🍷🍷🍷
Suasana di ruangan itu terasa begitu mencekik. Dua sosok yang tampak berwibawa duduk di singgasananya, menatap tajam Putranya yang tengah berlutut di lantai marmer.
"Kau membawanya ke Mansion." Pernyataan yang diucapkan sang King, memecah keheningan yang semula tercipta.
"Kau tau apa konsekuensinya? Dia memiliki ras Elf, kau tau Elf dan Vampir tidak mungkin bersama. " Kali ini sang Queen angkat bicara.
"Aku tau. Dan aku tidak perduli."
Suara dingin itu penuh penekan seakan menunjukkan kalau Dia benar-benar tidak perduli pada bahaya apapun yang akan menimpanya sewaktu-waktu.
Queen menghela nafas. Melihat betapa keras kepalanya putra semata wayangnya itu, persis seperti Ayahnya.
"Untuk apa kau begitu menginginkannya?"
Sam mengangkat wajahnya hingga bertatapan langsung dengan wanita berusia ribuan tahun yang masih tetap awet muda itu.
"Aku mencintainya."
Ucapan lantang itu membuat King dan Queen sama-sama mengurut pelipisnya mulai merasa pening.
"Lupakanlah Dia, lagipula dia tidak mengingatmu sama sekali."
Sorot tajam namun berkilat marah itu ditunjukkan untuk orang tuanya.
"Itu karena Ayah membunuhnya. Kali ini, aku tidak akan membiarkan kalian menyentuhnya seujung kuku sekalipun."
Sam berdiri, tanpa penghormatan Ia berbalik pergi meninggalkan King dan Queen dalam keheningan.
Queen---Delucia tau kalau kesalahannya sudah sangat fatal pada Putranya, Ia dengan liciknya mengelabui Sam agar mau meninggalkan Istrinya, Lady Rosalie.
Delucia sengaja menjadikan Sam sebagai pemimpin perang untuk melawan Klan Wolf agar suaminya King--- Chaiden bisa menyelinap ke Mansion untuk membunuh menantunya, Rosalie.
Ia memiliki alasan khusus untuk itu. Rosalie memiliki ras Elf. Sudah lama Klan Elf memusuhi Klan Vampir, akibat dendam lama yang tidak pernah disudahi.
Delucia khawatir kalau Rosalie memiliki niat terselubung untuk membalaskan dendam melalui Sam, tapi Ia dibuat terkejut saat mengetahui fakta dari suaminya.
Chaiden mengatakan kalau di detik-detik terakhirnya Rosalie sempat memohon untuk menjaga Sam untuknya.
Gadis itu mencintai Putranya sama tulusnya.
Tapi, semuanya sudah terlambat. Rosalie sudah mati dan membawa penyesalan serta duka yang mendalam bagi Putranya.
Beratus-ratus tahun hingga detik ini, Sam masih menyimpan dendam tersendiri pada Chaiden dan Delucia.
Sikapnya pun berubah dingin dan tak tersentuh, Sam memilih hidup menyendiri di dimensi Manusia.
Sentuhan di punggung tangannya menyadarkan Delucia dari lamunannya, Ia menoleh menatap wajah Chaiden yang mulai menua.
"Jangan terlalu dipikirkan, Lucia. Ini bukan salahmu."
Kata-kata itu mampu menenangkan Delucia dari rasa kalut nya.
Delucia tersenyum, "Baiklah. Aku tidak akan memikirkannya lagi,"
...🍷💋🍷...
Ini sudah waktunya sarapan, tapi Sam tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Padahal biasanya Pria itu sudah duduk manis di kursinya, walaupun Dia tidak makan dan hanya meminum Teh sembari memandangi nya.
Namun dengan cepat Rose menggeleng, untuk apa Ia memikirkan Vampir Playboy itu? Lebih baik pikirkan saja perutnya yang sudah berbunyi sejak tadi.
Rose melahap makanannya dengan tenang, meski sesekali matanya mencuri-curi pandang ke tangga, lebih tepatnya kamar utama.
Sampai Ia menyelesaikan makannya pun, Sam tidak juga muncul. Apa Pria itu masih marah dengannya?
Kening Rose berkerut merasa tidak suka karena kepalanya dipenuhi Sam, Sam dan Sam.
Sebenarnya Ia kenapa sih? Jangan-jangan Vampir mempunyai kekuatan untuk mengendalikan pikiran orang?
Dorothy yang berdiri tidak jauh dari Rose dibuat kebingungan dengan Nona nya itu. Baru akan membuka suara namun Rose lebih dulu memanggilnya.
"Kau tau dimana, Sam?"
Dorothy mengulum senyum, jadi ternyata ini yang sedari tadi mengganggu Nona nya.
"Tuan ada di kamarnya, Nona."
Rose mengangguk mengerti. Ia bangkit dari duduknya, membawa serta teh yang sebelumnya memang disiapkan Bibi Merry.
Dengan yakin, Rose melangkah menaikan undakan tangga yang mengarah langsung ke kamar Tuan Rumah.
Rose mengetuk pintu coklat itu beberapa kali, tapi tidak juga mendapat sahutan dari dalam sana. Karena penasaran sekaligus khawatir? Rose memutar handle pintunya yang ternyata tidak dikunci.
Harum mint bercampur aroma mawar langsung menyambut penciuman nya begitu pintu itu terbuka sepenuhnya.
Entah kenapa Rose merasa familiar dengan aroma ini. Melangkah lebih jauh, Rose mendapati sang pemilik kamar tengah memejamkan matanya dengan posisi berbaring di Sofa yang cukup besar.
Dia tertidur?
Sedikit ragu, Ines melangkahkan kakinya mendekati Sofa itu, meletakkan cangkir teh ke Meja. Ternyata Dia benar-benar tertidur, Rose mengalihkan pandang ke Ranjang King Size yang ada di kamar ini.
Kenapa tidak tidur di sana?
Ia berjongkok tepat di sebelah Laki-laki itu tidur, mengamati pahatan sempurna didepannya dengan menopang dagu.
"Dia tampan." Gumamnya.
Andai Dia manusia biasa dan bukan makhluk Immortal seperti Vampir, pasti Rose sudah melabuhkan perasaan padanya.
Secara tidak sadar Rose mengulurkan tangannya, telunjuknya menyentuh kening Sam yang sedikit tertutupi rambut lalu perlahan turun ke hidung mancung nya seakan-akan sedang berseluncur di sana.
Namun kegiatannya terhenti saat telunjuknya sudah berada di bibir Sam yang sedikit berisi.
Rose mengamatinya dengan seksama. Bibir ini yang pernah menyentuh bibirnya, mendadak pipinya merona mengingat kejadian itu.
"Kau sedang apa?"
Sontak saja suara itu membuatnya terlonjak kaget, hampir saja Ia terjungkal ke belakang jika saja Sam tidak menahan pergelangan tangannya.
"Sam!" Rose melemparkan tatapan tajamnya.
Sedangkan yang ditatap seperti itu hanya berkedip polos. "Apa?"
"Mengagetkanku tahu!"
"Oh."
Hanya Oh? Tangan Rose sudah gatal ingin mencakar wajah menyebalkan Sam, tapi Ia tidak ingin wajah tampan Pria itu sampai lecet sedikit pun.
Hey! Meskipun Ia betah mempertahankan status single nya sampai 28 Tahun, Rose tetap menyukai wajah tampan seorang Pria.
"Kau memerlukan sesuatu?" Tanya Sam.
Rose menggeleng, "Aku membawakan Teh mu."
Sam menyeringai. "Berperan menjadi Istri yang baik, huh?"
Rose mendengus. "Jangan terlalu percaya diri. Aku ini memiliki rasa empati tau,"
"Baiklah..."
Rose beranjak, "Aku pergi dulu."
Begitu berbalik badan, Rose bisa merasakan ada yang menahan Dress nya.
Masih tetap berada di posisinya, Rose menghela nafas. "lepas, Sam."
Dahi Rose berkerut merasa Sam tidak juga melepaskan Dress nya ataupun berbicara. Dengan penasaran, Ia menoleh ke belakang.
Yang dapat Ia lihat adalah Sam yang menatapnya dengan senyuman geli? Lalu Rose beralih melihat Dress nya.
Damn! Jadi bukan Sam yang menahannya melainkan ujung dari Dress nya yang tersangkut ke sudut meja.
Wajahnya seketika memerah, Ia sedikit kasar melepaskan Dress nya dari sudut meja lalu berjalan cepat keluar dari Kamar Sam.
Begitu pintu tertutup, Rose menuruni tangga terburu-buru sembari terus meruntuki diri sendiri dengan wajah yang masih merah layaknya kepiting rebus.
"Bodoh, Rose kau gila!"
Sam yang masih dapat mendengar itu hanya menggeleng samar, tidak habis pikir dengan tingkah Rose yang absurd.
🍷🍷🍷
Note: Singgasana King Chaiden dan Queen Delucia.
🍷🍷🍷
Note: Kamar Samuel Nathaniel Browne.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments