Baiklah, semoga suatu saat suami mbak juga selingkuh dan mbak bisa merasakan seperti apa rasanya jadi aku. Enak banget mbak, sampai sampai dada rasanya engap. Nanti kalau sudah diselingkuhi kabar kabar ya mbak, biar aku kasih tau obatnya!" sahutku dengan senyum menyeringai, karena dalam hati aku ingin tertawa dengan nasib kakak iparku itu, belum tau saja dia, kalau suaminya juga sudah menikah lagi, bahkan istri mudanya sedang hamil besar. Nanti aku akan buat kejutan indah untuknya, untuk sekarang biarkan saja dia bicara semaunya.
"Kalau mau sengsara gak usah ajak ajak, kamu, Ningsih!
Lagian ya, mana mungkin Suamiku berani selingkuh, dia itu cinta mati sama aku, aku itu cantik, wangi dan rajin perawatan, jadi gak mungkin dong suamiku selingkuh. Emangnya kamu, sudah kusam, kucel, miskin lagi. Wajar dong, adikku cari yang lebih." sahut mbak Rokayah dengan gaya sombongnya.
Aku hanya tersenyum kecut mendengar penuturan kakak iparku itu, biarkan sajalah, nanti ada saatnya aku menikmati kesedihan dan sakit hatinya saat perselingkuhan suaminya terungkap.
"Mas, cepetan talaq dia. Biar kamu bebas dan tidak lagi berurusan dengan perempuan sinting itu.
kita juga bisa menikah secara hukum. Aku gak mau begini terus, aku juga mau keberadaanku dan anakku diakui dan sah di mata hukum." rengek perempuan itu, dan terlihat mas Danang menghembuskan nafasnya dalam, lalu menatapku dengan senyuman sinis, seolah ingin mengejekku.
"Baiklah!
Lagi pula aku juga sudah muak dengan dia. Istri gak ada gunanya juga. Tapi kamu harus ingat Ningsih, rumah ini harus dijual dan hasilnya kita bagi dua, karena bagaimanapun aku punya hak atas rumah ini." mas Danang bicara dengan begitu lancarnya, bahkan berani mengklaim rumah orang tuaku juga ada haknya, dasar laki laki parasit.
"Terserah kamu mau bilang apa, mas.
Aku sudah gak perduli, dan silahkan saja mimpi kalau rumah ini ada hak kamu. Anggap saja kamu itu otaknya geser.
Jelas jelas rumah ini milik ibuku, dan masih atas nama ibuku, bisa bisanya kamu menuntut hak kamu atas rumah ini, waras kamu, mas?
Tidak tau malu!" sahutku sinis dengan wajah mencemooh ke arah Suamiku itu, yang sebentar lagi mau berganti status jadi mantan suami.
"Aku suami kamu, apa yang jadi milikmu juga jadi milikku, wajarlah kalau aku nuntut pembagian rumah ini. Gak usah serakah kamu." sahut mas Danang dengan pedenya, bahkan pak RT dan warga lain geleng geleng mendengar ucapan mas Danang.
"Iya, mas!
Kamu harus memperjuangkan hak kamu. Jangan mau di bodohi sama istrimu itu, rumah ini harus dijual dan dibagi dua. Lumayan kan uangnya, bisa kita buat bayar kontrakan lima tahun sekaligus dan sisanya bisa buat senang senang." sahut Diana ikut menimpali, rasanya geram sekali dengan dua manusia gila di depanku itu, tapi aku juga gak mau terlihat sama gilanya dengan melawan ucapan mereka. Jadi biarkan saja mereka berkhayal, mau digugat seperti apapun mereka gak akan bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, enak saja.
"Terserah kamulah, aku gak perduli.
Yang jelas aku gak bakalan jual rumah ini, karena ini milik ibuku." sahutku tegas tanpa lagi mau banyak berdebat.
"Kalau kamu gak mau menjual rumah ini dan membagi hasilnya. Aku gak bakalan menceraikan kamu. Biar saja status kamu gak jelas. Mau kamu, gak laku nikah karena masih sah jadi istriku?" sahut mas Danang dengan tersenyum sinis, seolah ingin menekan ku. Tapi aku tidak perduli.
Tanpa persetujuan dia, aku masih bisa mengurus surat cerai, sudah cukup bukti untuk menggugat nya di pengadilan.
"Terserah, aku tak perduli.
Tanpa kamu setuju pun, aku bisa ngurus surat cerai kita, aku tidak sebodoh anggapan kamu, mas!" sahutku tajam dengan tatapan benci mengarah pada mas Danang.
"Mbak Ningsih sudah benar, dengan pak Danang selingkuh dan tidak menafkahi. Sudah bisa dijadikan alasan dan bukti di pengadilan.
Dan soal rumah ini, mbak Ningsih tenang saja, rumah ini masih atas nama ibu mbak Ningsih, Bu Suparmi. Jadi, pak Danang gak berhak apapun, meskipun dia menuntutnya." pak RT ikut menimpali dan juga mendukungku melawan kedzaliman mas Danang dan keluarganya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
#Ganti Istri { New karya }
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments
Zainab Ddi
rasain Danang tuh didukung pak RT untuk melawannya 😜
2024-06-24
0
Rusiani Ijaq
orang kalau miskin dan selingkuh otaknya jd geser, gila akut. Krn gila makanya malunya hilang. ngak punya rumah 😊 eeeeee pede pede minta dibagi 2. anda sehat danang. sana cepat daftar di RSJ sebelum penuh dg pasien yg lain 😀😀
2024-04-21
1
Togi Marnita
dasar Danang gila.otaknya ud saraf
2024-03-15
0