
Wisnu menghela napasnya. "Sejak awal sudah kubilang, kalau apa pun yang terjadi aku tidak akan menceraikan Adelia, Ma. Untuk Intan, aku akan mengajaknya berbicara nanti. Jadi Mama tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan kami!"
Ratna mengeratkan gigi-giginya. Mimik wajah wanita berusia enam puluhan itu terlihat sangat kesal. "Terserah saja lah! Mama hanya berharap, kamu tidak akan menyesali keputusanmu ini. Ingat, tanpa kamu sadari, kamu telah membiarkan iblis tinggal bersama kita!" Setelah berkata demikian, Ratna segera pergi meninggalkan Wisnu seorang diri.
Adelia yang ternyata mendengar semua percakapan mereka, refleks menutup mulutnya agar tidak ketahuan.
Adelia yang tidak sengaja melewati tempat tersebut mendadak berhenti setelah mendengar namanya disebut.
Mata wanita itu kemudian menatap Wisnu yang masih saja terdiam di tempat.
Adelia yang masih sangat mencintai Wisnu, memutuskan untuk menghampiri pria itu dan memeluknya dari belakang.
Wisnu terperanjat ketika mengetahui kedua tangan halus tiba-tiba melingkari perutnya.
Wisnu hendak melepaskan tautan tangan Adelia, tetapi wanita itu dengan cepat menahannya. "Mas, tolong, biarkan aku seperti ini dulu," pinta Adelia dengan nada suara super lirih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Ma Em
aku jadi kesel sendiri sama si Adelia bodoh ini .
2023-11-15
0