Suara Hati Seorang Gara

Suara riuh itu sampai pada sepasang indra pendengaran milik seonggok tubuh yang tertutup selimut tebal. Tubuh kurus dalam balutan piyama kebesaran itu bergerak. Lalu, membuka pelan kelopak matanya yang masih terasa sangat berat, karena rasa kantuk yang masih mendera. Ia menoleh ke samping—ke arah nakas, tetapi ia tak bisa menangkap apa pun dengan di sana. Ia lupa bahwa sekarang ia tak mengenakan kacamata yang selalu membantunya untuk melihat dengan jelas itu. Lantas, tangan yang urat-uratnya menonjol dengan jelas itu meraba tempat tidurnya untuk mencari kacamata yang selalu ia letakkan di samping bantal agar memudahkannya untuk mengambil benda tersebut ketika bangun tidur.

Chan. Laki-laki yang akan menginjak usia di angka sembilan belas itu merubah posisinya dari berbaring menjadi duduk. Ia mempertajam indra pendengarannya untuk memastikan suara riuh yang berhasil mengganggu istirahatnya itu. Setelah itu, kelopak matanya membulat saat merasa ada hal buruk yang terjadi di lantai bawah. Chan jelas tahu apa yang terjadi. Lantas, ia menyibak kasar selimut yang masih menutupi tubuh bagian bawahnya. Gerakannya yang tiba-tiba dan cepat itu berhasil membuat persendian di tangan kanannya terasa nyeri. Dasar penyakitan, cibir Chan pada dirinya sendiri. Dan ia tak mempedulikan akan rasa sakit yang ia rasakan. Ia turun dari tempat tidurnya dan bergegas ke luar kamar.

Baru saja kakinya berdiri di depan pintu kamar. Pandangan sudah saling menabrak dengan sepasang mata almond seperti milik ayahnya. Tatapan itu tampak tajam, tetapi sorotnya tampak sendu. Ada luka di sorot mata itu. Dan yang sangat menarik perhatian Chan adalah cairan berwarna merah pekat ada di wajah adiknya. Ia hendak bergerak mendekat, tetapi langsung tercekat. Ia memang tak mendengar apa yang diucapkan Gara. Namun, Chan masih bisa membaca dengan jelas gerakan bibir laki-laki yang masih lengkap dengan seragam sekolah, tetapi tampak kotor itu. Setelah itu, Chan menyaksikan sendiri sang adik berlalu memasuki kamarnya dan menutup pintunya dengan keras.

Seperti biasa. Chan tidak menyerah. Ia membawa langkahnya mendekat kamar Gara. Ia ketuk pintu itu dengan pelan. Namun, tak ada respons apa pun dari dalam. Chan menghela napas panjang. Masih setia dengan usahanya. “Dek, buka pintu, ya. Abang mau masuk,” ujar Chan dengan penuh permohonan.

Pupil mata Chan melebar. Degup jantungnya berdetak hebat. Takut dan khawatir bercampur menjadi satu ketika telinganya menangkap suara barang-barang yang terjatuh di dalam kamar adiknya. Chan panik. Ia takut jika Gara melakukan hal buruk pada dirinya sendiri. Lalu, apa yang bisa Chan lakukan sekarang? Ia tidak bisa masuk ke dalam kamar Gara sebab pintunya sudah terkunci dari dalam.

Edward dan Olivia. Chan tidak bisa meminta tolong dua manusia itu. Mereka pasti akan tetap abai pada Gara. Lalu, Chan mencoba sekali lagi. “Dek, ayo buka pintunya. Adek mau marah sama Abang juga nggak apa-apa. Asal Adek buka pintu dan izinin Abang masuk.”

Nihil. Usaha Chan berakhir sia-sia. Dan seketika itu otaknya bergerak cepat. Ia mengingat sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mendapatkan akses masuk ke dalam kamar Gara. Tanpa berpikir panjang, Chan langsung bergegas menuju kamarnya. Ia mengeluarkan semua isi lacinya untuk mencari benda kecil di dalam sana. Beruntung sekali benda itu masih tersimpan di sana.

˚˚˚˚˚

Gara menutup pintu kamarnya dengan kasar. Lalu, menyalakan lampu kamarnya karena ia tak menyukai suasana gelap. Ia takut akan gelap sejak hari di mana ia dikurung di dalam gudang oleh Edward hanya karena masalah di mana ia takt ahu apa-apa. Gara bergerak menuju tempat tidurnya dengan luka batin yang sangat menyiksa. Diraba wajahnya hingga ia meringis. Belum lagi punggung dan perutnya yang terasa sangat sakit. Beruntung ia tak sampai kehilangan kesadaran. Namun, sepertinya lebih baik memang begitu atau mati saja sekalian. Dengan begitu, Gara dan kesakitannya akan berakhir dengan cepat. Ceritanya gara-gara Gara usai sudah.

Sayup-sayup Gara mendengar suara kakaknya dari luar seiring ketukan pintu yang bertalu. Hal itu membuat Gara semakin emosi. Ia melampiaskan emosinya dengan membanting semua barang-barang di atas nakas. Begitu juga barang-barang di atas meja belajarnya. Tak peduli lagi bagaimana sudah bentuk kamarnya sekarang. Ia terus memberontak, berteriak, dan akhirnya menangis tersedu dengan tubuh yang sudah terkulai di atas lantai kamarnya yang dingin. Ia meringkuk menahan rasa sakit yang tak hanya menghantam tubuhnya, tetapi juga dengan hatinya.

Kapan cerita menyakitkan ini akan berhenti? Kapan takdir akan berpihak padanya? Kapan luka dan rasa sakitnya akan sembuh? Dan kapan waktu yang indah itu tiba dalam hidup Gara?

Belum puas Gara meratapi takdirnya. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dari luar. Ia tak berniat menoleh ke arah pintu. Sebab, ia tahu siapa yang paling berani menerobos kamarnya. Hanya Chan. Tidak ada yang lain.

Gara ingin marah, tetapi tenaganya tidak cukup untuk melakukan itu. Ia ingin memukul Chan, tetapi hatinya tidak mengizinkan. Ia ingin mengusir Chan, tetapi ia seperti membutuhkan kakaknya saat ini. Begitulah Gara. Sering berperang dengan dirinya sendiri.

“Astaga, Adek.” Chan langsung duduk di dekat tubuh adiknya yang terkulai. Ia mencoba mengerahkan seluruh tenaganya yang tak seberapa untuk membangunkan tubuh Gara.

Sakit hati Chan melihat kondisi adiknya sekarang. Ia menatap Gara yang hanya menatapnya dengan tatapan sendu dan wajah basah. “Dek ….”

“Lo mau minta maaf ‘kan?” ucap Gara cepat-cepat memotong ucapan kakaknya. “Nggak perlu. Kata maaf lo nggak bakalan bisa bikin Papa sama Mama baik sama gue. Jadi, mending sekarang lo pergi dari kamar gue.”

“Iya. Abang bakalan pergi. Tapi, Abang bantu bersihin lukanya Adek, ya. Nanti malah infeksi.”

“Nggak usah sok peduli sama gue anj**ng. Semua yang terjadi sama gue juga karena lo.”

Chan menghela napas panjang. Ia merasa serba salah.

“Sekarang lo pergi atau gue seret tubuh lo.”

“Nggak. Abang nggak akan pergi. Abang akan tetap di sini.”

“Gue bilang pergi, ya, pergi!” teriak Gara.

“Abang bilang nggak, ya, nggak,” balas Chan dengan berani. Ia tidak tega meninggalkan adiknya sendiri. Terserah setelah ini Gara akan berbuat apa saja padanya. Ia rela. Mungkin dengan begitu, Gara bisa memaafkannya.

Gara kembali memberontak. Ia melempar barang yang sudah terlanjur tergeletak di lantai itu ke sembarang arah. “Pergi! Pergi dari kamar gue!” teriak Gara. Hingga tak lama kemudian, Gara benar-benar runtuh. Ia lelah. Ia menjatuhkan tubuhnya kembali di lantai. “Pergi, Bang. Tinggalin gue. Gue capek. Gue mau mati,” lirih Gara.

Hati Chan terasa ngilu. Ia iba melihat adiknya. Lalu, dengan pelan ia mendekati Gara lagi. Meraih kepala adiknya dan memberikan pelukan terbaik untuk adik semata wayangnya.

Kali ini, Gara tidak memberontak. Ia pasrah diperlakukan seperti apa saja oleh Chan. Gara lelah. Gara pasrah.

“Maafin Abang sudah menjadikan posisi Adek serumit ini, ya. Demi Tuhan, Abang tidak pernah menginginkan semua ini. Abang mau kok gantiin posisi Adek biar Adek nggak dipukul lagi sama Papa, nggak dimarahin lagi sama Mama. Abang mau jagain Adek. Bukan Adek yang jagain Abang.”

Gara susah sekali menarik napas. Setiap ia melakukannya, dadanya terasa sangat sakit bahkan tembus sampai ke punggung. “Gue capek banget, Bang. Gue mau nyerah boleh, ya.”

Chan menggelengkan kepala. “Nggak. Adek nggak boleh nyerah. Adek harus buktikan sama Papa kalau Adek sebenarnya selalu membanggakan keluarga. Adek bisa, Sayang.”

“Bang, lo sembuh, yuk! Biar gue nggak kena imbasnya terus kalau lo kambuh. Lo nggak kasihan apa, Bang, lihat gue diginin terus?” Gara terus meracau dengan mata terpejam seraya menikmati rasa sakit di tubuhnya. “Atau nggak, lo bunuh gue saja, Bang.”

Chan melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah pucat Gara. “Nggak, Adek nggak boleh pergi. Dan iya, Abang akan sembuh untuk Adek. Abang akan sembuh agar Adek nggak kena imbasnya. Abang janji, Dek.” Entah apa yang ia janjikan akan bisa ia tepati atau tidak. Meski demikian, Chan akan berjuang lebih keras meski penyakit yang ia derita memang tak akan bisa disembuhkan. Namun, bukankah tidak ada yang mustahil bagi Tuhan? Chan yakin Tuhan tahu apa yang ia butuhkan.

Gara terdiam. Ia membuka matanya perlahan dan langsung bertabrakan dengan mata sayu di balik kacamata tebal itu. “Bang, gue harus apa, ya, biar Papa sama Mama bisa sayang sama gue lagi kayak dulu? Gue kangen tahu, nggak, sih suasana yang dulu. Gue pengen balik jadi Gara kecil.”

Chan tidak pernah mendengar keluh kesah adiknya selama dua tahun terakhir. Dan malam ini adalah puncaknya. Gara mengutarakan tentang keinginannya, tentang kesakitannya, tentang bagaimana lelahnya, dan tentang bagaimana ia ingin menyerah. Dan Chan tidak tahu harus bicara apa lagi.

“Gue pengen kayak lo, Bang. Disayang, dikasih perhatian setiap hari. Tapi, kapan, ya?”

Belum juga Chan menjawab. Erangan Gara hanya karena gerakan kecil itu menghancurkan keheningan malam. Gara menangis tanpa malu. “Bang, badan gue sakit banget, Bang. Tolong gue, Bang.” Tubuh Gara menggeliat menahan rasa sakit. Hingga tanpa diduga seragam Gara terangkat dan menambilkan perut Gara yang sudah membiru. Hal itu membuat Chan kaget bukan main. Chan berpikir sejak tadi hanya ada luka di wajah adiknya. Namun, nyatanya ia salah.

Chan marah. Ia membuka dengan kasar seragam Gara meski adiknya itu memberontak. “Kamu bisa diam?”

Gara terdiam. Baru kali ini ia mendengar Chan menyebutnya dengan kata “kamu”. Belum lagi dengan rahang Chan yang mengeras. Chan marah?

Chan memejamkan mata melihat luka di tubuh adiknya. Ia saja yang melihat luka tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya. Bagaimana dengan Gara?

“Bang, gue nggak apa-apa,” ucap Gara yang takut melihat wajah penuh amarah kakaknya. Ia mencoba bangkit dengan sisa tenaganya. Lalu, menutup kembali tubuh bagian atasnya yang terekspos setelah Chan membuka seragam sekolahnya yang sudah kotor. “Gue mau tidur, Bang. Lo bisa ke luar kan?”

“Iya,” balas Chan singkat dan bangkit. Perasaan Chan sekarang sudah bercampur aduk. Ia marah melihat luka di tubuh adiknya. Namun, ia juga kecewa karena Gara yang tak bisa melawan.

Gara hanya bisa menatap punggung kakaknya yang perlahan menjauh. Hingga ia menyadari lantai yang sudah tercecer noda darah di sana. Lalu, tatapan Gara beralih pada kaki kakaknya.

“Bang, tunggu!” Gara bergerak cepat dan meraih tubuh Chan. “Kaki lo luka.”

“Nggak apa-apa. Yang Abang dapatkan nggak seberapa dari luka Adek,” jawab Chan dengan nada dingin. “Tidurlah. Abang kembali ke kamar.”

Gara terdiam. Kakaknya akan sangat menyeramkan jika sudah marah seperti ini. Namun, ia tak bisa juga menahan tubuh Chan. Gara pasrah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!