Adelia hanya bisa memandang kosong ke arah Aminah yang sedang menangis sambil membersihkan luka di lututnya. Wanita itu sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk sekadar meluapkan perasaannya kembali. Hatinya terlalu sakit. Air mata bahkan mungkin saja sudah kering.
"Bu, pergi dari sini, Bu," ucap Aminah lirih. Wanita yang usianya lebih tua dari Adelia itu, memandang sendu ke arah sang majikan. Tatapannya seolah memohon, meminta wanita baik hati tersebut untuk membebaskan diri. Namun, Adelia hanya bergeming. Sekali lagi dia menegaskan bahwa dirinya tak memiliki tenaga untuk melakukan apa pun, termasuk menanggapi ucapan Aminah.
Aminah kembali menangis, seolah mewakili Adelia.
"Bu, jangan begini ... Ibu berhak bahagia, walau pun tidak bersama Bapak," ucapnya sekali lagi sembari menggenggam tangan Adelia yang sedang berada di pangkuannya.
Mendengar perkataan Aminah, tubuh Adelia mendadak bergetar. Wanita itu tampak terguncang.
Walau sakit, Adelia sama sekali tidak pernah menginginkan perpisahan dengan Wisnu, pria pertama yang telah mengambil hatinya belasan tahun silam. Adelia sadar betul perasaannya pada Wisnu yang begitu besar, membuat wanita itu tak ubahnya seperti orang dungu karena tidak mampu mengambil langkah tegas.
"Ibu terlalu baik buat Bapak," kata Aminah lagi. Kendati sang majikan tidak menanggapi tiap perkataannya, tetapi Aminah tahu benar bahwa Adelia pasti mendengarkan.
Pelukan hangat pun diberikan Aminah selama beberapa saat, sebelum kemudian wanita itu pamit pergi hendak mengambilkannya makanan.
Sepeninggal Aminah, yang ada di pikiran Adelia justru mengganti uang tanaman milik Ratna yang telah rusak.
Dia kembali memanggil Aminah untuk meminta tolong dibawakan tanaman yang telah hancur itu. Namun, sayangnya, Ratna sudah lebih dulu meminta Mang Ujang untuk membereskan dan membuang semuanya ke tempat pembakaran sampah. Dia pasti sengaja melakukan hal tersebut agar Adelia tidak bisa menghitung berapa kisaran harga tanaman itu.
Mau tidak mau Adelia harus menanyakannya langsung pada sang ibu mertua nanti, yang artinya dia harus berhadapan dengan beliau lagi.
Memikirkan hal tersebut tentu membuat nyali Adelia kembali terguncang. Di saat seperti ini tiba-tiba kerinduan pada seluruh keluarganya memuncak. Sejak Wisnu dan Intan menikah, Adelia memang belum pernah mengunjungi mereka lagi.
Adelia memilih merebahkan dirinya di atas karpet kamar sejenak, sebelum pergi mandi.
...**********...
Mata Adelia terbelalak lebar, ketika wajah serta tubuhnya tiba-tiba basah kuyup oleh guyuran air dinging. Lantai kamar yang dingin membuat tubuh Adelia menggigil hebat.
"Bangun kamu, wanita pemalas!" pekik Ratna yang ternyata sedang berdiri di depannya sembari bertolak pinggang. Matanya senantiasa menatap tajam sosok Adelia yang terbaring tanpa daya.
Mengetahui sang ibu mertua lah berada di dalam kamarnya, Adelia bergegas bangun dan berdiri tegap, tanpa memerdulikan rasa dingin yang kian meradang.
"Enak betul ya kamu, setelah berbuat onar dengan menghancurkan tanaman mahalku, sekarang malah asyik-asyikkan tidur!" bentak Ratna. "Cepat siapkan makan malam untuk keluargaku!" sambungnya.
"Baik, Ma." Adelia mengangguk lemah. Ratna dengan mudah menyebut keluarga tanpa mengikutsertakan dirinya.
Setelah berkata demikian, Ratna langsung pergi meninggalkan kamar Adelia, seraya melempar gayung yang dia gunakan untuk menyiram menantu pertamanya itu.
...**********...
Suasana di ruang makan terasa begitu hangat dan menyenangkann. Wisnu terlihat begitu memperhatikan Intan dan tak segan bersikap romantis di hadapan Adelia.
Sejak kepulangannya dari rumah sakit, Wisnu memang terlihat sangat berbeda. Adelia tidak bisa berpura-pura bodoh, bahwa perubahan Wisnu terjadi karena baru saja melihat perkembangan bayinya.
