🍷🍷🍷
Rose terbangun dari tidurnya begitu tidak mendapati pergerakan dari Mobil yang ditumpangi nya. Ia mengernyitkan keningnya saat menyadari sesuatu.
Gadis itu menengadahkan wajahnya, matanya langsung terpaut dengan mata tajam milik Sam.
"Nyenyak, hm?"
Rose melotot tidak percaya. Secepat kilat, Ia menjauhkan tubuhnya dari Sam. Rose berdeham singkat sebelum mengalihkan wajahnya untuk melihat pemandangan dari jendela mobil.
Ternyata Rose sudah sampai sejak tadi, Gadis itu melayangkan tatapan protes ke Sam. "Kenapa tidak membangunkan ku dari tadi?"
Sam mengangkat bahunya acuh. "Dari pada mempermasalahkan hal itu, lebih baik turun."
Rose mendengus, tak urung Ia membuka pintunya. Matanya terpaku pada Rumah sederhana yang sudah beberapa minggu ini tidak dilihatnya.
Beban berat yang melingkari bahunya membuat Rose menoleh ke arah Sam yang entah sejak kapan sudah berdiri di sisinya dan merangkul bahunya.
"Untuk apa ini?" Katanya, matanya memancing menatap Sam curiga.
Sam menyeringai. "Agar Ibu dan Ayah mertua dapat melihat keharmonisan anak dan menantunya ini."
"Rubah licik!" Maki Rose.
Sam menundukkan tubuhnya agar dapat membisikan sesuatu di telinga Rose. "Aku Vampir bukan Rubah. Tapi, boleh juga. Terima kasih pujiannya Istriku."
Rose dapat merasakan bulu kuduk nya yang berdiri, Pria ini benar-benar menjengkelkan.
"Rose, putriku.."
Suara itu membuat mereka sama-sama saling menatap ke arah sumber suara. Wanita berumur kepala empat itu menatap haru pada Putrinya.
Rose berjalan cepat mendekati Mommy dengan tangan terbuka lebar mengisyaratkan sebuah pelukan dari orang yang melahirkannya. Mommy menyambutnya juga dengan rentangan tangan.
Grep!
Dua wanita berbeda generasi itu saling berpelukan, memuaskan segala kerinduan yang selama ini menyiksa mereka.
Daddy---Claude menatap Sam datar begitupun sebaliknya. Sebenarnya Claude sudah mengetahuinya identitas Menantunya itu, tapi Claude tak bisa berbuat apapun saat sang Menantu mengancamnya akan berbuat yang tidak-tidak pada Putri semata wayangnya.
Karena itu, Claude terpaksa mengizinkan Sam untuk menikahi Rose. Melapor Polisi? Tidak ada gunanya melaporkan kasus ini ke Polisi. Karena yang menculik Putrinya itu Prince Samuel Nathaniel Browne.
Polisi mana mungkin sanggup bertindak lebih lanjut, pertempuran antara Vampir dan Manusia bisa saja terjadi.
Ya, sebagai dari Manusia mengetahui adanya dimensi yang membatasi antara mereka dan Makhluk Immortal, termasuk Claude dan Clara---Mommy Rose.
Tapi, mereka lebih memilih menyembunyikannya dari Rose. Mengingat Putrinya itu gemar sekali penasaran dengan hal-hal yang menurutnya unik, bahkan jika itu membahayakan nyawanya sekalipun.
Namun, Rose kini mengetahui segalanya dan mungkin sebentar lagi akan menjadi bagian dari mereka.
"Daddy tidak merindukan Rose?" Ucap Rose dengan ekspresi memelas.
Claude seketika tersenyum geli. "Tentu, Daddy merindukanmu."
Rose beralih ingin memeluk Claude. Pria yang sudah berumur kepala lima itu mengacak puncak kepala Putrinya dengan gemas,
Rose sama sekali tidak mencirikan Gadis dewasa pada umumnya melainkan terlihat seperti Gadis berumur lima tahun yang manja dan menggemaskan.
...🍷💋🍷...
Kini keluarga Han terlihat duduk nyaman di Sofa ruang keluarga dengan Sam yang turut ikut serta. Ia senang melihat senyum di wajah Rose yang tak pernah surut, meski Ibu dan Ayah mertuanya tampak memiliki dendam tersendiri untuknya.
Ya, wajar saja. Mana ada orang tua yang tak marah mengetahui Putri satu-satunya di bawa kabur oleh penculik tampan sepertinya.
Tapi, Sam tak memperdulikan itu. Yang terpenting baginya adalah Rose. Lagi pula, Rose adalah miliknya dan sampai kapanpun akan tetap menjadi miliknya.
Tempat pulang Gadis itu adalah Mansion nya, bersama Sam. Tidak ada yang boleh mengubah itu, takdir sekalipun.
"Kamu di sana baik-baik saja 'kan, sayang? Dia tidak menyakitimu?" Tanya Clara dengan sedikit melirik Sam sekilas.
Rose tersenyum, "Tidak, Mom. Dia baik meski sedikit aneh." Sahutnya.
"Tentu saja, Dia aneh. Kalau Dia Normal Mommy justru khawatir."
Mereka tertawa tanpa memikirkan akibat dari menyinggung Putra Mahkota bangsa Vampir. Sam yang mengetahui kedua wanita berbeda generasi itu sedang menggosipi nya hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya.
Sedangkan kepala keluarga, Claude Han mendapat panggilan dari sekretarisnya setelah itu Ia pamit pada Istri dan Anaknya untuk menghadiri rapat.
Meski merasa sedih karena Daddy nya memilih menghadiri rapat dari pada menghabiskan waktu bersamanya, Rose mencoba mengerti kalau keberlangsungan Perusahaannya hanya ada di tangan Daddy-nya.
Meski Han Company bukan termasuk kalangan perusahaan besar, tapi penghasilannya lebih dari cukup untuk menghidupi mereka.
Jangan tanya kenapa Rose memilih bekerja di perusahaan lain, itu bukan karena perusahaan Daddy-nya kecil melainkan Rose berniat hidup mandiri dengan penghasilan sendiri.
Setelah beberapa saat ruangan itu hanya dipenuhi canda tawa Clara dan Rose, keduanya pun memutuskan untuk melihat bunga-bunga yang baru dibeli Claude untuk menghibur Clara yang sedih karena merindukan Rose.
Sam melirik jam tangannya sekilas. Pukul 15:25, ini sudah sore rupanya. Ia sebenarnya ingin mengajak Rose pulang, tapi tidak tega mematahkan ke antusias-an Istrinya itu.
"Aku ke taman dulu, Sam."
Sebenarnya bukan kemauan Rose untuk meminta izin pada Sam, tapi Clara yang memaksanya. Ibunya itu memaksanya untuk menghormati Suaminya.
"Bersenang-senang lah, satu jam lagi kita pulang."
Mendengar itu membuat Rose merasa berat meninggalkan kedua orang tuanya lagi.
"Tidak bisakah kita tinggal lebih lama lagi? Seperti menginap beberapa hari. Bisakah kita menginap di sini?"
Awalnya Sam ingin langsung menolaknya, tapi Ia menyadari sesuatu. Seringai mencurigakan muncul di wajahnya.
"Baiklah, kita akan menginap."
Rose tanpa curiga, tersenyum kegirangan. Secara tidak sadar Rose mengelus puncak kepala Sam.
"Kau Vampir yang baik."
Rose pergi meninggalkan Sam dengan jantungnya yang berdegup kencang. Pucuk daun telinga Vampir yang terkenal kekejamannya itu tampak memerah.
"Istriku sangat nakal.." Lirih Sam.
...🍷💋🍷...
"Bunga Tulip dan Bunga Lavender ini sangat indah, Mommy. Ini sangat mustahil bagi Daddy yang alergi bunga."
Clara tertawa, "Mommy lebih penting dari alerginya, Rose."
"Aku selalu ingin memiliki Suami seperti Daddy, tapi aku justru dijebak tanpa sempat memilih."
"Kau itu sudah kebanyakan memilih." Sungut Clara.
Rose tersenyum. "Iya, dan aku berakhir dengan Pria yang sama sekali tidak aku kenal. Apalagi Dia Vampir."
Clara yang menyadari kesedihan sang anak pun mengelus punggung Rose. "Maaf, Mommy tidak bisa membantu apapun."
"Mommy tidak perlu merasa bersalah. Aku akan belajar menjadi Istri yang baik seperti Mommy dan belajar mencintai Suamiku lalu hidup bahagia hingga tua seperti Mommy dan Daddy."
Clara memeluk Rose erat. Suasana haru menyertai mereka. Ada saatnya Putrinya itu berlaku seperti orang dewasa dan ada saatnya Putrinya berlaku manja seperti Gadis yang masih berumur lima tahun.
"Kau harus selalu bahagia, Putri Mommy."
🍷🍷🍷
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments