Bab 19

Satria tiba di kantor dengan wajah di tekuk. Hatinya yang semula merasa berbunga-bunga tiba-tiba saja berubah menjadi mendung.

"Kenapa kamu Sat?" tanya Pak Hans, komandan di kesatuannya.

"Eh Pak Hans. Enggak apa-apa kok Pak," jawab Satria berbohong. Pemuda itu memaksakan senyumnya.

Pak Hans tak bertanya lebih lagi walaupun dalam hati pria itu masih menyimpan rasa penasaran.

"Oh iya Sat. Kemarin ada yang nyariin kamu," beritahu Pak Hans.

Kedua alis Satria terpaut sempurna. "Siapa Pak?" tanyanya.

"Saya nggak tahu namanya. Tapi yang jelas dia cantik." Pak Hans menjelaskan sambil tersenyum penuh arti.

"Dia... perempuan?" tanya Satria lagi.

Pak Hans memutar bola matanya malas. Ya jelas perempuan lah. Kan udah dijelasin kalau dia cantik. Gimana sih Satria ini?

"Iya. Masa iya cowok... cantik," jawab Pak Hans.

Satria tersenyum mendengar jawaban dari Pak Hans. "Ya kali aja Pak. Kan sekarang banyak tuh lady boy-lady boy macam di Thailand," ucap Satria.

"Bisa aja kamu ini. Memangnya kamu mau kalau ada lady boy yang deketin kamu?"

Satria terkekeh mendengar ucapan Pak Hans. Kemudian dia menyahut, "ya enggak lah Pak. Saya masih normal. Lagian masih banyak cewek cakep di dunia ini."

Pak Hans hanya tersenyum menanggapi perkataan Satria. Pria paruh baya itu kemudian berdiri dari tempat duduknya dan bersiap untuk melaksanakan apel pada pagi ini.

Sementara itu di sekolah, Citra mendapat 'kejutan' dari Shintya. Gadis itu menyiramkan air bekas cucian ke tubuh Citra. Sontak saja seluruh badan Citra basah kuyup dan bau.

"Ini belum seberapa dengan perlakuan lo ke gue semalam," ucap Shintya.

Citra menatap wajah Shintya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Dia tak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari Shintya.

"Ini belum seberapa ya. Kalau elo masih aja deketin Azwan. Gue akan buat elo menderita dan nggak betah sekolah di sini." Shintya mengancam Citra sembari menunjuk tepat di wajah Citra.

Mendengar ancaman Shintya, Citra hanya diam saja. Dia sama sekali tak melawan ataupun membalas ucapan Shintya.

Banyak siswa siswi yang melihat kejadian itu. Termasuk Arga dan Anne yang baru datang. Arga dan Anne segera berlari ke arah Citra. Mereka segera menghampiri sang sahabat dengan perasaan penuh tanya.

"Kamu kenapa Cit?" tanya Arga.

"Kamu kenapa basah kuyup begini?" Kali ini Anne yang bertanya.

Kini matanya menatap ke arah Shintya. "Elo apa-apaan sih Shin?"

Shintya tersenyum sinis mendengar pertanyaan dari Anne.

"Citra salah apa sih sama lo? Sampai elo tega ngelakuin ini ke dia?" tanya Anne.

Shintya menatap Anne dengan tajam. Matanya menyiratkan ketidaksukaannya kepada gadis yang sekarang berdiri di depannya.

"Dia emang pantas mendapatkan ini. Biar dia tahu siapa dia sebenarnya. Biar dia nggak belagu dan sok kecentilan jadi cewek," ucap Shintya dengan nada tinggi.

Anne mengepalkan kedua tangannya setelah mendengar perkataan Shintya. Wajahnya memerah menahan geram.

Shintya berjalan mendekat ke arah Anne. Kemudian gadis itu membisikkan sesuatu di telinganya.

"Jangan sok jadi pahlawan buat cewek s****n itu. Dan satu hal lagi, jangan ikut campur urusan gue. Kalau elo masih ikut campur juga, elo akan tahu akibatnya," ancamnya.

Anne menyunggingkan senyum miring. Gadis itu sama sekali tak takut dengan ancaman Shintya.

"Gue nggak takut sama ancaman elo. Gue akan melindungi dan menjaga Citra dari orang-orang munafik kayak elo dan Azwan," sahut Anne tanpa rasa takut. Setelah berkata demikian, Anne berbalik dan mendekat ke arah Citra.

"Citra," panggil Anne.

Citra menoleh dan memasang senyuman tulusnya di wajah manisnya.

"Aku nggak apa-apa kok Ga, An. Udah biasa kan kayak gini," ucap Citra. Senyum manis masih terukir di wajahnya.

Anne hanya geleng-geleng kepala. Dia tak mengerti lagi dengan Citra. Saat dirimu dipermalukan seperti ini, dia masih bisa mengukir senyum.

