Gara yang baru saja memejamkan kelopak mata almond-nya tersentak begitu pintu kamarnya di buka dengan kasar. Ia terpaksa bangkit dari pembaringannya dan melihat siapa di balik keributan itu. Ia mengerutkan kening ketika melihat sosok wanita dalam balutan pakaian santai berdiri dengan angkuh tak jauh dari pintu. Gara tidak tahu apa alasan wanita itu datang ke kamarnya. Pasalnya, baru kali ini wanita itu memasuki kembali ruangan yang menjadi saksi bisu tentang luka dan duka yang dirasakan Gara selama dua tahun terakhir. Dan Gara sudah lupa, kapan wanita yang tak lain adalah wanita ia yang panggil Mama itu terakhir kali menginjakkan kaki di ubin kamarnya. Lalu, sekarang Olivia datang begitu tiba-tiba. Membuat keributan dan mengganggu waktu istirahatnya. Ya, salah Gara yang lupa mengunci kamarnya dari dalam.
"Ada apa?" tanya Gara dengan nada dingin. Jangan lupa, laki-laki itu kini sudah memutuskan menjadi Gara yang lain. Bukan Gara yang biasa orang tuanya kenal seperti dulu. Gara sudah bertekad menjadi Gara si pemberontak. Tersebab usaha kerasnya tak mendapatkan pengakuan dan justru disia-siakan.
Olivia menutup lagi pintu kamar Gara dengan kasar. Setelah itu, ia melempar medali milik Gara yang diberikan Chan padanya dengan keras. Nyaris mengenai wajah Gara jika laki-laki itu tak sigap memundurkan tubuhnya. Lalu, ia melangkah mendekati tempat tidur putra bungsunya. Ditatapnya anak itu dengan nyalang dan rahang mengeras. Dan ...
Plak!
Satu tamparan keras mendarat dengan sempurna di pipi Gara. Saking kerasnya, tubuh anak itu sampai limbung ke belakang. "Kamu kira bisa memperalat Chan agar saya bisa menerima benda murahan itu? Nggak akan! Benda itu tak sebanding dari apa yang kamu lakukan dulu dan nyaris melayangkan nyawa putra saya! Jadi, percuma kamu berusaha memperdaya Chan agar saya bisa memaafkanmu."
Suara Olivia menggelar dan menggema mengisi ruangan dengan nuansa abu itu. Lalu, sang pemilik kamar hanya mampu terpaku masih dengan posisi tubuh setengah berbaring di mana sebelah tangannya ia jadikan tumpuan. Sedang tangan lainnya ia gunakan untuk menyentuh pipinya yang terasa memanas. Otaknya bergerak cepat untuk mencerna dan menyimpulkan dengan baik apa yang terjadi saat ini. Sebab, ini terlalu tiba-tiba. Dan ia tak merasa melakukan apa pun yang berhubungan dengan nama laki-laki yang disebutkan Olivia tadi. Laki-laki yang tak lain adalah kakaknya sendiri.
"Kamu hampir membunuh putra saya. Lalu, dengan mudahnya kamu menginginkan maaf hanya dengan memberikan benda tak berguna itu pada saya? Kamu kira semudah itu, Gara?"
Gara masih terdiam. Lidahnya terasa kelu sekarang. Ia tak mampu berkata-kata lagi. Tak hanya sakit di pipinya saja yang terasa. Namun, ada sakit yang lebih parah dari itu. Adalah sakit dari luka-luka lama yang tergores kembali. Ucapan Olivia sudah menjelma menjadi belati yang mengoyak ulu hatinya dan air garam yang kemudian menyiram lukanya. Siapa yang bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang dirasakan anak yang sebentar lagi menginjak usia di angka tujuh belas tahun itu?
"Ingat, Gara! Jangan pernah memperdaya Chan untuk membantumu meluluhkan hati saya ataupun suami saya. Bahkan, dengan kamu pergi pun nggak akan bisa membayar kesalahanmu dua tahun lalu."