Segenggam perasaan iri hadir memenuhi rongga hati Adelia. Seharusnya kebahagiaan itu tercipta darinya bukan dari wanita lain yang kini menjadi duri dalam pernikahan mereka.
"Mas, ih, malu ada Mama, tahu!" seru Intan marah, tatkala Wisnu melancarkan ciuman bertubi-tubi pada perutnya,
Ratna tersenyum sumringah. "Tidak apa-apa, Mama mengerti sekali kebahagiaan yang dirasakan Wisnu. Maklum saja, setelah sepuluh tahun lamanya Wisnu baru merasakan hal seperti ini, Padahal seharusnya dia sudah berpengalaman dengan seorang anak," kata Ratna seraya melirik Adelia yang tengah meletakkan piring lauk terakhir di atas meja makan. Seperti biasa wanita itu langsung mengambil tempat duduk di ujung meja makan yang jauh dari mereka bertiga.
Adelia memaksakan diri menelan butir demi butir nasi beserta lauk yang tidak seberapa banyak itu, meski tenggorokannya terasa perih. Di sela-sela makan malam tersebut, Ratna lagi-lagi tak lupa mengingatkan Adelia untuk mengganti tanaman mahal yang tadi dirusak olehnya.
"Satu pohon biasanya ada sepuluh helai daun atau lebih. Itu artinya kamu harus mengganti uangku minimal sebesar tiga puluh juta, Del! Ingat, jangan pernah memakai uang nafkah dari WIsnu untuk menggantinya!"
Mendengar nominal yang disebut Ratna, Adelia sontak tercekat. "Ma, a aku tidak memiliki uang sebanyak itu!" cicitnya.
Ratna mendecih. "Aku tidak mau tahu!" katanya tegas. Seolah Adelia adalah orang lain, Ratna tak lagi menyebut dirinya 'mama' dengan wanita itu.
Adelia mengalihkan pandangan ke arah Wisnu yang ternyata juga sedang menatapnya. "Mas, tolong aku," gumam Adelia tanpa suara. Namun, Wisnu hanya menatap dingin wanita itu dan langsung membuang muka.
...**********...
"Itu urusanmu dengan Mama, bukan aku!" sentak Wisnu kasar hingga genggaman tangan Adelia terlepas. Keduanya kini sedang berada di halaman rumah, setelah Adelia bersikeras memaksa pria itu untuk bicara.
"Mas, kamu tahu, aku tidak punya uang sebanyak itu. Semua uang yang kumiliki murni pemberian darimu," ucap Adelia.
"Minta pengertian pada Mama bukan padaku," kata Wisnu lagi.
"Aku tidak akan bisa. Hanya kamu lah yang bisa, Mas!" Adelia kembali bersuara.
Wisnu bergeming sesaat, sebelum kemudian kembali menegaskan bahwa urusan Adelia dan sang ibu bukan lah urusannya
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengganti dengan uangku sendiri, tetapi izinkan aku bekerja! Aku tidak mungkin meminta pada ibu dan bapak atau pun mbak Dinda!"
Mendengar itu, Wisnu melotot. "Jangan macam-macam kamu, Del!" serunya.
"Loh, terus aku harus bagaimana? Aku sadar selama ini hidupku selalu bergantung sepenuhnya padamu, jadi semua uang yang kumiliki berasal darimu dan mama tidak menghendakinya. Mas, aku tidak mau bertengkar lagi ... dengan atau tidaknya restu darimu, aku akan pergi mencari pekerjaan!" Setelah memberanikan diri berkata demikian, Adelia segera melangkah meninggalkan Wisnu.
Akan tetapi, Wisnu dengan cepat mengejarnya. Dia ingin Adelia tetap diam di rumah. Bekerja di luar artinya Adelia akan memiliki banyak pergaulan. Wanita itu bisa saja berubah dari wanita lugu menjadi wanita pemberani, dan dia tidak ingin melihat perubahan tersebut.
Dengan kasar wisnu menarik tangan Adelia yang hendak masuk ke dalam rumah. Namun, saking kerasnya tarikan tersebut, Adelia langsung terjerembab dan jatuh membentur pot raksasa yang tergeletak di sebelah pintu rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Anugrah Bintas99
bertahanlah Del sampai sterss depresi masuk rumah sakit jiwa
2024-08-11
3
Ma Em
enak kan Adelia kamu disiksa terus sama keluarga suamimu itu makan tuh cinta biarkan kamu mati disiksa juga karna cinta sama si Wisnu.
2023-11-15
0
S
Kenapa si wisnu tak hajar saja Adel aku pingin adel d kurung ajasampe tua klo perlu.
2023-07-11
1