Rencana dan Ingatan?

🍷🍷🍷

"Dorothy, kau ingin kemana?"

"Saya ingin pergi belanja di Pasar, Nona. Isi kulkas sudah mulai kosong."

Diam-diam Rose bersorak kegirangan, ini adalah kesempatannya untuk keluar dari Mansion. Ia tidak berniat merencanakan pelarian lagi, namun ada hal yang harus dibuktikan nya dan bahan untuk memuluskan rencananya harus dibeli sendiri.

Rose tidak mau melibatkan satu orangpun dalam rencananya ini karena terlalu berisiko jika gagal.

"Dorothy, apakah aku bisa ikut denganmu?"

"Tapi, Nona. Tuan melarang Nona untuk keluar dari Mansion. Saya takut, nantinya Tuan akan marah besar."

Rose dibuat mendengus mendengarnya, ternyata se menyeramkan itu Sam dimata para Maid di Mansion. Memang sih, terkadang Dia seperti Singa garang yang siap menerkam kapan saja.

Tapi, kadang-kadang juga Dia terlihat seperti kucing manis yang tidak mau ditinggalkan majikannya.

Pasti Dia memiliki kepribadian ganda.

"Ayolah.." Rose menatap Dorothy penuh harap. "Aku tidak akan melibatkan mu jika Tuanmu itu marah." Katanya meyakinkan.

Dorothy memalingkan wajahnya, tidak mau melihat manik hazel Rose yang berbinar-binar seperti itu. Baginya, itu terlalu silau untuk dilihat.

"Tapi, Nona harus berjanji untuk selalu bersamaku. Ini bukan dimensi Manusia, tentunya semua yang berada di Pasar adalah makhluk Immortal."

Rose mengangguk dengan semangat menggebu-gebu. "Aku mengerti."

Meskipun Dorothy seorang Witch, tidak menutup kemungkinan kalau Gadis imut ini mudah untuk dikelabui. Ketika Dorothy sedang lengah, Rose bisa langsung pergi ke tempat yang menjadi tujuannya itu.

"Ayo, kita pergi!" Serunya semangat.

"Apa Nona tidak ingin bersiap terlebih dahulu?"

Rose melirik Gaun sederhana yang dikenakannya sekilas lalu menggeleng. "Tidak perlu, Dorothy. Kita 'kan hanya pergi ke Pasar."

Dorothy mengangguk. Lagi pula, Gaun dengan warna merah gelap yang dikenakan Nona-nya terlihat sangat menawan, juga riasan natural yang diaplikasikan ke wajah cantik Nona-nya masih terlihat fress.

Tapi, ada satu hal yang membuat Dorothy khawatir.

"Nona tunggu sebentar di Sofa. Saya akan kembali lagi, nanti."

Rose mengangguk, menurut saja dengan perkataan Dorothy. Sedangkan, Gadis itu langsung berlari cepat menuju kamarnya tidak ingin membuat Rose menunggu terlalu lama.

Beberapa saat, Dorothy kembali dengan jubah Abu-abu di tangannya. Ia segera memberikannya pada Rose.

"Pakai ini, Nona."

Kening Rose berkerut bingung, "Untuk apa?"

"Jubah ini sudah Saya samarkan dengan sihir. Kalau Nona memakainya, semua makhluk Immortal yang berada di Pasar tidak bisa mencium aroma manis yang keluar dari tubuh Nona."

"Aroma manis?"

"Iya, Manusia memiliki aroma khusus yang bisa terendus oleh semua Makhluk Immortal jika tidak disamarkan oleh sihir."

Rose mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Pantas saja Sam suka sekali mengendus lehernya, ternyata tubuhnya bisa mengeluarkan aroma ya..

"Terima kasih, Dorothy." Rose memperhatikan jubah Abu-abu yang memiliki motif bunga itu dengan seksama.

Jemari pucat nya terulur, mengelus sulaman bunga itu. "Aku seperti pernah melihatnya.." Rose kembali menatap Dorothy. "Jubah ini milik siapa?"

"Tentu saja milik Nona-- M-maksud saya, milik Lady Rosalie." Rose menyipitkan mata, merasa curiga dengan respon Dorothy yang gelagapan.

Ia yakin sekali, pasti Dorothy dan Sam menyembunyikan sesuatu darinya. Jika mereka tidak berniat memberitahunya Rose akan mencari tahu sendiri.

"Dorothy, keretanya sudah tiba." Ucap Bibi Merry yang datang dari arah luar.

"Kita naik kereta?" Beo Rose, teralihkan dari kecurigaannya.

"Nona ingin ikut?" Rose mengangguk cepat.

Bibi Merry melirik Dorothy, nampak sekali kalau wanita paruh baya itu tengah memberi kode padanya.

"Tidak apa, Saya sudah memberikannya sihir pelindung." Bibi Merry menghembuskan nafasnya gusar.

Melihat kegusaran itu, Rose lantas menampilkan puppy eye nya. "Ayolah Bibi Merry, aku akan berhati-hati."

"Saya tidak bisa melihat Nona memohon seperti itu, baiklah.. Saya akan meminta Izin pada Tuan." Rose tersenyum kegirangan, Ia tahu kalau Bibi Merry adalah orang yang paling dihormati oleh Sam layaknya seorang Ibu.

"Ayo, Nona kita harus segera berangkat." Bibi Merry mengangguk setuju dengan ucapan Dorothy. "Ini sudah mulai siang, tidak bagus untuk kulit."

