"Hii takut!
Tapi kamu tenang saja, kamu gak akan dipecat. Em, lebih tepatnya belum sih, tapi gak tau kalau nanti. Sementara kamu masih aman kok mas, tenang saja ya.
Tapi gaji kamu akan masuk ke rekening ku bulan ini beserta bonusnya. Adil kan?" sahutku dengan senyuman merekah, oh indah sekali menikmati wajah pias suamiku.
"Kurang ajar, kamu!" geram mas Danang yang berusaha menekan suaranya agar tidak terdengar penghuni kantor.
"Kalau kamu gak terima, langsung saja protes ke atasan kamu, mas!
Karena aku hanya berusaha mencari keadilan buat anakku yang juga anakmu!
Silahkan menikmati amukan gundikmu itu, aku yakin, setelah kamu tidak lagi punya uang, dia akan marah marah dan tak lagi menghormati kamu. Bye, mas!
Aku mau ke warung depan sana dulu, mau lihat wajah sombong selingkuhannya suamiku." setelah menjatuhkan mental mas Danang, tanpa menunggu jawaban laki laki itu, aku kembali melangkahkan kakiku keluar dari perkantoran tempat dimana mas Danang mencari nafkah selama ini. Tak perduli meskipun suamiku itu berteriak memanggil namaku. Bodoh amat, saatnya aku menikmati drama yang sesungguhnya.
"Sudah selesai, Bu?" sapa pak Saiful, satpam yang tadi pertama kali aku temui.
"Alhamdulillah, sudah pak. Terimakasih!
Saya permisi dulu, Asalamualaikum!" sahutku ramah, dan terlihat pak Saiful tersenyum setelah menjawab salamku.
Dengan langkah ringan, kaki ini berjalan menuju warung dimana perempuan itu mencari nafkah. Dari yang aku tau dia pemilik warung, karena mas Danang pernah menyanjungnya. Namun entah kenapa hatiku ragu, hari ini aku akan mencari kebenarannya.
"Permisi. Bisa ketemu pemilik warung ini?" aku berdiri diantara para pembeli yang kebanyakan laki laki dengan bau keringat yang menyengat, wajar saja karena mereka bekerja jadi kuli panggul di area sini.
"Iya, mbak. Ada yang bisa dibantu?" ibu ibu paruh baya muncul dengan senyum ramahnya.
"Apa ibu pemilik warung ini?" tanyaku memastikan, dan perempuan itu terlihat menganggukkan kepalanya pasti.
"Apa disini ada yang namanya, Diana Bu?" tanyaku selanjutnya dengan memasang wajah biasa saja.
"Oh Diana!
Ada, tapi orangnya masih pergi ke pasar beli ikan.
Kebetulan dia keponakan saya, ada perlu apa ya?" sahut perempuan itu dengan tatapan menyelidik.
"Apa ibu tau, siapa suami Diana saat ini?" tanyaku lagi dengan tetap bersikap tenang, dan mata para pembeli mulai melihat ke arah kami.
"Ya jelas tau to, suaminya Diana kerja di kantor depan situ, namanya Danang. Ada apa ya?
Kok dari tadi, mbak tanya tanya terus." sahut wanita yang mengaku keluarganya Diana yang mulai geram dengan pertanyaanku.
"Apa ibu tau, kalau Danang sudah punya anak istri di kampung? kok bisa bisanya mereka menikah, apa keponakan ibu gak laku dan sudah minta cepet digaruk karena hamil duluan." cerca ku dengan nada menyindir dan menyunggingkan senyum meremehkan ke arah perempuan paruh baya itu.
"Maksud kamu apa, kenapa kamu datang datang menjelekkan keponakan saya?
Mau dia bagaimana itu bukan urusan kamu." sungutnya ketus.
"Akan jadi urusanku, karena aku istri sahnya Danang!
Dan karena pelacur itu, anakku diabaikan ayahnya, bahkan tidak diberi nafkah lagi, ulah keserakahan keponakan gila ibu itu. Tak tau malu!" jawabku dengan mata menatap tajam, dan kini semua mata yang ada di dalam warung melihat ke arahku dengan tatapan entah.
"Heh, perempuan jelek.
Jaga mulutmu, bukan aku yang merebut suami kamu. Tapi kamunya saja yang tidak bisa merawat dirimu, sampai mas Danang betah dan nyaman denganku. Wajar dong, kalau seluruh uangnya aku yang menikmati!" tiba tiba Diana muncul dengan senyum licik tersungging di wajah menor nya.
"Oh!
Yasudah, kamu kan sudah datang, kalau begitu dengan disaksikan banyak orang disini, aku mau menyerahkan rongsokan bekasku buat kamu, ambil Danang dan pungut dia. Karena aku sudah tidak sudi lagi memungut laki laki tukang zina sepertinya. Oh iya, bukan ini saja, kalau bisa kamu jangan tanya kemana gaji mas Danang.
Karena, mulai bulan ini dan seterusnya, gaji mas Danang akan di transfer ke rekeningku untuk nafkahnya Shanum, anak sah dan anak kandungnya mas Danang. Makasih ya, sudah bantu aku buat mungut sampah tak berguna seperti Danang!
Bye!" sahutku dengan senyum kemenangan.
"Heh, perempuan gila. Jangan kurang ajar kamu, awas saja kalau sampai kamu ambil semua gaji suamiku. Aku habisi kamu!" teriak Diana seperti orang kesetanan.
"Protes saja sama atasan laki laki itu.
Apa kamu bilang tadi? Suamimu?
Suamiku kali, aku masih sah istrinya loh, dan statusku lebih kuat dari kamu, aku punya buku nikahnya, karena aku dinikahi secara terhormat di hadapan Tuhan, keluarga dan semua orang.
Lha kamu?
Pikir saja sendiri!" sahutku enteng lalu pergi meninggalkan warung yang terlihat kumuh itu.
"Uuugh dasar gila!" tiba tiba jilbabku di tarik dari belakang oleh Diana. Aku yang tidak siap terhuyung ke belakang, tapi untungnya tidak sampai jatuh.
Tanpa banyak bicara lagi, aku langsung menendang perut Diana hingga wanita itu terjungkal, belum puas lalu melayangkan tamparan di wajah menor nya.
"Jangan kamu pikir, diam ku selama ini karena takut dan lemah!
Aku sedang menunggu waktu yang tepat saja untuk menghancurkan kalian. Dan inilah waktu yang tepat!" tatapku tajam penuh amarah kebencian.
"Cukup, jangan bikin keributan disini.
Dasar perempuan edan!
Pantas saja suami kamu lebih betah sama Diana!" perempuan tua itu ikut ikutan membela keponakannya.
"Oh ya?
Terserah kalian mau bicara apa, yang penting aku sudah puas karena apa yang aku inginkan tercapai, tunggu saja kehancuran kalian setelah ini.
Aku pastikan, warung ini akan segera di gusur.
Jangan remehkan diamnya perempuan yang tersakiti, saat dia sudah memutuskan untuk membalas, hidup kalian akan hancur berantakan!" tekan ku dengan wajah bengis, tak perduli jika ini jadi konsumsi orang banyak.
Sekalian saja biar semua orang tau dan menilainya sendiri. Aku hanya ingin menyelamatkan harga diriku dan juga hak anakku yang sudah dicuri perempuan sialan itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
#Ganti Istri { New karya }
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Zainab Ddi
keren Ningsih
2024-06-25
0
Ridho Widodo
kayaknya cerita ini kisahnya author ya...???
2024-03-18
2
Marhainun Tanjung
suka banget cerita nya Thor.
2024-02-23
2