"Aku anterin kamu pulang ya." Arga merangkul pundak Citra seraya menatap mata gadis itu.

"Iya Citra. Kamu mandi terus ganti baju dulu. Nanti biar aku yang izinin ke guru piket," ucap Anne.

Citra menganggukkan kepalanya. Dia kemudian mengikuti langkah Arga dan Citra ke parkiran. Tepat saat itu seorang guru menghampiri mereka.

"Lho ada apa ini?" tanya guru itu.

"Ini Pak, saya mau izin nganterin Citra pulang untuk mandi dan ganti baju," jawab Arga.

"Kamu kenapa Citra? Kenapa baju kamu basah seperti ini?" Guru itu bertanya sambil menatap Citra dengan heran.

"Itu Pak tadi Citra...."

"Tadi saya jatuh dan kecebur selokan Pak. Makanya baju saya basah semua," potong Citra cepat.

Anne menatap Citra dengan dahi berkerut. Dia tak mengerti kenapa Citra harus menutupi perbuatan Shintya yang sudah di luar batas itu.

Pak guru itu manggut-manggut mendengar penjelasan Citra.

"Ya sudah kalau begitu. Kamu antarkan Citra ya Arga." Pak guru itu berkata sambil menatap ke arah Arga.

Arga menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Setelah berpamitan, dia segera berlalu dari hadapan gurunya itu dan melanjutkan langkahnya menuju tempat parkir.

*****

Hari sudah beranjak siang. Wiwit tampak sedang bersiap-siap untuk istirahat dan makan siang. Dia membuka kotak bekal yang tadi dia bawa dari rumah.

"Bawa bekal Wit?" tegur Alice, salah satu rekan kerjanya.

"Iya Al. Biar hemat," jawab Wiwit.

Alice terkekeh mendengar jawaban Wiwit. Dia tahu betul sifat rekan kerjanya yang satu ini. Yang tidak bisa makan sembarangan.

"Iya deh paham aku. Aku doain deh semoga rencana kamu terwujud."

"Amin...," sahut Clarissa, salah satu rekan Wiwit juga.

Wiwit dan Alice kompak menoleh saat mendengar suara Clarisa.

"Amin.... Amin ku paling kenceng pokoknya," katanya lagi saat berdiri di samping Alice.

Wiwit tersenyum mendengar perkataan Clarissa. "Amin... makasih doanya," ucap Wiwit.

"Al aku nebeng kamu ya ke kampusnya." Wiwit mengalihkan pandangannya ke arah Alice yang berada di sebelahnya.

Alice mengacungkan kedua jempolnya sembari tersenyum manis.

"Kuliah yang bener kalian. Biar bisa banggain orang tua," kata Clarisa.

"Iya ibu bos," sahut Alice.

Wiwit hanya tersenyum mendengar celetukan kedua rekan kerjanya itu.

Waktu istirahat sudah selesai. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00. Wiwit tampak sedang merapikan barang-barangnya. Dia harus segera ke kampus untuk kuliah siang ini.

"Enggak usah buru-buru Wit. Aku nungguin kamu kok," ucap Alice.

Wiwit menatap Alice dan tersenyum. Dalam hati dia sangat bersyukur karena diizinkan kuliah oleh bosnya. Dia juga bersyukur karena mendapat teman kerja yang menyenangkan dan selalu mensupport dirinya.

"Yuk berangkat," ajak Wiwit setelah dirinya selesai bersiap-siap.

Alice melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Oke."

Keduanya lantas beranjak dari dalam toko setelah sebelumnya berpamitan pada bosnya.

"Kita mampir ke toko kue dulu ya. Aku mau ambil pesanan," ucap Alice.

"Oke," jawab Wiwit pendek.

Alice naik ke atas motornya disusul oleh Wiwit kemudian. Keduanya berboncengan karena kebetulan mereka berdua dari kampus yang sama.

Motor terus melakukan membelah jalanan. Tak terasa mereka telah sampai di depan toko kue. Alice memarkir motornya dan segera turun dari atas motor.

"Tunggu bentar ya," kata Alice.

Wiwit menganggukkan kepalanya. Dia menunggu Alice di tempat parkir motor. Untuk mengusir jenuh, Wiwit memainkan ponselnya. Dia membuka sosial media miliknya dan memberikan beberapa komentar pada postingan kawan-kawannya.

Lelah memainkan ponsel, Wiwit tampak mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling toko kue itu. Wajah cantiknya tampak sedang menikmati udara siang itu yang tak terlalu panas.

Sebuah mobil tampak baru saja memasuki halaman parkir toko kue itu. Wiwit memperhatikan mobil itu dengan saksama. Sepertinya dia kenal dengan pemilik mobil itu.

Wiwit terus memfokuskan pandangan matanya ke arah mobil itu. Hingga sebuah pemandangan yang menyakitkan tersaji di depan matanya. Pemandangan yang membuat hatinya terasa sakit dan perih.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!