Penghargaan yang Terbuang

Setelah berperang melawan diri sendiri. Gara akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah lebih pagi. Ya, ini masih sore. Matahari saja belum tenggelam. Sinarnya masih melintasi langit biru hingga menimbulkan warna keemasan di ufuk Barat. Gradasi warna yang sangat indah. Cocok dinikmati di pinggir pantai bersama orang tercinta.

Gara memarkir motor sport-nya di garasi. Lalu, mencabut kuncinya dan beranjak pergi. Sebenarnya, ia masih ragu dengan saran yang diberikan Flora padanya. Haruskah ia memberikan medali yang diberikan Pak Geni siang tadi pada Edward dan Olivia? Lalu, apakah dua manusia itu akan menerimanya? Kenapa sekarang Gara semakin ragu? Ia takut jika tindakannya justru akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Ia takut jika tindakannya justru akan membuat luka baru di dalam hatinya. Namun, jika ia tidak bertindak, itu artinya Gara tidak mau berusaha lebih untuk membuktikan pada ayah dan ibunya bahwa ia bisa menjadi anak yang membanggakan.

Gara berhenti di depan pintu. Tangannya terasa kelu untuk membuka pintu. Keraguan itu semakin menjadi-jadi menyerbunya. Ia kemudian memutuskan untuk duduk di kursi yang ada di teras depan. Ia membuka tas sekolahnya dan membukanya, mengeluarkan benda yang menjadi bukti keberhasilannya mengharumkan nama sekolah. Satu bukti yang selalu menjadi bahan pujian kepala sekolah dan guru di luar kelakuan Gara yang nakal. Ia menatap benda itu lekat. Lalu, menggenggamnya dengan erat.

Tak lama setelah itu. Suara deru mobil menelusup ke indra pendengaran Gara. Hal itu menghipnotis laki-laki dengan sepasang mata almond itu mengangkat pandangan. Kini di hadapannya—di pelataran rumah—sudah berhenti sebuah kendaraan roda empat yang terlihat mewah. Seketika degup jantung Gara berpacu dengan hebat. Ia sendiri sampai kewalahan untuk menormalkan detakan itu. Beruntung ia tak memiliki riwayat penyakit jantung. Sehingga, detakan kuat itu tak membuatnya kesakitan.

Gara bangkit dari kursi. Ia melihat ibunya ke luar dari mobil setelah pintu penumpang dibukakan oleh sang sopir. Ia lihat wanita dengan tubuh ramping dalam balutan pakaian formal itu berdiri sejenak untuk menyimpan kembali ponselnya ke dalam salah satu tas branded yang menjadi koleksinya. Lalu, Gara mendekati sang ibu. "Mama," panggilnya dengan nada sedikit ragu. Ia kemudian menggigit bibir bawahnya setelah Olivia menoleh. Lalu, menundukkan kepalanya dalam. Melihat tatapan Olivia yang menghujamnya membuat nyali Gara seketika menciut seperti kerupuk kulit tersiram air. Ia takut dengan tatapan itu. Ia kehilangan cara untuk berkata-kata lagi. Tatapan Olivia membuat otaknya buntu dan sistem geraknya kaku. Sebesar itu ketakutan Gara pada ibu kandungnya sendiri? Benar-benar semua sudah berubah dengan sangat drastis. Ya, berubah sejak hari itu.

"Kenapa? Ada apa? Mau ngadu kalau dapat surat panggilan orang tua lagi dari sekolah? Masalah apa lagi yang kamu perbuat, Gara?"

Pertanyaan yang meluncur bertubi-tubi dan tanpa jeda itu berhasil mengoyak ulu hati Gara. Tak bisakah Olivia memandangnya bukan sebagai pembuat onar dan biang masalah? Namun, memandangnya sebagai anak biasa yang ingin menceritakan satu hal pada orang tuanya. Lagi-lagi Gara harus tertampar kenyataan bahwa semuanya memang sudah tak lagi sama. Bahkan, sebelum ia mengatakan apa pun, ibunya sudah memiliki pandangan buruk terhadap dirinya.

Tidak! Kamu tidak boleh menyerah, Gara!

Gara masih ingat bagaimana Flora berusaha meyakinkannya. Ia percaya pada Flora. Ia hanya butuh usaha lebih.

Gara mencoba mengulum senyumnya. "Nggak kok, Ma. Tapi, Gara cuma mau kasih ini buat Mama." Gara menyodorkan medali yang ia dapatkan pada Olivia. "Ini medali karena Gara berhasil menyabet juara satu olimpiade matematika, Ma," sambung Gara menjelaskan dengan senyum mengembang dan penuh harap. Berharap jika sang ibu bisa menerima dengan rasa bangga. Ah, tidak. Menerimanya saja dulu sudah cukup bagi Gara.

Tampak Olivia menatap benda itu dengan lekat. Lalu, mencoba untuk tak peduli. "Kamu kasih ke Papa saja. Mama nggak tahu harus apain benda itu," ucap Olivia. Lantas, berlalu begitu saja meninggalkan Gara yang terpaku di tempatnya. Tak peduli jika perasaan si bungsu tengah dibuat hancur menjadi kepingan-kepingan kecil yang tercecer dan berserakan serta rata dengan tanah.

Gara mengangkat kepalanya tinggi-tinggi ketika merasa sepasang netranya mulai terasa memanas. Ia tidak ingin menangis sekarang. Ia sudah lelah menumpahkan liquid dari sepasang mata almond-nya yang kini masih tampak sembab. Di hadapan Flora ia menangis tersedu tanpa malu siang tadi. Lalu, setelah itu ia merasa sedikit tenang. Dan sekarang, Gara tidak ingin melakukannya lagi. Mungkin ia harus melakukan apa yang dikatakan ibunya. Memberikan medalinya pada Edward. Maka, Gara memutuskan untuk kembali duduk di kursi teras depan. Menunggu Edward pulang.

Hampir tiga puluh menit lamanya. Gara bahkan sudah merasa matanya terasa berat. Ia mengantuk. Namun, Edward tak kunjung pulang. Ia hendak menyerah. Namun, semesta tak mengizinkannya. Gara melihat gerbang besi yang menjulang tinggi itu perlahan ditarik oleh satpam. Matanya berbinar kemudian. Satu mobil mewah lagi yang biasa terparkir di garasi melaju dengan pelan. Adalah mobil seseorang yang Gara tunggu-tunggu. Sepasang almond eyes-nya menyipit sebab senyum yang kembali terpatri dengan lebar dan cantik. Kaki yang tertekuk itu bangkit dan menopang kembali tubuh atletis Gara. Ia kemudian mendekat, lebih cepat ke arah Edward yang baru saja ke luar dari mobilnya.

"Pa," panggil Gara dengan penuh percaya diri. Keyakinannya kali ini sudah di atas rata-rata bahwa Edward akan menerima apa yang ia bawa dari sekolah.

"Ada apa, Gara? Kamu lagi nggak bikin masalah, 'kan? Papa lagi capek. Jangan tambah lagi dengan membawa berita buruk ke Papa."

Lagi dan lagi. Pikiran ayahnya memang tidak berbeda dengan ibunya. Keduanya sudah terkontaminasi pikiran negatif tentang Gara. Padahal, apa susahnya merek bertanya ada apa tanpa harus membuat spekulasi bahwa Gara hanua mendekat untuk membagikan berita buruk? Memang sudah seburuk itu image Gara di hadapan Edward dan Olivia? Mereka tidak tahu bagaimana prestasi yang dicetak Gara selama ini? Lalu, Pak Geni. Apakah pria itu tak pernah sekalipun menceritakan pada Olivia tentang pencapaian Gara?

Ah, sudahlah. Berhentilah Gara memikirkan hal itu. Fokuslah ia sekarang pada tujuannya.

"Nggak kok, Pa. Gara cuma mau kasih ini ke Papa." Seperti yang Gara lakukan pada ibunya. Ia mengangkat medali itu dengan bangga di hadapan Edward. "Ini penghargaan yang Gara dapatkan karena mendapatkan juara satu olimpiade Matematika, Pa."

Edward terpaku dalam beberapa detik. "Oh."

Edward hanya ber-oh ria. "Cuma itu?"

Gara terdiam sejenak. Ia tidak tahu harus merespons apa. Detik berikutnya ia tersadar dan mengangguk dengan ragu. Perasaan sudah tidak karuan sekarang.

Edward menyentuh benda itu dan sukses membuat senyum Gara mengembang. Namun, hanya dalam sepersekian detik saja sebelum garis lengkung di wajah Gara berubah menjadi garis lurus.

"Paling ini kamu buat-buat sendiri." Edward pergi meninggalkan Gara setelah berucap tanpa dosa.

Kalimat itu menghancurkan perasaan Gara. Untuk kedua kalinya. Gara dipatahkan oleh harapannya sendiri dalam kurun waktu yang sangat singkat. Ia terdiam. Terpaku. Tangannya meremas kuat benda itu. Rasa sakit di dalam hatinya mengundang amarah. Kenapa susah sekali mendapatkan perhatian dari orang tuanya sendiri? Padahal, ia sudah berusaha menjadi sempurna dengan kemampuan yang ia asah sendirian. Berusaha menjadi siapa yang diinginkan Edward dan Olivia. Namun, setelah membuktikannya, ke man rasa menghargai dua manusia itu?

Kecewa dan patah hati terberat diciptakan oleh harapan besar. Kini, kalimat itulah yang menjadi pedoman hidup Gara. Ia ingin berhenti berharap. Perihal saran Flora, ia sudah menjalankannya meski hasilnya nihil. Dan mulai sekarang, Gara sudah tak pantas lagi menaruh harap pada Edward dan Olivia. Kesakitan yang ia alami sejauh ini sudah cukup dan belum bisa ia sembuhkan. Gara tidak ingin menambah lagi kesakitan dan luka baru. Terlalu sakit bagi Gara. Bisa-bisa ia akan terbunuh perlahan jika semuanya tetap seperti ini. Terbunuh bukan karena luka dari orang lain. Namun, dari luka hati yang dibuat oleh orang tuanya sendiri.

Gara membalik badan. Melangkahkan kaki dalam balutan sepatu kets itu. Tangannya masih meremas kuat medalinya. Lalu, langkahnya terhenti tak jauh dari pintu utama. Ia menoleh ke samping. Melihat bak sampah yang tertata rapi di sana. Evil smirk-nya muncul. Ia menginjak bak sampah itu dengan kaki kanan hingga tutupnya terbuka. Lalu, tanpa berpikir panjang ia memasukkan medalinya di sana.

Tak hanya itu. Gara membuka tas sekolahnya. Mengeluarkan selembar kertas yang di atasnya tercetak namanya dengan font Algerian. Ia meremas tanpa dosa kertas tersebut. Lalu, memasukkan juga ke dalam bak sampah menyusul pasangannya. Gara tak butuh sertifikat dan medali. Percuma mendapatkannya jika tujuannya untuk meraih itu semua tak menghargai itu sama sekali. Percuma sudah kerja keras Gara selama ini. Ia menyerah. Persetan dengan ucapan Flora yang mengatakan ia butuh usaha lebih.

Apalah arti sebuah usaha jika tak ada yang menghargainya? Gara lelah. Gara menyerah. Ia tidak perlu lagi berusaha. Sebab, usaha yang ia lakukan hanya sebuah jalan untuk sebuah luka baru yang tercipta. Tidak! Gara tidak ingin menambah lukanya lebih banyak. Luka yang sudah ada saja belum sempat ia tambal dan obati. Dan sakitnya masih sangat terasa jelas hingga detik ini.

"Cukupkan usahamu sampai di sini, Gar. Terlalu banyak kata percuma di dalam cerita hidupmu." Gara bergumam seraya menatap bak sampah yang belum tertutup itu. Ia tersenyum miris mengingat bagaimana kisahnya yang berubah drastis sejak dua tahun lalu. Kisah yang tak pernah ia duga terjadi di dalam hidupnya. Ini benar-benar menyakiti Gara. Rasanya sekarang ia tak memiliki pijakan dan alasan untuk menjadi seseorang yang sempurna. Lalu, untuk apa lagi Gara melakukannya? Bukankah sia-sia saja? Hanya lelah dan sakit yang Gara terima.

Langkah gontai. Hati yang teriris. Jiwa yang terkoyak. Mental yang tergoncang. Gara membawanya masuk ke dalam rumah. Gara ingin istirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia nyata yang menyedihkan dan menyakitkan. Dunia yang menjadi panggung sandiwara paling brutal mengoyak segala yang ada di dalam dirinya. Kini, Gara butuh terlelap. Lalu, bangun menjadi Gara yang kurng ajar. Persetan dengan Edward dan Olivia yang mungkin akan membunuhnya. Membunuh? Sepertinya itu jauh lebih baik.

Terpopuler

Comments

Hai, Ya!

Hai, Ya!

Nyesel banget nggak tuh 😢

2023-04-28

1

Helmi Sintya Junaedi

Helmi Sintya Junaedi

nyesek bacanya,,, 😭😭😭

2023-04-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!