🍷🍷🍷
Pekerjaan sebagai sekertaris ternyata menyita banyak waktu dan tenaga buktinya Rose baru menyelesaikan pekerjaannya saat larut malam tiba.
Huh, Ia jadi tidak bisa numpang pulang dengan Steven. Pesan taksi online saja lah, pemikirannya membuat Rose mendadak teringat malam itu.
Kenapa malam itu Ia tidak terpikirkan untuk memesan taksi online ya?
Konyol sekali, Ia bahkan menelan gengsinya untuk minta di antar pulang oleh Daniel.
Tubuh Rose menegang begitu merasakan ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya.
Ketika menoleh, Ia langsung di sambut dengan pahatan sempurna Pria yang menjabat Bosnya. "P-pak?" Gugupnya.
Salah satu alis tebalnya terangkat menanggapi ucapannya.
"Jangan seperti ini, Pak." Rose mencoba melepaskan lilitan lengan kekar itu pada pinggang sempitnya.
"Sudah lupa dengan perjanjian kita. Kau harus menuruti semua perintahku, atau kau akan jadi hidangan malam ku." Seringai kecil menghiasi wajah tampannya.
Rose berhenti memberontak, kepalanya tertunduk dengan pasrah. Kenapa mahluk jadi-jadian ini suka sekali mengancamnya?
Tanpa melepas belitan lengannya, Pria ini membawanya keluar dari Lobby kantor.
"Pak--"
"Jangan terus memanggilku 'Pak' Aku ini tidak setua itu, panggil aku Sam."
"S-sam, Saya ingin pulang."
"Kita memang akan pulang, manis."
Mendengar jawaban Sam membuat Rose tidak lagi berbicara, Ia berpikir kalau Dia akan mengantarnya pulang ke rumah. Lumayan untuk menghemat ongkos.
Mobil mewah itu melesat menembus hiruk-pikuk perkotaan. Untungnya, lengan Sam tidak lagi melingkari pinggangnya saat di Mobil.
Tapi, tetap saja Ia merasa tidak nyaman jika Sam menatapnya tanpa berkedip sedikit pun.
Astaga, kenapa Tuhan tidak pernah mengirimkan Pria normal untuknya!?
Saat ini Sam tidak terlihat seperti Vampir, Dia lebih mirip Bos mesum.
Rose beralih menatap suasana malam jalanan kota yang tampak jelas dari kaca jendela.
Tunggu! Kenapa jalanan ini terasa asing ya?
Rose kembali menatap Sam yang masih tidak melepas pandangan darinya. "Sam, ini bukan arah pulang ke rumahku."
"Memang," Sam mengangguk dengan santainya.
Rose ingin sekali menghantamkan tasnya pada wajah Bos nya itu, tapi Ia masih sayang nyawa.
"Pak Ed, hentikan mobilnya. Aku turun di sini saja." Ujar Rose pada Supir pribadi Sam.
"Jangan dengarkan, Dia." Titah Sam yang mutlak membuat Pak Ed urung menghentikan laju mobilnya.
"Apa maksudnya? Saya ingin pulang, ini sudah larut malam." Protes Rose.
"Kita akan pulang."
Lagi, lagi. Rose menahan tangannya yang sudah gatal ingin mencakar wajah menyebalkan Sam, yang sayangnya tampan itu.
"Tapi, ini bukan jalan pulang ke rumahku."
"Memang bukan, kita akan pulang ke rumah kita."
Mata Rose melebar tidak percaya, "Kau sepertinya mulai gila, memangnya kita ini apa sampai-sampai bisa mempunyai rumah!?"
"Suami, istri."
Sekarang, Rose yakin seratus persen kalau Pria di hadapannya ini benar-benar sudah tidak waras.
"Dengar ini, Sam. Kau dan Aku itu hanya sekedar seorang atasan dan bawahan. Jangan membual--"
"Lihat," Sam menyodorkan sebuah dokumen pernikahan yang sudah di tanda tangani oleh kedua belah pihak. "Aku sedang tidak membual, manis."
Rose merebutnya, rahangnya hampir jatuh setelah membaca semua tulisan yang tertulis di dokumen itu.
Kenapa di sini bisa ada tanda tangannya?
"Lain kali, bacalah dulu isi berkasnya sebelum menandatanganinya."
Damn! Ia di jebak. Makhluk jadi-jadian ini tidak bisa di remehkan, sekarang status lajangnya berubah jadi menikah dalam waktu kurang dari sehari.
...🍷💋🍷...
Pintu Mansion megah itu terbuka dengan lebarnya, Wanita berpakaian Maid berjejer rapih di sepanjang jalan yang dilaluinya.
Arsitektur bergaya Eropa yang dipadukan dengan furnitur-furnitur antik semakin memberikan kesan fantastis bagi Mansion ini.
Meskipun sempat terpesona dengan keindahan kediaman ini, Rose tetap pada pendiriannya. Ia ingin pulang ke Rumahnya, tapi bagaimana caranya lepas dari cengkraman Pria itu?
"Bagaimana dengan orang tuaku, mereka pasti kebingungan. Bagaimana kalau aku pulang dulu untuk memberitahu mereka, lalu aku akan kembali lagi kesini."
Siasat Rose ternyata sudah bisa di tebak Sam, Pria itu tanpa kata menggendongnya ala bridal style membuat Rose memekik pelan.
"Jangan khawatir, orang tuamu sudah mengetahuinya."
"Tapi, tapi.. Aku ingin pulang!" Rose memberontak dari gendongan Sam berharap usahanya akan membuahkan hasil.
Sam tidak terpengaruh sedikit pun, Ia berjalan dengan santainya menaiki undakan anak tangga seolah tubuh Rose seringan kapas.
"Sam, Ini namanya penculikan. Aku bisa melaporkanmu pada Polisi tau!" Rose terus berkicau, kakinya yang berbalut heels tak berhenti menendang-nendang angin.
"Mana ada Suami yang menculik Istrinya." Celetuk Sam.
"Kau 'kan menikahi ku secara paksa!" Sahut Rose tidak terima. "Pokoknya aku ingin pulang.." Rengek 'kan nya terdengar seperti anak kecil yang keinginannya tidak terpenuhi.
Para Maid yang menyaksikan itu di buat senyum-senyum sendiri. Walau mereka sedikit kaget karena Tuannya tiba-tiba membawa seorang Gadis ke Mansion padahal yang mereka tau, Tuannya itu tidak pernah menyukai seorang Gadis kecuali 'Makanannya'
Sam dengan hati-hati meletakkan Rose ke ranjang king size nya.
Melihat celah Rose berniat melarikan diri, tapi sebelum itu. Sam sudah lebih dulu menindih nya.
"Dasar gila!! Kau ini sedang apa?! Vampir mesum!" Rose sudah mengangkat tangannya sudah ancang-ancang akan mendaratkan pukulan pada wajah Sam.
Dengan hanya menggunakan satu tangannya, Sam menahan pergelangan tangan Rose dan membawanya ke atas kepala Gadis itu.
Sejenak Rose terpaku, wajah Sam yang jaraknya hanya beberapa senti saja, semakin berkali-kali lipat ketampanannya.
Kenapa di saat-saat seperti ini, Ia justru terpesona dengan Mahkluk jadi-jadian ini.
Sadarlah Rose! Dia ini bukan manusia.
Pupil matanya melebar saat Sam perlahan-lahan semakin mendekatkan wajahnya.
"K-kau mau apa?"
Sam menyeringai, "Apa yang biasa dilakukan orang saat malam pertama?"
"Dasar Vampir gila!"
Bugh!
Dengan ilmu taekwondo nya, Rose menendang bagian paling rawan seorang Pria. Akibatnya Sam berguling ke samping sembari merintih kesakitan memegangi tempat yang di tendang Rose.
Sedangkan si pelaku utama sudah berlari kencang keluar dari kamar mewah itu.
Rose terburu-buru menuruni tangga. Beruntung baginya karena tidak ada Maid yang berjaga di bawah, nafasnya tersedat begitu mencapai pintu utama.
Semoga saja pintunya tidak terkunci. Rose terus melafalkan kata-kata itu di benaknya ketika tangannya mulai memutar handle pintu.
Bunyi klek yang terdengar membuat senyumnya mengembang, tapi tidak bertahan lama ketika pemandangan di balik pintu mulai terlihat.
"Hutan!?" Histeris nya tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
Tidak ada taman luas yang memiliki air mancur seperti yang Rose lihat sebelumnya yang ada hanya pepohonan lebat, bunyi hewan malam, dan dedaunan kering yang hampir menutupi tanah.
Ini seperti fatamorgana baginya!
Kalau begini, bagaimana caranya Ia bisa pulang ke Rumah?
🍷🍷🍷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments