🍷🍷🍷
"Steven! Cepat buatkan aku surat pengunduran diri!"
Steven memutar bola matanya malas, setelah bolak-balik dua puluh kali akhirnya Rose mengatakan sesuatu, dan itu di luar nalar.
"Kau ini gila ya? Harusnya kau mengadakan pesta karena bisa naik jabatan cuma-cuma, bukannya mondar-mandir seperti pengangguran."
Rose akan mengadakan pesta kalau Pria itu tidak memakannya. Lebih baik kehilangan pekerjaan daripada kehilangan nyawa.
"Rose, kau di panggil Presidir ke ruangannya."
Suara lembut Sarah seperti alarm kematian baginya, Rose menggeleng cemas.
"Steven, kau saja yang ke sana. Aku akan membuat surat pengunduran diri. "
"Jangan banyak alasan. Ayo, cepat." Steven menarik paksa tubuhnya agar keluar dari ruangan, tapi Rose dengan gigih berpegangan pada mejanya.
"Tidak mau!!"
Sarah yang melihat tingkah absurd keduanya hanya bisa mengulum senyum. "Kalian terlihat sangat cocok."
Aksi tarik-menarik itu terhenti mereka dengan kompak menatap Sarah,
"Jangan membual!" Ujar mereka secara sarkas.
Sontak saja, Sarah berbalik keluar dari ruangan. Astaga, pasangan itu rupanya cukup sensitif jika disinggung tentang hubungan.
Apa mereka tipe orang yang suka menjalin hubungan diam-diam ya? Bagus, ini pasti akan jadi gosip hot hari ini.
Sedangkan Rose dan Steven masih terlibat perang dingin,
"Kau tidak ingin tas barumu jadi tas gosong, bukan?" Ancam Steven.
Rose mendengus kesal. "Oke, oke. Aku pergi."
Steven melambaikan tangannya pada Rose yang sudah berada di ambang pintu.
Tas seharga puluhan juta miliknya tertinggal di Apart Steven, bukannya cepat-cepat mengembalikannya Pria itu justru menggunakannya sebagai alat pengancam. Dasar menyebalkan.
Rose menghela nafas, tangannya dengan ragu terulur berniat mengetuk pintu.
"Tenang, Rose. Kau bisa pura-pura tidak mengenalinya." Ucap Rose meyakinkan dirinya sendiri kalau Ia bisa lolos dari ujian ini.
Tok.. Tok..
Setelah mengutuknya, Rose memutar handle nya hingga pintu itu terbuka. Ruangan bernuansa hitam putih langsung menyambutnya, Pria yang menjabat sebagai Presidir baru itu duduk membelakangi pintu.
Bahunya yang kelar membuat Rose berandai-andai kalau Ia bisa menyender di sana, tapi kemudian Rose menggelengkan kepalanya. Ingatlah dia ini bukan manusia!!
"Duduklah.."
Rose tersentak, mau tak mau Ia melangkahkan kakinya lebih dekat pada Presidir baru, lebih tepatnya duduk di hadapannya.
Kursi itu berputar, Rose menahan nafas saat manik mata semerah darah yang dilihatnya semalam kembali menatapnya dengan tatapan predator yang menemukan mangsa.
Pria itu beranjak dari kursi kebesarannya beralih menduduki bagian meja yang jaraknya sangat dekat dengan Rose.
Dia mencondongkan tubuhnya ke wajah Rose, menghapus jarak yang memisahkan mereka.
"Kita bertemu lagi, manis." Bisik nya tepat di telinga Rose.
"P-pak Presidir, anda pasti salah mengira. S-saya baru pertama kalinya bertemu bapak." Rose memberanikan diri untuk mengelak.
"Oh ya?" Tangan berurat itu mengapit dagu Rose memaksanya agar mendongak. "Aku yakin, setelah ini kau pasti mengingatnya.
Mata Rose melebar saat dengan santainya Pria itu mengecup kulit lehernya, "Apa kau sudah mengingatnya? Jika belum, aku akan melakukan hal yang sama seperti yang tadi malam kulakukan pada Wanita itu."
"A-aku mengingatnya!" Panik Rose, Ia mengambil langkah seribu untuk menjauh dari wajah Pria itu.
Seringai tipis muncul di bibirnya, "Baguslah. Jika tidak ingin mati kehabisan darah, turuti semua keinginanku. Faham?"
Rose mengangguk cepat, "Iya."
