🍷🍷🍷
Jarum pendek dan jarum panjang jam sudah berada di angka 00:23, tapi Gadis itu belum juga dapat memejamkan matanya.
Matanya menatap langit-langit kamar dengan ekspresi bingung yang amat ketara, sedangkan Pria yang tidur bersamanya terus menatapnya dengan posisi menyamping.
Jengah karena terus-menerus ditatap tanpa jeda, Rose pun bergerak membelakangi Sam. Tapi, dengan liciknya Pria itu mendekatkan diri ke punggung mungilnya.
Lengan kekarnya membelit pinggang sempit Rose bak seekor ular. Ia berusaha melepaskan diri dari lengan Sam tapi karena kekuatannya tidak sebanding dengan Pria itu, usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil.
"Bisakah kau melepasnya?"
"Tidak mau."
"Aku tidak bisa tidur dengan tenang kalau kau memelukku seperti ini."
"Baiklah.. Tapi, kau harus tidur menghadapku."
Ia menghela nafas, ternyata tidak ada gunanya berdebat dengan Pria satu ini. Ujung-ujungnya selalu dirinyalah yang menjadi pihak paling dirugikan.
Rose berbalik, wajahnya langsung disambut dada bidang Sam yang terlihat jelas dari balik kemeja putihnya.
Ekor matanya sekilas dapat melihat perut sixpack milik Sam, cepat-cepat Ia mengalihkan wajahnya yang sudah memerah layaknya kepiting rebus.
Sam yang menyadari itu pun menyeringai, "Kau ingin melihatnya lebih jelas?"
"Mesum!"
Dengan pipi yang semakin panas, Rose beranjak dari posisi berbaring nya. "Kau menyebalkan! Aku kembali ke kamarku saja."
Sam menarik pelan lengan Rose membuatnya kembali ke posisi semula.
"Kau ini kenapa sih? Aku ingin tidur di kamarku."
"Jika tidak ingin kamarmu terbakar habis. Lebih baik kau tetap disini."
Rose menatap Sam malas, "Pria pemaksa."
"Gadis keras kepala."
Rose melebarkan matanya. Tidak percaya kalau Sam akan membalas ejekan nya.
"Dasar menyebalkan!" Rose memukul dada bidang Sam dengan brutal.
Tapi kelakuan absrud nya justru dimanfaatkan oleh Sam untuk memeluk lagi Istri kecilnya itu.
Kali ini, jarak mereka sangat dekat hingga Rose dapat mencium aroma mint yang menguar dari dada bidang Sam dan juga suara degup jantungnya.
"Kau memiliki jantung?" Tanya Rose, suaranya teredam.
Bukannya tersinggung, Sam justru terkekeh geli. "Tentu saja, aku juga memiliki bayangan di cermin, aku tidak takut tanda keagamaan dan bawang putih."
Rose menengadahkan wajahnya, menatap wajah tampan Sam dari bawah. "Bagaimana bisa?"
"Vampire tidak selemah yang digambarkan Manusia." Terang Sam,
Salah satu tangannya yang tidak digunakan untuk memeluk Rose, tidak berhenti memainkan surai kecoklatan milik Istri kecilnya itu.
Rasa-rasanya Rose mulai penasaran dengan semua hal yang berkaitan dengan Vampire.
"Apa kau memiliki orang tua?"
Kegiatan memainkan rambutnya terhenti begitu saja membuat Rose kembali menengadahkan wajahnya.
Wajah Sam terlihat sendu, seperti sedang mengingat kejadian di masa lalu yang menyedihkan baginya.
Apa orang tuanya telah tiada, bisa saja iya. Rose jadi tidak enak hati dibuatnya. Huft.. Kenapa mulutnya tidak memiliki rem?
Untuk menghapus rasa bersalahnya, Rose membalas pelukan Sam. Ia juga menepuk-nepuk punggung Pria itu.
"Jangan diingat lagi kejadian yang membuatmu sedih. Kau tidak sendiri, ada aku bersamamu." Kata Rose, mencoba memenangkan Sam dari kesedihannya.
Wajah Sam yang berada di puncak kepala Rose nampak memunculkan senyuman aneh, tapi sayangnya Rose tidak dapat melihat itu.
"Kau benar. Untuk apa aku bersedih lagi, kau 'kan sudah di sini."
Rose mengangguk, tidak menyadari kalau perkataan Suaminya tersirat banyak arti.
...🍷💋🍷...
"Jangan pergi jauh tanpa Suamimu, makanlah dengan teratur, jangan tidur terlalu larut, jangan--"
"Iya, iya, Mommy.. Aku akan melakukannya, jangan mengingatkanku seperti anak kecil begini."
Clara mendengus, "Jika tidak diingatkan kau akan menjadi pelupa seperti Lansia."
Claude yang berdiri di samping Istrinya nampak menahan diri untuk tidak tertawa.
"Daddy, jika ingin tertawa. Tidak usah ditahan." Geram Rose.
"Tidak. Mana mungkin Daddy tega menertawakanmu. Hati-hati ya, My Princess. Jika Pria ini menyakitimu kembalilah ke Rumah, Daddy akan menjodohkanmu dengan Steven."
Mendengar itu, manik pekat Sam terlihat semakin menajam. Nampak sangat menentang perkataan Ayah mertuanya itu.
Rose yang menyadari perang dingin sedang terjadi diantara kedua Pria itu pun, segera menarik lengan Sam agar secepatnya masuk ke Mobil.
Melalui kaca jendela mobil, Rose melambaikan tangan pada kedua orang tuanya itu. Ia sedih harus pergi jauh dari keduanya, tapi ini sudah takdir yang digariskan Tuhan untuknya.
Rose menatap Rumah dan kedua orang tuanya yang perlahan-lahan mulai tidak terlihat lagi.
"Rose."
Mendengar namanya di sebut, Rose pun memusatkan perhatiannya pada Sam.
"Lain kali, kita akan mengunjunginya lagi. Jangan sedih.." Sam mengelus puncak kepala Rose dengan lembut.
Rose mengangguk sembari menujukkan senyum manisnya. "Terima kasih."
"Tidak perlu berterimakasih, itu sudah tugasku."
Tidak ingin wajah tersipu nya terlihat, Rose mengalihkan wajahnya. Menatap jalanan yang ramai lancar dari jendela mobil.
Kenapa Ia jadi sering blushing sih? Biasanya orang yang mengalami hal itu adalah orang sedang jatuh cinta. T-tunggu..
Apa Ia jatuh cinta dengan Suaminya ini?
Bagimana bisa?!
...🍷💋🍷...
Sampai di Mansion, Rose masih memikirkan pertanyaan yang mengganggunya itu.
Mana mungkin Ia bisa jatuh cinta dengan orang yang paling dibencinya? Apalagi orang itu adalah Vampire licik yang sudah menjebaknya.
"Kamu kenapa? Hm.."
Rose menggeleng, "T-tidak apa. Hanya sedikit kelelahan."
"Kalau begitu, kau harus segera istirahat."
"Ya. Kau juga."
"Hm."
Rose pun melangkahkan kaki ke kamarnya sedangkan Sam pergi ke ruang kerjanya, George sudah menantinya di sana dengan setumpuk pekerjaan.
Mengingat itu, Sam dibuat mengambil nafas panjang. Menjadi King selanjutnya untuk kaum Vampire Red Moon, sangatlah membebani nya.
Jika bisa, Sam lebih memilih menjadi Vampire biasa yang memiliki kehidupan tenang tanpa segala aturan kerajaan dengan begitu Ia bisa hidup bahagia bersama Istri kecilnya.
Pintu ruang kerjanya terbuka menampilkan wajah malas George.
"Tidak bisakah kau sedikit on time? Kau tahu, aku ini sudah menunggumu selama lebih dari dua jam yang lalu. Membuang waktu berharga ku saja."
"Cerewet sekali. Cepat mulai, aku sudah merindukan Istriku."
George menatap Sam dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan, "Aku tidak percaya. Kau lebih mementingkan Gadis kecil itu daripada Sahabat sejatimu."
Sam bergidik. "Kau menjijikkan."
Tidak tahan dengan kata-kata pedas anak dari penguasa Red Moon itu, George pun segera menyampaikan situasi di wilayah kekuasaan yang diambil sementara oleh Sam sebelum nantinya diambil alih Duke Arthur--Ayahnya.
"Bagimana?"
Sam mengangguk faham, Ia mendengarkan semua penjelasan George dengan cermat meski sesekali konsentrasinya harus terpecah karena terbayang wajah manis Istri kecilnya itu.
Ia ingin secepatnya menyelesaikan pembicaraan ini, tidak sabar ingin memeluk Rose lagi.
"Sudah selesai?"
George mengangguk, "Jangan lupa untuk menandatangani semua dokumen ini."
Sam melirik sekilas semua dokumen yang menumpuk di mejanya. "Kenapa sebanyak ini?"
"Salah sendiri, kenapa kau memiliki banyak Perusahaan di dimensi Manusia? Ingin terlihat keren didepan Istrimu, huh?"
Sam memutar bola matanya malas, "Pergilah cepat, kau semakin cerewet." Usir nya tanpa sungkan.
George mendengus, meskipun kesal Ia tetap melangkahkah keluar sesuai titah Sam.
🍷🍷🍷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments