Racun?

🍷🍷🍷

Hiruk-pikuk aktifitas jual beli masuk ke indera pendengarannya bersamaan dengan kereta kuda yang perlahan menapak ke tanah yang sesungguhnya.

Semangat yang sempat padam kembali timbul. Rose membuka jendela yang hanya ditutupi tirai itu, kepalanya melongok keluar melihat banyaknya orang lalu-lalang.

Gula-gula dan aksesoris dijajakan sepanjang jalan, manik hazel Rose berbinar cerah melihat itu. Saat ingin membuka pintu, Dorothy menahannya.

"Nona, anda melupakan jubahnya." Rose menerima jubah Abu-abu itu lalu memakainya cepat.

"Ayo, Dorothy." Gadis imut itu pasrah saja saat Nona-nya menariknya agar cepat turun dari Kereta.

Entah apa yang membuat mood Rose meningkat dengan pesat, padahal sebelumnya Dia terlihat memiliki banyak pikiran.

"Dorothy, kita akan kemana?"

Suara Rose menarik Dorothy dari lamunannya, karena terlalu sibuk memikirkan Nona-nya Ia sampai tidak sadar kalau mereka sudah berada di tengah-tengah keramaian Pasar.

"Kita beli Sayuran dulu, Nona." Rose mengangguk, membiarkan Dorothy membawanya ke deretan penjual yang menjajakan banyak Sayuran segar.

Pedagang itu menyambutnya dengan ramah. "Ayo, Nona-nona. Sayuran di sini didatangkan langsung dari Melnia."

"Kalau begitu, berikan aku tomat dan kubis yang masih segar." Pedagang itu meletakan semua tomat dan kubis ke hadapan Dorothy.

Dorothy tidak langsung membelinya, Ia memilih yang paling fresh dan sekiranya baru datang dari Melnia. Rose yang bosan karena terlalu lama menunggu, diam-diam mengambil langkah seribu mendekati pedagang gula-gula.

"Wow.." Banyaknya buah yang dijadikan gula-gula membuat Rose hampir meneteskan saliva nya.

"Kau ingin yang mana, Nona."

Rose menunjuk semua yang menurutnya enak dan Pedagang gula-gula sibuk memasukannya ke dalam wadah.

"Total semuanya jadi, 6 koin Emas." Rose memberikan enam keping koin Emas ke Pedagang gula-gula itu.

Sebelumnya, Dorothy memang memberikannya sekantung koin emas untuk membeli sesuatu yang menjadi tujuan utamanya datang ke sini.

Mendadak Rose mengingatnya, karena teralihkan dengan berbagai macam gula-gula dan aksesoris Ia sampai melupakan tujuan utamanya datang ke sini.

Setelah menerima gula-gula nya, Rose dengan tergesa-gesa masuk ke kerumunan orang membuat Dorothy yang sedang mencari Nona-nya pun kehilangan jejak.

Matanya berkeliaran, meneliti tiap toko-toko yang ada.

Brak!

Rose meringis, memegangi sikunya yang tergores karena digunakan untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh terlentang.

"Maaf, Nona. Mari saya bantu." Rose menggapai uluran tangan orang asing yang ditabrak nya barusan.

Rose menengadahkan wajahnya, Ia jadi bisa melihat wajah orang asing itu dengan jelas. "Tidak apa, aku yang salah."

"Rosalie?"

Rose mengerutkan keningnya mendengar nama itu disebutkan Laki-laki yang barusan ditabrak nya, apalagi wajahnya saat memanggil nama 'Rosalie' seperti sarat akan kerinduan.

Tapi yang tak Rose mengerti, kenapa Laki-laki itu memanggil nama 'Rosalie' seolah-olah orangnya berada di hadapannya.

"Maksudmu apa?"

Laki-laki itu tampak semakin sedih, Rose yang bingung pun menarik lengannya agar menyingkir dari ramainya orang lalu-lalang.

"Rosalie, kau sudah melupakan aku? Apa Pangeran Vampir itu yang membuatmu seperti ini? Sudah berapa ratus tahun kau tidak kembali ke--"

Pertanyaan beruntun Laki-laki itu semakin membuat Rose pusing, sebelum semuanya semakin kacau Rose dengan cepat menyela.

"Aku bukan Rosalie, aku Rosetta. Kau mungkin salah orang." Laki-laki itu terkekeh seakan ucapannya barusan hanyalah gurauan saja.

"Jangan bercanda, Rosalie. Kau mengatakan itu dengan wajahmu yang jelas memancarkan kecantikan Avery."

"Sungguh! Aku sama sekali tak mengerti maksudmu."

Laki-laki itu terdiam beberapa saat. "Baiklah, aku percaya padamu. Mungkin saja kau hilang ingatan."

Rose sudah tidak berniat membantahnya lagi Laki-laki ini sangat keras kepala, percuma rasanya membantah lagi.

"Apa siku mu tak apa?"

"Entahlah, ini sedikit sakit."

Laki-laki itu mengambil alih siku Rose untuk diamati lukanya, "Ayo, ikut aku."

"Kemana?"

"Ke tempat yang bisa mengobati lukamu."

Entah kenapa Rose percaya dengan ucapan Laki-laki itu. Ia dengan patuh mengikuti kemana Laki-laki bersurai pirang itu membawanya.

Langkahnya berhenti di sebuah pondok yang menjajakan berbagai macam obat herbal. Laki-laki itu membawanya memasuki Pondok.

"Tunggu di sini." Rose didudukan di kursi kayu sedangkan Laki-laki itu melangkah semakin memasuki Pondok.

Matanya memperhatikan banyaknya guci-guci tua yang diisi berbagai macam tanaman dan cairan berwarna keruh. Ini seperti Pondok penyihir jahat yang suka membuat ramuan.

Beberapa saat, Laki-laki itu kembali bersama Wanita yang memakai Gaun sederhana. Sama seperti reaksi Laki-laki tadi ketika melihatnya, Wanita itu juga nampak terkejut ketika melihat wajahnya.

"Kurasa aku mengerti, apa yang sedang terjadi." Bisik Wanita itu pada Laki-laki bersurai pirang, Rose yang dapat mendengarnya hanya bisa tersenyum kikuk.

"Sudah, obati dahulu lukanya." Wanita itu mengangguk, Ia berjalan ke salah satu guci kecil yang berisi rempah-rempah.

Setelah menumbuk nya dengan halus, Wanita itu mendekati Rose dengan piring kecil yang terdapat rempah-rempah tadi.

"Lady, bisa mengoleskannya sendiri." Meski bingung dengan panggilan itu, Rose tetap menuruti perkataan Wanita didepannya.

Ia mengoleskan daun hijau yang memiliki tekstur lembek itu ke lukanya, menghantarkan sensasi perih di sana. Namun tak lama, karena setelahnya Ia sudah tidak dapat merasakan adanya luka di sana.

Syukurlah Ia mengikuti arahan Wanita itu dengan baik, meski Rose juga bingung kenapa dirinya bisa mengikuti semua arahan Wanita dan Laki-laki asing yang baru ditemuinya seakan Ia sudah mengenal mereka sejak lama.

"Apakah sudah lebih baik, Lady?"

Rose mengangguk, "Terima kasih, emm?"

"Panggil aku Medley."

"Ah, iya. Bibi Medley. Aku Rosetta Maureen." Perasaannya saja atau memang benar, begitu Rose menyebutkan namanya Medley terlihat sangat sedih.

Rose melirik Laki-laki yang berdiri di sebelah Medley, berniat meminta penjelasan tapi Laki-laki itu tidak menyadari kodenya dan hanya diam.

"Lady, bisa melihat-lihat Pondok ku. Ada yang harus Saya bicarakan dengan Cris, sebentar." Medley kembali memasuki Pondok disusul Laki-laki itu dan meninggalkan Rose yang termenung karena kebingungan.

Rose beranjak dari duduknya, Ia melihat-lihat semua yang ada di Pondok dengan seksama sampai matanya jatuh pada guci kecil berisi air dengan warna merah kental.

Terdapat tulisan di guci itu. 'Rylee Red' Racun mematikan, dapat membunuh Vampir dalam sekali minum.

Tanpa pikir-pikir lagi, Rose segera membawa guci itu lalu menggantikannya dengan sekantung koin Emas.

Rose melangkah keluar dari Pondok sembari meletakkan guci kecil itu ke saku jubahnya. Dorothy pasti sudah mencarinya.

Beberapa menit, Cris dan Medley kembali ke tempat Rose duduk sebelumnya. Mereka terlihat kebingungan tidak mendapati Rose dimanapun.

"Rosalie pergi kemana?" Panik Cris.

"Kurasa Dia kembali ke tempatnya,"

Ucapan tenang Medley justru semakin membuat Cris panik. "Aku harus mencarinya."

Baru saja Cris akan berlari keluar, Medley dengan cepat menahannya. "Biar saja, lihat itu." Cris mengikuti arah pandang Medley.

"Sepertinya Lady Rosalie berniat membunuh Suaminya sendiri. Jangan merusak rencananya, jika Pangeran Vampir itu sudah mati, kita jemput Dia."

🍷🍷🍷

Note: Jubah yang dipakai Rose.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!