"Kalau begitu, aku pergi ya Bi." Rose berlalu tanpa mau menunggu balasan dari Bibi  Merry terlebih dahulu dengan Dorothy yang mengekori nya.

Bukannya tersinggung, Wanita paruh baya itu justru mengulum senyum geli karena rasa antusias Nona-nya yang persis seperti anak kecil.

Rose menatap 'kendaraan' yang digunakan untuk pergi ke Pasar dengan mata terbelalak, kereta yang dimaksud Bibi Merry ternyata bukan kereta yang berjalan di atas rel, melainkan kereta yang dikendalikan oleh seorang kusir.

"Kita naik ini?" Dorothy yang mengangguk membuat Rose menatapnya tak percaya sekaligus senang.

Ia belum pernah menaiki kereta kuda sebelumnya. Ya, tentunya karena ini zaman modern, semua alat transportasi tersedia dan dapat di akses dengan mudah.

"Maaf jika membuat Nona tidak nyaman, tapi dimensi Immortal hanya bisa ditembus menggunakan kereta kuda."

"Ah, tidak Dorothy. Aku senang."

Rose mendahului Dorothy untuk menaiki kereta kuda dibantu sang kusir. "Terima kasih, Pak." Kusir itu mengangguk sembari tersenyum ramah.

Rose tak berhenti berdecak kagum melihat bagaimana tampilan dalam kereta kuda ini. Manik hazel nya tidak berhenti untuk bergerak kemana-mana, mengamati tiap ukiran yang ada. Itu terlihat sangat elegant.

Saking fokusnya, Ia sampai tak sadar kalau Dorothy sudah duduk berhadapan dengannya dan menyaksikan bagaimana antusiasnya Nona-nya itu.

"Nona, sudah siap?"

Rose mengerutkan keningnya, "Siap untuk apa?"

Tiba-tiba kuda-kuda yang digunakan untuk menarik kereta mereka meringkik kencang disusul kencangnya hembusan angin.

Rose menatap Dorothy panik. "Apa yang terjadi?"

"Pintu masuk dimensi berada di atas." Tepat setelah Dorothy menandaskan kalimatnya, kereta itu perlahan naik.

Spontan Rose mengeratkan pegangannya pada kursi yang didudukinya. Kereta kuda itu dengan santainya berjalan di atas langit seakan sedang menapaki tanah, melawan gravitasi bumi yang ada.

Di tengah kepanikan nya, matanya tanpa sengaja menangkap ukiran di sudut kereta. Bunga mawar yang memiliki kelopak ganda.

Memori yang sebelumnya sempat mengganggunya kembali datang, pandangan di sekelilingnya tidak berubah sama sekali hanya saja Dorothy tidak duduk di sebrang nya.

Melainkan seorang Gadis yang sama di ingatannya sebelumnya. Dia tidak sendiri, Laki-laki yang diyakini sebagai kekasih dari Gadis itu juga menemaninya.

Wajah mereka masih belum terlihat jelas, seolah ada bayangan hitam yang menghalanginya untuk melihat mereka lebih jelas lagi.

Gadis itu melirik sekilas ke sudut kereta yang seharusnya terdapat ukiran bunga mawar yang sempat dilihat Rose sebelumnya, anehnya sudut itu nampak polos, ukiran bunga mawar itu hilang tanpa jejak.

"El, aku ingin meletakkan Mawar di sana. Apa boleh?"

Suara Gadis itu membuat Rose kembali menatap mereka. Laki-laki itu nampak meremas lembut tangan mungil kekasihnya.

"Kita tidak bisa meletakkan Vas bunga atau menanam bunga di sana."

Gadis itu terlihat kecewa. "Ya sudahlah."

"Tunggu sebentar," Laki-laki itu beranjak dari duduknya menghampiri sudut kereta, dengan tubuh yang merunduk karena postur tinggi badannya.

Melawati Rose begitu saja, keberadaan Rose seperti transparan mereka tak dapat melihatnya sama sekali.

Laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, Rose melebarkan matanya karena yang keluar dari sana adalah belati.

Dia mulai mengukir bunga mawar yang diinginkan Gadisnya lalu Laki-laki itu kembali duduk di tempatnya semula.

"Wah.. Cantik sekali, mawarnya." Serunya antusias.

Laki-laki itu meresponnya dengan kecupan kecil di pipi chubby nya. "Hm. Tapi, tidak lebih cantik darimu."  Pipi Gadis itu memerah dibuatnya.

Guncangan yang dirasakannya membuat Rose seperti di tarik paksa dari sana.

Rose tidak lagi melihat sepasang kekasih tadi, melainkan wajah Dorothy yang menatapnya cemas.

"Nona? Anda pusing? Apa kita kembali saja?" Runtutan pertanyaan Dorothy membuat Rose meringis.

"Aku tak apa, Dorothy. Hanya sedang senang saja." Elaknya agar Dorothy tenang.

"Sungguh? Saya sangat khawatir, Nona."

"Iya, Dorothy. Aku tidak apa."

"Baiklah. Tapi, jika Nona merasa tidak enak badan. Beri tahu Saya." Rose mengangguk sembari memunculkan senyumnya.

Ia masih terpikirkan dengan ingatan yang barusan itu, sebenarnya itu ingatan siapa? Dan kenapa terus muncul?

🍷🍷🍷

Terpopuler

Comments

Airi

Airi

Aku tunggu up nya😃😄

2023-05-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!