Gara memberanikan diri mengangkat kepalanya. Ia tanpa takut menatap sepasang kelopak mata yang kata orang-orang mirip dengannya itu. Lalu, setelah itu Gara tertawa keras. Keras sekali. Namun, jelas tawanya tak mengandung kebahagian, melainkan mengandung sejuta luka yang tak bisa ia lisankan. Semua orang tahu seperti apa tawa itu. "Kenapa nggak dari dulu saja sih bilang kayak gitu, Ma? Tahu begitu, Gara nggak bakalan berusaha agar bisa dilihat sebagai seorang anak oleh orang tuanya sendiri. Tahu begitu, Gara jadi bajingan saja sekalian." Sekali lagi tawa tertawa keras.
"Mama kita Gara juga butuh benda-benda seperti itu?" Gara menatap medali yang tergeletak di hadapannya. Ia meraih benda tersebut dan menggenggamnya dengan erat seiring rahang yang juga ikut mengeras. Ia melempar asal dengan keras benda itu ke sembarang arah. Lalu, suara benda pecah terdengar mengudara di dalam kamarnya. "Nggak sama sekali," ucap Gara penuh penekanan. "Itu sebenarnya buat Papa dan Mama yang selalu menuntut anaknya sempurna. Tapi, nggak pernah bisa memberikan hak anaknya sendiri."
Olivia masih terpaku di tempat. Ia cukup kaget dengan sikap Gara tadi. Anaknya ini memang keras. Ia melihat Gara bangkit dari tempat tidurnya. Tubuh yang bagian atasnya tak tertutup sehelai benang pun itu melewatinya begitu saja. Olivia melihat dengan sangat jelas bekas luka dan lebam yang tercetak seperti tato di tubuh Gara. Dan hal itu sukses membuatnya sedih. Namun, ego adalah dewa dalam diri Olivia. Ia mencoba tak peduli.
Sekali lagi Olivia dibuat kaget oleh Gara. Bagaimana tidak? Gara melempar semua benda-benda yang sama seperti yang Chan berikan padanya. Begitu banyak benda itu tersimpan di dalam laci meja belajar Gara. Piala yang tertata rapi di atas meja itu juga tak ayal menjadi korban kemarahan Gara. Buku-buku di yang tertumpuk juga demikian. Semua tercecer di atas lantai kamar Gara.
"Percuma semua itu! Gara nggak butuh semuanya! Gara hanya ingin mendapatkannya agar Gara bisa membuktikan bahwa Gara bisa membanggakan Papa dan Mama." Gara berteriak dengan keras seraya melempar apa saja yang ada di dekatnya. Ia menendang kursi belajarnya. Dan berakhir dengan meninju keras cermin yang ada di pintu lemarinya hingga membuat tangannya mengalirkan darah segar. Gara tak peduli.
Gara menatap ibunya yang hanya bergeming. "Tapi, apa Papa dan Mama melihat usaha Gara. Nggak, 'kan?" Gara tertawa. "Gara nggak tahu. Di sini Gara yang bodoh atau memang kalian yang buta dan nggak punya hati. Bagaimana kalian bisa berbangga diri jika sikap kalian saja nggak pantas disebut sebagai orang tua."
Olivia menatap tajam ke arah Gara. Ia jelas tidak terima akan apa yang diucapkan Gara tadi.
"Mama mau marah? Silakan, Ma! Mau nampar Gara lagi? Ayo, Ma! Atau mau bunuh Gara sekalian? Nggak apa-apa. Gara rela kok." Gara meraih pecahan kaca di dekat kakinya. Lalu, ia melangkah mendekati ibunya. Ia meraih tangan Olivia yang mematung dan meletakkan pecahan kaca itu di telapak tangan sang ibu. "Bunuh Gara, Ma. Biar Papa dan Mama bisa tenang. Gara juga nggak bakalan kesakitan lagi."
Olivia menundukkan kepalanya dan menatap pecahan kaca yang sudah berubah warna itu. Begitu juga dengan telapak tangannya yang sudah ternodai oleh benda cair berwarna merah pekat itu. Napas Olivia terasa tercekat. Haruskah ia melakukan permintaan putranya itu? Membunuh Gara agar tidak ada lagi yang tersakiti dan dirugikan di rumah ini.
Olivia menggelengkan kepalanya berulang kali. Tidak! Ia tidak mungkin membunuh darah dagingnya sendiri. Ia mengangkat kepala dan menatap Gara yang hanya menatapnya sendu. Banyak luka yang tersirat di sorot mata itu. Namun, melihat Gara membuat Olivia amarahnya kembali memuncak. Ia melempar sembarangan pecahan kaca itu. "Sudah pembawa sial. Gila pula." Olivia berlalu setelah itu. Meninggalkan Gara sendiri dengan luka hati dan fisiknya yang tentu saja sangat sakit. Olivia tak peduli sama sekali akan hal itu. Baginya, apa yang didapatkan Gara adalah imbas dari kelakuan dan sikap anak itu selama ini. Dan Gara harus menerimanya.
Laki-laki yang hanya mengenakan celana pendek itu terdiam. Ia tak mengikuti arah langkah ibunya. Ia sudah pasrah ditinggalkan dalam keadaan kacau seperti ini. Jangan tanyakan sesakit apa yang Gara rasakan saat ini. Gara tak memiliki kata yang tepat untuk menggambarkannya.
Tubuh Gara runtuh ke lantai. Ia bersimpuh di antara barang yang berserakan itu. Teriakannya menggema. Rambut yang sedikit lepek itu ia jambak kuat. Lalu, ia tanpa takut membenturkan kepalanya ke lantai. Jujur, Gara ingin mengakhiri semuanya sekarang. Ia sudah sangat lelah melakoni perannya yang selalu tertindas. Di mana waktu yang katanya perlahan membaik itu? Itu semua bohong. Bohong.
Ada yang tidak disadari Gara saat ini. Sepasang mata yang begitu mirip dengan miliknya tengah menatap dari balik pintu yang tidak tertutup sempurna. Ada genangan yang tercipta di pelupuk mata itu. Ada rasa iba melihat bagaimana Gara menyiksa dirinya. Ada rasa sakit yang di hati melihat darah yang mulai ke luar dari pelipis Gara. Rasanya ingin sekali memeluk tubuh itu. Tubuh yang penuh luka bekas tangan Edward. Namun, ia tak bisa melakukannya. Ia belum bisa mengalahkan egonya sendiri.
Olivia. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat bagaimana Gara yang memberontak. Melempar lagi seisi ruangannya. Berantakan sudah kamar yang tampak rapi itu. Bahkan sudah tak pantas lagi disebut kamar.
Olivia membekap mulutnya sendiri melihat tubuh Gara yang basah dengan keringat itu tumbang dan tergeletak di lantai. Tawa sumbang itu menggelegar. Gara kini sudah terlihat seperti orang gila. Setelah tawanya, ada tangisan yang terlihat. Separah itu kerusakan mental Gara. Olivia menyadari semua itu salahnya dan sang suami.
Lagi-lagi, wanita itu berperang melawan diri. Ego dan naluri sebagai seorang ibu saling memberontak. Tak ada yang mau mengalah. Lalu, kepingan peristiwa itu kembali terngiang. Maka, ego adalah pemenangnya. Olivia mulai lupa diri bahwa ia adalah wanita yang sudah mengandung Gara selama sembilan bulan lamanya. Lalu, melahirkan anak itu hingga bertaruh nyawa. Membesarkan Gara hingga tumbuh menjadi anak yang hebat. Itu dulu. Sampai Gara menginjak usia di angka lima belas. Setelah itu, Gara hanyalah si biang onar, pembawa masalah, dan tak lebih dari butiran debu.
Olivia bahkan kini tersenyum sinis melihat tubuh yang terkapar tanpa atasan di lantai dingin itu. Biarlah Gara merasakan apa yang seharusnya dirasakan. Dan apa yang Gara dapatkan sejauh ini masih belum seberapa dari apa yang dialami Chan dua tahun lalu. Ia tersenyum puas. Gara akhirnya mendapatkan ganjaran dari caranya yang membuat Chan terkapar di tengah lapangan basket dan berakhir koma dalam satu pekan lamanya. Sepertinya, memang belum cukup ganjarannya. Masih belum seberapa yang dirasakan.
"Mama."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments