Itulah takdir, kita tidak pernah tau garis takdir seperti apa yang akan Alloh gariskan untuk kita kedepannya. Jika saat ini air mata, duka, sengsara, sedih dan kekurangan yang harus kita jalani, kita bisa apa selain menerima takdir dengan belajar iklas dan juga terus berusaha untuk bisa lebih baik.
Ada perasaan sedih dan juga sakit kalau teringat bagaimana masa kecilku, tanpa kasih sayang seorang bapak, persis yang kini dialami putriku.
Ya Alloh, hanya kalimat itu yang mampu terucap kala hati ini mulai sesak.
Sawah seluas tiga hektar dan uang sebanyak tujuh puluh lima juta yang sudah atas namaku di rekening, kata mbak Safitri, dulu nenek atau ibunya bapak pernah meminta KTP ku dari almarhum ibuku, ternyata itu digunakan untuk membuka rekening yang di isi oleh bapak. Dan sekarang uang itu sudah ada di tanganku lewat mbak Fitri.
Aku bingung, bagaimana aku akan menggarap sawah dari warisan bapakku, seumur umur aku tidak pernah tau bagaimana mengurus sawah. Biarlah, besok aku akan bicara sama nenek, sekalian aku menjenguknya, sudah hampir setahun aku tidak pernah mengunjunginya setelah peristiwa rebutan rumah yang akan diminta oleh anak salah satu istri sirinya bapak.
Aku menatap nanar angka angka di buku tabungan, baru kali ini aku merasakan memiliki uang yang sangat banyak, bagiku uang tujuh puluh lima juta itu sangatlah banyak.
Aku bisa membayar hutang hutangku, dan akan menjalani hidup apa adanya bersama Shanum.
"Buk!" tiba tiba Shanum sudah berdiri di hadapanku dengan wajah ceria, senyumnya sungguh manis dengan lesung dikedua pipinya.
"Tadi, budhe Fitri kasih ini ke Shanum!" anakku memberikan amplop coklat yang cukup tebal padaku.
"Apa ini, nak?" tanyaku bingung, menatap lekat wajah ayu gadis kecilku.
"Dari budhe Safitri. Katanya buat Shanum beli baju dan lain lain." jawab putriku tersenyum.
Aku buka amplop itu dan ternyata uang lembaran merah dan biru ada di dalamnya, setelah ku hitung jumlahnya cukup banyak, lima juta.
"Ya Alloh, setelah hampir satu bulan aku menangis dan bahkan hampir menyerah oleh keadaan, kini disaat tak terduga, Engkau memberikan kejutan kejutan indah pada kami. Alhamdulillah atas Pertolongan-MU ya Robby." batinku mengucapkan kata syukur berkali kali. Sungguh indah rencana Tuhan saat kita benar benar yakin dan memasrahkan takdir ini sepenuhnya pada-NYA. Masyaalloh!
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Hari lebaran tiba, hanya ada aku dan Shanum sendiri menatap sepi di balik jendela kaca rumah dengan hati hampa.
Aku melihat mata putriku sudah nampak mendung.
Aku tau, dia pasti sedih teringat tak ada keluarga dihari yang seharusnya di isi dengan canda tawa dan berkumpulnya sanak saudara.
"Shanum!
Ada apa sayang?
Shanum ingin pergi kerumah Mbah?
Biar ibuk antar, nak!
Tapi ibuk cuma nganter saja, lalu pulang, gimana?" tanyaku, mencoba untuk mengerti perasaan anak semata wayangku.
"Enggak buk, buat apa?
Paling paling, Shanum disana juga tidak dianggap dan dihina sama ayah dan keluarganya. Dan belum lagi, disana pasti ada perempuan itu dan anaknya. Shanum dirumah saja sama ibuk." sahut anakku dengan senyuman getir.
"Kemarin kan, Shanum dapat sangu dari om Hans, Tante Anis dan budhe Safitri. Gimana kalau habis ini kita jalan jalan saja ke mall, makan dan beli apapun yang Shanum mau?" aku berharap dengan mengajaknya jalan jalan ke mall yang bahkan hampir tidak pernah kita lakukan, anakku tidak lagi sedih memikirkan ayahnya itu.
"Beneran buk?
Boleh Shanum pakai uangnya buat jalan jalan, beli apa yang Shanum pingin?" sahut putriku dengan senyuman lebar terukir di bibir indahnya.
"Boleh dong sayang, itu kan uang Shanum. Haknya Shanum.
Tapi gak boleh langsung dihabiskan ya, nanti habis lebaran uangnya dibelikan emas, buat investasi." sahutku dan meraihnya dalam pelukanku, aku ingin anakku merasakan betapa aku sangat menyayanginya dan akan selalu ada untuknya kapanpun dan apapun keadaannya.
"Asik, makasih ya buk!
Shanum sayang ibuk!" balasnya yang memelukku sangat erat.
"Lihatlah mas, setelah ini kamu dan keluarga kamu, bahkan gundikmu, akan menyesal dan menangisi perbuatan kalian karena sudah menyia nyiakan dan menyakiti hati lembutnya seorang anak perempuan.
Aku akan buat perhitungan dengan kalian, dengan caraku." batinku yang sudah tak lagi akan membiarkan perbuatan semena mena suami dan seluruh keluarganya.
Anakku sangat bahagia, dia memasuki arena permainan game dan mengisi kartunya.
Dua ratus ribu dia habiskan untuk bermain sepuasnya. Sengaja aku biarkan, karena dia juga butuh bahagia dengan caranya. Lagi pula, kini uang sudah tak lagi jadi soal untukku. Warisan dari bapakku insyallah cukup untuk melunasi hutang dan tabungan masa depan kami. Alhamdulillah.
Setelah puas bermain , Shanum minta makan di salah satu restoran Jepang, dia dari dulu sangat menginginkan makanan makanan khas negri sakura itu, dan baru kini bisa mewujudkannya. Aku yang tak bisa makan makanan selain khas Indonesia, memilih hanya memesan minuman saja, meskipun Shanum memaksaku untuk ikut mencobanya, tapi lidahku yang kampungan ini benar benar tak bisa menerimanya.
Seharian kami habiskan bersenang senang di mall.
Shanum tidak mau membeli baju maupun sepatu, karena sudah di belikan oleh Tante Anis dan om Hans nya. Shanum memilih mengajak belanja banyak makanan dan kebutuhan dapur.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Buk, sepertinya kita harus membeli kulkas. Biar bisa menyimpan makanan." Saat kami sudah sampai dirumah dan istirahat sambil menonton televisi, anakku mengutarakan keinginannya.
"Iya, nak!
Uang dari kakek akan ibuk gunakan untuk merenovasi rumah ini, lalu pasang listrik baru beli kulkas. Bismillah ya!" sahutku serius dan menatap dalam wajah penuh binar anak perempuanku.
Saat kami lagi asik menikmati kebahagiaan yang Alloh berikan.
Terdengar suara ponsel Shanum berdering.
Nama mbak Rokayah terpampang disana.
"Buk, budhe telpon tuh. Aku malas angkat." anakku menatapku dengan wajah masam.
"Angkat saja, dengarkan saja dia mau bicara apa.
Loud speaker biar ibu bisa dengar." sahutku santai dan anakku pun menuruti ucapanku tanpa banyak protes.
"Asalamualaikum, budhe!" sambut Shanum sopan.
"Waalaikumsallm!
Heh Shanum, kamu sama ibumu kok gak ada sopan sopannya, sudah tau hari raya bukannya datang kerumah Blitar sungkem sama mertua dan bawakan oleh oleh, eh kok malah gak ada kabar sama sekali. Dasar cucu dan menantu gak tau diuntung!" cerocos suara mbak Rokayah membuat kupingku panas, aku minta Shanum memberikan ponselnya padaku.
"Sudah mbak, ngomelnya?" jawabku singkat, tak perduli dengan penilaian mereka. Bodoh amat mereka mau bilang apa juga, aku sudah gak perduli.
"Pantesan Danang gak betah sama kamu, wong kamu sikapnya kayak setan gitu, gak punya sopan santun!" sahutnya ketus. Aku hanya bisa beristighfar dalam hati saja dengan semua ucapan wanita itu.
"Lalu, adiknya mbak sama mbak dan keluarga mbak apa dong namanya?
Mas Danang menikah lagi bahkan berzina bertahun tahun dengan perempuan itu kalian dukung. Shanum tidak di nafkahi bertahun tahun kalian juga diam saja, kalau mau dihormati lebih baik ngaca dulu lah, sikapnya sudah bener belum?
Oh ya satu lagi, ngapain aku dan anakku kesana, mau bertemu gundiknya Danang dan anak haramnya itu, ogah!
Dan bilang ke Danang ya mbak, habis lebaran aku akan urus surat cerai. Jadi kalian tidak usah lagi ganggu hidupku dengan Shanum. Wassalamu'alaikum!" sahutku panjang lebar dan tanpa ingin mendengarkan jawaban Rokayah aku langsung mematikan telepon dan memencet tulisan blokir. Beres!
Tak lagi Sudi berhubungan lagi dengan mas Danang dan keluarganya yang gila itu.
Aku akan kembali menata kehidupan baruku bersama Shanum belahan jiwaku.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Zainab Ddi
nah gitu biar kapok tuh orang2 yg suka menghina
2024-06-24
0
Soraya
thor kok rumahnya Ningsih blm psg listrik bukannya rumah nya di komplek
2024-03-06
3
Ersa
mantap Ning, kicep tuh si Rokayah
2023-10-20
1