Insiden?

🍷🍷🍷

Setelah keluar dari wahana Rumah Hantu, mereka bertiga melipir ke salah satu kedai Kopi yang tidak terlalu ramai pengunjung untuk menghangatkan diri.

Suhunya semakin rendah dan tidak baik untuk kesehatan jika terus memaksakan diri. Meskipun tidak seperti tahun lalu, Rose tetap senang bisa datang ke sini.

Salah seorang Waitress menghampiri meja mereka dengan senyuman ramah khasnya.

"Bisakah Saya mencatat pesanan kalian?" 

Rose mengangguk, Ia beralih pada kedua Pria yang sibuk dengan dunianya sendiri itu.

"Kalian ingin pesan apa? Jangan hanya memandangi satu sama lain seperti itu, aku sedikit takut melihatnya." Jengah Rose.

Sejak dari wahana Rumah Hantu, entah kenapa mereka berdua tidak berhenti melemparkan tatapan tajam satu sama lain.

"Espresso."

Rose melirik keduanya yang mengatakan pesanannya secara serempak. Ia menahan diri untuk tidak tertawa, melihat ekpresi Steven dan Sam yang terlibat perang Dingin.

"Baiklah, Espresso 2. Nona, apa mau pesanan yang sama juga?" Ucap Waitress itu.

"Aku--"

"Berikan Dia Hot Coklat."

Lagi, mereka mengatakannya secara serempak tanpa sedikit kesalahan pun, bahkan nada bicaranya juga terlihat sama persis.

Sam melirik Steven sinis, sedangkan yang ditatap justru terlihat tidak memperdulikan nya. 

Rose menatap mereka dengan binggung, Ia bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang Ia lewatkan?

"Terima kasih sudah memesan, Saya akan kembali dalam beberapa menit. Saya permisi Nona dan Tuan-Tuan."

"Iya.."

Selesai mencatat semua pesanan, Waitress itu berlalu meninggalkan meninggalkan meja mereka.

Rose kembali memusatkan perhatiannya pada kedua Pria itu. "Kalian kenapa?"

Steven berdeham pelan, "Aku tidak percaya, kau bisa menikah tanpa sepengetahuanku." Ujar Steven yang tidak singkron dengan pertanyaan yang diajukan Rose sebelumnya.

Rose menghembuskan nafasnya gusar, jika saja Ia menikah secara sukarela pasti dirinya tidak lupa untuk mengundang Sahabat satu-satunya ini.

Tapi Rose juga tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya apalagi perihal Identitas Sam. Walaupun Ia membenci Sam, namun Rose masih mempunyai empati untuk tidak mengungkapkan Identitasnya yang bisa saja berakibat fatal terhadapnya.

"Maaf, Steven. Kami menikah secara Privat karena suatu insiden, jadi aku tidak bisa memberitahumu dulu."

Melihat raut sesal Rose, Steven pun tersenyum. Baru saja Ia berniat mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Rose, tapi tangan Sam lebih dulu menepis nya.

"Jangan menyentuhnya." Desis Sam.

"Ck, Ternyata Tuan Presidir sangat posesif pada Istri kecilnya." Cibir Steven pelan.

"Baiklah, aku memaafkanmu Adik Kecil. Tapi berjanjilah jika nanti kau akan mengundangku lain kali."

Sam mendelik, "Apa maksudmu? Kau ingin Istriku menikah lagi?"

"Ya, begitulah.. Kalau bisa, aku yang menjadi Suaminya." Ucap Steven santai.

Brak!

"Astaga!"

Suara gebrakan meja itu membuat orang-orang yang berada di kedai melirik penasaran ke arah meja mereka.

Rose meringis malu, Ia menarik pelan lengan kekar Sam agar Pria itu kembali duduk manis di tempatnya.

"Tenanglah.."

Sam hanya diam, namun ekspresi wajahnya seperti ingin mengibarkan bendera perang.

Steven tersenyum, Ia terlihat tidak memiliki dosa sama sekali. Meskipun sebenarnya Ia sudah ketar-ketir sendiri dengan kemurkaan Sam.

Sam menatap tajam Steven, "Dengar! Sampai kapanpun Rose adalah Istriku."

Rose yang mendengarnya ikut terdiam, hatinya berdesir mendengar pernyataan penuh penekanan itu.

...🍷💋🍷...

"Hati-hati, Steven. Jangan merepotkanku jika terjadi sesuatu." Rose tersenyum jenaka.

"Terima kasih, Rose. Kau adalah sahabat paling buruk yang aku kenal." Balas Steven dengan tidak bersahabat.

Rose cekikikan mendengarnya. Wajah bodoh Steven benar-benar menghiburnya.

Steven mendengus melihat itu. Ia menjalankan mesin motornya, Steven melambaikan tangan padanya dengan Motor Sportnya yang perlahan-lahan meninggalkan pekarangan Rumah.

Ketika Rose berbalik badan, Ia langsung disuguhkan dengan wajah tanpa ekspresi milik Sam.

Rose merasa dejavu dengan situasi ini, semoga saja tidak berakhir dengan insiden memalukan seperti itu lagi.

"Ehmm.. Kau tidak mau masuk ke dalam?" Tanya Rose mendadak gugup.

Sam melipat tangannya didepan dada. "Sebagai hukuman. Malam ini, kau harus tidur bersamaku."

"Tapi--"

Sam mengangkat tangannya menghentikan segala bentuk protes dari Rose. "Tidak menerima kata 'tapi'."

Bahu Rose langsung terkulai lemas dibuatnya. "Vampire licik." Gumamnya pelan.

Sam yang mendengarnya hanya mengangkat bahunya acuh.

Padahal AC kamarnya sudah dibetulkan, kalau begini 'kan rasanya percuma saja. Rose melangkah menuju kamar tamu dengan Sam yang mengekor di belakangnya layaknya dua ekor Itik Ibu dan Anak.

Sebenarnya Rose ingin langsung tidur, tapi tubuhnya butuh berendam di air hangat.

Ia pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan Sam masih saja terus mengikutinya. Rose yang sadar akan hal itu pun berbalik menatap Sam.

"Kau mau apa?"

"Mandi." Jawabnya tanpa beban.

"Dasar mesum."

Rose menutup pintu kamar mandinya tak lupa Ia juga menguncinya. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Pria itu, Dia mengatakannya tanpa rasa canggung sama sekali.

Benar-benar Vampire sejati.

Ketika air hangat hampir memenuhi bathup Rose pun melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya dan membawa satu bathbomb dengan aroma mawar ke dalam bathup.

Bathbomb itu perlahan melebur disusul air hangat yang mulai berubah warna jadi sedikit kemerahan.

Riak air terlihat jelas begitu Rose masuk ke dalam bathup. Tubuhnya dibuat rileks seketika, hampir saja Ia terlelap saking nyaman nya.

Setelah puas berendam selama hampir setengah jam, Rose akhirnya keluar dari kamar mandi mengenakan kimono mandi.

Ia berjalan menuju lemari tanpa menyadari ada seseorang yang menatapnya intens.

Sepertinya, Gadis itu lupa kalau ini bukan kamarnya.

Rose mengerutkan keningnya bingung menyadari kalau semua koleksi pakaiannya tidak ada dan hanya menyisakan satu kemeja putih.

Grep..

Tubuh Rose menegang kaku, nafas hangat yang menyapa lehernya dan beban berat yang menimpa pundaknya membuat Ia sadar akan sesuatu.

"S-sam.."

Bukannya menjawab panggilannya, Sam justru asik mengendus lehernya.

"Harummu mawar. Aku menyukainya." Suara Sam terdengar parau saat mengatakannya.

Tidak mau terjadi sesuatu, Rose pun langsung berbalik badan. Kini Ia dapat melihat jelas, manik hitam pekat Sam yang telah berubah warna.

Sam mengelus lembut bibir bawah Rose yang sedikit gemuk itu, "Boleh aku menciumnya?"

Dilanda kepanikan berlebih, Rose dengan kencang mendorong dada bidang Sam. Namun karena tenaga Sam yang tidak sebanding dengannya, Rose justru yang dibuat terhuyung ke belakang.

Sam menarik lengan Rose, mencegah agar Gadis itu tidak jatuh dan membentur lemari.

Tapi karena kekuatan Sam yang tidak main-main saat menariknya membuat mereka berdua jatuh dengan tubuh mungil Rose yang menimpa tubuh kekar Sam.

Rose kembali dibuat membeku karenanya. Manik hazelnya memandangi wajah Sam yang terpahat hampir sempurna itu, tak berbeda jauh dengan yang dilakukan Rose.

Sam juga menatap intens wajah Rose, pipi bulat yang memerah itu menjadi candu baginya.

Telapak tangan Sam yang berada di pinggang Rose, bergerak dengan lembut mengelus nya.

Sam mendekatkan bibinya ke telinga Rose. "Meski kau tidak mengingatku, aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku."

🍷🍷🍷

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!