Mencurigakan?

🍷🍷🍷

Setelah menghabiskan banyak waktu di taman bersama Ibunya, Rose akhirnya dapat mengistirahatkan tubuhnya di ranjang yang empuk.

Gadis itu bersiap memejamkan matanya tapi tak lama matanya kembali terbuka saat  hawa disekitarnya berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya.

Rose bangkit dari posisi berbaring nya, mencari letak remote AC kamarnya. Ia mengacak-acak segala perabotan yang ada di nakas demi menemukan benda mungil itu.

Tapi sampai semua barang-barang yang ada di nakas dipindahkan, Rose tidak juga menemukannya.

Hawa yang menyelimuti kamar bernuansa biru cerah itu semakin dingin, Rose mengeratkan selimut tebalnya pada tubuh mungilnya.

Berniat kembali memejamkan mata. Beberapa menit setelahnya matanya kembali terbuka. Rose sudah tidak tahan.

Ia seperti berada di lemari pendingin. Nampaknya AC kamarnya itu rusak, remote nya pun kini hilang entah kemana.

Rose melangkah keluar lengkap dengan selimut merah muda yang membalut tubuhnya. Semoga tidak ada yang memergokinya yang seperti telur gulung berjalan ini.

Ia melirik singkat Sofa ruang keluarga yang sudah memiliki pemilik, Pak Ed tidur di Sofa yang cukup menampung dua orang sekaligus itu, tapi kenapa Sam tidak tidur di Sofa juga?

Gadis itu juga melirik kamar utama yang ditempati Claude dan Clara, tidak. Mana mungkin Ia menelusup tidur di sana. Ingatkan dirinya kalau umurnya hampir menyentuh kepala tiga.

Jadi, Rose berakhir di sini. Di depan pintu bercorak putih yang biasanya ditinggali tamu atau saudara jauh yang sedang menginap. Karena hari ini tamunya Sam, otomatis yang sekarang menempati kamar itu adalah Dia.

Berbekal dengan rasa percaya diri yang tinggi, Rose mengetuk pintu kamarnya.

Beberapa detik berada di posisi yang sama membuat Rose jengah, Ia dengan nekad memutar handle pintunya. Bibirnya tersenyum saat menyadari kalau kamar ini tidak dikunci.

Pintu terbuka menampilkan ruangan yang sedikit gelap karena lampu kamar ini dimatikan dan hanya menyisakan lampu tidur.

Gadis itu melangkah dengan sedikit mengendap-endap mendekati ranjang yang tidak sebesar seperti yang ada di kamarnya.

Terlihat jelas, Sam yang sudah terlelap dengan posisi yang membelakangi nya. Rose dibuat kesal dengan kenyataan itu, kenapa bukan kamar ini yang rusak AC nya?

Dengan penuh kehati-hatian Rose membaringkan tubuhnya di sisi Sam. Mengabaikan rasa gengsinya yang sudah mendarah daging, Ia janji akan bangun sebelum matahari terbit.

Jadi tidak ada yang dapat meruntuhkan gengsinya yang tinggi kecuali suara bariton yang kini menginterupsinya.

Tubuh kekar yang sebelumnya di posisi membelakanginya itu berbalik menghadapnya, sial! ternyata Pria itu belum tidur.

"Kau kenapa ada di sini?"

"J-jangan salah paham! AC kamarku rusak, remote nya juga hilang. Aku tidak bisa tidur di Sofa jika kau tak keberatan, kau saja yang tidur di Sofa."

"Enak saja. Aku tidak mau tidur di Sofa."

Rose mengerucutkan bibirnya. "Dasar tidak berperasaan!"

Sudut bibir Sam berkedut menandakan kalau tak lama lagi bibirnya akan tersenyum lebar, tapi Ia menahannya.

"Bagaimana kalau kita tidur di sini, adil bukan?"

Rose memicingkan matanya, Ia curiga dengan Vampir satu ini tapi di sisi lain Ia juga tak punya pilihan lain.

"Baiklah.. Tapi--"

Rose meletakkan semua bantal yang ada ke tengah ranjang, menjadi pemisah antara Sam dan dirinya.

"Jangan lewati batas ini." Lanjutnya.

"Okay.."

Beberapa menit setelahnya kamar itu menjadi senyap. Rose sudah terlelap di lilitan selimut tebalnya berbeda dengan Sam yang masih tampak segar.

