🍷🍷🍷
"Nona, ingin meletakkannya dimana?"
Rose berpose seperti sedang berpikir keras dengan dahi yang berkerut dan jari telunjuk yang mengetuk-ngetuk dagu.
"Aku bingung. Menurutmu, diletakkan dimana agar terlihat cantik?"
"Di sini saja, Nona." Dorothy meletakkan pot bunga itu tepat di nakas sisi kiri ranjang.
Rose mengangguk setuju, "Boleh juga. Di sana Dia terkena sinar matahari yang masuk melalui jendela."
Ia mengelus lembut kelopak mawar yang diletakkan di pot nya itu. Rose sangat menyukai bunga mawar, bukan karena namanya yang memiliki arti 'Mawar'
Melainkan karena bunga mawar Ia jadi bisa belajar makna kehidupan. Jika tidak hanya cantik yang diperlukan, dibutuhkan juga perlindungan kuat dari diri sendiri agar tak ada yang merusak kecantikannya.
Sama seperti wanita. Tidak hanya cantik yang diperlukan, dibutuhkan juga kekuatan untuk melindunginya dari orang-orang yang berniat merusaknya.
Suara pintu yang dibuka dari luar membuat Rose menoleh ke arah pintu, seketika wajah datar Sam langsung menyambutnya.
Pria itu selalu masuk ke kamarnya seenaknya saja, tanpa mengetuk terlebih dahulu. Beruntung baginya, Rose sedang malas mencari ribut jadi Ia tidak berkomentar apapun.
Dorothy yang melihat kedatangan Tuannya pun pamit undur diri, Gadis itu tidak mau mengganggu kebersamaan mereka.
Setelah kepergian Dorothy, Sam melangkah mendekati Sofa lalu duduk di sana. Mata tajamnya terus mengawasi apa yang tengah dilakukan Rose hingga empunya kembali menatapnya.
"Apa?"
Sam diam saja. Tidak merespon ataupun tersenyum, Dia tetap pada posisinya.
Rose mengangkat bahunya, memilih tidak perduli lagi. Ia melanjutkan aktifitasnya yang tertunda yaitu memberikan pasokan air untuk mawar-mawar nya.
Cukup lama suasana kamar itu hanya diisi oleh keheningan, Rose yang sibuk dengan mawar-mawar nya dan Sam yang sibuk dengan pikirannya.
Hingga akhirnya suara Sam memecah keheningan yang terjadi.
"Kau ingin bertemu Ibu Mertua, bukan?"
Rose langsung meletakkan alat penyiram nya. Ia berbalik, menghadap Sam sepenuhnya. Binar yang menghiasi manik hazel nya menandakan rasa antusias yang tinggi.
"Iya. Aku sangat ingin, apa kau ingin mengajakku ke sana?"
"Hm.. Tapi ada syaratnya,"
"Apa syaratnya?"
"Kau tidak bisa tinggal di sana. Kita hanya mengunjunginya saja."
Rose melayangkan tatapan protes, "Kenapa begitu? Aku ini anaknya, tentu saja aku diperbolehkan untuk tinggal."
"Aku tau, kau anaknya. Tapi, apa kau tidak memikirkan aku?"
"Eh?"
Bukannya merasa blushing Rose justru merasa aneh sendiri, karena Sam mengatakan itu dengan wajah tanpa ekspresinya.
"Bagaimana, kau menyetujui syaratnya?"
Meski sedikit tidak ikhlas, Rose mengangguk saja. Ya, dari pada tidak bertemu sama sekali.
Membayangkan kalau sebentar lagi Ia akan bertemu dengan Mommy dan Daddy membuatnya semakin bersemangat.
"Baiklah, aku tunggu di bawah."
...🍷💋🍷...
Begitu menyelesaikan pekerjaannya, Dorothy dibuat berdecak kagum oleh hasil nya.
"Nona, sangat-sangat cantik. Tuan pasti terpesona." Ujar Dorothy.
Rose menatap cermin yang menampilkan pantulan nya. Gaun selutut dengan warna putih gading, heels dengan warna serupa, wajahnya yang di poles tipis, dan rambut sepunggung nya dibiarkan terurai. Rose hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
"Kau menggunakan sihirmu ya, Dorothy?"
Dorothy terkekeh kecil, "Tentu saja tidak. Nona, memang sudah cantik dari sananya."
"Sudah Nona, lebih baik kita segera turun. Saya tidak sabar melihat reaksi Tuan."
Rose menggaruk pipinya yang tidak gatal sama sekali, "Memangnya reaksi apa lagi yang dikeluarkan Tuan mu itu, selain wajah datarnya?"
"Kita tidak akan tau sebelum melihatnya secara langsung."
Melihat betapa antusiasnya Gadis imut itu membuat Rose mengangguk saja.
Mereka pun keluar dari kamar dengan Dorothy yang berjalan di belakang Rose. Meskipun Ia tidak menyukai itu, tapi Dorothy tetap bersikukuh ingin berprilaku seperti maid pada umumnya.
Rose melangkah perlahan menuruni undakan tangga, suara langkah kaki itu membuat Sam yang berdiri di ballroom menatap ke arah Rose. Ia terpaku untuk sesaat.
Rasa gugup mulai melanda nya saat di tatap seperti itu oleh Sam.
"Benar 'kan, Nona?"
Ucapan menggoda dari Dorothy semakin memperparah rasa gugupnya. Rose melangkah mendekati Sam sedangkan Dorothy memilih berjalan ke Dapur, tidak ingin mengganggu momen yang menurutnya langkah itu.
Rose menghentikan langkahnya begitu sampai tepat di hadapan Sam. Rasa gugupnya hilang begitu saja saat Ia mendengar gumaman dari Sam.
"Rosalie..."
Ia sadar kalau Sam belum melupakan Rosalie, tapi apakah harus Pria itu menganggapnya sebagai Rosalie? Sudut hatinya merasa tercubit dengan kenyataan itu.
"Ayo, pergi."
Suara Rose menyentak Sam dari lamunannya. Tanpa melepaskan pandangannya, Pria itu mengangguk.
Mereka berjalan beriringan menuju pintu keluar, mobil Sam sudah terparkir apik di halaman Mansion lengkap dengan dua pengawal yang berdiri di masing-masing pintu mobil bagian penumpang.
Pengawal itu membukakan pintu untuk Sam dan Rose. Merasa tidak ada pergerakan dari Pria di sebelahnya membuat Rose mendahuluinya untuk memasuki mobil, setelah itu disusul Sam.
Mobil itu perlahan mulai menjauhi halaman Mansion. Rose memandangi jendela yang menampilkan rindangnya pepohonan yang tumbuh di sekitaran jalan yang mereka lewati.
Rasa senang yang membuncah karena sebentar lagi akan bertemu Mommy dan Daddy lenyap seketika, mood nya memburuk entah apa penyebabnya.
Tidak mungkin 'kan Ia jadi seperti ini karena Pria di sampingnya? Tidak mungkin 'kan Ia cemburu? Tidak mungkin 'kan Ia jatuh cinta dengan Pria yang menculiknya?
Rose menghela nafas berat, mulai lelah dengan pemikirannya sendiri. Gadis itu menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi mobil, melenyapkan segala hal yang mengganggunya.
Perjalanan menuju kota memakan waktu yang cukup lama, terhitung sudah satu jam lamanya mereka berada dalam perjalanan.
Sam melirik Rose yang terlihat memejamkan matanya, kepala Gadis itu terkantuk-kantuk kaca mobil.
Karena tidak tega, Sam pun membimbing kepala Rose agar menyender ke bahu tegapnya. Tidak di sangka, Rose justru semakin mendusel 'kan wajahnya ke ceruk leher Sam.
Nafas hangat yang menyentuh kulit lehernya memunculkan kilat dari mata tajam Sam. Pria itu menahannya sekuat yang Ia bisa, mau bagaimana pun Sam tak ingin kejadian lima hari lalu terulang lagi.
Rose yang mogok makan hingga berujung sakit. Sam sama sekali tidak menginginkannya.
Jemarinya terangkat, mengelus puncak kepala Rose dengan lembut dan penuh kehati-hatian, tak ingin pergerakannya mengusik Rose dari tidurnya.
"Aku sedih karena kamu tidak mengingat momen-momen indah yang kita buat bersama, tapi di sisi lain aku juga senang bisa melihatmu lagi setelah dua ratus tahun menunggu."
Sorot mata Sam terlihat sarat akan kerinduan yang mendalam, Ia rindu dengan Istrinya.
"Kali ini, aku tidak akan membiarkan siapapun menjauhkan mu dariku. Kita tidak akan terpisah lagi.." Sam menunduk untuk mengecup kening Rose lama.
🍷🍷🍷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments