🍷🍷🍷
Setiap bulan Desember sampai Maret, kota Cassitovia akan menyelenggarakan pasar malam besar-besaran. Segala macam bentuk camilan dijajakan, dari mulai yang memiliki rasa manis hingga asin.
Semua macam wahana hiburan juga tersedia dan itulah yang paling Rose suka dari Pasar Malam.
"Ayo! Kita harus masuk ke sana." Rose dengan semangat menarik kedua lengan Pria yang berjalan di sisinya menuju ke pintu masuk Rumah Hantu.
Mereka pasrah saja saat dibawa paksa ke kerumunan orang yang sedang mengantre tiket. Antusias yang ditunjukkan Rose membuat mereka tak kuasa menolak ajakan dari Gadis itu.
Sam pun berinisiatif memesan tiket untuk mereka bertiga, agar Ia terlihat keren di mata Rose dibandingkan Steven.
"Aku memesan tiket dulu."
Rose tersenyum. "Kau baik sekali, Terima Kasih Sam."
Sam mengulum senyum. "Aku pergi dulu."
"Ya. Hati-hati.." Rose melambaikan tangannya yang di sambut baik oleh Pria yang biasanya terlihat tidak memiliki ekspresi itu.
Steven yang melihat interaksi tak biasa itu hanya bisa berdigik merinding, Rose sudah seperti Istri yang sedang mengantar kepergian Suaminya yang akan berangkat berperang.
Suhu -18° Sudah dapat dipastikan membuat orang yang berada di luar menggigil karena kedinginan.
Rose menggosok tangannya sendiri menghilangkan rasa dingin di tubuhnya.
"Dingin ya?"
Rose mendengus. "Panas!"
"Oh ya? Padahal, aku yang mengenakan Hoodie saja masih terasa dinginnya." Sahut Steven tanpa merasa bersalah.
"Bodoh! Ini Dingin. Apalagi aku hanya mengenakan Sweater."
Steven terkekeh melihat Rose yang sudah melipat tangannya didepan dada dengan bibir yang mengerucut.
"Jangan tertawa, ini tidak lucu."
"Baiklah-baiklah." Steven menghentikan tawanya, tanpa diduga Ia melepas Hoodie hitamnya dan hanya menyisakan kaos lengan panjangnya.
Pria itu menyerahkan Hoodie kesayangannya ke Gadis yang berdiri di depannya. "Pakai."
Rose mengerutkan keningnya, "Kau ini bodoh atau apa? Katanya kau kedinginan, tapi malah menyerahkan Hoodie mu padaku."
Steven menampilkan wajah konyolnya, "Aku ini anak angin. Tadi itu hanya pura-pura agar kau mengakui kelemahan mu."
"Ck. Baiklah si anak angin." Cibir Rose namun tak urung Ia memakai Hoodie hitam milik Steven.
"Pfft!" Steven menahan tawanya yang kapan saja siap meledak.
Dengan balutan Hoodie yang kebesaran, Rose terlihat seperti orang-orangan yang biasanya terlihat di sekitaran ladang gandum yang dibuat untuk mengusir para burung. Lucu sekali, pikirnya.
"Tanganmu hilang, Rose." Steven menggoyangkan lengan mungil Rose yang tenggelam dalam Hoodie nya.
"Berhentilah meledekku, Bodoh!"
Sam yang dari jauh memperhatikan mereka sudah melayangkan tatapan tajam, gigi-giginya pun bergemeletuk tapi bukan hawa dingin penyebabnya melainkan karena kekesalannya.
Kaki panjangnya membawa Sam kembali berada di antara mereka. Rose yang melihat kedatangan Sam pun tersenyum sembari mengulurkan tangan kosongnya, menagih tiket masuk miliknya.
Tapi, bukannya menyerahkan apa yang diinginkan Rose. Sam justru menatapnya tajam.
"Hoodie siapa?"
"Oh ini. Punya Steven,"
Steven yang disebut namanya diam-diam merinding, Ia meringis. Kenapa Rose jujur sekali sih?
"Lepas." Titah Sam.
"Tapi, ini dingin Sam."
"Kalau begitu, pakai punyaku saja."
Rose melebarkan matanya, Ia dengan cepat menahan baju Sam agar Pria itu tidak nekad membuka kaos hitam yang dikenakannya nya.
"Tidak. Kau gila ya!?"
Sam mendengus kesal dengan penolakan terang-terangan dari Istrinya itu. "Kenapa? Apa bedanya?"
"Kau pikir saja. Steven memberikan Hoodie nya padaku karena Dia masih mengenakan kaos, sedangkan kau! Kau hanya mengenakan kaos Sam." Rose tidak habis pikir dengan Pria satu ini.
"Tapi, aku tidak suka melihat kau memakai Hoodie jelek ini."
Kata 'Jelek' yang keluar dari bibir Sam membuat Si Pemilik Hoodie melirik nya dengan tatapan tidak terima.
"Okay, aku melepasnya."
Akhirnya mereka bertiga bisa memasuki Rumah Hantu tanpa ada perselisihan lagi. Meski sesekali Sam akan melemparkan tatapan sinis pada Steven.
Mereka bertiga mulai memasuki lorong pertama yang diisi dengan musik klasik yang sedikit mengerikan jika diputar terus-menerus.
Melewati berbagai bentuk patung yang berbaris seakan menyambut kedatangan mereka, penerangan lampu yang sedikit meredup semakin menambah kesan seram di lorong ini.
"Kau tidak takut?" Tanya Sam yang mendapati Rose tanpa gentar melangkahkan kakinya semakin masuk ke lorong gelap itu.
Rose menggeleng, "Kau takut?"
"Apakah wajahku terlihat seperti pengecut?" Pria itu berbalik bertanya dengan wajah flat seperti dinding kamarnya.
Rose tertawa, "Ya, tapi lihatlah.. Pria di belakangmu itu, wajahnya yang terlihat seperti pengecut."
Steven mendengus mendengarnya. "Aku bukan pengecut--"
Brak!
"Astaga!!" Steven memekik terkejut begitu kepala patung yang berada tak jauh darinya tiba-tiba saja jatuh menggelinding ke kakinya yang berbalut sepatu.
Sontak saja Ia jadi bahan tertawaan Sahabatnya itu. Rose bahkan dengan teganya meledaknya habis-habisan.
Sam yang berada di sisi Rose hanya diam tanpa berniat membantunya sama sekali. Karena kesal, Steven menendang kepala patung itu hingga menabrak kaki patung yang lainnya.
Tanpa mereka duga, sesuatu yang bersembunyi di salah satu patung itu menyergap mereka.
Wanita tanpa kepala.
"Kembalikan kepalaku.."
"Kembalikan.."
Hantu itu mendekati Steven yang kedua kakinya sudah bergetar menahan rasa takut. Tiba-tiba saja, Steven berlari sekencang yang Ia bisa meninggalkan Rose dan Sam.
Rose tertawa melihat Steven yang sudah melarikan diri. Ia beralih pada Pria di sisinya.
"Ayo, kita lanjutkan?"
"Hm.."
Sam dan Rose melanjutkan langkah kaki mereka yang sempat tertunda. Lorong yang kali ini mereka lewati memiliki suasana lebih mencekam dengan hawa dingin yang semakin terasa.
Manik hitam pekat milik Sam bergulir menatap Rose yang sesekali terlihat menggosok tangannya.
"Kau Kedinginan?"
"Ya, sedikit."
Grep..
"Eh?" Pipi Rose memerah begitu lengan kekar Sam melingkari pinggangnya.
"Ini akan membuatmu hangat."
"Tapi, ini sedikit.." Gugup Rose.
Sam menaikan salah satu alis tebalnya. "Hm?"
Baru saja Rose ingin membuka mulut berniat mengatakan sesuatu, mereka berdua dikejutkan dengan kemunculan Laki-laki yang mengenakan topeng Hockey, Dia juga membawa kapak di bahunya.
Jujur saja, Rose lebih takut dengan karakter Jason si psikopat di Film Friday The 13 Th daripada Hantu dan Ia sama sekali tidak menyangka kalau Rumah Hantu ini tidak sekedar memunculkan Hantu saja, tapi karakter pembunuh juga.
Ia mencengkram erat lengan Sam. Mencari rasa aman dari Pria di sampingnya itu.
"Kau takut?"
Rose mengangguk. "Sedikit."
Sam tersenyum tipis, "Bisakah aku membantumu?"
"Apa maksudmu?"
Rose memekik kaget saat Sam tanpa aba-aba menggendongnya ala bridal style. Sam melangkah cepat menghindari Laki-laki bertopeng itu dengan Rose yang berada di gendongannya.
Bukannya merasa pusing di bawa lari dengan cara yang seperti itu, Rose justru tertegun memandangi wajah serius Sam yang menatap jalan.
Kecepatan Sam ketika berlari mengakibatkan rambut hitamnya berterbangan, wajahnya itu terlihat semakin tampan saja.
Pipi Rose merona, bisakah Dia tidak membuatnya blushing sekali saja!?
Menyadari Laki-laki tadi sudah tidak mengejar mereka, Sam pun menurunkan Rose dengan hati-hati agar Gadisnya itu kembali menjejakkan kakinya di tanah.
"Terima kasih." Rose tersenyum manis.
Sam menggeleng, Ia mengelus puncak kepala Gadisnya karena gemas. Rose yang diperlakukan seperti itu hanya bisa mengulum senyum.
"HEI!"
Suara kencang yang menyentak nya membuat Rose melompat ke dalam gendongan Sam. Beruntung saja tubuh mungil Rose seringan kapas, jadi Sam bisa menahannya agar mereka tidak jatuh bersama.
Rose berkedip beberapa kali, tidak menyangka kalau reflek nya sangat memalukan.
Posisi mereka sekarang ini sangat intim, dengan Sam yang menggendong Rose ala koala.
Jika Rose sedang dilanda gugup berbeda dengan Sam yang sudah menahan diri untuk tidak menerkam Istri kecilnya itu.
Steven, pelaku dari kejadian barusan hanya bisa menjatuhkan rahangnya tidak percaya. Setelah meninggalkannya, mereka kini memamerkan kemesraan terang-terangan didepan matanya.
"T-turun 'kan aku." Cicit Rose, suaranya tidak bisa didengar manusia biasa tapi karena ini Sam, jadi Pria itu dapat mendengarnya dengan jelas.
Sam menurunkan Rose kembali, "Kau tidak papa?"
"Ya, Terima kasih dan maaf. T-tidak seharusnya aku melompat seperti itu, aku hanya masih takut. Aku kira Steven itu Laki-laki bertopeng tadi, hampir saja Dia membuatku mati berdiri."
Ia mengangguk, "Tidak usah minta maaf." Sam beralih menatap Steven dengan tatapan tajam. "Kurasa aku harus membunuhnya." Gumamnya yang hanya bisa di dengar dirinya sendiri.
Steven yang mengerti itu, menelan saliva nya susah payah. "R-rose, tolong a-aku.."
🍷🍷🍷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments