Gangguan Angel

Flora sudah duduk manis di mejanya. Bersama Sora yang baru saja datang dengan semangkuk bakso yang uapnya masih mengepul. Terhitung sejak Flora pindah ke SMA Rajawali, ini adalah kali kedua ia ke kantin. Pertama kali, saat insiden ia menabrak tubuh Gara dan membuatnya terjebak di dalam permainan yang dibuat oleh laki-laki itu. Ya, meskipun Gara tidak pernah melakukan sesuatu yang berlebihan padanya. Flora sendiri mulai terbiasa dengan Gara. Apa yang ia lihat selama ini, begitu kontras dengan sikap Gara setelah ia bicara dari hati dengan laki-laki itu. Memang tidak salah Flora bercerita pada Gloria. Dengan begitu, ia bisa tahu bagaimana caranya bicara dengan baik dengan sosok seperti Gara.

Baru juga Flora menikmati pesanannya—semangkok mie ayam bakso—seseorang datang menggebrak mejanya. Hal itu membuat Flora tersentak keras hingga sendok yang ada di tangannya terjatuh. Tak hanya Falora, Sora pun kaget. Flora dan Sora lantas mengangkat pandangan dan melihat siapa dalang di balik keributan yang menarik perhatian seisi kantin. Kening Flora mengkerut. Ia tidak tahu siapa gadis yang berdiri di samping mejanya seraya berkacak pinggang dan tampak angkuh itu.

"Maaf. Ada masalah apa, ya, sama gue?" tanya Flora. Ia masih mencoba untuk bersikap santai. Flora tidak ingin membuat keributan dan membuat dirinya menjadi bahan tontonan banyak orang.

"Jangan bersikap sok polos dan nggak berdosa deh lo," ucap Angel dengan tatapan sinisnya yang menghujam Flora.

Flora menatap Sora dengan tatapan penuh tanya. Namun, Sora hanya menggelengkan kepalanya pertanda tidak tahu apa pun. Ya, memang Sora tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba saja Angel datang dan menggebrak meja tanpa aba-aba.

"Sekali lagi maaf, ya. Gue ngerasa nggak punya masalah sama lo. Kenal saja nggak," ujar Flora dan menatap santai Angel. "Dan gue juga nggak mau bikin masalah dengan siapapun. Termasuk lo," sambung Flora. Ia kemudian menatap Angel dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lantas, menggelengkan kepala. Tak habis pikir bahwa gadis secantik Angel harus memiliki sikap seperti ini.

Angel membungkukkan badan dan mendekatkan wajahnya dengan Flora. Lalu, ia bicara setengah berbisik di telinga gadis berambut sebahu itu. "Sayangnya, lo sudah bikin masalah sama gue," ucap Angel dengan penuh penekanan. Gadis itu kemudian berdiri tegak dan menyilangkan tangan di depan dada. Lalu, menunjukkan evil smirk-nya.

"Kok gue ngerasa lucu, ya? Nggak kenal, kok malah tiba-tiba punya masalah? Aneh, nggak, sih?" Flora masih berusaha santai. Ya, masih biasa saja sudah berhasil menarik perhatian orang-orang. Bagaimana nanti jika ia meladeni gadis itu dengan amarah juga. Tentu tidak akan bisa disangkal lagi ia akan diviralkan.

Flora menatap Angel dengan senyum manis. "Begini saja. Coba deh tunjukin kesalahan gue di mana. Bisa, nggak?"

Angel menatap dua gadis yang berdiri di belakangnya. Ya sebut saja dua gadis itu adalah antek-anteknya Angel. "Lihat, Girls. Dia masih pura-pura nggak tahu salahnya di mana." Angel tertawa diikuti oleh dua gadis yang datang bersamanya—Ruby dan Gretha.

Flora mengembuskan napas panjang. Ia menatap Sora yang hanya terdiam dan memantau keadaan. Flora sendiri merasa kesal dengan sikap Sora saat ini. Biasanya juga Sora yang banyak bicara. Namun, ketika Angel datang dan membuat masalah. Sora sampai tak berkutik. Apakah itu artinya memang Angel ini salah satu siswa yang ditakuti?

