🍷🍷🍷
Cinta adalah hal indah bagi setiap orang karena ketika jatuh cinta, kamu akan merasa punya keterikatan yang teramat dengan orang yang dicintai. Namun cinta juga memiliki kekurangan, apa itu? Jawabannya adalah kita tidak pernah bisa memilih jatuh cinta pada siapa.
Seperti yang sekarang dialami Rose, orang yang Ia benci tenyata orang yang juga Ia cinta. Ini tak masuk akal baginya, kenapa dengan mudahnya Pria itu masuk ke hidupnya dan merusak skenario yang Ia susun serapih mungkin.
Sebenarnya siapa Sam? Kenapa Rose merasa kalau perasaannya sudah lama berlabuh pada Pria itu?
Ia yakin pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya. Rose bingung, kenapa mereka menyembunyikan itu darinya? Memang jika Ia mengetahuinya, apa itu akan membuat mereka rugi.
Brak!
Suara kencang itu membuat lamunannya seketika buyar, Rose menatap jendela kamarnya yang tiba-tiba saja terbuka dan menampilkan gelapnya hutan.
Kaki telanjangnya mendekati jendela itu berniat menutupnya kembali, tapi baru beberapa langkah Rose dikejutkan dengan kemunculan Wanita cantik yang memakai gaun selutut.
"K-kau siapa?" Wanita itu tidak menjawab pernyataan Rose, dia justru melangkah mendekati ranjang dan duduk di sana.
"Kau ingin keluar dari sini bukan?"
Rose mengerutkan keningnya, antara penasaran bercampur waspada. Siapa dia? dan kenapa Wanita itu bisa tau kalau Ia ingin keluar dari Mansion yang selama ini mengurungnya?
"Apa maumu?"
Wanita itu tersenyum tipis, "Aku hanya ingin menawarkan mu kesepakatan dan sebagai imbalannya, aku akan membantumu lepas dari Samuel."
"Kesepakatan apa?"
"Mudah saja," Wanita itu mengeluarkan mawar merah dari tas kainnya. "Masuklah ke ruangan pribadi Samuel dan letakan mawar ini di Vas bunga yang ada di sana. Setelah itu, aku akan membantumu keluar dari Mansion ini."
Rose dengan ragu menerima mawar itu, "Apa ini membahayakan Sam?"
Wanita itu kembali tersenyum. "Tidak, justru jika kau tidak melakukannya. Samuel akan terus menderita."
Rose menatap setangkai mawar yang diberikan Wanita tadi dengan seksama. Kenapa Ia harus percaya padanya, Wanita itu terlihat mencurigakan dan lagi, bagaimana jika Wanita itu jelmaan penyihir?
"Tapi.." Perkataan Rose terputus begitu saja saat Ia tak menemukan Wanita itu dimanapun, hilang tanpa jejak seakan Wanita itu memang tidak pernah memasuki kamarnya.
"Apa aku sedang bermimpi?" Rose menggeleng, tapi mawar yang ada di tangannya seakan membuktikan kalau ucapannya barusan itu salah.
Hawa dingin yang berasal dari jendela membuatnya semakin percaya kalau kejadian barusan bukanlah khayalan nya saja.
Tapi, bagaimana Wanita itu bisa hilang tanpa jejak? Apa Wanita itu benar-benar seorang Penyihir? Mengingat semua yang dikatakan dongeng, ternyata keberadaannya benar adanya.
...🍷💋🍷...
"Bacakan isi dekrit nya."
"Baik, Prince." Ksatria itu mulai membacakan isi dari dekrit yang dikirim langsung dari King untuk Samuel.
Sam memahami semua isi dari dekrit itu. Ia Meletakkan gelas wine yang semula di pegangnya dengan kasar ke meja, menimbulkan dentingan nyaring yang membuat ksatria itu reflek berhenti membacakan dekrit nya.
"Katakan pada King dan Queen, aku tidak akan membiarkan Rose menginjakkan kakinya di Istana."
Suara rendah Prince Red Moon sejujurnya dapat menggetarkan nyali Ksatria yang sekuat baja itu. Rumor mengenai kekejaman Prince yang dengan tangan kosong membantai habis pasukan werewolf Moon Nyx, cukup membuat nyalinya menciut.
"Mohon maaf, Prince. Tapi, King mengatakan kalau Queen sedang sakit dan ingin sekali bertemu Nona Rosetta." Ksatria itu mengatakannya dengan kepala tertunduk dalam.
"Queen sakit?"
"Iya, Prince. Tabib Istana sudah mengupayakan berbagai cara untuk menyembuhkan Queen, tapi tidak membuahkan hasil."
Sam menghembuskan nafas gusar, "Baiklah.. Aku akan membawa Rose ke sana, tapi jika ini hanya sebuah trik aku tidak segan untuk meratakan penjuru Red Moon dengan tanah."
"Baik, Prince. Saya permisi. Salam untuk Prince Samuel Nathaniel Browne Semoga keberkahan Red Moon selalu menyertai. Saya permisi Prince."
Sam mengangguk, "Pergilah.."
Begitu pintu tertutup, Ia kembali menuangkan minuman dengan kadar alkohol 15% itu ke gelas. Menggoyangkan gelas nya pelan lalu meminumnya.
Matanya terpejam, menikmati sensasi terbakar di tenggorokannya. Akhir-akhir ini Sam belum menyentuh Wine karena kedatangan Rose, tapi sekarang Ia kembali menyentuh minuman yang memiliki warna merah pekat ini.
Dan penyebabnya pun sama dengan yang menghentikannya.
Entahlah, Sam merasa pikirannya kali ini benar-benar bercabang. Di satu sisi, Ia tak ingin memaksa Istri kecilnya untuk mengingat semuanya tapi disisi lain Ia secara tidak sadar membuat Istri kecilnya salah paham.
Ia dibuat dilema. Cara apa lagi untuk mempertahankan Rose?
Dekrit kerajaan juga menambah beban pikirannya. Ibunya menginginkan Ia datang ke Istana bersama Rose, sedangkan dirinya masih belum pulih dari rasa trauma nya akibat kejadian di masa lalu.
Kehilangan Rosalie menjadi pukulan berat baginya, meninggalkan rasa benci yang mendalam pada kedua Orang Tuanya sendiri.
Tapi, mau bagaimanapun Sam membenci mereka. Ia tetap tidak tega, kalau sampai tidak menyempatkan waktu untuk menjenguk Ibunya yang tengah sakit.
Sam mengacak-acak surai hitamnya, nampak sangat frustasi. Tangannya mencapai botol Wine, menenggak nya sekaligus. Tidak hanya satu, Ia membuka botol baru dan menenggak nya lagi.
Dengan langkah sedikit terhuyung-huyung, Sam keluar dari ruang kerjanya. Suasana di lorong Mansion sepi karena Jam yang menunjukkan pukul 00:56, tak ada yang memergoki Tuan Rumah yang berjalan layaknya pemabuk gila.
Tubuh kekarnya menyender di dinding kamar Gadis yang menjadi penyebab utamanya mabuk seperti ini.
Matanya terpejam karena rasa pusing yang menyerang kepalanya, berapa menit setelahnya Ia kehilangan kesadaran. Jatuh terduduk di depan kamar Rose.
Meskipun Sam seorang Vampir, Ia memang tidak terlalu kuat dalam hal seperti ini. Lihat saja, baru dua botol saja Ia sudah seperti ini.
Rose yang kebetulan terbangun karena haus, keluar dari kamarnya berniat mengambil air di dapur.
Tapi baru satu langkah, kakinya harus tersandung sesuatu membuat tubuhnya hampir jatuh.
Matanya melebar, menyadari kalau yang membuatnya jatuh adalah seonggok kaki. Sontak saja, Ia menoleh ke arah si pemilik kaki itu.
"Sam?" Rose berjongkok, menyelidiki apa yang membuat Suaminya sampai tertidur atau bahkan pingsan disini.
Bau alkohol yang menyengat dari tubuh Sam membuat Rose mengapit hidungnya. Sekarang Ia tau penyebabnya, Rose berdecak kesal.
Karena sebal, Rose melangkahkan kakinya ke dapur berniat merealisasikan keinginannya untuk mengambil air, meninggalkan Sam yang masih tergeletak di tempatnya.
Beberapa menit, Rose kembali dengan segelas air putih. Kepalanya menggeleng samar, melihat Sam yang masih berada di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.
Ia memasuki kamarnya untuk meletakkan gelas berisi air itu lalu keluar dari kamarnya menghampiri Sam.
Meskipun sebal dengan Pria ini, Rose tetap tidak tega membiarkannya tidur di sini semalaman.
Karena bobot tubuh Sam yang luar biasa berat, Rose membawanya dengan cara menyeret tubuh kekar Sam ke kamarnya.
Ya, kamarnya. Tidak ada pilihan lain, tak mungkin juga Rose menyeretnya sampai ke kamar Pria itu yang letaknya berada di ujung lorong Mansion.
Susah payah, Rose mengangkat tubuh kekar itu ke ranjangnya sampai tubuhnya ikut terjatuh ke dada bidang Sam.
Nafasnya terengah-engah, manik hazelnya sedikit melirik wajah damai Sam. Rose tidak berusaha beranjak dari sana, Ia justru menyamankan diri di dada bidang Suaminya.
Sepertinya Rose mulai pasrah kalau Ia jatuh cinta dengan Pria ini.
🍷🍷🍷
Samuel: "It's intoxicating, just like you." (Ini memabukkan, seperti kamu.)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments