Matahari masih dengan malu-malu menampakkan wajahnya di hadapan semesta. Sedang seseorang di dalam kamar bernuansa gelap itu sudah bersiap-siap dengan seragam putih abunya tengah mempersiapkan buku pelajaran yang akan ia bawa untuk menimba ilmu. Ya, meskipun pada akhirnya nanti remaja dalam balutan seragam SMA itu lebih sering menghabiskan waktunya di kantin atau di rooftop daripada di kelas. Paling tidak, ia sudah pergi dari rumah yang baginya bukan rumah yang sebenarnya. Ia merasa bangunan megah yang selalu menjadi pusat perhatian orang-orang kompleks itu hanya sebagai tempat singgah saja ketika merasa lelah di sekujur tubuhnya. Selain itu, sebagai tempat untuk menumpang mengisi perutnya yang keroncongan.
Apa terkesan berlebihan? Ya, memang begitulah yang dirasakan Gara. Di rumah itu ia tidak menemukan dan mendapatkan haknya. Ia hanya dituntut tentang kewajiban saja. Kewajiban yang tak seharusnya menjadi tugas Gara—menjadi sempurna dan selalu bisa menjaga Chan agar baik-baik saja. Padahal, perihal kondisi Chan, siapa yang tahu apa yang akan terjadi setiap detiknya dengan laki-laki yang sekarang menginjak usia di angka Sembilan belas itu? Tidak ada yang bisa menjamin bahwa Chan yang tersenyum lebar akan tetap seperti itu detik berikutnya. Kondisi Chan seperti mempermainkan hidup Gara. Kenapa? Karena, hal itu menjadi pemicu amarah Edward dan Olivia pada Gara.
Tangan Gara yang sudah bersiap menyampirkan tas sekolah di sebelah pundaknya terpaksa terhenti bergerak ketika suara ketukan pintu itu terdengar. Ada dua kemungkinan orang yang mengetuk pintu kamarnya pagi-pagi buta seperti ini. Jika bukan Mbok Fiah—pembantu rumah tangga keluarga Xander—itu berarti Chan. Hanya dua manusia itu yang selalu mengetuk pintu kamar Gara untuk membangunkan anak itu dari tidurnya. Atau hanya sekadar menginformasikan jadwal mengisi perut setiap harinya. Meski Gara jarang sekali ikut bergabung dengan keluarganya di meja makan. Apalagi saat makan malam. Gara lebih sering absen, karena ia yang seringkali pulat larut ketika semua isi rumah itu sudah tenggelam di dalam mimpi indah mereka. Kecuali, Chan yang selalu berusaha menunggu kepulangannya.
“Siapa?” seru Gara dengan nada malas.
“Abang, Dek. Abang boleh masuk, nggak?”
Gara menghela napas kasar dan memutar bola matanya malas. Kenapa harus Chan? Kenapa harus kakaknya itu yang datang pagi-pagi dan mengetuk pintu kamarnya. Gara sedang tidak ingin merusak suasana hatinya hari ini. Sebab, ia harus mengikuti lomba. Jika suasana hatinya rusak, Gara takut tidak fokus dan lebih mendahulukan emosi. Namun, Gara juga tidak bisa menolak untuk mempersilakan kakaknya itu masuk. Bisa-bisa jika ayah atau ibunya tahu. Masalah akan tambah parah dan benar-benar merusak harinya.
Gara beranjak menuju pintu kamar. Ia memutar kunci ke kiri dan membuka pintu tersebut. Dan benar saja, Chan sudah berdiri dengan pakaian yang seperti biasanya. Sweater tebal membungkus tubuh, syal yang melingkar di leher, dan nampan kecil berisi sepotong sandwich favorit Gara serta segelas susu. Tak lupa dengan seulas senyum yang tidak pernah memiliki rona itu. Namun, Gara malas menatap wajah Chan. Bukan karena ia tidak suka, tetapi ia tidak tega. Ia takut menjadi rapuh. Ya, meskipun Gara juga tak ayal menyalahkan Chan sebagai penyebab ia tidak mendapatkan haknya sebagai seorang anak bermarga Xander.
“Kenapa?” tanya Gara dengan nada dingin. Lebih dingin dari udara pagi ini.
“Abang bawain sarapan buat Adek,” jawab Chan seraya menyodorkan nampan tersebut pada adiknya.
