Rencana

"Injih Bu RT, tadi nonton Doraemon, gak taunya ketiduran." sahut Shanum polos, wajahnya masih terlihat khas orang bangun tidur.

Setelah berbincang sejenak, para tetangga pamitan pulang, bahkan mereka memberikan sangu pada Shanum, katanya amplop lebaran, anak gadisku terlihat ceria.

Rejeki, kita tidak pernah tau dari mana arahnya.

Alloh maha tau dan maha melihat. Itulah kenapa kita diwajibkan untuk selalu berprasangka baik dengan apa yang telah di tetapkanNYA.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Satu minggu setelah kejadian waktu itu, aku memutuskan untuk membeli motor matic baru sesuai keinginan Shanum. Sedangkan motor lawas milikku, aku pinjamkan pada tetangga sebelah rumahku, kasihan, biar buat Wira wiri, Pak lek Sanu, beliau tinggal hanya berdua dengan ibunya yang terkena stroke. Sehingga tidak bisa pergi bekerja diluar, mereka hanya mengandalkan uang pensiun yang tak seberapa dari almarhum bapaknya pak lek Sanu.

"Buk! Nanti Shanum boleh belajar naik motor baru ya?" tanya putriku dengan wajah berbinar menatap motor yang dia impikan.

"Iya, nak!

Tapi gak boleh pergi jauh jauh sendirian ya. Kalau cuma muter deket deket saja ibu gak keberatan.

Karena Shanum anak gadis, rawan bahaya di luaran sana. Apalagi anak ibu terlihat cantik sekali." sahutku serius sambil menatap putriku dalam. Terlihat Shanum tersenyum dan menganggukkan kepalanya, tanda dia tidak keberatan dengan apa yang aku katakan.

"Ibuk tenang saja, Shanum pasti akan selalu ingat pesan ibuk. Shanum tau kok, ibuk itu sayang banget sama Shanum, itu kenapa ibuk selalu khawatir dengan Shanum kalau pergi sendirian." sahut anakku cerdasku, dia tau apa yang menjadi pikiran diri ini. Alhamdulillah, anakku sama sekali tidak keberatan dan memahami kecemasan seorang ibu terhadap anak perempuannya.

"Nak! Ini ada uang sepuluh ribuan, kamu bagikan sama anak anak disekitar rumah saja ya, biar berkah!" aku memberikan uang dua ratus ribu dalam bentuk uang pecahan sepuluh ribuan.

Tanpa banyak tanya, Shanum menerima uang itu dan pergi membagikannya pada anak anak yang suka bermain di lapangan tak jauh dari rumah.

Aku berniat akan pergi pergi ke Surabaya untuk menemui atasan mas Danang. Semakin cepat semakin baik. Dan hari ini aku juga sudah memasukkan gugatan cerai ke pengadilan, semoga prosesnya tidak ribet seperti yang aku bayangkan.

"Apa aku minta tolong saja sama mbak Anis, buat titip Shanum sehari saja. Aku akan ke Surabaya besok pagi, setelah urusan selesai akan langsung balik lagi ke Kediri." gumamku lirih, lalu memencet nomor ponsel mbak Anis.

"Asalamualaikum, mbak Anis.

Mbak Anis sudah dirumah?" sapaku mengawali obrolan.

"Waalaikumsallm, bund!

Sudah nih, ada apa ya bunda?" sahut suara lembut wanita cantik di seberang sana.

"Aku tak kerumah sampeyan saja, mbak.

Gak enak kalau ngomong di hape. Gak papakan, mbak, aku main kerumah mbak Anis?" sahutku sungkan, takut kalau kedatanganku mengganggu jam istirahatnya.

"Gak papa, bund!

Kesini saja, lagian aku dirumah sendirian.

Mas Riko juga belum pulang kerja, anak anak masih di tempat les." sahut mbak Anis terdengar santai.

Aku pun memutuskan untuk mengakhiri obrolan di telpon, lalu menutup pintu dan langsung menuju kerumah mbak Anis.

"Masuk bund, sini!" sambut mbak Anis setelah menjawab salamku.

"Tumben nih, ada apa?

Pasti ada sesuatu yang penting!" tebak mbak Anis, saat aku sudah duduk di sofa empuk miliknya.

"Iya, mbak. Duh jadi gak enak ngomongnya!" sahutku yang mendadak merasa sungkan karena mau merepotkan tetanggaku itu.

"Bilang saja bund, barangkali aku bisa bantu!"

"Aku mau minta tolong sama mbak Anis, titip Shanum sebentar saja. Aku mau ke Surabaya menemui atasan mas Danang di kantornya. Melaporkan pernikahan sirinya dan sikap abainya selama ini pada Shanum." sahutku yang langsung menjelaskan apa yang jadi tujuanku.

"Owalah gitu. Yasudah gak papa mbak. Shanum juga sudah besar saja, dia itu anaknya juga nurut kalau dibilangin.

Memangnya, bunda Ningsih mau berangkat jam berapa besok?" sahut mbak Anis tanpa ragu.

"Rencananya pagi, setelah mengantar Shanum ke sekolah.

Paling sore sudah kembali lagi kerumah kok, mbak!" sahutku merasa tak enak, tapi mau gimana lagi, gak mungkin aku meninggalkan Shanum tanpa pengawasan dan tak mungkin juga aku mengajaknya ikut ke Surabaya, aku tidak mau, Shanum mendengar apa yang terjadi diantara ibu dan ayahnya.

Setelah urusan Shanum selesai, mbak anis yang tidak keberatan untuk menjaganya.

Aku pergi untuk mencetak foto dan juga percakapan mas Danang denganku. Semua bukti aku kumpulkan untuk menjatuhkan nama suamiku di mata atasannya, biarlah kalau mau hancur, biar hancur sekalian.

"Tunggu saja kehancuran kamu, mas!

Aku yakin, gundikmu itu akan pergi meninggalkan kamu setelah kamu tak punya apa apa. NIkmati saja hidupmu setelah ini dengan baik." batinku puas dengan segala rencana yang sudah tertata di otak ini. Bukannya aku jahat, aku hanya ingin mencari keadilan atas sikap semena mena mereka padaku selama ini. Aku diam bukannya aku menerima semua perlakuan buruk itu, tapi karena aku masih berpikir tentang nasib dan hati putriku. Tapi kini, sudah tidak ada lagi yang aku khawatirkan, Shanum akan hidup aman dan bahagia meski hanya denganku saja.

Aku akan menjamin kebahagiaan anakku dengan cinta dan uang yang kini aku punya.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.

#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)

#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)

#Coretan pena Hawa (Tamat)

#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)

#Sekar Arumi (Tamat)

#Wanita kedua (Tamat)

#Kasih sayang yang salah (Tamat)

#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )

#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)

#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)

#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)

#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]

#Bidadari Salju [ On going ]

#Wanita Sebatang Kara { New karya }

#Ganti Istri { New karya }

Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

Terpopuler

Comments

Zainab Ddi

Zainab Ddi

lanjut baca

2024-06-25

0

KUNCORO'S Days

KUNCORO'S Days

Masih agak bingung. Sebenarnya usia Shanum berapa sih? Di sini diceritakan Shanum boleh belajar naik motor, tp di sebelumnya diceritakan tingkah Shanum itu kesannya masih anak kecil.

2023-05-06

6

Nayla Ujji ...

Nayla Ujji ...

Apapun akan di lakukan buat permata hati....
Menahan bara api dan melewati badai..
buat seorang ibu adalah melindungi anak nya....

2023-05-06

1

lihat semua
Episodes
1 Lebaran dalam duka
2 Pasti ada jalan, cukup yakinkan hati dalam setiap lantunan doa
3 Bayar hutang
4 Sebatang Kara
5 Telpon dari rokayah
6 Tamu asing di malam takbiran
7 Menata hidup baru
8 Mengumpulkan bukti
9 Bukannya malu tapi malah mencari pembenaran
10 tidak tau malu
11 milik ibuku
12 pergi
13 Rencana
14 bertemu atasan mas Danang
15 Menerima keputusan
16 mendatangi Gundik suamiku
17 Diana murka
18 pulang
19 notif dari m banking
20 kembali bangkit dengan kehidupan baru
21 Danang pulang
22 Apa kamu pikir aku takut? Sedikitpun tidak sama sekali!
23 Bantuan datang
24 Tak tau malu
25 Mati kamu, mas! Rasain!
26 pindah rumah saja
27 Danang frustasi
28 karma yang berlaku
29 menyesal
30 Hans
31 masa lalu
32 Takdir
33 kacau
34 tak punya hati
35 minta uang
36 karma
37 sakit perut
38 masih ada yang perduli
39 ketahuan
40 POV Ningsih
41 mulai curiga
42 Pelakor di pelakorin
43 keluar kota
44 Bibit hama
45 gak usah drama!
46 Beku
47 Tertangkap basah saat mesum
48 robohkan saja, ratakan seperti semula.
49 histeris
50 ini milikku
51 musibah pembawa rejeki
52 Nasi goreng
53 permintaan Danang
54 Bertengkar
55 Bertahanlah, Na!
56 ibu yang egois
57 Drama selanjutnya sang mertua
58 Bagi dua
59 siapa suruh pelit
60 pergilah jangan kembali lagi
61 pulang kampung
62 buka warung
63 tak pernah bisa berubah
64 kelakuan Danang
65 penyesalan
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Lebaran dalam duka
2
Pasti ada jalan, cukup yakinkan hati dalam setiap lantunan doa
3
Bayar hutang
4
Sebatang Kara
5
Telpon dari rokayah
6
Tamu asing di malam takbiran
7
Menata hidup baru
8
Mengumpulkan bukti
9
Bukannya malu tapi malah mencari pembenaran
10
tidak tau malu
11
milik ibuku
12
pergi
13
Rencana
14
bertemu atasan mas Danang
15
Menerima keputusan
16
mendatangi Gundik suamiku
17
Diana murka
18
pulang
19
notif dari m banking
20
kembali bangkit dengan kehidupan baru
21
Danang pulang
22
Apa kamu pikir aku takut? Sedikitpun tidak sama sekali!
23
Bantuan datang
24
Tak tau malu
25
Mati kamu, mas! Rasain!
26
pindah rumah saja
27
Danang frustasi
28
karma yang berlaku
29
menyesal
30
Hans
31
masa lalu
32
Takdir
33
kacau
34
tak punya hati
35
minta uang
36
karma
37
sakit perut
38
masih ada yang perduli
39
ketahuan
40
POV Ningsih
41
mulai curiga
42
Pelakor di pelakorin
43
keluar kota
44
Bibit hama
45
gak usah drama!
46
Beku
47
Tertangkap basah saat mesum
48
robohkan saja, ratakan seperti semula.
49
histeris
50
ini milikku
51
musibah pembawa rejeki
52
Nasi goreng
53
permintaan Danang
54
Bertengkar
55
Bertahanlah, Na!
56
ibu yang egois
57
Drama selanjutnya sang mertua
58
Bagi dua
59
siapa suruh pelit
60
pergilah jangan kembali lagi
61
pulang kampung
62
buka warung
63
tak pernah bisa berubah
64
kelakuan Danang
65
penyesalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!