"Sepertinya kau melupakan sesuatu, Istriku." Gumam Sam di barengi senyum tipis yang muncul.

...🍷💋🍷...

Nyanyian burung di cuaca yang cerah membuat seorang Gadis terganggu dari mimpi indahnya, Ia mengerjapkan matanya beberapa kali.

Pemandangan yang pertama kali Rose lihat setelah membuka mata adalah dada bidang seseorang. Awalnya Rose memang berniat mendorongnya, tapi aroma mint dan aroma mawar yang keluar dari tubuhnya membuatnya rileks.

Seakan sadar dengan apa yang terjadi, Rose melotot horor. Ia dengan susah payah mendorong tubuh Sam agar menjauh darinya, lengan berotot nya yang melingkari pinggangnya membuat Ia kesulitan untuk melepaskan diri.

Bantal-bantal yang sebelumnya Ia buat sebagai benteng pertahanan sudah tercecer di lantai entah siapa yang merusaknya, semalam Rose tidur sangat nyenyak hingga tidak menyadari apapun.

Rose menengadahkan wajahnya dapat Ia lihat kalau mata Sam yang masih terpejam seakan tidak terganggu dengan gerakan kecilnya. Beberapa saat Rose diam hanya memandangi lekukan wajah Sam yang hampir sempurna itu.

Deg!

Jantungnya berdegup kencang menghantarkan sensasi yang menggelikan di perutnya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di sana.

Sepertinya, Ia harus segera pergi sebelum Sam terbangun karena mendengar detak jantungnya yang tidak normal ini.

Sebisa mungkin Ia meloloskan diri dari dekapan Sam. Setelah berhasil, Rose melangkah perlahan menuju pintu keluar.

Sepeninggalan Gadis itu, mata yang sejak tadi terpejam mulai membuka matanya. Seringai tipis muncul di bibirnya.

...🍷💋🍷...

Menu sarapan pagi ini adalah Pancake dan Susu Vanilla. Rose tersenyum senang karena bentuk pancake nya tidak mengecewakan, Ia mengoleskan selai coklat sebagai topingnya.

Rose juga memindahkan semuanya ke meja makan.

"Keliatannya sarapannya lezat."

"Mommy, mengejutkanku saja." Sahut Rose.

Clara tersenyum menanggapinya. Dia memperhatikan piring yang tersedia di meja makan.

"Kenapa gelasnya ada empat?"

Rose mengerutkan keningnya tapi tak urung Ia juga menyahuti nya. "Dua untuk Mommy dan Daddy, dua lagi untuk aku dan Sam."

"Kau ini tidak tahu atau lupa, Suamimu 'kan Vampir tentu saja Dia tidur di pagi hari hingga siang. Mana mungkin Dia ikut sarapan dengan kita. Kau pasti pernah memergokinya tidur di pagi hari 'kan?"

"Mommy serius? Tapi tadi malam.."

Rose mendengus, jadi tadi malam Ia dibohongi? Awas saja Vampir menyebalkan itu.

"Kau kenapa?"

"Tidak papa, Mom. Kamarku kemarin AC nya rusak, aku akan memanggil orang untuk membetulkannya."

"Rusak?" Tanya Clara dengan ekspresi tidak percaya.

Rose mengangguk. "Iya, remote nya juga hilang."

"Tapi, AC di kamarmu 'kan baru. Kemarin Daddy baru membelinya."

Rahang Rose hampir jatuh mendengarnya, "Di tokoh apa Daddy membelinya? Kualitasnya jelek sekali."

"Entahlah.. Nanti, Mommy akan bicara pada Daddy."

"Ada apa ini, Nona-nona? Kenapa menyebut-nyebut Daddy?"

Claude datang dari kamarnya dengan ekspresi jahil.

"Kemarin Daddy membeli AC dimana?"

"Di toko biasa kok, memangnya kenapa?"

"AC nya rusak Daddy, remote nya juga hilang."

"Kenapa bisa seperti itu ya?"

Claude berniat pergi ke kamarnya tapi sebelum itu Clara mencegahnya. "Nanti saja mengeceknya, sarapan saja dulu."

Dengan patuh Claude mendudukkan dirinya di kursi. "Baik, Nyonya."

Rose yang melihat itu hanya bisa tertawa saja. Walaupun Claude dan Clara sudah menua, tapi mereka tetap terlihat harmonis layaknya pengantin baru.

🍷🍷🍷

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!