🍷🍷🍷
Secangkir teh yang asapnya masih mengepul dan desert favoritnya sengaja di siapkan para Maid untuknya.
Sayangnya, camilan menggugah selera itu belum di sentuh sama sekali olehnya. Mau bagaimana lagi, moodnya sedang buruk.
Rose menatap lurus, jendela raksasa yang menampilkan luasnya hutan. Meskipun sebenarnya pikirannya tidak berada di sini.
Rose memikirkan Rumahnya, Ia merindukan Orang Tuanya. Rose juga memikirkan Kantor, Ia merindukan orang-orang kantor terutama Steven.
Apa mereka tidak mencarinya? Dirinya sedang diculik loh.
"Nona, cuaca hari ini sangat bagus. Anda tertarik untuk pergi berkeliling tidak?"
Rose beralih menatap Maid bertubuh mungil yang Ia tahu bernama Dorothy.
"Memangnya apa yang menarik dari Hutan?"
"Tentu banyak, Nona. Mari, kita berkeliling. Saya akan menemani Nona kemanapun."
Ia sebenarnya malas, tapi karena ekspresi antusias Dorothy yang menggemaskan membuatnya tak enak hati jika menolak ajakannya.
"Baiklah.. Tapi, kau jangan berjalan di belakangku ya. Berjalan saja di sampingku,"
Dorothy menggeleng, "Saya merasa tidak pantas, Nona."
"Memangnya aku ini apa? Aku juga sama sepertimu Dorothy, Aku bukan putri raja."
"Tapi, Nona 'kan menantu Raja."
"Hah?!" Kening Rose berkerut bingung. Ia yakin tadi telinganya tidak salah dengar, tapi..
"Sepertinya Saya salah bicara. Maaf Nona, Saya hanya bergurau tadi."
Rose menyipitkan matanya, gelagat Dorothy yang panik saat menjawabnya terasa mencurigakan.
"Mari, Nona." Dorothy membimbing Rose agar segera meninggalkan ruang santai.
Sebenarnya apa yang Dia sembunyikan darinya, apa ini ada hubungannya dengan Sam ya?
Ngomong-ngomong tentang Sam, dari semalam Ia tidak bertemu dengan Mahkluk jadi-jadian itu. Mungkin kick nya semalam keterlaluan.
Salah sendiri, Dia suka seenaknya sih. Rose 'kan hanya mencoba melindungi diri. Tapi, ekspresi kesaktiannya semalam cukup menghiburnya.
"Nona, sedang memikirkan Tuan ya?"
"Bagaimana kau bisa tau? Apakah Vampir bisa membaca pikiran orang? Tunggu, kau juga Vampir ya?"
Dorothy terkejut dengan semua pertanyaan memberondong yang ditunjukkan untuknya,
"Nona, Saya bingung menjawabnya yang mana dulu." Tanyanya dengan raut wajah polos.
"Benar juga, baiklah. Apa kau juga sejenis Vampir? Seperti Sam."
"Bukan, Nona. Saya dari klan Penyihir. Saya juga manusia seperti Nona, hanya saja memiliki sedikit kemampuan dalam dunia sihir."
"Wow! Itu keren, Dorothy. Aku tidak tau semua hal yang menurutku fantasi ternyata ada di dunia nyata."
Dorothy tersenyum, "Nona beruntung bisa hidup sebagai Manusia."
"Loh, kenapa?"
"Kami para klan masih menerapkan hukum hutan, yang kuat dialah yang berkuasa sedangkan yang lemah akan tertindas."
"Seperti itu ya.. Hidupmu sangat berat, Dorothy. Apalagi memiliki Tuan seperti Sam."
"Justru, Tuan yang menyelamatkan Saya dari pembantaian klan Penyihir. Seluruh keluarga Saya habis dibantai oleh para pemburu, dan hanya menyisakan Saya seorang. Saya sangat berhutang budi pada Tuan."
Mata bulat Dorothy berkaca-kaca saat menceritakannya. Rose jadi merasa tak enak hati padanya.
"Maaf, Dorothy. Aku tidak tau."
"Tidak apa, Nona. Saya sangat senang bercerita dengan Nona."
"Oh ya, apa aku boleh bertanya lagi?"
"Tentu, Nona."
"Apa Penyihir dan Vampir bisa hidup bertahun-tahun?"
"Bisa, Nona mau tau tidak? Umurku itu 200 tahun loh."
"Apa!? K-kau pasti bercanda 'kan Dorothy."
"Tidak, Saya serius Nona. Kemarin Saya baru merayakannya bersama Bibi Merry dan yang lain."
"T-tapi, wajahmu seperti baru berumur 17 tahun, Dorothy."
"Nona, Saya jadi merasa malu."
Rose terkekeh melihat ekspresi malu-malu Dorothy, Gadis itu semakin terlihat menggemaskan dengan rona kemerahan yang muncul di pipinya.
Dorothy tidak terlihat seperti Penyihir yang digambarkan Manusia, yang memiliki hidung besar dan suara serak menyeramkan. Dia justru kebalikannya, hidungnya mungil, dan suaranya enak didengar.
"Kita sudah sampai, Nona." Dorothy menghentikan langkahnya.
Suara Dorothy membuyarkan lamunannya, Rose mengikuti arah pandang Dorothy. Tanah lapang ditumbuhi rumput hijau yang asri, terdapat banyak bunga Daisy dan Mawar yang tertanam dengan indah.
"Ini cantik sekali, Dorothy." Rose terpesona dengan apa yang dilihat matanya saat ini.
Ini seperti di negeri Dongeng. Tanpa sadar Rose melangkahkan kakinya, menapaki tanah yang terasa diselimuti karpet hijau yang lembut.
"Dorothy, cepat sini. Aku ingin lihat lebih dekat bunga-bunganya."
"Baik, Nona."
Bibirnya tak henti-hentinya tersenyum. Semua bunga yang ada di sini, adalah bunga favoritnya.
Setelah mengagumi bunga-bunga di sini dalam waktu yang lama, Rose terduduk di bawah pohon Ek.
Dorothy yang menyadari keberadaannya Nona nya buru-buru menghampirinya. "Nona, mari kita duduk di kursi saja."
"Disini saja, Dorothy. Ayolah duduk, temani aku."
"Baik, Nona." Dorothy lekas menduduki tempat yang tidak jauh dari Rose.
"Taman ini punya, Sam?"
"Sebenarnya Tuan membuatkan Taman ini untuk Lady Rosalie."
"Siapa Lady Rosalie itu?"
"Dia seorang yang istimewa bagi, Tuan."
Entah kenapa perkataan Dorothy membuat Rose merasa kesal, "Oh ya, Lalu sekarang dia ada dimana?"
"Lady Rosalie adalah Gadis yang hidup di abad pertengahan, mungkin sekarang Ia sudah bereinkarnasi."
Rose mengangguk mengerti, "Jadi begitu ya. Apa dia cantik?"
"Sangat cantik, dia adalah Lady paling cantik di zamannya."
Sangat cantik ya? Jadi Sam suka wanita cantik. Ia tidak jadi menyebutnya Vampir gila, Sam adalah Vampir Playboy sepanjang masa.
Dorothy menatap Rose yang tiba-tiba saja terdiam. "Nona, Anda tidak apa?"
"A-ah aku baik-baik saja, hanya tiba-tiba merindukan Rumah."
"Syukurlah. Ayo kita pulang, Nona. Mataharinya mulai naik. Itu tidak baik untuk kulit Nona."
"Baiklah.."
Rose beranjak dari duduknya, Ia menepuk-nepuk dress nya yang sedikit kotor karena tanah. Bersamaan dengan itu, kepalanya terasa pusing dan sebuah adegan memori menghantamnya.
Seorang Gadis dengan gaun yang menjuntai ke bawah, terlihat sedang tersenyum lebar. Apa yang membuatnya sebahagia itu?
Tiba-tiba seorang Pria dengan kemeja putih dipadukan dengan jubah hitam selutut berlari ke arahnya, Ia tanpa aba-aba memeluk Gadis itu hingga sedikit terangkat dari tanah.
"Aku merindukanmu." Tutur Pria itu,
"Aku juga merindukanmu, kenapa kau tidak pernah membalas surat-surat dariku?"
"Maafkan Aku. Aku khawatir saat membacanya, Aku akan langsung berlari ke sini."
"Kau ini ada-ada saja. Sebentar," Gadis itu melerai pelukannya, diwaktu yang sama sebuah angin besar menghisapnya membuat sekelilingnya menjadi gelap.
Rose mengerjapkan matanya beberapa kali, tangannya masih memegangi dress nya.
Yang barusan itu memori siapa? Ia tak bisa melihat dengan jelas wajah pasangan yang ada di ingatannya itu, karena hampir semua bagian wajahnya memburam kecuali bibirnya.
"Nona, Apa anda baik-baik saja?" Ujar Dorothy khawatir.
Rose mengangguk, "Aku hanya sedikit pusing saja."
"Sebentar, Saya akan memanggil Dokter kemari."
"Tidak usah, Dorothy. Aku hanya perlu istirahat sejenak, pasti nanti akan kembali membaik."
"Ya sudah. Mari, Nona kita harus cepat kembali. Agar Nona bisa langsung istirahat."
Rose tersenyum. "Iya, Dorothy."
🍷🍷🍷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments