Memory?

🍷🍷🍷

"Bagaimana?"

"Nona, masih belum menyentuh makanannya Tuan."

Sam mengambil nafas panjang, "Ambilkan lagi makanannya."

"Baik, Tuan." Dorothy melangkah pergi menuju Dapur meninggalkan Tuannya yang masih setia berdiri di depan pintu kamar Rose.

Beberapa menit setelahnya, Dorothy kembali dengan nampan yang berisi makanan yang masih hangat dan segelas susu vanila.

Sam mengambil alih nampan itu. "Kalau ada yang mencari ku, katakan saja aku sedang tidak ada."

"Baik, Tuan."

Sam membuka pintu kamar menggunakan kunci cadangannya. Begitu pintu terbuka, pemandangan seorang Gadis yang tengah duduk di ranjang sembari membaca novel langsung menyambutnya.

"Aku sudah kenyang, kembalilah lagi nanti." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari novel di pangkuannya itu.

Sam meletakkan nampannya di nakas lalu beringsut menaiki ranjang. Rose yang menyadari ranjangnya bergerak pun berpaling dari rentetan kata yang tertulis di novel.

Betapa terkejutnya Ia saat tau kalau yang memasuki kamarnya ternyata Sam, padahal sebelumnya Ia mengira kalau yang memasuki kamarnya itu Dorothy atau Bibi Merry.

Sam berbaring dengan posisi miring ke arahnya, tangannya bertopang dagu menatap Rose dengan intens.

"Kau sedang apa!?"

"Mengagumi wanitaku."

Rose mendengus, "Keluar cepat dari kamarku."

"Ini Rumah kita, mestinya aku bebas berada di manapun."

"Kalau begitu, aku yang pergi." Rose berniat beranjak menuruni ranjang, tapi pergerakannya kalah cepat, Sam lebih dulu menahan pergelangan tangannya.

"Diam lah disini."

Sam bangkit dari posisi berbaring nya. Ia mengambil alih novel yang berada di pangkuan Rose, menggantikannya dengan nampan yang dibawanya tadi.

"Kau harus makan."

Rose menggeleng, "Aku tidak lapar." Jawabnya lugas.

"Kau belum makan apa-apa seharian ini, cepat lah makan. Jangan keras kepala."

"Aku akan makan jika kau membawaku pulang ke rumah."

Mata Sam berubah menjadi setajam pisau, Ia membawa satu sendok berisi sup itu ke mulutnya sendiri. Rose yang melihat itu mengerutkan keningnya keheranan.

Tanpa diduga Sam merangkum wajahnya, "Makan sendiri atau aku yang membantumu?" Dengan mulut yang hampir penuh, Sam merapatkan jarak antara bibirnya dan bibir Rose.

Mengerti dengan apa yang akan dilakukan Sam padanya, Rose menggeleng ribut. "Tidak! Aku tidak mau. Aku akan makan sendiri."

Sam menjauhkan wajahnya, senyum tipis terlihat saat Rose dengan buru-buru melahap makanannya.

"Padahal lebih mudah kalau aku membantumu,"

Rose mendelik. "Itu menjijikkan kau tau!"

Tangan Sam terulur ke puncak kepala Rose, mengelusnya dengan lembut. "Makan lah dengan perlahan."

Tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing dan sebuah adegan memori kembali menghantam nya.

Lagi, Ia berada di sini melihat sepasang kekasih yang sama seperti diingatan sebelumnya, tapi kini mereka berada di ruang makan.

Meja panjang yang sanggup menampung semua karyawan kantor sekaligus itu hanya diisi dua orang saja, si Gadis dan si Pria yang sama seperti diingatan nya.

Tampak si gadis sedikit kesulitan memotong steak yang menjadi menu makanannya karena tangan kanannya yang entah apa penyebabnya terlihat diperban.

Menyadari itu pun, Si Pria menggeser letak piring si Gadis ke hadapannya. Ia memotong-motong steak itu menjadi beberapa bagian kecil lalu menggesernya kembali ke hadapan Si gadis.

Gadis itu tersenyum. "Terima kasih, Sayang.."

Pria itu juga ikut tersenyum membalasnya. Tangannya terulur menyentuh puncak kepala Gadis itu, mengelusnya lembut.

"Makanlah dengan perlahan."

Diwaktu yang sama sebuah angin besar menghisapnya membuat sekelilingnya menjadi gelap.

Rose mengerjapkan matanya, tangan Sam masih berada di puncak kepalanya.

Kenapa perkataan dan apa yang dilakukan Sam sama persis dengan yang dilakukan Pria diingatan nya pada si Gadis.

"Ada apa?" Tanya Sam merasa aneh melihat Rose yang diam saja.

Rose menepis tangan Sam. "Hanya sedikit pusing."

"Aku akan memanggil Dokter."

Tanpa sempat menahannya Sam melesat cepat keluar dari kamar Rose.

"Dia berlebihan." Cibir Rose.

...🍷💋🍷...

Setelah serangkaian pemeriksaan selesai, Dokter itu melepas Stetoskopnya.

"Apa yang salah?" Raut khawatir terlihat jelas di wajah Sam.

"Wanitamu mengalami stress berat. Sesekali kau harus mengajaknya keluar, Sam. Jangan terus mengurungnya seperti tahanan." Cibir Dokter bersurai perak itu.

"Tutup mulutmu, Laura. Pergilah sebelum aku menebas kepalamu."

Laura berdecih, Ia lalu kembali menatap Rose yang hanya menatap perdebatan sengit mereka dengan kikuk.

"Apapun yang sedang menganggu pikiranmu, jangan membuat itu sebagai beban pikiranmu. Kau harus tetap rileks ya."

Rose mengangguk kikuk, "Terima kasih, Laura."

"Tidak usah sungkan padaku, dan ingat! Jika Vampir menyedihkan ini membuatmu kesusahan, kau bisa ikut denganku, Rose." Ujar Laura sarkas membuat tatapan Sam semakin berkilat tajam padanya.

"T-tidak perlu repot-repot, Laura." Rose merasa tak enak dengan Dokter vampir berparas cantik yang suka bicara seenaknya ini.

Sam mendorong tubuh Laura pelan mengusir wanita itu agar cepat-cepat keluar dari kamar Rose.

Rose sebenarnya tidak tau apa hubungan Sam dengan Laura dan Ia hanya sedikit penasaran saja. Mungkin saja Laura itu kekasih Sam yang lain, huh! Dasar Vampir Playboy. Apa dia tidak memikirkan perasaan Lady Rosalie?

Ya.. Walaupun Lady Rosalie sudah tidak ada di dunia, tetap saja Dia seharusnya menghormatinya. Bukannya mengurung wanita lain di Mansion apalagi sampai menjadikannya Istri.

Lain kali Rose akan bertanya pada Dorothy letak makam Lady Rosalie, Ia ingin meminta maaf padanya.

Rose tidak ingin terus-menerus merasa bersalah atas apa yang tidak dilakukannya. Ia hanya ingin hidup tenang, dan mendapat status single yang paten.

"Istirahatlah.. Aku akan kembali nanti,"

Suara bariton Sam mengalihkan Rose dari lamunannya. Entah sejak kapan Pria itu berdiri di sana.

"Untuk apa?"

Kening Sam berkerut mengamati wajah cantik Gadis yang tengah bersandar di kepala ranjang itu.

"Tentu saja untuk merawat Istriku yang sedang sakit. Aku ini Suamimu kalau kau lupa."

"Tidak perlu, aku bisa merawat diri sendiri." Ucap Rose dengan ketus.

"Apa yang kau maksud dengan merawat diri sendiri itu, tidak makan seharian?"

Rose terdiam tak dapat membalas sindiran Sam yang membungkam mulutnya begitu saja.

Melihat itu, Sam menyeringai. "Jadilah Gadis manis yang penurut, dan aku akan membalasnya dengan mengabulkan semua permintaanmu."

Sam berlalu pergi, menutup pintu dengan kencang membuat Rose terlonjak kaget.

"Kenapa Dia terlihat seperti Pria yang khawatir sekali dengan Gadis yang dicintainya, Ck! Vampir Playboy itu selalu membuatku salah paham." Gerutunya sebal.

Rose menghela nafas, tatapannya kembali sendu sarat akan kerinduan. Ia merindukan keluarganya. Mama yang cerewet dan Papa yang  memiliki selera humor yang receh, Ia merindukan semua itu.

Ia jadi sedikit menyesal tidak kunjung mencari Calon untuk dibawa ke Rumah, Rose tidak tau kalau balasan dari ambisinya yang rakus untuk menjadi single kaya raya adalah di jadikan Istri oleh Tuan Vampir yang sayangnya tampan itu.

Kalau tau begitu, Rose akan berpikir dua kali.

🍷🍷🍷

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!