Rosetta Or Rosalie?

🍷🍷🍷

Ia tau rencananya gila, tapi ini satu-satunya cara untuk memastikan apakah Rose memiliki rasa atau tidak pada Sam.

"Bibi, biarkan aku saja yang mengantarkan Tehnya." Rose menghadang langkah Bibi Merry yang berniat mengantarkan Teh ke Ruang Kerja Sam.

Bibi Merry tersenyum, "Baiklah.. Terima Kasih, Nona." Ia sama sekali tidak mencurigai adanya maksud terselubung dari Rose.

"Ah, tidak perlu berterimakasih. Kebetulan aku ingin menemuinya, jadi sekalian saja."

"Kalau begitu, Saya kembali ke dapur dulu untuk menyiapkan menu makan malam."

"Iya, Bibi Merry. Semangat!" Bibi Merry tertawa kecil, menanggapi Rose yang mengepalkan tangannya sembari memberinya penyemangat.

Memastikan Bibi Merry sudah menghilang dari lorong Mansion dan tidak ada orang yang mengawasi pergerakannya, Rose meletakkan nampan yang terdapat secangkir Teh untuk Sam itu ke nakas kecil yang berada tak jauh darinya.

Ia mengeluarkan guci kecil yang diletakkan di saku Gaunnya, menuangkan cairan merah pekat itu ke dalam cangkir Teh lalu mengaduk nya hingga larut.

Setelah selesai, Rose kembali meletakkan guci kecil itu ke dalam saku Gaunnya. Membawa nampan itu untuk ikut bersamanya.

Melangkah menuju tempat dimana Ruang Kerja Sam berada, meskipun belum pernah mendatanginya langsung tapi Ia sering melihat Bibi Merry bahkan Sam memasuki ruangan yang digunakan untuk mengurusi segala pekerjaan Sam itu.

Rose juga sebenarnya penasaran, kerjaan apa yang membuat Pria itu betah berlama-lama di sana. Yang Ia tau, Sam menjadi Presidir di tempatnya bekerja tapi itu tidaklah mengharuskan Sam untuk berada di Ruang Kerja semalaman.

Ia berpikir, mungkin saja Sam memiliki pekerjaan lain selain menjadi Presidir di Perusahaan kecil seperti tempatnya bekerja dulu, mengingat kalau Pria itu memiliki Mansion mewah dan sering bergonta-ganti Mobil Sport.

Reflek kakinya berhenti, begitu sampai di depan pintu kayu. Entah kenapa Ia jadi ragu, Rose tak kunjung mengetuk pintu ruang kerja Sam.

Tubuhnya dengan kaku berdiri di depan Pintu, tatapan Rose jatuh pada cangkir Teh yang dibawanya.

Apa Ia urungkan saja niatnya?

Rose menggeleng, Ia tidak boleh menyerah! Tinggal satu tahap lagi untuk dapat membuktikan perasaan yang selama ini mengusiknya itu.

Tok.. Tok..

"Masuk." Suara dari dalam itu membuatnya memutar handle pintu. Pintu yang setengah terbuka membuatnya dapat melihat Sam yang duduk di kursinya.

Pria itu tampak memegangi kepalanya, matanya terlihat kelelahan memandangi berkas-berkas yang tercecer di Meja.

Rose meletakkan secangkir teh yang dibawanya ke Meja, "Istirahatlah. Ini Tehmu."

Sam terlihat terkejut mengetahui jika bukan Bibi Merry yang mengantarkan Teh, melainkan Gadis yang sedari tadi terus berada dipikirannya.

Sam menghembuskan nafas panjang, "Kenapa kau senang sekali keluar dari Mansion tanpa meminta izin langsung dariku, hm?"

"Memang jika aku izin langsung padamu, kau mengizinkan ku keluar?"

"Tidak."

Rose berdecak kesal, "Jadi. Untuk apa aku izin langsung padamu kalau akhirnya tidak diizinkan." Ia mendekatkan cangkir teh yang dibawanya. "Sudah, cepat minum. Aku lelah berdebat denganmu."

Bukannya mengikuti perkataan Rose untuk segera meminum Teh nya, Pria itu justru menarik pelan pergelangan tangan Rose, membawanya ke rahang tegasnya.

Rose tersentak dengan aksi Sam, berniat menariknya kembali. Tapi, Pria itu justru menahannya.

"Sebentar saja, aku lelah." Ucapnya dengan mata terpejam.

Sepertinya dia benar-benar kelelahan, Rose jadi tidak tega melihatnya. Matanya diam-diam melirik cangkir teh yang diletakkan tak jauh dari posisinya sekarang.

Kenapa hatinya menjadi gelisah? Ia seperti tidak ingin kalau Sam meminum Teh itu.

Cangkir Teh yang terus dipandangi nya tiba-tiba saja berpindah tempat, "Kau membuatnya sendiri?"

Rose melebarkan matanya mendapati cangkir teh itu sudah berada di tangan Sam, layaknya slow motion gagang cangkir itu sudah diapit jari-jari panjang Sam.

Meniup pelan asap yang keluar dari Teh, baru akan menempelkan cangkir itu ke bibirnya. Rose dibuat risau melihatnya.

Tok.. Tok..

"Tuan, boleh Saya masuk?"

Rose menghembuskan nafas lega karena dengan kehadiran suara si pengetuk pintu, Sam mengurungkan niat untuk meminum teh nya dan meletakkan cangkir itu kembali ke tempat semula.

"Masuklah." Intrupsi Sam membuat orang di luar sana membuka pintu yang tak terkunci itu.

"Maaf, Saya mengganggu waktu Tuan dan Nona. Ada yang ingin Saya bicarakan dengan Tuan perihal dekrit kerjaan."

"Dekrit kerajaan?" Beo Rose, menatap bingung Laki-laki berpakaian armor itu. "Apa yang kau maksud Kerjaan Britania Raya?"

Laki-laki berpakaian armor itu tidak menjawab karena tatapan tajam yang mengarah padanya.

"Pergi!" Usiran dari pemilik ruangan membuat Laki-laki berpakaian armor itu tanpa berpikir dua kali langsung melangkah lebar meninggalkan ruang kerja Sam.

Rose tidak mengerti dengan yang dimaksud Kerajaan oleh mereka. Ia juga tidak mengerti kenapa respon Sam sangat emosional saat mendengar ucapan Laki-laki berpakaian armor itu.

"Emm.. Kau tidak apa?" Tanya Rose pelan.

Sam tidak menjawab. Pria itu kembali mengangkat cangkir Teh nya, Rose yang panik pun menangkis cangkir yang hampir menyentuh bibir tebal Sam itu hingga cangkir teh nya terjun menghantam lantai marmer, pecah berkeping-keping.

Satu tetes air teh yang sudah terkontaminasi racun itu mengenai karpet, membakarnya dan meninggalkan jejak lubang di sana.

Sam menggeram rendah, "Siapa yang membuat Teh itu?"

"Bibi Merry." Rose menundukkan kepalanya, takut. Sam yang beranjak dari kursi membuat Rose dengan cepat menahan lengannya. "Aku yang menaruh racunnya, jangan salahkan Bibi Merry."

Sam menatap Istri kecilnya itu dengan ekspresi tidak percaya. "Kau ingin meracuni ku? Suamimu sendiri?"

Rose terus menundukkan wajahnya, tak kuasa bertatapan langsung dengan manik kelam yang sekarang menatapnya tajam.

"Apa alasanmu melakukan ini?" Tanya Sam lirih.

Tidak mungkin Rose mengungkapkan kalau Ia ingin membuktikan kalau perasaannya selama ini salah, Rose tidak mau mengakui kalau dirinya sudah jatuh cinta dengan orang yang menculiknya selama ini.

Melihat Rose yang terus diam, Sam beranjak dari kursinya, meletakkan tangannya ke bahu Gadis itu. "Jawab aku, kenapa kau melaku---"

"Aku membencimu! Kau menculik dan memaksaku menikah denganmu. Aku ingin bebas! aku ini bukan Rosalie, aku Rosetta!" Nafasnya memburu setelah berhasil mengungkapkan unek-unek nya, meskipun tidak Ia keluarkan semuanya.

Sam melangkah mundur, "Kau tidak mengerti.. Pergi! Kembali ke kamarmu."

Rose menuruti keinginan Sam, kakinya melangkah cepat keluar dari ruang kerja Sam. Manik hazel nya berkaca-kaca, perasaannya sekarang ini campur aduk.

Setelah kepergian Rose, Sam melemparkan semua berkas-berkas yang berada di mejanya. Manik matanya kembali memunculkan warna aslinya yang semerah darah, taringnya mencuat keluar.

Tapi, Ia menahan diri untuk tidak keluar dari ruangan ini. Sam tidak mau menyakiti siapapun, apalagi Rose.

Pria itu jatuh terduduk di lantai, hatinya teramat nyeri mendengar penolakan langsung dari Rose.

Kenapa sangat sulit menjangkaunya meskipun sekarang Dia sudah menjadi manusia baru..

🍷🍷🍷

Note: Ruang Kerja Samuel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!