🍷🍷🍷
Matahari mulai naik ke permukaan, makhluk hidup yang ada di bumi mulai melakukan aktivitasnya masing-masing. Namun berbeda dengan Rose, Gadis itu masih setia menyelami alam mimpinya meski cahaya matahari sudah menimpa wajahnya.
Suara pintu kamarnya yang terketuk pelan, tak lantas membuatnya langsung membuka mata. Ia justru sibuk meraba tempat di sisinya seakan mencari-cari sesuatu, keningnya berkerut karena tidak mendapati yang diinginkannya.
Tidak kunjung mendapatkan yang diinginkannya, matanya untuk perlahan terbuka. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mengumpulkan nyawa-nyawanya yang belum menyatu seutuhnya.
Rose mengedarkan pandangannya, manik hazel nya menangkap kancing kemeja yang berada tepat di sebelahnya. Jelas, itu bukan miliknya karena Ia mengenakan gaun tidur.
Ia yakin itu milik Sam. Sontak saja, matanya melebar. Ingatan semalam saat dirinya dengan berani menyeret tubuh Pria itu ke dalam kamarnya dan tidur di atas dada bidangnya, melintas begitu saja seolah menjadi boomerang tersendiri.
Rose mengutuk sikap seenak jidatnya itu. Sebenarnya yang semalam mabuk, Sam atau dirinya? Kenapa Rose merasa kalau yang semalam itu bukan dirinya. Apa Ia kerasukan hantu centil?
Ceklek..
Suara pintu kamar mandi yang mendadak terbuka membuat matanya secara refleks terpejam erat. Aroma mint yang dipadukan harum mawar menyambut indera penciuman nya, derap langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya.
Rose dapat merasakan keberadaan Pria yang dicarinya barusan berada di sisi ranjang, Ia juga dapat merasakan tatapan intens yang dilayangkan padanya.
"Istri kecilku, cantik sekali.." Elusan lembut dan bisikan lirih darinya, membuat jantung Rose hampir melompat keluar dari tempatnya.
Rileks Rose! Tahan..
Ia terus melafalkan kalimat itu berulang kali, menghipnotis tubuhnya sendiri agar tetap tenang dan tidak menimbulkan kecurigaan sedikit pun.
Kali ini, kekehan serak terdengar. "Sudahlah.. Jangan pura-pura seperti itu." Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Rose, "Kau lucu sekali, Sweetie. Aku jadi ingin memakan mu."
Matanya langsung terbuka begitu saja. Ia melotot, menatap horor Suaminya yang hanya mengenakan jubah mandi saja.
Sam mengangkat salah satu alis tebalnya seolah tidak pernah melakukan kesalahan. Tangannya yang bertumpu pada sisi ranjang semakin menambah kesan sexy,
Jubah mandi yang tidak bisa menutupi tubuh kekar itu sepenuhnya membuat dada bidangnya hampir terlihat dan perut sixpack nya yang mengintip dari balik celah jubah.
"Melihat apa, hm?"
Pipi Rose memanas, Ia lekas mengalihkan wajahnya kemanapun asalkan tak menatap wajah tanpa dosa Sam.
Sam terkekeh, puas menggoda Istri kecilnya. Ingin sekali Ia mengigit pipi bulat semerah tomat itu.
Sam berdiri, mengelus pelan puncak kepala Rose sekilas. "Bersiaplah.. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."
Rose terus membeku di tempatnya, bahkan setelah Pria itu hilang dari balik pintu Ia masih terdiam layaknya orang bodoh.
Nyawanya hilang entah kemana perginya..
...🍷💋🍷...
Gaun merah menawan menjuntai indah ke bawah, rambut gelombangnya di tata secantik mungkin. Meskipun sudah seperti ini, Rose masih bingung kemana Ia akan dibawa pergi.
Rose menatap Dorothy dari pantulan cermin, "Kita akan kemana, Dorothy?"
"Nona, bisa menanyakannya langsung pada Tuan." Senyum misterius yang tersungging di bibir Dorothy membuat Rose menyipitkan matanya curiga.
Ia mendengus kesal, Dorothy sama menyebalkannya dengan Sam.
"Nah, sudah. Ayo Nona, Tuan sudah menunggu." Rose mengangguk, Ia beranjak dari kursi rias nya.
Kaki jenjang berbalut heels yang memiliki warna serupa dengan Gaunnya, melangkah pasti menuju pintunya.
Menyadari Dorothy tidak mengikutinya, Rose pun berbalik. "Kau tidak ikut?"
Dorothy mengulum senyum. "Tentu tidak, di sana banyak maid yang akan membantu Nona."
Rose mengerutkan keningnya, bertambah bingung dengan clue yang diberikan Dorothy padanya. Tidak ingin mati penasaran, Rose memutar handle pintu berniat menanyakannya langsung pada Sam.
Tapi begitu pintunya terbuka, tubuh kekar Sam sudah berdiri menjulang tepat di hadapannya.
"What the--"
Hampir saja umpatan kasarnya keluar, Rose melemparkan tatapan sengit ke wajah tanpa dosa Sam. "Kenapa berdiri di sana?"
Sam tidak mengatakan apapun, mata tajamnya menatap Rose lekat. Seperti hewan buas yang menemukan mangsanya.
Rose yang ditatap seperti itu terlihat salah tingkah, "K-kenapa? Apa ada yang salah?"
Sam menggeleng, "Tidak ada yang salah. Hanya saja, kau cantik."
"Sungguh?"
"Tidak." Ucapan telak Sam membuat senyum Rose luntur seketika. "Kau memang selalu cantik, bukan hanya hari ini saja." Lanjutnya.
Rose menunduk, senyumnya kembali dibuat mengembang.
Astaga, kenapa Ia seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta?!
Sam terkekeh geli, tangan besarnya tanpa permisi melingkupi tangan mungil milik Istri kecilnya. Walau sedikit terkejut, Rose membiarkannya saja.
Mereka berjalan beberapa langkah dari kamar Rose lalu Sam menghentikan langkahnya ketika mereka mencapai anak tangga pertama.
"Tutup matamu."
Rose menoleh, keningnya berkerut bingung. "Untuk apa, Sam?"
"Kalau ingin mengetahuinya, tutup dulu matamu."
"Tapi, untuk apa--"
"Tutup matamu, Sweetie.."
Tanpa membantah, Rose memejamkan matanya bersamaan dengan rona merah yang muncul di pipi putihnya.
Sam tersenyum tipis, "Good Girl."
Terpaan angin lembut menyapa permukaan kulitnya, kedua lengan Sam perlahan melingkari pinggangnya seiring dengan laju angin yang semakin kencang Ia rasakan.
Angin itu cukup kencang, tapi entah kenapa Ia sama sekali tidak merasakan sakit, seperti ada tubuh seseorang yang menghalangi dirinya agar tidak mengalami hal itu.
Karena penasaran, Rose sedikit membuka matanya. Ia dapat melihat Sam yang memejamkan mata dengan posisi menghadapnya, membelakangi arah angin berada.
Ternyata Pria itu menggunakan kekuatannya. Rose tersenyum, Ia kembali memejamkan matanya lagi.
Angin yang berhembus perlahan mulai mereda. Sam melepas genggamannya, Rose seketika merasa kehilangan.
"Sudah, kau boleh membuka mata."
Rose membuka matanya, pemandangan di sekelilingnya bukan lagi Mansion Sam melainkan Aula luas yang di setiap sudutnya terdapat Laki-laki berpakaian zirah membawa pedang.
"Sam, ini dimana?"
Sam merangkul pinggang sempit Rose. "Kita berada di Istana."
"Istana? Untuk apa kita ke sini?" Rose menatap Sam bingung.
"Mengunjungi Queen yang sedang sakit."
Rose semakin dibuat tidak mengerti dengan ucapan Sam, "Memang apa urusan--"
"Jangan banyak bertanya, Sweetie." Rose langsung diam dengan bibirnya yang mengerucut.
Dua Ksatria menghampiri mereka, merendahkan sedikit tubuhnya. "Salam untuk Prince Samuel Nathaniel Browne dan Salam untuk Nona Rosetta, Semoga keberkahan Red Moon selalu menyertai."
Sam mengangguk sedangkan Rose sudah melebarkan matanya.
"King dan Queen meminta kalian untuk menunggu di Ruang makan. Mari ikut kami." Ksatria itu membimbing mereka untuk sampai ke ruang makan dan mereka berdua mengikuti dibelakangnya.
Sam menatap Rose yang terus diam, lengan kekarnya merapatkan jarak antara mereka.
"Kenapa, hm?"
"Tidak apa," Ucapnya. Meski benaknya ingin sekali menanyakan, kenapa Ia tidak tau kalau ternyata selama ini Sam merupakan seorang Prince.
Rose menghela nafas panjang, memangnya apa lagi yang Ia tau selain Sam yang tinggal bersama bawahan-bawahannya di Mansion tengah hutan.
Apa karena Ia tidak penting? Rose bisa menjadi pendamping Sam juga hanya untuk menggantikan posisi kosong, Lady Rosalie.
Elusan di kepalanya membuat Rose sedikit terkejut, "Hei. Jangan berpikiran yang aneh-aneh."
"Kita sudah sampai?" Sam mengangguk, Ia menarik kursi untuk Istrinya duduk.
Rose mengedarkan pandangan. Ruang makan ini lebih luas dari ruang makan yang ada di Mansion Sam, meja panjang dengan banyaknya kursi serta peralatan makan yang memiliki warna mengkilap sukses membuatnya terpukau.
Ini seperti Istana.
Ah iya, ini memang Istana.
🍷🍷🍷
Note: Gaun Rose
Note: Ruang Makan Istana
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments