"Mbak Ningsih sudah benar, dengan pak Danang selingkuh dan tidak menafkahi. Sudah bisa dijadikan alasan dan bukti di pengadilan.
Dan soal rumah ini, mbak Ningsih tenang saja, rumah ini masih atas nama ibu mbak Ningsih, Bu Suparmi. Jadi, pak Danang gak berhak apapun, meskipun dia menuntutnya." pak RT ikut menimpali dan juga mendukungku melawan kedzaliman mas Danang dan keluarganya.
"Danang!
Lebih baik kita pulang saja, buat apa bicara panjang lebar dengan perempuan yang tidak menghargai kedatangan kita. Sudahlah, lebih baik kamu ceraikan saja istrimu itu. Biar kamu sama Diana bisa nikah secara hukum. Wong rumah jelek gini aja kok direbutkan, paling juga laku berapa!" sungut mbak Rokayah dengan tatapan sinis ke arahku, meskipun kata katanya pedas, tapi aku tidak perduli, justru aku senang, karena dia menyuruh adiknya tidak lagi meributkan rumah ibuku, dan juga memintanya untuk segera menceraikan aku.
Setelah itu, aku akan membuat mereka membungkam mulutnya karena aku akan merenovasi rumah ini dan menunjukkan pada mereka kalau aku bisa hidup lebih baik dari mereka. Tentunya setelah surat cerai keluar, agar mas Danang tidak lagi berulah dengan menuntut harta yang kumiliki.
"Nah itu, mbak kamu pinter mas!
Lebih baik kalian pergi dari rumahku sekarang juga, sebelum aku berubah pikiran buat ngelaporin perselingkuhan kamu dengan ondel ondel ini ke kantor polisi sekarang juga.
Pergilah, soal surat cerai, aku akan mengurusnya secepat mungkin. Karena aku juga ingin hidup bebas tanpa gangguan kalian!" balasku tegas, bahkan aku memasang wajah sinis di hadapan mereka. Biarlah, sudah saatnya mereka dilawan, agar tidak terus menerus menindas ku.
Akhirnya tanpa banyak bicara, rombongan mas Danang pergi begitu saja. Bahkan mas Danang sedikitpun tidak mencari dan menanyakan Shanum.
Meninggalkan uang jajan pada anaknya pun tidak dia lakukan. Sungguh sangat keterlaluan laki laki itu. Hatinya sudah mati dari mengasihi darah dagingnya.
Kini yang tersisa hanya pak RT dan istrinya, juga masih ada pak Billy, pak Supri, pak Rokim, Bu Indah, Bu Erni. Ibu ibu yang tadi ikut melihat tapi hanya diluar sudah membubarkan diri sejak tadi, karena pak RT meminta mereka agar tidak berkumpul di depan rumah, biar tidak semakin memancing warga lainnya untuk mencari tau apa yang terjadi.
"Apa mbak Ningsih mau melaporkan mereka ke kantor polisi?" kembali pak RT mempertanyakan niatku yang tadi aku gunakan untuk menggertak mas Danang dan gundiknya.
"Belum tau, pak!
Sepertinya saya mau ke Surabaya dulu, menemui atasan mas Danang, melaporkan perselingkuhan dan sikapnya pada kami. Saya ingin tau, apa tanggapan atasannya, jika mas Danang terkena sanksi dan dikeluarkan dari pekerjaannya, maka saya tidak jadi melaporkan mereka. Karena saya yakin, dia tidak akan bisa mencari pekerjaan lain umpama dia dikeluarkan, karena ijasahnya sudah hilang semua saat kami pindahan dulu." jelasku, mengutarakan apa yang ada di benak ini.
Membalas mereka tidak perlu susah susah, cukup di miskinkan pasti mereka akan kalang kabut.
Dan untuk mbak Rokayah, aku juga sudah punya rencana untuk membuat perempuan itu susah. Dia kerja jadi mandor di pabrik sepatu merk terkenal di Surabaya dan kebetulan aku punya teman yang bekerja juga disana, Mbak Ida, dulu teman satu kantor saat aku masih kerja di Unilever. Sekarang beliau sudah pindah kerja satu pabrik dengan mbak Rokayah, tapi mbak Ida punya posisi lebih tinggi, mbak Ida berada di kantornya, atau jadi salah satu staf disana.
Dan kebetulan mbak Rokayah punya banyak musuh, ada banyak yang tidak menyukai perempuan itu karena sikapnya yang sombong.
Bahkan dari yang aku dengar dari mbak Ida. Mbak Rokayah terancam dikeluarkan dalam waktu dekat karena terlibat kasus pencurian.
Tuhan memang selalu punya cara untuk membalas orang orang yang suka bersikap seenaknya.
"Lalu, apa mbak Ningsih juga akan menggugat cerai mas Danang?" tanya Bu RT yang terlihat begitu penasaran.
"Iya, Bu!
Kalau untuk itu sudah pasti, saya akan segera mengurus perceraian ke pengadilan. Buat apa dipertahankan karena sudah tidak sehat hubungan rumah tangga kami.
Lagian, ibubdan bapak lihat sendiri, bahkan mas Danang tidak mencari Shanum sama sekali." sahutku nanar, ada rasa sesak saat mengingat nasib putriku itu.
"Yang sabar mbak Ningsih, insyaallah setelah apa yang mbak lalui, pasti akan ada hikmah di dalamnya. Yang sabar ya!" timpal Bu indah sambil mengusap bahuku lembut.
"Aamiin, makasih Bu!"
"Buk!" saat tengah berbincang dengan para warga, tiba tiba Shanum keluar dari kamarnya dengan wajah seperti bangun tidur.
Jika memang tadi Shanum benar-benar tidur, aku sangat bersyukur, itu artinya dia tidak mendengar keributan yang terjadi. Karena kamar Shanum sedikit jauh dari ruang tamu.
"Iya, nak!
Baru bangun tidur ya?
Sini, Saliman dulu sama ibu ibu dan bapak bapak!" sahutku yang pura pura tidak terjadi apa apa.
Shanum menurut dan menyalimi satu persatu orang orang yang ada diruang tamu.
"Bangun tidur ya, nduk cah ayu?" Bu RT menatap Shanum dengan tatapan iba.
"Injih Bu RT, tadi nonton Doraemon, gak taunya ketiduran." sahut Shanum polos, wajahnya masih terlihat khas orang bangun tidur.
Setelah berbincang sejenak, para tetangga pamitan pulang, bahkan mereka memberikan sangu pada Shanum, katanya amplop lebaran, anak gadisku terlihat ceria.
Rejeki, kita tidak pernah tau dari mana arahnya.
Alloh maha tau dan maha melihat. Itulah kenapa kita diwajibkan untuk selalu berprasangka baik dengan apa yang telah di tetapkanNYA.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
#Ganti Istri { New karya }
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Zainab Ddi
bener mbak Ningsih kita pasrah kepada Allah SWT pertolongan pasti akan datang
2024-06-25
0
Ersa
yuk mulai yuk episode pembalasan
2023-10-20
3
Nayla Ujji ...
yang Sabar ya bu Ningsih...
tetaplah maju, perjuangkan yang apa menurut ibu bahagia.
2023-05-05
1