Tangan Pria itu mendarat di puncak kepala Rose, mengelus nya layaknya hewan peliharaan.
"Gadisku, sangat pintar."
...🍷💋🍷...
"Hei, hei, berkas-berkas itu tidak bisa berkerja dengan sendirinya. Bekerjalah yang rajin, jangan terus melamun seperti orang patah hati."
Rose melirik sinis Steven, "Semua ini gara-gara kau!"
"Loh, memangnya aku salah apa?" Steven bingung, sejak keluar dari ruangan Presidir baru Gadis itu terus melamun dan semakin garang padanya.
"Banyak! Sampai banyaknya, aku sampai tidak bisa menyebutkannya."
"Wanita memang sulit di mengerti." Gumam Steven, Ia berjalan menjauhi meja Rose.
Rose menjatuhkan wajahnya ke meja, merenungi nasib soal yang menimpanya. Nyawanya bisa kapan saja melayang oleh mahkluk jadi-jadian itu.
Tapi, sebenarnya Pria itu sejenis makhluk apa?
Rose mengangkat wajahnya, Ia membuka laptopnya mulai mengetikkan sesuatu di laman pencarian browser.
Vampir!?
Mana mungkin makhluk mitos seperti Vampir ada di dunia nyata? Meski logikanya menolak untuk percaya, tapi mau tak mau Ia harus mempercayainya karena Ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Mencoba untuk tetap tenang, Rose menscroll ke bawah informasi tentang Vampir.
Rose mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti. "Jadi Dia takut bawang putih, cermin, dan matahari ya?"
"Sibuk mencari apa?"
Suara bariton itu membuat Rose cepat-cepat menutup laptopnya, matanya dengan takut-takut menatap Pria yang menjulang tinggi di hadapan meja kerjanya.
"T-tidak, Pak."
Wajah Pria itu datar tanpa ekspresi, "Ayo." Ujarnya membuat kening Rose berkerut heran.
"Ayo, kemana Pak?"
Pria itu berdecak, "Bertemu para kolega, kau lupa apa posisimu sekarang?"
"T-tentu, Saya mengingatnya Pak." Rose menyambar tasnya lalu mengikuti langkah panjang Pria itu, sebelum kembali membuat suasana hatinya buruk.
Lift yang akan membawanya turun adalah lift khusus para petinggi perusahaan. Awalnya Rose berniat memakai lift biasa, tapi dengan seenaknya Pria itu menariknya ke lift khusus.
Rose gugup setengah mati. Ia berdiri di sudut lift yang jaraknya lumayan jauh dari Bosnya itu, mengantisipasi kejadian tidak diinginkan seperti di ruangan Presidir tadi.
"Mendekat lah."
Ujaran bernada perintah itu sontak saja membuatnya menggeleng kaku. "Tidak perlu, Pak. Saya nyaman di sini."
"Jadi maksudmu, berada di dekatku kau tidak merasa nyaman?
"B-bukan seperti itu, Pak. Saya merasa segan dengan bapak."
Manik pekat itu kembali berubah menjadi semerah darah, "Seperti itu ya?"
Susah payah Rose mengalihkan wajahnya tidak ingin melihat wajah Pria yang berdiri di sampingnya.
Ting!
Akhirnya.. Rose ingin sujud syukur rasanya saat pintu lift terbuka.
Lobby kantor terlihat lenggang, karyawan-karyawan rupanya masih sibuk berkuat di depan layar komputer.
Mobil mewah yang harganya fantastis menyambutnya begitu keluar dari Lobby, di masing-masing sisi kanan dan kirinya terdapat dua Pria bertubuh kekar yang memakai earpiece di masing-masing telinga kanannya.
Usai sadar dari kekagumannya, Rose baru menyadari Bosnya sudah menghilang dari pandangannya.
Kemana perginya makhluk jadi-jadian itu?
"Silakan, Nona." Salah satu dari mereka membukakan pintu untuknya.
Dapat Ia lihat jelas, Pria itu sudah duduk nyaman di kursi penumpang. Jadi, Ia harus duduk di ruang kosong yang bersebelahan langsung dengannya?
Ah, sudahlah jangan pikirkan itu.
"Terima kasih," Rose tersenyum ramah pada Bodyguard itu.
Pintu mobil tertutup otomatis saat Rose sudah mendaratkan diri di kursi. Perlahan namun pasti mobil itu bergerak menjauhi area kantor.
🍷🍷🍷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments