Setelah selesai berbuka, Shanum minta duduk sebentar di taman yang tak jauh dari rumah.
Kami menikmati keripik singkong yang dijual di pinggir jalan dan juga jagung bakar manis dengan minum es teh tiga ribuan.
Menatap lalu lalang orang lewat.
Sejenak melupakan rasa sesak di dalam dada.
"Sudah malam, pulang yuk!
Shanum sudah kenyang dan puas kan jalan jalannya?" aku menatap putriku dengan perasaan entahlah, tapi yang pasti, hari ini kami cukup bahagia dengan apa yang kami lalui hari ini.
"Alhamdulillah, Shanum senang buk!
Yuk pulang, biar nanti gak telat bangun sahurnya." sahut anakku dengan senyum cerianya. Wajah putihnya nampak semakin cantik saat dia tersenyum.
"Oh iya, nanti malam sahur sama apa?
Dirumah tidak punya apa apa untuk dimasak." gumam ku pada anakku yang langsung terdiam.
"Uangnya ibuk habis ya?
Maafkan Shanum yang sudah banyak minta ini itu hari ini!" sesal putriku dengan raut sedih di wajahnya.
"Bukan itu nak, ibuk cuma bingung nanti kita sahur sama apa, kan dirumah gak ada yang harus di olah. Gimana kalau kita beli soto saja, nanti tinggal di angetin pas sahur." aku membalas dengan wajah yang ramah pada anakku, agar dia tak lagi bersedih.
"Boleh buk, aku ikut ibuk saja." sahut putriku yang sudah kembali tersenyum.
Kami pun pulang dengan wajah sumringah, naik motor matic yang sudah buntut.
Namun Alhamdulillah masih bisa dinaiki dan gak harus jalan kaki apalagi pinjam punya tetangga.
Saat sampai dirumah, terlihat mbak Anis berjalan menghampiri kami dengan membawa bungkusan kresek di tangannya.
"Bund, habis jalan jalan ya sama Shanum?
Dari tadi aku intip tutupan terus rumahnya." seru mbak Anis dengan senyuman hangatnya.
"Iya mbak, ini habis dari pasar bundar, Shanum minta beli jajan buat lebaran." sahut ku jujur dan mempersilahkan mbak Anis masuk ke dalam rumah.
"Monggo mbak Anis, mari masuk dulu ke dalam."
"Injih bund, terimakasih.
Aku cuma mau kasih ini buat Shanum, dari suami oleh oleh dari Jogja, katanya buat Shanum!" mbak Anis menyodorkan tas kresek warna hitam ke arah Shanum yang langsung mengucapkan terimakasih pada perempuan cantik di hadapannya.
"Terimakasih Tante, semoga Alloh balas kebaikan Tante sama om." balas anakku sopan dengan senyuman lebar di bibirnya yang tipis.
"Iya sayang, coba buka Tante pingin lihat, pilihan om Riko cocok gak buat Shanum!?" sahut mbak Anis sumringah menatap anakku penuh kasih sayang.
Shanum membuka bungkusan kresek yang ternyata isinya satu stel gamis warna maroon dan juga ada sepatu warna putih yang terlihat mahal, karena merk yang terkenal tertulis jelas disana.
Karena permintaan dari yang memberi, dengan malu malu Shanum mencoba gamis yang nampak simpel tapi terlihat elegan, merek ternama juga terlihat dari tulisan brand nya, dalam hati aku hanya bisa mengucap kalimat kalimat syukur atas kebaikan Gusti Alloh dalam memberikan rejeki melalui orang orang baik yang tulus menyayangi Shanum ku, anak istimewaku.
"Pas!
Cantik banget kamu, nak!" mbak Anis menatap takjub pada gadisku yang terlihat malu malu, bahkan mbak Anis beberapa kali memotret Shanum dengan ponselnya, katanya mau di perlihatkan pada suaminya. Pilihannya memang benar benar cocok dan pas buat Shanum.
"Terimakasih mbak Anis!
Mbak dan suami selalu baik sama kami, bahkan tiap lebaran gak pernah absen memberikan hadiah buat Shanum. Semoga Alloh membalas kebaikan mbak Anis dan suami dengan berlipat lipat kebaikan. Aamiin." aku menatap sungkan pada tetanggaku itu, selain baik, mbak Anis juga terlihat tulus menyayangi Shanum, hampir tiap hari, mbak Anis selalu main kerumah untuk bertemu dan ngobrol dengan Shanum.
"Aamiin, makasih bund doanya.
Insyaallah kami iklas dan senang bisa membantu, apa lagi Shanum anak yang pintar dan menyenangkan. Kami menyayangi Shanum seperti anak kami sendiri.
Bunda, tidak perlu sungkan apalagi merasa gak enak, karena kami sudah menganggap bunda dan Shanum itu keluarga." balas mbak Anis dengan nada lembut dan selalu menatap dengan mata yang penuh kasih sayang, terlihat ketulusan disana.
"Shanum, sini cantik.
Ini ada sedikit dari Tante buat amplop lebaran ya sayang, Tante kasih sekarang, karena Tante mau mudik, besok Tante pulang ke Madiun." mbak Anis memberikan amplop pada Shanum dan memeluk anakku erat, entah kenapa aku melihat mbak Anis menahan tangis, matanya sudah mengembun. Diciuminya wajah putriku.
"Bund, aku pamit ya. Nanti kalau aku pulang kampung, titip rumah ya, tolong dilihatin dan dinyalakan lampu depannya." sambung mbak Anis yang mau pamitan pulang.
"Besok berangkat jam berapa mbak ke Madiun?" tanyaku, karena aku berharap mbak Anis berangkat sore, agar aku bisa membawakan oleh oleh buat keluarga wanita baik dihadapan aku ini.
"Insyaallah sore mbak, nunggu mas Riko pulang dari kantor. Karena besok terakhir masuknya." sahut mbak Anis dan beliau pamitan pulang dengan senyum ramah di wajah ayunya.
"Buk!" Shanum sudah berdiri di belakangku dengan wajah yang seperti mau menangis.
"Ada apa nak?
Kamu kok kayak sedih, ada apa?" tanyaku bingung, menatap wajah anakku yang sudah terlihat meneteskan air mata dan dia menghambur dalam pelukanku, menumpahkan tangisnya dengan begitu sedihnya.
"Ada apa sayang?
Ceritakan sama ibuk, Shanum kenapa?" setelah sedikit tenang, aku mengajak putriku duduk di sofa dan mulai bertanya kenapa dia menangis.
"Tadi shanum di kirimi foto ayah yang lagi jalan jalan ke mall sama pelakor dan anaknya sama budhe Rokayah, katanya sukurin Shanum gak bisa beli baju karena ikut sama ibuk yang miskin." jelasnya dengan bibir bergetar, dadaku rasanya mau meledak, ingin merobek mulut perempuan gila itu, sudah tau adiknya bersikap salah, bisa bisanya dia membenarkan dan selalu menjelekkan aku, bahkan sangat bahagia melihatku dan anakku susah dan men-deri-ta ulah adik kurang ajarnya.
"Awas kamu, mbak!
Akan aku buat, kamu juga merasakan apa yang aku rasakan!" gumam ku dalam hati, dan pikiran ini sudah merencanakan pembalasan untuk manusia manusia laknat keluarga mas Danang.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
karissa 🧘🧘😑ditama
masyaallah,,kek smua kesulitan bgtu mdah bertemu jlan kluarny dlm karyamu ini thor,andai dikhdpan nyata semudah ini😂😂
2024-10-08
0
Zainab Ddi
Alhamdulillah masih byk yg sayang sama shanum
2024-06-24
0
Rusiani Ijaq
waduh pas baca ini momen nya pas siap lebaran jd momen nya pas sekali. nyesek banget
2024-04-21
1