Tentang Gara

Flora menutup buku pelajarannya. Ia kemudian memasukkan ke dalam tas untuk ia bawa besok ke sekolah. Begitu kebiasaan yang sudah diterapkan oleh kedua orang tua padanya dan juga kakaknya—Gloria. Hingga besok Flora tidak akan tergesa-gesa dan mengakibatkan dirinya terlambat berangkat ke sekolah. Terlahir dari pasangan suami istri yang kehidupannya sangat ketat dan tertib mengharuskan Flora dan Gloria ikut terjebak dalam system hidup yang sama. Lalu, apakah kemudian dua perempuan itu akan merasa terbeban? Tentu saja tidak. Keduanya sudah terbiasa, sebab dibiasakan oleh kedua orang tua mereka.

Flora membawa langkahnya ke luar kamar setelah menyelesaikan ritualnya menyiapkan buku sekolah untuk esok pagi. Ia bergerak menuju sebuah ruangan yang ditempati oleh sang kakak. Di depan pintu kamar itu Flora berdiri dan mengetuk daun pintu berwarna putih bersih itu dengan pelan. “Kak, Flora boleh masuk, nggak?” tanya Flora setelah menurunkan tangannya. Flora selalu menghargai privasi kakaknya. Ia tidak pernah memasuki kamar Gloria tanpa seizin perempuan yang bertaut tujuh tahun dengannya itu. Sebab, Gloria juga melakukan hal yang sama. Lalu, keduanya saling menghargai satu sama lain dalam hal apa pun.

Terdengar gerakan dan bunyi kunci yang diputar dari dalam. Lalu, tak lama pintu kamar Gloria terbuka dan menampilkan sosok perempuan dengan tubuh yang sudah terbungkus piyama serta kacamata anti radiasi yang bertengger di hidung bangirnya. “Ada apa, Dek?” tanya Gloria dengan lembut.

Jika kalian berpikir bahwa Flora dan Gloria akan sama seperti sepasang adik kakak pada umumnya. Sering bertengkar karena hal-hal sepele. Saling merasa iri satu sama lain. Tidak! Itu salah besar. Pasangan adik kakak itu begitu manis. Keduanya saling menyayangi dengan sikap yang begitu lembut. Gloria pandai memposisikan diri sebagai seorang kakak yang melindungi dan mengayomi adiknya. Lalu, Flora juga pandai menjadi adik yang baik untuk Gloria. Ia tidak pernah membangkang pada sang kakak. Justru Flora menjadikan Gloria sebagai tempatnya bercerita tentang apa pun juga.

“Kakak sibuk, nggak?”

“Hm, nggak sih. Kakak baru selesai bikin tugas. Kalau mau masuk, ya, masuk saja. Nggak apa-apa,” ujar Gloria yang dibalas anggukan oleh Flora. Ia kemudian sedikit menyingkir untuk memberikan jalan bagi adik semata wayangnya untuk memasuki kamar. Gloria menggelengkan kepala melihat langkah lebar Flora. Di mata Gloria, Flora tidak pernah tumbuh menjadi dewasa. Ia selalu menatap adiknya seperti Flora kecil yang menggemaskan.

“Mau cerita tentang apa sekarang?” tanya Gloria setelah mendaratkan bokong di pinggir tempat tidur. Ia menatap Flora yang posisinya kini tengah berbaring dengan sempurna seraya memainkan ujung piyamanya dengan asal. Gloria tahu siapa Flora. Gadis itu akan mengunjungi kamarnya jika ingin bercerita atau menginginkan sesuatu. Gloria selalu Flora jadikan orang pertama untuk mencari apa pun yang diinginkan gadis itu. Bukan karena Flora tidak dekat dengan ayah dan ibunya. Namun, karena kelakuan Gloria yang memprioritaskan Flora. Bahkan di atas dirinya sendiri. Berlebihan? Tidak bagi Gloria. Ia mencintai dan menyayangi adiknya. Apa pun yang Flora inginkan, selama tak merugikan dan bisa ia berikan, pasti Gloria berikan.

“Tentang Gara,” jawab Flora. Ia kemudian menatap Gloria yang kini tengah menatapnya dengan alis terangkat. Lalu, merubah posisinya menjadi bersila dan berhadapan langsung dengan Gloria.

“Siapa Gara? Pacarmu?”

Flora menghela napas panjang sebelum angkat suara. “Bukan dong, Kak. Dia tuh preman sekolah, tapi juga most wanted.”

“Terus kamu mengidolakannya?”

Flora memutar bola mata malas. Kakaknya ini terlalu cepat menebak sesuatu. Padahal, tebakannya lebih sering salah. “Nggak juga, Kak. Justru, Flora punya masalah sama dia.”

“Masalah? Masalah apa sih? Belum juga sebulanan sekolah di sana sudah punya masalah saja,” cibir Gloria.

“Ya dianya sih yang salah, Kak. Perihal seragam kena tumpahan minuman doang malah dibesar-besarkan.”

“Terus masalahnya apa?”

“Gara-gara kejadian itu, Flora diminta untuk mengikuti kemauannya selama satu bulan penuh.”

“Hah?!” Bola mata Gloria membulat. “Bagaimana bisa? Terus kamu dijadikan budak gitu sama dia? Sudah deh besok berangkat sama Kakak. Kamu bawa Kakak ketemu sama dia.”

Lagi-lagi Flora dibuat menghela napas panjang oleh kakaknya. Gloria si emosian. Begitulah Flora memberikan label untuk kakaknya. “Ya nggak gitu juga konsepnya dong, Kak. Yang Gara lakukan nggak seperti yang Kakak pikirkan kok.”

“Jadi?”

“Flora seperti melihat apa yang ditunjukkan Gara bukan dirinya yang sesungguhnya. Kakak percaya, nggak, kalau seorang preman sekolah, suka kelahi, sering bikin onar, sering bolos. Pokoknya paket lengkap deh kalau nakal mah. Tapi, dia bisa mengharumkan nama sekolah. Dia juga selalu jadi juara kelas,” terang Flora. Sebenarnya, Flora sendiri tidak begitu percaya dengan cerita Andreas. Namun, ia akan memanfaatkan waktu yang tersisa selama dua puluh sembilan hari ini untuk mengenal sosok Gara yang sebenarnya.

“Nggak,” balas Gloria dengan cepat. “Kecuali, jika memang orangnya seperti yang kamu bilang. Adalah apa yang ditunjukkan Gara bukanlah siapa dia yang sesungguhnya,” sambung Gloria. Gloria yang sudah cukup dewasa menanggapi permasalahn hidup. Jelas lebih mengerti bagaimana menilai tentang sesuatu meski hanya melalui cerita singkat adiknya. Lalu, perihal Gara. Gloria berpikir bahwa memang apa yang ditunjukkan Gara selama ini bukan sosoknya yang asli. Namun, hanya sebuah sikap pura-pura untuk sebuah tujuan. Ya, seperti kesenangan tersendiri mungkin. Lantas, jika memang demikian? Apa yang terjadi sebenarnya dengan anak itu?

“Tadi siang sepulang sekolah. Flora pergi nemanin dia ke toko buku. Dan Kakak tahu, nggak, dia beli buku apa?”

Gloria menggelengkan kepala.

“Dia anak IPS. Tapi, buku yang dibelinya buku genetika dan beberapa buku lain yang berhubungan dengan dunia medis,” terang Flora tentang satu keanehan yang ia temukan dari sosok Gara. Ya, siapapun juga pasti akan bingung dengan Gara.

“Apa kamu tahu latar belakang keluarganya seperti apa?”

Flora menggeleng. Bagaimana bisa Flora tahu tentang latar belakang Gara? Kenal saja karena sebuah kebetulan yang membuatnya terjebak dengan alur yang diciptakan laki-laki itu. “Flora kenal kan baru beberapa hari, Kak. Lagian Flora juga nggak mau banyak tahu tentang Gara kok. Flora nggak mau, ya, bermasalah dengan orang lain gara-gara Gara.”

“Kamu yakin nggak mau tahu tentang Gara?”

Flora terdiam. Ia ingin mengiyakan, tetapi nalurinya menolak. Flora memang penasaran pada sosok Gara. Jujur.

“Kakak saja penasaran dengan Gara,” ucap Gloria. “Kakak nggak yakin kalau memang Gara aslinya sosok yang nakal. Dari cerita kamu Kakak bisa membaca itu.”

Kening Flora mengkerut.

“Kamu lupa Kakak siapa?”

Flora menepuk keningnya. Bisa-bisanya ia lupa bahwa kakaknya seorang mahasiswa Psikologi yang kini menempuh pendidikan S2. Pantas saja Gloria bisa membaca dengan mudah apa yang ia ceritakan tadi.

“Kalau kamu memang mau tahu siapa Gara. Kakak bisa kasih tahu kok bagaimana caranya.”

“Bagaimana?”

“Lho, tadi katanya nggak mau tahu. Kok sekarang malah penasaran.” Gloria tertawa kecil. Apalagi melihat ekspresi adiknya yang mendengus kesal.

“Ya, kan biar Flora tahu harus bagaimana nanti. Masih tersisa dua puluh Sembilan hari untuk menjadi pengikutnya Gara,” balas Flora. Hanya dalih. Padahal, ia memang ingin sekali tahu bagaimana caranya agar tahu siapa Gara.

Gloria menatap Flora dengan serius. “Kamu hanya butuh pendekatan dengannya. Orang seperti Gara, nggak akan bisa menunjukkan siapa dia sebenarnya kalau kamu masih ketus. Tapi, kamu harus bersikap lembut.”

Flora terdiam.

“Kakak yakin, pasti ada sesuatu yang menyebabkan menjadi seperti ini. Dan biasanya itu terjadi karena tekanan orang dekatnya.”

Apa iya? Lalu siapa yang melakukannya? Flora melihat bagaimana hubungan Gara dengan ketiga temannya baik-baik saja. Lalu … Oh, apakah keluarganya?

“Kemudian tekanan itu membuat Gara membutuhkan ruang atau tempat untuk bicara. Tapi, sepertinya memang dia belum punya itu.”

Artinya, Gara tak memiliki teman untuk cerita? Lalu, apa gunanya ketiga temannya?

“Dia punya teman, Kak.”

Gloria tertawa mendengar kepolosan adiknya. Ia kemudian menyentuh puncak kepala gadis itu dengan lembut. “Sini deh, Dek. Kakak kasih tahu. Kamu punya banyak teman nih, tapi apa semua temanmu itu bisa membuatmu nyaman untuk cerita? Nggak, ‘kan?”

Flora mengangguk.

“Nah, itulah yang terjadi pada Gara. Dia belum menemukan sosok yang bisa ia jadikan tempat untuk cerita. Sebab itulah, dia melakukan apa saja yang bisa membuatnya senang. Tapi, ini hanya praduga, ya, Dek. Kakak nggak tahu pastinya Gara itu sebenarnya seperti apa.”

Flora hanya diam.

“Tapi, kamu bisa mencoba kok lebih dekat sama dia. Nanti kamu akan tahu sendiri siapa Gara sebenarnya.

Mungkin benar apa yang dikatakan Gloria. Flora hanya butuh pendekatan dengan Gara untuk tahu lebih jauh tentang anak itu. Hm, terlepas dari Flora yang dijadikan budak oleh laki-laki itu. Flora akan melakukannya untuk menemukan sosok Gara yang sebenarnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!