Gara menatap isi piring di atas nampan. Bohong jika ia tidak ngiler melihat makanan favoritnya itu. Namun, mengingat siapa yang biasa membuat makanan tersebut. Entah kenapa rasa malasnya justru memuncak. Lebih banyak timbul amarah di dalam diri Gara. “Gue nggak butuh sarapan. Lo saja yang makan,” jawab Gara dengan ketus.
Chan menghela napas panjang. Entah harus bagaimana lagi ia mengambil hati adiknya agar kembali seperti dulu. Dua tahun usahanya hanya berakhir sia-sia saja. “Kalau Adek nggak makan di sini, biar Abang siapkan jadi bekal di sekolah, ya, Dek,” ujar Chan lagi membujuk adik semata wayangnya.
“Gue bilang nggak, ya, nggak. Jangan maksa gue bisa nggak sih?” Nada suara Gara naik dua oktaf. Benar ‘kan apa yang tadi sempat dipikirkan Gara? Kedatangan Chan hanya akan merusak suasana hatinya.
“Dek, nanti Adek sakit kalau nggak sarapan.” Chan masih belum menyerah.
“Gue nggak kayak lo yang penyakitan. Telat makan saja sudah kayak orang sekarat.”
Ada denyut menyakitkan di lubuk hati Chan. Padahal, ini bukanlah kali pertama Gara mengatakan hal itu padanya. Lagi pula, tidak ada yang salah dengan ucapan Gara. Chan memang penyakitan, bukan?
Gara yang melihat perubahan wajah Chan pun merasa bersalah. Namun, ia tidak akan meminta maaf. Tidak akan. “Mending bawa balik ke dapur saja deh, Bang. Gue sarapan di kantin saja nanti. Di sana ibu kantinnya bikinin masakan pakai cinta buat gue,” ucap Gara sarkas. Berharap apa yang ia katakan bisa terdengar di telinga ayah dan ibunya. Barangkali dengan begitu, Edward dan Olivia bisa sadar bahwa Gara juga butuh kasih sayang seperti dulu.
Gara melirik jam dinding di kamarnya. “Gue mau berangkat dulu. Takut telat.” Gara menutup pintu kamarnya dan meninggalkan Chan begitu saja yang diam terpaku diperlakukan dingin seperti itu.
Hingga suara yang lebih terdengar mengerikan itu menggelegar.
“Nggak tahu diuntung memang. Sudah dibawakan sarapan sama abangnya malah dicuekin seperti itu.”
“Ma, sudah. Jangan diperpanjang gitu dong, Ma,” ucap Chan seraya menyentuh lengan ibunya yang sudah terlihat sangat marah.
Gara. Anak itu menghentikan langkahnya yang sudah bersiap memijak anak tangga. Ia menoleh ke belakang dan melihat sang ibu yang sudah berdiri berdampingan dengan Chan. Gara menunjukkan evil smirk-nya pada wanita itu. “Gara nggak pernah minta dibawain sarapan sama dia kok, Ma. Dia saja yang mau,” ucap Gara seraya menatap tajam Chan yang kini hanya menundukkan kepala. Memang hal seperti inilah yang selalu Gara coba hindari. Namun, Chan memang tidak ada kapok-kapoknya.
Olivia terpancing dengan jawaban Gara. Ia melangkahkan kaki dengan lebar mendekati si bungsu. “Itu karena abang kamu peduli sama kamu.”
“Peduli?” Gara tertawa sinis. “Lebih baik nggak usah peduli sama sekali. Daripada kepeduliannya itu menjadi masalah buat Gara.”
Plak!
Baik. Tangan Olivia mendarat dengan sempurna di pipi kanan Gara. Dan itu sangat menyakitkan sekali.
“Mama!” pekik Chan dan melepaskan begitu saja nampan yang ia bawa. Membiarkan isinya terjatuh menyentuh lantai. Ia mendekati Olivia dan menahan tangan ibunya.
Sedang Gara. Anak itu hanya tersenyum miring. “Lumayan lah pagi-pagi sudah pemanasan. Kebetulan banget di sekolah nanti ada jam pelajaran olahraga,” ujar Gara terdengar santai seraya menyentuh pipinya yang terasa panas. Mungkin sekarang di pipi kanannya sudah tercetak jelas bekas tangan Olivia di sana.
“Adek nggak apa-apa?” Chan mencoba mendekat.
“Makanya pakai kacamata lo biar lo bisa lihat dengan jelas!” Emosi Gara pecah sudah. Ia tidak suka diperhatikan oleh Chan. Karena, perhatian yang diberikan Chan selalu menjadi duka bagi Gara. Seperti ini, misalnya.
Gara menatap sinis kakaknya. “Lebih baik sekarang lo nggak usah peduliin gue, Bang. Mending lo pikiran diri lo yang penyakitan.”
“Gara!”
“Apa?” Gara menatap ibunya tanpa rasa takut sedikit pun. “Ada yang salah? Memang dia penyakitan, Ma. Coba saja dia nggak penyakitan. Mungkin hidup Gara nggak bakalan berakhir kayak gini.”
“Cukup!” Chan angkat suara. Ia lelah melihat perdebatan antara adik dan ibunya. Lalu, menatap Gara dengan tatapan sendu. “Maafin Abang, ya, Dek.”
“Memangnya dengan maaf lo itu bisa ngembaliin semuanya? Nggak, Bang!”
“Terus harus bagaimana?”
“Mati,” jawab Gara dengan cepat tanpa berpikir.
Plak!
Sekali lagi tangan Olivia mendarat dengan sempurna di pipi Gara. “Jangan mulutmu kalau bicara, Gara!”
Chan terdiam. Ia menunduk dalam. Dadanya terasa sesak mendengar jawaban Gara. Apakah adiknya terlalu menderita karena kehadirannya? Apakah benar semua yang terjadi pada Gara karena dirinya? Jika memang demikian, tak mengapa Chan mati. Ia ingin melihat adiknya bahagia seperti dulu.
“Dua kali dan terima kasih atas hadiah pagi, Ma.” Gara menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. “Gara berangkat dulu. Jangan lupa, Ma, urus anak kesayangan Mama itu. Kasih tahu dia biar nggak ganggu Gara lagi. Gara capek, Ma,” ucap Gara untuk yang terakhir kali. Setelah itu, ia membawa kakinya kembali melangkah dan meninggalkan ibu dan kakaknya. Tidak lupa dengan membawa luka hati yang setiap hari bertumpuk. Biasa? Harusnya. Namun, tak semudah itu bagi Gara untuk merasa terbiasa dengan perlakuan ibunya sendiri. Dulu tangan yang menamparnya tadi yang selalu merengkuh dan mengelus puncak kepala Gara. Dan sekarang, semuanya begitu kontras.
“Bang, Abang nggak apa-apa, Nak?” Olivia menyentuh pundak si sulung.
“Ma, Mama tahu, nggak? Yang Mama lakukan sama Adek itu salah, Ma. Mama sudah membuat hubungan Abang sama Adek semakin berjarak,” lirih Chan seraya menahan gejolak di dalam relung hatinya. Apa yang didengar dari Gara tadi memang menyakitkan. Namun, pasti lebih sakit lagi apa yang dirasakan Gara daripada apa yang dirasakan Chan saat ini.
“Dia pantas mendapatkan itu, Bang. Dia sudah kurang ajar selama ini,” ujar Olivia dengan keukeuh tak mau salah.
“Kenapa hanya Adek, Ma? Kenapa Mama nggak pernah marahin Abang? Kenapa Mama nggak pernah nampar Abang?”
Sebelum Olivia sempat menjawab. Dada Chan terasa sangat nyeri. Refleks tangan Chan menyentuh bagian anggota tubuhnya yang sakit itu.
“Astaga, Abang.” Olivia panik bukan main melihat Chan yang meringis kesakitan. Ia menuntun tubuh Chan kembali ke kamar.
Tanpa Olivia dan Chan sadari. Sepasang mata almond itu menatap mereka dengan sedih. “Apa kalau Gara yang sakit, Mama akan sepanik itu?” lirih Gara yang tadinya berniat kembali ke kamar untuk mengambil barangnya yang tertinggal. Namun, yang ia temukan justru pemandangan yang menyakiti hatinya sendiri.
Gara menghela napas panjang. Tidak pantas bagi seorang Sagara Casildo Xander mengharapkan belas kasih orang tuanya. Mungkin takdirnya memang sudah seperti ini. Menjalani setiap detik dengan luka tak kasat mata di hati dan ketidakadilan di dalam keluarganya sendiri. Baiklah. Gara mungkin sudah dituntut menjadi dewasa di usianya yang terbilang masih sangat muda. Dituntut paham, meski menyakitkan. Dituntut ceria, meski hanya berpura-pura.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments