Medali untuk Siapa?

Suasana ruang kelas XI IPS 2 itu hening. Semua siswa fokus pada lembar soal yang sudah dibagikan oleh salah satu guru yang terkenal killer di SMA Rajawali. Siswa memanggilnya dengan sebutan Pak Sankil yang artinya Pak Sandi Killer. Seorang pria berkumis tebal dengan tubuh gempal serta kacamata bulat yang selalu bertengger di hidung minimalisnya. Wajah pria itu memang terkesan menyeramkan. Wajar jika para siswa takut padanya. Kecuali, seorang siswa yang selalu membuat guru-guru pusing karena kenakalannya, tetapi prestasinya juga mumpuni. Ya, hanya Sagara Casildo Xander. Memangnya siapa yang ditakutkan laki-laki itu? Tidak ada selain … ayahnya sendiri yang selalu memberikan kesan buruk dan luka di dalam hatinya.

Jika siswa lain kewalahan dengan soal yang diberikan Pak Sandi yang begitu tiba-tiba. Hal itu tidak berlaku untuk Gara. Anak itu dengan begitu anteng mengerjakan satu per satu soal yang di lembar soal yang sudah dibagikan ketua kelas. Ia tak melirik ke kini atau ke kanan. Kepalanya menunduk dalam. Hingga soal yang tersisa hanya tinggal satu. Namun, sebuah suara mengalihkan atensinya. Dan itu sukses membuat Gara kesal. Ya, Gara paling tidak suka jika ada orang yang mengganggu fokusnya. Ketiga temannya yang paham akan Gara tentu tak akan pernah berani mengganggu Gara. Lagi pula, jika mereka membutuhkan jawaban, mereka tak perlu mengemis untuk mendapatkannya dari Gara.

“Permisi, Pak,” ucap salah seorang staf di sekolah itu. Tampak perempuan itu melangkah mendekati meja guru. Lalu, mengatakan sesuatu yang tak didengar oleh siapapun. Lantas Pak Sandi hanya menganggukkan kepala paham dan membiarkan perempuan itu pergi lagi meninggalkan ruang kelas. Setelah itu, tatapan Pak Sandi jatuh pada salah seorang siswa yang duduk di bangku paling depan. “Sagara,” panggil Pak Sandi dengan suara garangnya yang tak hanya sukses membuat Gara mengangkat kepala. Namun, hampir seluruh seisi ruangan itu. Ia menatap Gara dengan raut wajah serius sebelum angkat suara lagi.

“Iya, Pak. Saya tahu saya pintar, tapi sayang saya belum bisa menyelesaikan soal-soal sulit seperti hidup saya ini dalam waktu kurang dari setengah jam, Pak.” Gara berceletuk dan berhasil membuat seisi ruang kelas itu tertawa. Kecuali, dirinya sendiri dan Pak Sandi.

Brak!

Suara gebrakan meja terdengar. “Siapa yang suruh kalian tertawa?”

“Saya, Pak. Soalnya saya lucu,” celetuk Gara lagi dan membuat Pak Sandi menggeram kesal. Wajah Pak Sandi sudah memerah menahan amarah. “Bapak kenapa? Pipinya kok merah? Baper, ya? Padahal, saya nggak ngapa-ngapain.”

“Diam kamu, Gara!” bentak Pak Sandi, tetapi Gara hanya menanggapi dengan santai.

“Terus Bapak kenapa manggil saya? Kangen, ya?”

Tampak sekali Pak Sandi mulai kewalahan melihat sikap Gara. Mengajar di kelas Gara memang membutuhkan mental dan nyali yang kuat. Berhadapan dengan Gara sama saja dengan menguji seberapa besar sabar yang dimiliki para guru di SMA Rajawali. Namun, prestasi anak itu juga berhasil membuat adem hati mereka dan berdecak kagum. Siapa yang akan menyangka jika anak yang sering membolos bisa menjadi juara umum. Bahkan, tak pernah bisa disisihkan dari peringkat pertama sejak kelas satu.

“Saya nggak tahu masalah apa yang kamu buat. Silakan kamu ke ruang kepala sekolah sekarang,” ujar Pak Sandi menyampaikan pesan yang ia terima dari perempuan tadi.

Kali ini kening Gara mengkerut. Ia menoleh pada hasil yang juga menunjukkan ekspresi yang sama. Hingga sebuah dorongan pelan Gara rasakan dari belakang. Tak lama terdengar suara Evano.

“Habis ngapain lo, Gar, sampai dipanggil kepala sekolah segala?”

Gara hanya mengedikkan bahu. Ia tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Sejak hari di mana ia dipukuli Edward pasca bertengkar dengan Zeiden, Gara tidak pernah lagi bertingkah dan melakukan hal-hal aneh. Jadi, Gara sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan dirinya diminta menghadap ke ruang kepala sekolah. Gara sebenarnya tak mengapa jika setiap harus berhadapan dengan guru BK atau kepala sekolah. Namun, yang ia takutkan hanya berita itu akan terdengar sampai di telinga kedua orang tuanya.

“Pak, apa saya bisa menyelesaikan soalnya satu lagi? Setelah itu, baru saya ke ruang kepala sekolah.” Gara menatap lembar soalnya. Sayang jika ia tak menjawab satu soal lagi. Ia tidak yakin akan sebentar di ruangan kepala sekolah nanti. Jadi, ia takut tidak bisa menyelesaikannya karena setelah ini bel istirahat akan berbunyi.

Pak Sandi terdiam. Sedikit heran dengan sikap Gara. Ia membandingkan dengan siswa lain pasti tidak akan peduli dengan soal yang masih tersisa. Apalagi Pak Sandi sadar bahwa soal yang ia berikan cukuplah rumit dan menguras isi kepala. Namun, Gara justru berusaha untuk menyelesaikannya dengan baik.

“Pak, jangan ngelamun. Kan nggak lucu kalau Bapak kesambet.”

Pak Sandi berdeham singkat. “Ya sudah silakan selesaikan tugasmu dulu.”

Gara langsung bergerak cepat menyelesaikan soal-soal hitungan yang cukup menguras isi kepalanya itu. Namun, fokusnya yang sudah terlanjur rusak tak bisa ia kembalikan sepenuhnya. Apalagi ditambah dengan pikirannya yang harus menghadapi kepala sekolah, sedangkan ia sendiri tidak tahu melakukan kesalahan apa. Selebihnya adalah ketakutan tentang jika Edward dan Olivia tahu ia melakukan kesalahan lagi. Sekuat apa pun Gara akan membela diri, kedua orang tuanya tidak akan peduli. Pasti ia akan selalu disalahkan.

Gara melepaskan polpennya dengan kasar setelah menyelesaikan soal-soal. Ia menutup telinganya dengan kuat. Ketakutan itu membuatnya mulai panik. Dan itulah salah satu kelemahan Gara yang tidak orang lain ketahui, kecuali ketiga temannya. Gara yang sebenarnya memiliki panic attack. Dan itulah yang ia alami sekarang. Tubuhnya mulai gemetar dengan jantung yang berpacu hebat.

“Gar, lo kenapa?” Hansiel dengan cepat menyentuh pundak Gara.

“Hans, gue ….” Gara tidak bisa melanjutkan ucapannya.

“Lo tenang dulu deh. Tarik napas pelan-pelan, terus embuskan.”

Gara melaksanakan titah Hansiel dengan perlahan. Hingga tak lama ia mulai merasa sedikit lebih tenang. Ia kemudian menatap Hansiel dengan tatapan penuh ketakutan.

Hansiel yang paham pun angkat suara. “Lo nggak perlu takut kalau memang lo nggak bikin masalah. Positive thinking saja, Gar.”

˚˚˚˚˚

Gara mengetuk pintu ruangan kepala sekolah. Setelah itu, memutar kenop pintu dan masuk setelah dipersilakan. “Permisi, Pak. Kata Pak Sandi saya diminta menghadap Bapak,” ujar Gara dengan sopan tentunya. Meski sekarang kondisi pakaiannya jelas tak menggambarkan sosok siswa teladan. Baju yang ia keluarkan dan dasi yang ia pasang denga nasal. Namun, tidak ada yang bisa melarang Gara dengan kebiasaan buruknya itu. Sudah tidak ada lagi suara siapapun yang bisa didengarkan Gara untuk menyadarkan. Bahkan, guru BK saja sudah menyerah dengan kelakuan anak itu.

“Oh, iya. Silakan duduk, Gara,” ucap sang kepala sekolah yang biasa disapa Pak Geni itu. Ia menatap Gara dengan lekat.

“Jadi, ada apa, Pak, sampai saya dipanggil ke sini?” tanya Gara yang tidak ingin terjebak lama-lama di dalam ruangan kepala sekolah. Ya, memangnya apa lagi alasannya kalau bukan Gara yang tidak ingin diceramahi oleh pria yang duduk di hadapannya itu.

Pak Geni tak bersuara. Namun, ia membuka lacinya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Ia meletakkan benda tersebut di atas sebuah sertifikat dan menyodorkan pada Gara. “Hasil olimpiade yang kamu ikuti bulan lalu. Selamat sudah menduduki juara satu lagi. Dan terima kasih sudah mengharumkan nama baik sekolah,” ucap Pak Geni dengan tulus.

Gara hanya menatap nanar dua benda yang sudah ada di hadapannya itu. Lalu, tersenyum miris. “Saya kira karena apa. Ternyata hanya karena ingin memberikan medali dan sertifikat.” Gara menghela napas kasar. “Harusnya Bapak tidak perlu repot-repot sih. Saya juga nggak butuh.”

“Gara, itu hakmu. Dan medali itu bukti dari kerja kerasmu. Kamu patut menghargai itu.”

“Saya ikut olimpiade cuma untuk senang-senang saja kok, Pak. Bukan untuk menuntut penghargaan. Lagi pula, nggak ada yang butuh medali itu. Tidak saya, tidak juga orang tua saya,” lanjut Gara.

“Gara, sekarang saya akan berbicara sebagai Om kamu. Jadi, tolong dengarkan Om.”

Ya, Pak Geni adalah kakak dari Olivia. Namun, Gara tidak pernah bersikap seperti anggota keluarga. Ia menghargai posisi Pak Geni sebagai kepala sekolah.

“Terlepas dari Papa dan Mama kamu yang nggak bisa menghargai itu. Sebuah keharusan bagi kamu untuk menghargai diri dan kerja kerasmu,” ucap Geni. “Om di sini yang menghargai kamu, Gar. Om bangga sama kamu. Apa yang kamu lakukan nggak semua siswa bisa, Nak. Jadi, Om minta sama kamu. Tolong hargai kerja kerasmu.”

Pak Geni menatap dua benda yang menjadi saksi perjuangan Gara di meja olimpiade. “Simpan untuk dirimu sendiri medali itu. Itu adalah bukti bagaimana usahamu untuk membuktikan pada Papa dan Mamamu. Ya, meskipun tak semua usaha bisa dihargai orang lain.”

Pak Geni bangkit dan mendekati keponakannya. Ia menyentuh pundak Gara dengan lembut. “Jika kamu nggak mau kasih ke Papa dan Mama. Masih ada Bang Chan, Nak. Om yakin Bang Chan bangga punya adik seperti kamu.”

Mata Gara terasa memanas. Jika Pak Geni berdiri sebagai seorang om. Barulah Gara akan merasakan bagaimana diperhatikan sebagai seorang anak. Dan pria itu selalu berhasil membuatnya ingin menangis seperti saat ini. Pria itu selalu bicara padanya dari hati. Sangat kontras dengan kedua orang tuanya.

“Bawa pulang penghargaannya, ya, Nak.”

Gara hanya menganggukkan kepala pelan. Ia hanya mengiyakan. Akan tetapi, tidak tahu akan ia lakukan atau tidak saran Pak Geni.

“Sudah obati lukamu?”

Gara mengangkat kepalanya menatap Pak Geni.

“Bang Chan sudah ceritakan semuanya pada Om.”

Gara hanya tersenyum miris.

“Gara, kalau memang kamu merasa nggak nyaman di rumahmu sendiri. Pulang ke rumah Om, Nak. Pintu rumah Om selalu terbuka lebar untuk kamu. Tante Zia juga nggak akan keberatan kok.”

Gara menggelengkan kepalanya. “Nggak, Om. Gara baik-baik saja tinggal di rumah. Gara nyaman kok,” balas Gara tentu saja berbohong. “Gara kembali ke kelas, ya, Om,” sambung Gara sebelum Pak Geni melanjutkan pembahasannya tentang kondisi rumahnya. Gara selalu mencoba untuk membahas perihal itu. Terlalu menyakitkan.

Pak Geni hanya bisa menatap iba keponakannya. Ia kasihan pada Gara. Apa pun yang anak itu lakukan tidak pernah dihargai oleh orang tuanya sendiri. Padahal, Gara sudah bekerja keras untuk menjadi anak yang membanggakan untuk keluarganya. Sayang, mata hati Edward dan Olivia masih tertutup oleh ego yang dua manusia itu dewakan. Kasihan sekali Gara. Di umurnya yang bahkan masih terbilang sangat muda harus dihadapkan dengan masalah hidup yang pelik. Kehilangan perhatian dan kasih sayang secara bersamaan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!