Bayar hutang

Dengan teliti mbak Anis mengeceknya, dan Alhamdulillah cocok dan beliau mau membelinya, satu juta lima ratus langsung diberikan, bahkan dilebihkan seratus ribu buat jajan Shanum katanya.

Mbak Anis wanita karir, suaminya juga seorang PNS, kehidupan mereka berkecukupan, namun kekayaan tidak membuat mereka bersikap sombong.

Mata ini sudah berkaca kaca, meskipun sekuat hati menahan agar tidak jatuh, tetap saja air mataku lolos begitu saja membasahi pipiku.

Alhamdulillah, akhirnya masalahku teratasi, jalan yang diberikan Gusti Alloh begitu indah. Nikmat mana lagi yang bisa aku dustakan.

"Bund, kok nangis?" mbak Anis menatapku iba, tangannya berlahan menggenggam jemari jemariku.

"Insyaallah pasti ada jalan, apa lagi buat wanita sebaik mbak Ningsih. Alloh itu adil, mbak!" ucap mbak Anis dengan bibir bergetar, mungkin beliau bisa merasakan kepedihan hidup yang aku jalani.

Mbak Anis seringkali melihat perlakuan buruk mas Danang padaku selama ini, dan mbak Anis pula yang sering datang membantu saat aku kesulitan.

"Aamiin, insyaallah mbak!

Aku gak menyangka saja, Alloh memberikan pertolongan-Nya disaat aku sudah pasrah, tidak tau harus bagaimana!" lirihku, air mata yang terus mengalir karena haru dan entah apa yang sedang dirasa, seolah semua campur menjadi satu.

"Mbak Ningsih, kenapa tidak nulis novel saja?

Sekarang nulis novel di aplikasi berbayar itu lumayan loh pendapatannya.

Nanti kalau mbak Ningsih berminat, akan aku ajarkan caranya.

Biar mbak Ningsih tidak bingung lagi cari kerja diluar rumah, kasihan Shanum kalau harus ditinggali." mbak Anis menatapku dalam dengan senyuman hangat terukir di bibir tipisnya.

"Beneran mbak?

Insyaallah aku mau belajar, kalau memang tidak merepotkan mbak Anis." jawabku sungkan, dan lagian aku juga dari dulu memang hobi membaca dan menulis cerita.

"Iya mbak.

Mbak Ningsih tidak usah sungkan, biasa saja. Anggap saja kita ini keluarga." jawabnya ramah, lalu mbak Anis pamitan pulang, karena suaminya sebentar lagi mau pulang.

Uang yang dibutuhkan sudah terkumpul, dan Alhamdulillah masih ada sisa. Setidaknya lebaran kali ini aku masih ada pegangan meskipun hanya beberapa lembar saja.

Aku putuskan untuk segera mandi dan melaksanakan sholat ashar, karena tadi pas dikamar mandi aku lihat sudah bersih, darah mens tidak keluar lagi, Alhamdulillah.

Lalu berniat kerumah Bu Desi untuk menyetorkan uangnya, Alhamdulillah, masalah bisa teratasi berkat pertolongan Allah SWT.

"Buk!" panggil putriku, lalu dia berjalan mendekatiku dengan senyuman manis.

"Iya sayang, ada apa?" tanyaku sambil membelai wajah ayunya. Hatiku selalu teriris tiap kali menatap dalam wajah lugunya, sungguh keterlaluan sekali mas Danang. Disana dia senang senang dan hidup cukup dengan selingkuhannya. Sedangkan Shanum selalu terabaikan dan tak pernah sama sekali dia memperdulikan darah dagingnya.

"Coba ibuk lihat, Shanum bawa apa?" gadisku itu menunjukkan baju gamis warna hitam dan atasan warna ungu juga ada celana warna hitam dan semuanya merk ternama yang berharga ratusan ribu.

"Itu punya siapa, nak?" tanyaku bingung, namun anakku justru tersenyum lebar dengan wajah penuh binar bahagia.

"Ini kiriman dari om Hans, buk!

Barusan ada kurir yang ngantar, dan lihat di dalam saku celananya juga ada uang tiga ratus ribu, katanya amplop lebaran buat Shanum. Ini om Hans juga nulis surat." anakku menyodorkan kertas putih yang berisi tulisan singkat dari mas Hans. Dada rasanya sangat sesak bila mengingat laki laki lembut dan baik hati itu, sayangnya kami tidak berjodoh, hingga memaksaku harus membuang jauh jauh perasaanku padanya.

Tapi entah mengapa, dia selalu saja baik dan sangat perduli pada Shanum.

"Coba, Shanum telpon sama om Hans, bilang terimakasih ya!" aku menatap lembut pada gadisku. "Kamu beruntung, nak!

meskipun ayah kandungmu tak pernah perduli, tapi masih banyak yang perduli dan menyayangi kamu, karena kamu terlahir begitu istimewa dalam kehidupan ibu!" batinku pilu, sekuat tenaga menahan agar air mataku tak jatuh dihadapan putriku.

Shanum langsung melakukan perintahku untuk menelpon mas Hans. Terlihat Shanum mengobrol dengan begitu riangnya.

"Ya Alloh, andaikan itu ayahnya. Shanum pasti akan jauh lebih bahagia." sesak dan air mata ini pun berjatuhan semakin deras.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

"Asalamualaikum, Bu Desi!" aku mengetuk pintu rumah Bu Desi dan mengucapkan salam.

Terdengar suara dari dalam membalas salamku.

Bu Desi membukakan pintu dengan senyuman ramahnya.

"Waalaikumsallm, mbak Ningsih!

Mari masuk!" sambut Bu Desi, dan kamipun duduk di kursi empuk milik Bu Desi diruang tamunya.

"Ini, Bu. Alhamdulillah uangnya sudah ada.

Maaf kalau terlambat dan jadi merepotkan!" kataku merasa tak enak, karena hanya aku saja yang belum melunasi.

"Alhamdulillah, saya terima ya mbak uangnya.

Gak papa kok, masih banyak yang belum bayar, duh kepala ini rasanya mau pecah. Padahal besok sudah harus dibagikan." keluh Bu Desi dengan wajah lesu.

"Aku kira cuma aku saja yang belum bayar, tapi ternyata masih ada yang belum juga ya Bu?

Semoga segera teratasi ya Bu, yang masih memiliki tanggungan segera melunasi." ucapku menanggapi keluhan Bu Desi.

"Iya mbak amiin.

Itu Bu Leni masih kurang banyak, hampir lima juta lebih, rasanya pusing, kalau sampai gak selesai malam ini, bisa bisa kena tegur semua ibu ibu!" sahut Bu Desi yang terlihat gusar.

Aku hanya tersenyum, tak berani menimpali, takut salah ucap dan berakhir tidak baik.

Setelah beberapa saat mengobrol, aku pun pamitan pulang, karena tidak mau terlalu banyak ikut campur urusan orang lain dan membicarakan mereka. Biarlah menjadi urusan mereka sendiri, aku tidak berhak mengomentari, karena hidupku sendiripun juga belum tentu luput dari omongan orang.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.

#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)

#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)

#Coretan pena Hawa (Tamat)

#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)

#Sekar Arumi (Tamat)

#Wanita kedua (Tamat)

#Kasih sayang yang salah (Tamat)

#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )

#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)

#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)

#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)

#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]

#Bidadari Salju [ On going ]

#Wanita Sebatang Kara { New karya }

Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

Terpopuler

Comments

Zainab Ddi

Zainab Ddi

lanjut baca

2024-06-24

0

citra marwah

citra marwah

gak jelas...subuh nya udh myampe dzikir 1 jam...kok ashar baru beraih haid,🤣🤣🤣

2024-05-04

1

Moon Arr Chie

Moon Arr Chie

Masih bingung ga ada duit koc ikutan arisan.. ak tau klo gaji ga bakal nutup usahain ga ikutan arisan dll

2024-05-03

0

lihat semua
Episodes
1 Lebaran dalam duka
2 Pasti ada jalan, cukup yakinkan hati dalam setiap lantunan doa
3 Bayar hutang
4 Sebatang Kara
5 Telpon dari rokayah
6 Tamu asing di malam takbiran
7 Menata hidup baru
8 Mengumpulkan bukti
9 Bukannya malu tapi malah mencari pembenaran
10 tidak tau malu
11 milik ibuku
12 pergi
13 Rencana
14 bertemu atasan mas Danang
15 Menerima keputusan
16 mendatangi Gundik suamiku
17 Diana murka
18 pulang
19 notif dari m banking
20 kembali bangkit dengan kehidupan baru
21 Danang pulang
22 Apa kamu pikir aku takut? Sedikitpun tidak sama sekali!
23 Bantuan datang
24 Tak tau malu
25 Mati kamu, mas! Rasain!
26 pindah rumah saja
27 Danang frustasi
28 karma yang berlaku
29 menyesal
30 Hans
31 masa lalu
32 Takdir
33 kacau
34 tak punya hati
35 minta uang
36 karma
37 sakit perut
38 masih ada yang perduli
39 ketahuan
40 POV Ningsih
41 mulai curiga
42 Pelakor di pelakorin
43 keluar kota
44 Bibit hama
45 gak usah drama!
46 Beku
47 Tertangkap basah saat mesum
48 robohkan saja, ratakan seperti semula.
49 histeris
50 ini milikku
51 musibah pembawa rejeki
52 Nasi goreng
53 permintaan Danang
54 Bertengkar
55 Bertahanlah, Na!
56 ibu yang egois
57 Drama selanjutnya sang mertua
58 Bagi dua
59 siapa suruh pelit
60 pergilah jangan kembali lagi
61 pulang kampung
62 buka warung
63 tak pernah bisa berubah
64 kelakuan Danang
65 penyesalan
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Lebaran dalam duka
2
Pasti ada jalan, cukup yakinkan hati dalam setiap lantunan doa
3
Bayar hutang
4
Sebatang Kara
5
Telpon dari rokayah
6
Tamu asing di malam takbiran
7
Menata hidup baru
8
Mengumpulkan bukti
9
Bukannya malu tapi malah mencari pembenaran
10
tidak tau malu
11
milik ibuku
12
pergi
13
Rencana
14
bertemu atasan mas Danang
15
Menerima keputusan
16
mendatangi Gundik suamiku
17
Diana murka
18
pulang
19
notif dari m banking
20
kembali bangkit dengan kehidupan baru
21
Danang pulang
22
Apa kamu pikir aku takut? Sedikitpun tidak sama sekali!
23
Bantuan datang
24
Tak tau malu
25
Mati kamu, mas! Rasain!
26
pindah rumah saja
27
Danang frustasi
28
karma yang berlaku
29
menyesal
30
Hans
31
masa lalu
32
Takdir
33
kacau
34
tak punya hati
35
minta uang
36
karma
37
sakit perut
38
masih ada yang perduli
39
ketahuan
40
POV Ningsih
41
mulai curiga
42
Pelakor di pelakorin
43
keluar kota
44
Bibit hama
45
gak usah drama!
46
Beku
47
Tertangkap basah saat mesum
48
robohkan saja, ratakan seperti semula.
49
histeris
50
ini milikku
51
musibah pembawa rejeki
52
Nasi goreng
53
permintaan Danang
54
Bertengkar
55
Bertahanlah, Na!
56
ibu yang egois
57
Drama selanjutnya sang mertua
58
Bagi dua
59
siapa suruh pelit
60
pergilah jangan kembali lagi
61
pulang kampung
62
buka warung
63
tak pernah bisa berubah
64
kelakuan Danang
65
penyesalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!