Tamu asing di malam takbiran

"Awas kamu, mbak!

Akan aku buat, kamu juga merasakan apa yang aku rasakan!" gumam ku dalam hati, dan pikiran ini sudah merencanakan pembalasan untuk manusia manusia laknat keluarga mas Danang.

"Sudah, nak!

Berhenti menangis, tak perlu lagi kamu memikirkan ayah dan keluarganya itu.

Cukup Shanum bersyukur atas kebaikan kebaikan yang Alloh berikan pada kita.

Lihatlah, Alloh selalu memberikan kejutan kejutan yang tak terduga pada kita, dan banyak orang orang baik yang sayang sama Shanum. Seperti Tante Anis, om Riko, dan om Hans.

Tanpa ayahmu membelikan baju baru, Shanum sudah mendapatkan baju baru yang lebih bukan?

Itu artinya kasih sayang Alloh jauh lebih besar, nak!

Jangan sedih, Insyaallah mereka akan menuai balasan sesuai dengan perbuatannya. Mengabaikan kewajiban kepada anak, adalah sesuatu yang berat dosanya, namun ayahmu sudah dibutakan oleh wanita itu, sehingga tak lagi perduli dengan apa itu dosa. Biarkan! Biar tangan Alloh yang bekerja untuk memberi hukuman pada mereka yang sudah dzalim pada kita!" ucapku panjang lebar, Shanum bukan anak kecil lagi, dia sudah tumbuh remaja dengan pemikiran cerdasnya. Aku tak lagi menutupi kemelut rumah tangga padanya, karena mas Danang sendiri lah yang membuka kebusukannya di hadapan anaknya.

"Iya, buk!

Maafkan Shanum kalau sedih dengan ucapan budhe Rokayah, dia sudah tega bicara buruk tentang ibuk dan juga menghina kita.

Shanum tidak mau lagi bertemu dengan mereka sampai kapanpun.

Shanum hanya punya ibuk, hanya ibuk!" sahut putriku dengan tergugu, Ya Alloh perih hatiku.

"Yasudah, ayok tidur. Sudah jam sembilan malam.

Shanum tidur sendiri atau sama ibuk di kamar belakang?" aku berusaha mengalihkan pikiran anakku agar tidak larut dalam kesedihan yang dibuat perempuan minim adab itu.

"Shanum mau tidur sama ibuk saja. Kangen dikeloni ibuk!" sahutnya manja sambil melingkarkan tangannya di pinggang rampingku.

"Ibuk kunci pintu dulu, Shanum masuk saja ke kamar, nanti ibuk nyusul!" aku menutup semua pintu dan menguncinya rapat, mematikan lampu ruang tamu dan mematikan kipas angin di kamarnya Shanum.

Lalu menuju kamar belakang dimana Shanum sudah berbaring menungguku.

"Biarlah aku simpan dulu amarahku untuk membalas kelakuan kakak iparku itu, dan untukmu mas Danang, lihat saja, aku akan membuatmu di pecat dari pekerjaan kamu." Batinku berbicara sendiri, diam ku membuat mereka semakin berbuat semena mena, dan saatnya aku akan bertindak untuk memberi pelajaran pada manusia manusia laknat itu.

Hari ini puasa terakhir, nanti malam sudah dikumandangkan takbir menyambut idul Fitri, semua orang menyambut penuh suka cita, aku hanya diam tanpa punya keinginan apapun, selain ingin memberi pelajaran pada keluarga suamiku dan gundiknya itu.

"Buk, Shanum mau tata jajan jajannya di meja ya, biar kayak orang orang, siapa tau nanti ada tamu yang datang!" seru anakku dengan wajah berbinar, aku tersenyum melihat tingkahnya, namun ada rasa sesak kala mendapati kenyataan, tak akan ada tamu yang mau mampir dirumah orang miskin ini. Bahkan keluarga juga tak punya. Lebaran kali ini mungkin akan sama seperti lebaran lebaran sebelumnya, hampa, sepi dan sendiri.

"Iya sayang, ibuk juga sudah beli Aqua mini. Taruh saja ditempat minum yang ada di bufet." sahutku menyambut antusias anakku.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Saat malam takbir, ada tamu yang datang kerumah. Entah siapa akupun juga tidak mengenal mereka, sepasang suami istri. Mereka datang dengan menggunakan mobil mewah dan senyum ramah di wajah mereka.

"Asalamualaikum!

Apa benar ini rumahnya mbak Ningsih?" tanya perempuan cantik yang usianya sekitar empat puluhan.

"Waalaikumsallm, iya Bu, benar!

Maaf ini dengan siapa?" jawabku ramah dan mempersilahkan mereka masuk.

"Kenalkan saya Safitri dan ini suami saya Efendi.

Kami dari solo, kesini karena ingin menyampaikan amanat dari almarhum pak Suparlan. Ayah mbak Ningsih." sahut perempuan itu ramah.

"Amanat, maksudnya Bu?" sahutku bingung.

Suparlan memang nama bapakku, selama beliau hidup sama sekali tidak pernah perduli padaku, bahkan menjengukku pun juga tidak pernah, bapak terkenal dengan banyak istri dan tukang judi di kampungnya. Beliau tidak pernah menemuiku sama sekali, hingga nafas terakhirnya.

Dan aku pun juga enggan melayat saat beliau meninggal, entahlah luka diabaikan begitu menyakiti hatiku, hingga tak mau perduli dengan apa yang menimpa beliau.

Banyak orang menyarankan untuk aku datang dan mengambil hakku sebagai anak sah dari bapakku.

Bapakku orang kaya, memiliki berhektar-hektar sawah, istrinya banyak tapi semua di nikahi secara siri. Istri sahnya hanya ibuku saja, dan aku anak satu satunya.

Tapi sama sekali aku tak perduli, biarlah. Jika memang harta bapakku banyak seperti kata orang orang, biar jadi urusan nenek, karena ibu bapakku masih hidup, meskipun usianya sudah sangat tua.

"Saya adalah anak pak Parlan dari istri ke empatnya, sekarang dinas di kota solo, begitu juga dengan suami saya juga dinas disana.

Sebelum bapak meninggal, beliau menitipkan harta warisan buat kamu dek!

Dan sejumlah uang di rekening atas nama kamu.

Waktu itu, bapak pernah meminta KTP kamu sama almarhum ibu. Ini terimalah wasiat dari bapak.

Dan bapak juga minta maaf, sudah banyak salah dan dosa sama kamu, tidak pernah perduli dan selalu mengabaikan kamu." ucap Bu Safitri panjang lebar dengan suara bergetar.

Aku hanya diam, hatiku beku, rasa sakit dan luka pengabaian dari seorang bapak membuatku mati rasa. Banyak luka dan air mata yang harus aku lalui untuk bertahan hidup dalam kemiskinan.

"Maafkan bapak ya, dan maafkan mbak juga.

Karena selama hidupnya, beliau hanya memperhatikan dan mengutamakan mbak.

Maafkan kami!" sambut Bu Safitri dengan derai air mata.

"Apa ibu tau, aku dan ibuku hidup dalam tekanan penderitaan selama ini?

Ibu sudah mengambil bapakku tanpa perduli bagaimana rindunya anak perempuan pada kasih sayang bapaknya." ucapku dengan dada bergetar, air mataku akhirnya jatuh juga setelah sekuat tenaga aku menahannya.

"Jangan panggil, ibu.

Panggilah saya, mbak. Karena saya mbak kamu, dek!" aku menatapnya dalam, air matanya juga sama mengalir deras, suaminya terlihat menggenggam tangan wanita di hadapanku yang katanya saudaraku.

"Kalau mbak Safitri, anak dari istri ke empat bapak. Kenapa umur kita beda jauh, dan lebih tua mbak?

Harusnya aku yang lahir lebih dulu?

Apa mbak Safitri anak sambungnya bapak?"

Rasa penasaran yang sedari tadi aku pendam kini aku utarakan.

"Bukan!

Saya anak kandungnya bapak sama ibuku.

Bapak menikah dengan ibu memang secara siri sebelum menikahi ibu kamu.

Saat bapak menikah dengan ibumu, usiaku sudah dua belas tahun. Bapak menikah dengan ibu kamu karena restunya nenek, sehingga mereka menikah secara sah di mata hukum dan agama.

Tapi bapak sangat mencintai ibuku meskipun istrinya tidak hanya ibuku dan ibumu." jelas mbak Safitri panjang lebar, dan aku hanya mendengarkan dengan hati hampa.

Entahlah, luka itu masih terasa nyeri kala teringat bagaimana sikap bapakku yang tak pernah memperdulikan keberadaan ku.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.

#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)

#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)

#Coretan pena Hawa (Tamat)

#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)

#Sekar Arumi (Tamat)

#Wanita kedua (Tamat)

#Kasih sayang yang salah (Tamat)

#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )

#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)

#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)

#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)

#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]

#Bidadari Salju [ On going ]

#Wanita Sebatang Kara { New karya }

Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

Terpopuler

Comments

Zainab Ddi

Zainab Ddi

Alhamdulillah berkat pasrah sama Allah memberikan berlimpah rejeki

2024-06-24

0

Agustina Kusuma Dewi

Agustina Kusuma Dewi

ngelu

2024-05-13

0

Jasreena

Jasreena

blok aja no telp nya

2024-03-12

2

lihat semua
Episodes
1 Lebaran dalam duka
2 Pasti ada jalan, cukup yakinkan hati dalam setiap lantunan doa
3 Bayar hutang
4 Sebatang Kara
5 Telpon dari rokayah
6 Tamu asing di malam takbiran
7 Menata hidup baru
8 Mengumpulkan bukti
9 Bukannya malu tapi malah mencari pembenaran
10 tidak tau malu
11 milik ibuku
12 pergi
13 Rencana
14 bertemu atasan mas Danang
15 Menerima keputusan
16 mendatangi Gundik suamiku
17 Diana murka
18 pulang
19 notif dari m banking
20 kembali bangkit dengan kehidupan baru
21 Danang pulang
22 Apa kamu pikir aku takut? Sedikitpun tidak sama sekali!
23 Bantuan datang
24 Tak tau malu
25 Mati kamu, mas! Rasain!
26 pindah rumah saja
27 Danang frustasi
28 karma yang berlaku
29 menyesal
30 Hans
31 masa lalu
32 Takdir
33 kacau
34 tak punya hati
35 minta uang
36 karma
37 sakit perut
38 masih ada yang perduli
39 ketahuan
40 POV Ningsih
41 mulai curiga
42 Pelakor di pelakorin
43 keluar kota
44 Bibit hama
45 gak usah drama!
46 Beku
47 Tertangkap basah saat mesum
48 robohkan saja, ratakan seperti semula.
49 histeris
50 ini milikku
51 musibah pembawa rejeki
52 Nasi goreng
53 permintaan Danang
54 Bertengkar
55 Bertahanlah, Na!
56 ibu yang egois
57 Drama selanjutnya sang mertua
58 Bagi dua
59 siapa suruh pelit
60 pergilah jangan kembali lagi
61 pulang kampung
62 buka warung
63 tak pernah bisa berubah
64 kelakuan Danang
65 penyesalan
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Lebaran dalam duka
2
Pasti ada jalan, cukup yakinkan hati dalam setiap lantunan doa
3
Bayar hutang
4
Sebatang Kara
5
Telpon dari rokayah
6
Tamu asing di malam takbiran
7
Menata hidup baru
8
Mengumpulkan bukti
9
Bukannya malu tapi malah mencari pembenaran
10
tidak tau malu
11
milik ibuku
12
pergi
13
Rencana
14
bertemu atasan mas Danang
15
Menerima keputusan
16
mendatangi Gundik suamiku
17
Diana murka
18
pulang
19
notif dari m banking
20
kembali bangkit dengan kehidupan baru
21
Danang pulang
22
Apa kamu pikir aku takut? Sedikitpun tidak sama sekali!
23
Bantuan datang
24
Tak tau malu
25
Mati kamu, mas! Rasain!
26
pindah rumah saja
27
Danang frustasi
28
karma yang berlaku
29
menyesal
30
Hans
31
masa lalu
32
Takdir
33
kacau
34
tak punya hati
35
minta uang
36
karma
37
sakit perut
38
masih ada yang perduli
39
ketahuan
40
POV Ningsih
41
mulai curiga
42
Pelakor di pelakorin
43
keluar kota
44
Bibit hama
45
gak usah drama!
46
Beku
47
Tertangkap basah saat mesum
48
robohkan saja, ratakan seperti semula.
49
histeris
50
ini milikku
51
musibah pembawa rejeki
52
Nasi goreng
53
permintaan Danang
54
Bertengkar
55
Bertahanlah, Na!
56
ibu yang egois
57
Drama selanjutnya sang mertua
58
Bagi dua
59
siapa suruh pelit
60
pergilah jangan kembali lagi
61
pulang kampung
62
buka warung
63
tak pernah bisa berubah
64
kelakuan Danang
65
penyesalan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!