Bukan gara-gara Gara

"Mama."

Suara itu menyentak Olivia dan menghipnotisnya menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat Chan berjalan dari arah kamar dan entah kapan putra sulungnya itu berada tak jauh dari kakinya berpijak. Dapat terlihat dengan jelas kening Chan mengkerut. Pasti anak itu bertanya-tanya tentang alasan kenapa Olivia berdiri di depan kamar Gara. Olivia segera melangkah mendekati Chan dan mencoba bersikap biasa saja.

"Mama ngapain di depan kamar Adek?" tanya Chan seraya menatap ke arah kamar adiknya yang pintunya sedikit terbuka.

"Nggak. Mama kebetulan lewat saja. Mama mau ke kamar Abang. Mau lihat putra Mama ini apakah sudah istirahat atau belum," ujar Olivia berbohong. "Abang mau ke mana, Nak?"

"Tadi Abang dengar suara ribut di luar. Jadi Abang ke luar. Nggak tahu suaranya dari mana. Dari kamar Adek mungkin, ya," balas Chan dan berusaha menerka-nerka. Memang tadinya ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum ia dipanggil untuk makan malam. Namun, baru saja ia mendaratkan bokongnya di pinggiran tempat tidur. Sayup-sayup ia mendengar suara ribut. Dan itulah yang membuat Chan mengurungkan niatnya lalu ke luar.

"Nggak kok, Bang. Mama nggak dengar apa-apa," ucap Olivia dengan cepat. Chan tidak boleh tahu apa yang terjadi di dalam kamar Gara. "Perasaan Abang saja."

Chan menggelengkan kepala. Ia tidak mungkin salah dengar. "Nggak, Ma. Suaranya jelas banget. Abang pikir dari kamar Adek." Chan hendak beranjak. Namun, ia dihalangi oleh ibunya.

"Bang, Mama baru saja melewati kamar Gara. Nggak ada apa-apa."

Kening Chan semakin mengkerut. Kenapa ibunya begitu keukeuh mengatakan hal demikian? Chan menjadi semakin curiga bahwa memang ada sesuatu yang terjadi di kamar adiknya. Ia curiga bahwa apa yang terjadi ada hubungannya dengan Olivia.

"Mama nggak nampar Adek lagi, 'kan?" Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut Chan. Melihat sikap aneh ibunya jelas membuatnya curiga.

"Abang kenapa nanya kayak gitu? Mama saja baru ke atas kok."

Chan tidak akan pernah bisa memaksa ibunya untuk jujur. Ia kemudian menganggukkan kepala dan berpura-pura percaya. "Hm, ya sudah deh, Ma. Mungkin benar kata Mama kalau Abang salah dengar. Abang ke kamar dulu, ya."

Olivia bernapas lega sekarang. "Iya, Sayang. Nanti Mama panggil untuk makan malam, ya."

"Iya, Ma," jawab Chan dan berlalu lebih dulu menuju kamarnya. Ia akan menunggu Olivia benar-benar pergi dari lantai dua. Baru ia akan melihat adiknya di kamar. Ia ingin memastikan Gara baik-baik saja. Sebab, kecurigaan yang muncul setelah melihat keanehan yang ditunjukkan Olivia membuat Chan sendiri merasa khawatir. Memang ia tahu bahwa ayah dan ibunya tidak pernah memasuki lagi kamar Gara. Namun, siapa yang tahu jika sewaktu-waktu mereka akan mengunjungi kamar itu dan berbuat kasar pada si bungsu?

Tangan kurus dengan urat-urat yang menonjol di punggung tangan itu membuka dengan sangat pelan pintu kamarnya. Ia mengintip sebentar untuk memastikan situasi aman dan Olivia sudah tidak ada lagi di sana. Chan menyembulkan kepalanya dan menoleh ke kiri dan ke kanan. Setelah merasa semuanya sudah aman, Chan kemudian benar-benar ke luar dari kamarnya. Dengan langkah cepat ia bergerak menuju kamar Gara.

Langkahnya sempat terhenti di depan pintu yang sedikit terbuka itu. Chan mendengar tawa adiknya. Ia tersenyum. Namun, hanya sebentar. Sebab, tawa itu berganti tangisan lirih. Ada apa dengan Gara?

Chan mendorong pintu kamar adiknya. Ia kaget bukan main melihat ruangan yang sudah seperti kapal pecah itu. Barang-barang berserakan di mana-mana. Tubuh Gara meringkuk di lantai dan di antara barang-barangnya. Chan menyisir sebentar ruangan itu dengan sepasang netra di balik kacamata minusnya. Pecahan kaca dari cermin di pintu lemari. Lalu, tetesan demi tetesan darah yang menodai lantai dan entah berasal dari mana.

Chan membawa langkahnya mendekati Gara yang lagi-lagi tertawa. Ia menyentuh tubuh yang meringkuk itu. "Dek, bangun," ucap Chan dengan sangat lembut.

Gara bergeming. Chan memutar tubuh adiknya hingga terlentang. Darah di sekitar pelipis sang adik masih terlihat jelas dan hampir mengering. Lebam di pipi sang adik. Memar yang membiru di tubuh bagian atas Gara. Dan tangan yang masih mengeluarkan darah meski tak sebanyak sebelumnya. Pemandangan yang benar-benar membuat Chan sedih sekaligus marah dalam waktu bersamaan.

Gara menatap kakaknya dengan tatapan kosong. Entah sadar atau tidak Gara bahwa yang ada di hadapannya kini adalah sosok laki-laki yang ia beri label si biang kerok itu. Gara kemudian tertawa keras. Lalu, menangis setelahnya. Begitu terus yang ia lakukan berulang kali. Persis seperti orang gila.

Chan tidak tahu apa yang terjadi dengan adiknya kini. Ia meraih kepala sang adik dan memeluknya dengan erat. Ia menyeka air mata yang sudah bercampur dengan cairan berwarna merah pekat itu tanpa merasa risih apalagi jijik. Sebelah tangannya yang tak menopang kepala Gara ia gunakan untuk melepaskan syal yang melingkar di lehernya. Benda itu ia gunakan untuk mengikat tangan kanan adiknya agar darahnya berhenti ke luar. Ia akan mengobati Gara, tetapi ia harus membawa adiknya ke tempat yang lebih nyaman dulu. Adalah tempat tidur.

Meski tenaga yang Chan miliki tak sekuat orang lain. Ia tetap berusaha untuk membantu adiknya. Hingga sampailah tubuh itu di atas tempat tidur dengan kondisi yang masih sama. "Adek tunggu Abang sebentar, ya. Abang ambil kotak obat dulu untuk mengobati luka Adek," ucap Chan seraya menyentuh pipi Gara yang kini terbaring dengan tatapan kosong dan lurus ke arah langit-langit ruang. Sungguh perih hati Chan melihat adiknya seperti ini.

Belum sampai langkah Chan di pintu. Suara Gara berhasil membuat Chan terpaku di tempat.

"Jangan sok baik. Semua ini gara-gara lo, Anj**g!"

Chan menoleh. Memastikan bahwa suara yang dengar memang dari mulut adiknya. Ya, tidak salah lagi. Itu Gara yang berucap. Bahkan, sekarang Chan sudah menemukan posisi adiknya tak lagi berbaring. Namun, duduk dan menatapnya dengan tatapan menghujam.

"Andai saja lo nggak penyakitan. Mungkin gue nggak bakalan kehilangan hak gue di rumah ini. Mungkin gue bisa hidup tenang dan bisa seperti teman-teman gue. Bisa merasakan hangatnya keluarga," ujar Gara tanpa mengalihkan pandangan dari wajah pucat milik Chan yang hanya diam mematung di dekat pintu kamar.

"Tapi, ini semua lagi-lagi gara-gara lo, Bangs*t!" Nada suara Gara meninggi. "Dan apa yang gua dapatkan malam ini, semua karena cara lo yang nggak mikir dulu. Kenapa lo kasih Mama medali yang sudah gue buang? Lo kira bakalan bisa buka mata hati Mama?"

Chan terdiam. Ya, ini memang salahnya yang terlalu cepat mengambil tindakan. Namun, ia tidak pernah membayangkan jika hasilnya akan seperti ini. Ini benar-benar di luar ekspektasinya.

"Nggak bakalan, Anj**g. Mereka sudah buta. Mereka sudah nggak bisa lihat lagi seorang anak bernama Gara di rumah ini. Harusnya lo paham itu. Bukan malah bersikap sok pahlawan dan membantu gue."

Gara melepaskan syal yang melilit tangannya. Lalu, melemparnya ke arah Chan. "Gue sudah bilang berkali-kali sama lo. Usaha lo untuk membantu gue nggak akan bisa mengubah semuanya. Yang ada, hanya menambah duka gue. Tapi, lo berlagak seperti orang bodoh yang nggak paham apa pun yang gue katakan." Gara berucap panjang lebar. Biarlah sekarang ia menumpahkan semua kemarahannya pada Chan. Lagi pula, tidak salah 'kan jika ia mengatakan bahwa apa yang ia dapatkan saat ini karena ulah Chan?

"Kalau lo nggak bisa bantu gue agar bisa mendapatkan apa yang seharusnya jadi milik gue. Paling nggak, lo nggak usah nambah beban dan rasa sakit gue," ucap Chan lagi. Dadanya terasa sangat sesak sekarang. Ia membuka mulut untuk meraup udara sebanyak mungkin agar pasokan udara di dalam paru-parunya terpenuhi. "Selama ini, gue sudah cukup bersabar dan mencoba untuk menjadi sempurna versi Papa dan Mama. Tapi, yang gue dapatkan apa? Hanya caci maki dan luka. Lalu, lo berusaha menambah semuanya dengan cara lo yang sok peduli."

Gara menatap tubuh yang berdiri seperti patung itu. "Atau sebenarnya, lo yang menginginkan ini terjadi sama gue?" Gara tertawa keras.

Chan menepis dengan cepat pikiran buruk Gara padanya. "Nggak, Dek. Abang nggak pernah menginginkan hal ini terjadi sama Adek. Abang sayang sama Adek. Abang mau lihat Adek bahagia," ujar Chan. Ia kemudian membawa langkahnya mendekati sang adik. Namun, bentakan Gara sukses menghentikan langkahnya.

"Bacot!" Gara menatap garang wajah Chan. "Bullsh*t semua apa yang lo ucapin sama gue. Sayang macam apa yang lo maksud? Sayang banget kalau nggak lihat gue menderita sehari saja?"

Tawa Gara menggelegar. "Chan. Chan. Mending mulai sekarang, hentikan cara-cara lo yang sok peduli sama gue. Apalagi sok membela gue kayak pahlawan. Lucu tahu, nggak?" Gara menatap remeh kakaknya. "Jaga diri lo sendiri saja nggak bisa. Malah sok-sokan jadi pahlawan buat gue."

Bohong jika Chan tak merasa sakit hati mendengar ucapan adiknya. Namun, Gara memang ada benarnya. Ia terlalu berambisi untuk membantu adiknya. Hingga tanpa sadar, sikap yang ia ambil justru membuat adiknya terluka. Akan tetapi, perihal rasa sayang Chan pada Gara. Itu tidak bohong. Ia menyayangi adiknya dengan tulus. "Apa yang harus Abang lakukan?"

Evil smirk Gara terbit dengan sangat rapi. "Mati," jawab Gara dengan santai. Lalu, detik berikutnya ia angkat suara lagi. "Oh, nggak perlu deh. Kasihan bokap nyokap lo nanti. Kasihan gue juga sih. Pasti bakalan jadi pelampiasan mereka."

Gara bangkit dan berjalan mendekati lemari yang pintunya sudah rusak. Ia meraih satu hoodie dan memakainya. Kunci motor yang ikut terlempar dan kini tergeletak di atas lantai kamar ia raih dengan kasar. Lantas, berjalan ke luar kamar. Namun, sejenak Gara berhenti. Ia mendekati Chan.

"Sekali lagi gue ingatin sama lo. Nggak usah lagi peduli sama gue. Anggap saja gue nggak pernah ada di hidup lo. Sama seperti bokap nyokap lo yang menganggap gue seperti itu." Gara menjeda ucapannya. "Dan perlu lo ingat. Apa yang terjadi di hidup gue. Bukan gara-gara Gara. Tapi, gara-gara si penyakitan."

Gara menyambar ponselnya di atas nakas. Dan benar-benar pergi meninggalkan Chan bersama luka hati yang baru saja ditoreh oleh adiknya sendiri. Sakit yang lebih menyakitkan dari rasa sakit yang kerapkali menghujam tubuhnya.

Chan terpaku. Menyentuh dadanya yang terasa sesak. Mungkin beginilah rasa sakit yang dirasakan Gara setiap hari. Sakit sekali. Kuasa tak punya untuk menolak. Maka, menerima adalah sebuah keharusan meski terpaksa.

Berat. Menyesakkan. Namun, harus ditelan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!