Siapa yang cantik?

🍷🍷🍷

Selesai dengan sarapannya, Rose menggulung lengan piyama nya lalu mengenakan rubber gloves miliknya. Ia bersiap mencuci semua piring-piring kotor yang sebelumnya digunakan untuk sarapan.

Siang ini Ia berniat menemui Steven, sudah tiga minggu dirinya pergi tanpa pamit padanya. Pasti, sahabat dari kecilnya itu khawatir. Apa lagi sampai sekarang Rose tidak tahu dimana keberadaan ponselnya.

Mungkin Ia akan sedikit berbohong tentang apa yang dialaminya saat menghilang selama tiga minggu, tidak mungkin mengatakannya dengan jujur, masih terbayang diingatan nya ketika Rose menceritakan pertemuannya dengan Sam.

Steven dengan bodohnya menganggap kalau yang ditemuinya itu nyamuk, ck! Pria ini. Rose jadi ragu dengan gelar sarjana yang dimiliki Steven.

Rose melepas rubber gloves nya, meletakkan semua piring yang sudah bersih ke rak.

Suasana Rumah terasa sangat sepi karena selepas sarapan, Claude pergi ke Kantor sedangkan Clara pergi ke pasar dan Sam masih terlelap di kamarnya.

Ngomong-ngomong tentang kamar, Rose lupa menghubungi orang untuk membetulkan AC kamarnya.

Ia tidak mau kejadian semalam terulang lagi, Rose melangkah menuju tempat telefon Rumahnya berada.

Mengetikkan beberapa angka lalu menunggu telfonnya terhubung.

"...."

"Selamat pagi juga. Saya Rosetta Maureen dari kediaman Han. AC di kamar Saya rusak, bisakah kau mengirim satu orang untuk membetulkannya?"

".... "

"Terima kasih, Saya tunggu."

Rose meletakkannya kembali ke tempat semula, Ia melirik TV yang masih dalam kondisi mati. Lebih baik sembari menunggu orang yang membetulkan AC kamarnya, Ia menonton serial Drama yang akhir-akhir ini sudah jarang ditontonnya.

Dengan membawa serta setumpuk snack yang di stok Clara. Rose mulai menyamankan diri di Sofa ruang keluarganya.

Mungkin ada setengah jam Rose duduk anteng di Sofa panjang Abu-abunya dalam berbagai posisi. Kali ini Rose tengah dalam posisi berbaring, tangannya tak berhenti mencomot snack nya yang diletakkan di meja.

Lama-kelamaan mata Rose mulai memberat. TV yang sedang menayangkan adegan pertemuan Protagonis Pria dan Protagonis Wanita tidak lagi menjadi acuannya, padahal biasanya Rose paling menantikan ini.

Tak lama, hanya terdengar suara Televisi yang masih menyala dan dengkuran halus dari Gadis bersurai kecoklatan itu.

...🍷💋🍷...

Bel Rumah yang ditekan terus-menerus membuat tidur Sam menjadi terganggu. Pria itu mendengus kasar, sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu utama.

Sam memutar handle pintunya hingga pintu itu terbuka menampilkan Pria yang memakai hoodie.

"P-pak Presidir?" Pria itu nampak terkejut melihatnya.

"Siapa?"

"Saya Steven,"

"Oh.. Perlu apa?"

"Rose? Tadi pagi Dia menghubungiku, katanya ingin bertemu. Kalau boleh tau, Bapak ada hubungan apa dengan teman Saya."

Sam mengernyitkan dahinya merasa tidak senang, "Aku Suaminya. Rose sedang tidur, Dia kelelahan." Ia menekankan setiap katanya.

Steven menjatuhkan rahangnya, benar-benar tidak menyangka kalau Sam akan mengatakan hal itu.

Otaknya langsung berspekulasi yang tidak-tidak mendengar kata 'kelelahan' Apa lagi melihat tampilan Sam yang hanya bertelanjang dada.

"Kau bisa pergi." Ujar Sam ketus.

"Bapak tidak sedang--"

Brugh

Sam langsung menutup pintunya begitu saja, tanpa menunggu Steven selesai berbicara.

Pria itu berlalu meninggalkan pintu utama, berniat kembali ke kamarnya. Tapi, langkahnya terhenti mendapati Rose yang terlelap di Sofa dengan Televisi yang masih menyala.

Sam menggeleng samar melihat posisi tidur Rose yang tidak mencerminkan ke anggunan sama sekali, tangan yang menjulur ke lantai, helai rambut yang hampir menutupi wajahnya dan piyama yang sedikit terangkat menampilkan..

Ia mengalihkan wajahnya yang nampak sedikit memerah karena tidak sengaja melirik perut datar milik Gadisnya.

Sam berlutut agar dapat melihat paras cantik Rose dari dekat. Ia menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi pandangannya.

Pipi chubby itu selalu bergerak ketika si pemilik berbicara atau mengunyah sesuatu, Sam jadi gemas sendiri. Ia mendekatkan wajahnya ke pipi chubby itu.

Tanpa izin dari si pemilik, Sam mengigit pipi berisi itu tanpa menggunakan giginya.

Nampaknya Rose tidak terganggu dengan itu, Ia masih terlelap di alam mimpinya. Puas bermain-main dengan pipi Rose, Sam membawa tubuh mungil itu ke gendongannya.

Sam melangkahkan kakinya dengan santai menuju kamarnya, Dia bahkan sempat-sempatnya menjentikkan jari membuat Televisi yang sebelumnya dalam kondisi on menjadi off.

Ia meletakkan tubuh mungil Gadisnya ke ranjang lalu ikut menjatuhkan diri di sisinya, memeluk Rose bak guling.

...🍷💋🍷...

"Kenapa kau terus melihatku?"

Rose dibuat merinding oleh Sam tak henti-hentinya menatapnya yang sedang bercermin.

"Mau kemana?" Tanyanya tanpa mengalihkan tatapannya.

Rose dengan kikuk berbalik, menghadap Sam yang tengah dalam posisi duduk menyender di kepala ranjang.

"Pasar Malam."

"Dengan siapa?"

"Steven."

Tatapan Sam semakin tajam, itu jelas mengintimidasi Rose. Wait.. Memangnya Ia salah apa ya? Sam menatapnya seperti ingin menguliti.

"Apa?" Akhirnya Rose memberanikan diri untuk bertanya.

"Aku ikut."

"Eh! Tapi, tapi--"

"Aku ikut, atau tidak sama sekali."

Rose menghela nafas panjang, "Baiklah.."

Gadis bersurai kecoklatan itu melangkah keluar dari kamarnya, memberikan ruang untuk Sam bersiap.

Beberapa menit setelahnya, Sam keluar dari kamar Rose dengan kaos hitam yang membalut tubuh kekarnya.

Ternyata baju santai Claude jika dipakai Sam akan terasa mewah. Melihat ini Rose jadi punya ide brilliant. Bagaimana kalau Sam bangkrut, Ia daftarkan saja Suaminya itu ke agensi untuk jadi model.

Sayangnya, angan-angan Rose akan tetap jadi angan-angan karena mana mungkin seorang Samuel bangkrut?

"Sudah? Ayo."

Terlalu bersemangat, Rose sampai tidak sadar kalau Ia secara reflek mengapit lengan kekar Sam.

Sam yang menyadarinya hanya tersenyum tipis, menatap bagaimana tangan mungil itu memeluk lengan kekarnya.

Sampai di teras rumah. Ada Steven yang sudah menunggu mereka lebih tepatnya Rose, karena Pria itu juga sedikit terkejut mengetahui kalau Sam juga akan turut serta.

"Kita tidak naik Mobil?" Tanya Sam saat mereka melewati Mobilnya begitu saja.

Rose mengangguk, "Letak Pasar Malamnya 'kan dekat. Aku juga ingin mencari angin segar."

"Oh, baiklah."

Steven yang berjalan di belakang mereka hanya bisa menggerutu di dalam hati. Kalau tau begini Ia lebih baik tidak usah ikut. Sudah seperti syetan saja, yang menyesatkan pasangan untuk melakukan hal yang tidak-tidak

"Lihat!" Seru Rose membuat kedua Pria itu mengikuti arah telunjuknya.

Mereka dapat melihat ratusan kunang-kunang yang berterbangan mengitari area Danau. Sam mengalihkan wajahnya, kembali menatap wajah Rose.

Mata bulatnya yang jernih terlihat berbinar menatap sekumpulan kunang-kunang, dan bibir berbentuk hati itu melengkung dengan indah.

"Cantik 'kan?"

"Tidak, tapi sangat-sangat cantik."

Sahutan dari Sam membuat Rose menatap ke arahnya. Pipinya dibuat merona ketika menyadari apa yang dimaksud cantik oleh Sam.

Steven yang berada di antara mereka langsung tersedak saliva nya sendiri. Astaga! Kemana jodohnya?

🍷🍷🍷

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!