Arga membelalakkan matanya tak percaya. Dia tak bisa mempercayai apa yang terdengar oleh gendang telinganya.
"Lo gila ya Wan. Dengan lo jauhi Citra, mereka punya celah buat bully dia lagi. Lo nggak kasihan apa sama dia?" tanya Arga dengan emosi yang memuncak.
Azwan menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Arga. Dia tahu ini akan menjadi sebuah pertikaian kecil antara dirinya dengan Arga. Mungkin juga Arga akan mendekati Citra dan merebutnya dari tangannya.
"Gue tahu. Gue sadar sekarang. Ternyata apa yang gue rasain selama ini bukan cinta. Gue sama sekali nggak pernah cinta sama Citra." Azwan menatap wajah Arga dengan sorot meyakinkan.
Arga menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sama sekali tak bisa mempercayai ini semua.
"Selama ini gue cuman ngerasa kasihan aja sama dia. Makanya gue nembak dia. Awalnya gue cuman iseng aja. Tapi ternyata dia malah suka beneran sama gue," ucapnya lagi. Senyum miring tergambar di wajah Azwan.
"B******n Lo. B******t Lo!" Arga mengepalkan kedua tangannya sambil berseru marah. Dia tak Terima gadis pujaannya dipermainkan seperti ini.
Sebuah pukulan mendarat sempurna di wajah Azwan. Pemuda itu terjungkal ke belakang karena tak siap mendapatkan serangan dari Arga.
"SINI LO! BANGUN LO B******K!" seru Arga.
Azwan bangkit dari posisinya dan menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Senyum sinis tergambar di wajahnya yang babak belur.
"Ternyata elo cinta banget ya sama cewek b**o itu," cibir Azwan.
Kedua tangan Arga mengepal erat. Urat-urat di sekitar kepalanya pun bersembulan. Dia tak terima Citra di hina seperti itu oleh orang lain.
Arga siap melayangkan tinjunya lagi saat sebuah suara menghentikan aksinya.
Seorang guru datang bersama dengan Citra dan Anne. Kedua gadis itu yang telah melaporkan pada sang guru jika Arga dan Azwan terlibat perkelahian.
"Kalian berdua ikut Bapak ke kantor," kata guru itu.
Citra menatap Azwan yang juga tengah menatapnya. Dia tak bisa percaya jika orang yang amat ia sayangi ternyata tak pernah menyayanginya. Dirinya hanyalah pelampiasan saja.
Azwan tersenyum mengejek saat Citra memalingkan wajahnya ke arah lain. Gadis itu berusaha menyembunyikan air mata yang siap meluncur bebas dari kedua matanya.
"Kamu nggak usah takut. Aku selalu ada untuk kamu."
Tiba-tiba saja cuping telinga Citra seperti mendengar suara Arga. Dia kembali teringat ucapan Arga saat dirinya masih di rumah sakit tempo hari. Dia menatap ke arah Arga yang telah menjauh dari tempat itu.
Arga tersenyum tulus menatap ke arah Citra. Pemuda itu seolah ingin menunjukkan bahwa masih ada orang yang tulus sayang padanya. Citra pun membalas senyuman itu.
"Citra," panggil Anne.
Citra menoleh ke arah sang sahabat dengan senyuman tulusnya.
"Aku minta maaf ya. Aku nggak nyangka kalau Azwan bakalan berbuat sejahat itu sama kamu," lirih Anne.
Citra tersenyum. "Enggak apa-apa. Aku udah biasa disakiti kayak gini."
Anne menatap kagum ke arah Citra. Betapa dewasanya gadis di depannya ini. Begitu berbeda dengan dirinya yang selalu tampak emosi saat menghadapi sesuatu.
"Aku nggak dengan kok sama dia. Apa yang di bilang Azwan memang benar." Suara Citra terdengar sendu dan penuh dengan rasa kecewa. Tapi berapa hebatnya gadis itu membalut kecewa dengan senyuman tulus.
"Yuk ke kantin. Aku lapar," ajak Citra. Senyuman masih tak luntur dari wajahnya.
Anne menatap Citra dengan tatapan heran. Citra sama sekali tak memperlihatkan kesedihannya. Dia membalut rasa kecewa dan sedihnya dengan senyuman tulus.
Anne ikut tersenyum mendengar ajakan Citra. Tapi dalam hatinya masih menyimpan sebuah rasa bersalah karena perbuatan sang kakak.
*****
Siang ini jalanan nampak begitu ramai. Di beberapa ruas jalan tampak terjadi penumpukan kendaraan. Seorang petugas kepolisian nampak berjaga di beberapa titik kemacetan. Mereka berusaha mengurai kemacetan di siang ini.
"Istirahat dulu Sat. Biar saya yang menggantikan kamu," ucap seorang pria berseragam kepada Satria.
"Enggak apa-apa Pak Hans. Saya selesaikan tugas dulu," jawab Satria.
Lelaki yang di panggil Hans itu hanya menganggukkan kepalanya. Dia tak bisa memaksa Satria karena dia tahu siapa Satria.
"Ya sudah. Kalau begitu saya istirahat dulu ya," ucapnya lagi.
"Siap Komandan," sahut Satria.
Satu jam kemudian, arus lalu lintas mulai lancar. Tak ada penumpukan kendaraan seperti tadi. Beberapa petugas masih berjaga kalau-kalau terjadi kemacetan lagi.
"Satria!" seru sebuah suara.
Satria menoleh dan mendapati seorang gadis cantik tengah berdiri di seberang jalan. Gadis itu tersenyum seraya melambaikan tangannya ke arah Satria.
Satria membalas senyuman gadis cantik itu. Pemuda itu melambaikan tangannya menyuruh si gadis mendekat ke arahnya.
Seorang petugas membantu si gadis untuk menyebrang jalan. Hingga sampailah si gadis di depan Satria sekarang.
"Kok tahu kalau aku jaga di sini?" tanya Satria saat keduanya duduk di dalam pos jaga.
Avita tersenyum manis. "Ya tahu lah. Kan aku fans berat kamu." Gadis itu menunjukkan sebuah unggahan pada Satria.
Satria melihat itu dan tersenyum malu-malu. Dia tadi memang sempat mengunggah sesuatu di media sosial miliknya. Tujuannya adalah mengingatkan para pengguna jalan untuk menghindari titik-titik kemacetan.
"Kamu belum makan kan?" ujar Avita.
Satria menggeleng. "Belum sempat istirahat," katanya.
Tanpa banyak bicara, Avita membuka rantang yang di bawanya dari rumah. Dia melepaskan satu per satu rantang itu. Beberapa menu terhidang di depan mata. Membuat perut Satria semakin memberontak ingin di isi.
"Kamu makan dulu ya. Aku temenin," ucap Avita.
"Wah! Repot-repot aja sih kamu," sahur Satria.
"Enggak repot kok. Aku justru malah senang. Yah itung-itung sekalian belajar jadi istri yang baik." Avita berkata sambil tersenyum manis pada Satria.
Satria membalas senyuman itu dengan kecupan sayang. "Makasih ya udah mau repot-repot kayak gini."
"Sama-sama," jawab Avita.
"Dimakan dong. Nih cobain cah kangkungnya. Kata Ibu, kamu suka banget sama cah kangkung. Makanya aku masakin." Avita menuangkan cah kangkung ke atas nasi di depan Satria.
Satria tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Avita. Dia tak menyangka sebesar ini cinta Avita untuknya.
"Makasih ya," ucap Satria sekali lagi.
Avita hanya menanggapi ucapan kekasihnya itu dengan senyuman manis.
"Kamu nggak makan juga?" tanya Satria.
"Aku udah makan. Tadi sebelum ke sini aku makan dulu di rumah," jawab Avita.
Gadis itu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemudian dia menyambar tas yang ia letakkan di atas meja.
"Aku harus balik ke rumah sakit sekarang." Avita berkata sambil bangkit dari duduknya.
"Aku anterin ya. Tunggu bentar," ucap Satria.
Pemuda gagah itu menyimpan makanan itu di sudut meja. Kemudian dia berlari ke belakang untuk mencuci tangannya.
"Ayo aku anterin kamu," kata Satria.
Avita lagi-lagi tersenyum mendengar perkataan sang kekasih. Hatinya berbunga-bunga bahagia. Akhirnya dia bisa memliki hati Satria walaupun tak sepenuhnya. Tapi dia yakin suatu saat hati Satria akan seutuhnya ia miliki.
"Pak Hans saya izin nganterin istri dulu ya," pamit Satria pada sang komandan.
Wajah Avita merona merah kala mendengar Satria menyebutnya 'istri'. Tak pernah ia rasakan bahagia seperti saat ini.
"Vit! Avita!" panggil sebuah suara.
Avita membuka matanya dan mendapati salah seorang rekan kerjanya menggoyang-goyangkan bahunya. Mencoba membangunkan dirinya dari tidur siangnya.
"Satria mana? Kok aku masih di sini?" tanya Avita dengan wajah polosnya.
Bara tampak mengerutkan keningnya. Dia merasa heran dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Avita.
"Satria? Satria siapa?" tanya Bara.
Avita mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dia tampak kebingungan. Bukannya tadi dia ada di pos jaga bersama dengan Satria ya? Kenapa sekarang dia ada di ruang kerjanya?
"Kok aku ada di sini sih?" tanya Avita lagi.
Bara semakin mengerutkan keningnya tak mengerti. Dia semakin tak mengerti dengan tingkah Avita yang seperti orang linglung itu.
"Kamu kenapa sih? Kok kayak orang bingung gitu?" Bara bertanya dengan kening berkerut sempurna.
Avita mengusap matanya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan bernuansa putih tulang itu.
"Kamu kenapa sih kok kayak orang linglung gitu?" Bara mengulangi lagi pertanyaannya.
Avita hanya menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin dia jujur pada Bara tentang mimpinya tadi.
"Kamu cuci muka dulu sana," kata Bara.
Avita menganggukkan kepalanya menyetujui saran Bara. Gadis itu kemudian bangkit dari kursinya. Dia melangkah menuju pintu keluar. Saat akan mencapai pintu, Bara memanggilnya lagi.
"Ada apa Bar?" tanya Avita.
"Enggak. Cuman mau ngingetin aja. Masih ada hari yang terbuka untuk menerima kamu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Gogot Puji
kirain jadian beneran. ternyata cuman mimpi
2023-05-11
1