"Ini salah lo!" Angel menunjukkan ponselnya di mana layarnya menampilkan sebuah gambar, yaitu Flora yang tengah dibonceng oleh Gara.

Kening Flora mengkerut. Dari mana Angel mendapatkan foto itu? Hingga detik berikutnya Flora tersadar. Dekat dengan Gara sama artinya dengan membiarkan dirinya menjadi pusat perhatian. Dan Flora ingat apa yang diucapkan Gara padanya hari itu. "Setelah ini, lo harus siap-siap dengan kehidupan berbeda."

Kini Flora paham. Kehidupan seperti inilah yang dimaksud Gara. Namun, yang tidak dimengerti Flora adalah kenapa Angel tampak sangat marah dengan foto itu? Sedangkan itu foto berboncengan biasa saja. Hanya saja memang angel fotonya yang tampak sangat cocok hingga membuat hasilnya seperti Flora dan Gara bermesraan.

"Salahnya di mana?" tanya Flora lagi.

"Salahnya karena lo boncengan sama pacar gue!" teriak Angel.

"Pacar? Jadi, lo pacarnya Gara?"

"Iya. Kenapa?"

"Ya nggak apa-apa sih. Gue juga baru tahu," balas Flora. Ya Flora tidak berbohong. Ia memang tidak tahu bahwa Gara sedang menjalin hubungan dengan Angel.

"Lo ngapain boncengan sama pacar gue, gue tanya?"

"Kenapa nggak tanya langsung sama pacar lo? Pasti dia tahu bakalan jelasin kayak gimana ceritanya."

Angel menggeram. "Lo nantangin gue?"

"Memangnya kelihatan begitu? Lo salah sih," balas Flora lagi teramat santai.

"Sekali lagi gue tanya. Kenapa lo boncengan sama Gara?!"

Teriakan Angel membuat Flora naik pitam. Ia bangkit dan berdiri berhadapan dengan Angel. Ia menatap gadis itu tanpa takut. "Lo bilang lo pacarnya Gara. Tapi, lo nggak mau nanya langsung ke dia. Malah ke sini bikin masalah. Lo nggak malu?" Flora menatap tajam Angel. "Kalau gue bilang dia yang minta gue nemanin dia pergi, bagaimana? Lo percaya, nggak?"

"Nggak lah. Pasti lo yang genit-genit sama Gara."

Flora tertawa. Ia menggelengkan kepala tak habis pikir. Bisa-bisanya pikiran Angel sepicik itu. "Lo mau menyamakan diri lo sama gue, ya?" Flora tersenyum miring. "Sayangnya kita nggak bakalan berada di posisi yang sama, Angel," sambung Flora seraya menatap name tag gadis itu.

"Terus lo mau bilang kalau Gara yang genit sama lo?"

"Nggak. Gue nggak pernah bilang gitu. Gue cuma bilang Gara yang maksa gue nemamin dia. Sudah. Itu saja."

"Terus kenapa lo mau?"

"Kenapa lo kepo sama urusan gue sih. Sok kenal banget, masak." Flora tertawa meremehkan. Begitulah Flora jika sudah amarahnya dipancing. Ketenangan yang ia miliki akan sirna. Kesabaran yang ia punya tak akan bertahan lama. Dan kini, menjelmalah Flora menjadi sosok gadis penentang dan tanpa takut. Bahkan, jika berurusan dengan guru sekalipun. Toh, Flora tidak merasa bersalah. Dan masih banyak saksi mata atas kejadian ini.

"Gue mau atau nggak itu terserah gue dong. Memang apa urusannya sama lo?"

Angel menggeram dalam hati. Baru kali ini ia menemukan orang yang berani padanya. Sosok pendatang baru yang berhasil mengusik hidupnya. Sosok yang membuat amarahnya terpancing. "Lo berani sama gue?"

"Kenapa gue harus takut sama lo? Lo manusia, gue juga manusia. Sama-sama makan nasi, minumnya air."

Tawa terdengar mengisi kantin. Ucapan Flora ternyata berhasil menjadi lelucon bagi mereka yang menyaksikan perdebatan dua gadis itu.

"Memangnya lo makan apa sampai gue harus takut sama lo?" tanya Flora dengan nada menantang. Biarlah. Tak mengapa jika perdebatan ini akan menjadi perdebatan panjang. Salah sendiri memancing amarah Flora yang tengah asyik dengan makanannya. "Makan besi?"

Angel mengepalkan tangannya dengan keras hingga buku-buku jemarinya memutih. Ia merasa dipermalukan oleh Flora. Kini harga dirinya seperti sudah rata dengan tanah.

"Mau lo apa?" tanya Angel sinis.

"Gue nggak mau apa-apa kok. Harusnya gue yang nanya gitu sama lo. Bukannya lo yang nyamperin dan gangguin gue makan?"

"Gue mau lo jauhin Gara," jawab Angel dengan penegasan dan penekanan kuat di setiap kata yang mengakir dari bibir yang berpoles gincu merah meronanya.

"Kalau Gara yang dekatin gue, bagaimana?" Flora tersenyum manis. Manis sekali. Namun, terkesan menantang.

"Ya lo harus nolak dong. Lo harus punya harga diri jadi cewek. Jangan asal embat pacar orang."

Lucu. Lucu sekali. Tawa Flora akhirnya lepas. Semua mata tertuju padanya. "Sekarang gue tanya. Lo yakin masih punya harga diri? Setelah lo datang nuduh-nuduh orang cuma gara-gara foto yang kebetulan saja angelnya tepat. Lo masih bisa bahas harga diri." Flora menyisir tubuh Angel dengan tatapannya. "Kok gue jadi ragu kalau harga diri lo masih utuh." Flora tersenyum sinis.

Flora menyilangkan tangan di depan dada. Memposisikan diri persis seperti Angel. "Dan lo perlu ingat dan sadar diri. Lo bukan siapa-siapa yang berhak ngatur gue di sini. Gue nggak peduli lo siapa. Karena, gue memang nggak mau peduli," ucap Flora penuh penekanan. "Gue dekat dengan siapapun, itu hak gue. Nggak ada yang bisa ngelarang gue," sambungnya.

"Perihal Gara, lo bicara saja langsung sama dia. Gue nggak punya urusan dengan hubungan kalian. Paham?" Flora kembali mendaratkan bokongnya di kursi. Ia meraih sendok baru dan ingin menikmati kembali makanannya. Namun, lagi-lagi Angel mengganggu dengan menarik paksa tangannya dan nyaris membuat Flora jatuh ke lantai. Beruntung Flora masih bisa menjaga keseimbangannya.

"Lo jangan main-main sama gue!" Angel melayangkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Flora. Lalu, menatap Flora dengan tatajam menghujam. Seakan siap menerkam Flora kapan saja.

Flora yang kini emosinya sudah benar-benar memuncak langsung menepis kasar tangan Angel. "Kenal sama lo saja nggak. Nggak penting banget harus main-main sama lo." Flora menyisir kantin dengan pandangannya. Lalu, menjatuhkan kembali sorot mata tajamnya pada Angel. "Semua orang di sini nggak buta. Mereka tahu siapa yang mau main-main. Dan itu jelas bukan gue. Tapi, lo!" Flora juga tak mau kalah. Ia menunjuk wajah Angel. Seperti yang dilakukan gadis itu padanya.

"Gue nggak tahu lo manusia kayak apa sampai siswa di sini takut sama lo. Tapi, lo salah kalau nyamain gue sama mereka. Gue bukan orang yang bisa lo tindas sesuka hati lo," tegas Flora yang mulai kehilangan kontrol. "Kalau lo merasa menjadi manusia paling bisa. Sekali lagi gue katakan, lo salah besar. Kenapa? Karena, gue jauh lebih bisa. Paham lo?"

Flora yang belum bersiap pun harus menerima tamparan keras dari tangan Angel. Dan seiring tamparan itu. Suara berat menyerukan nama Angel.

"Angel!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!