Sesuai apa yang dikatakan Gara pada Flora di UKS pagi tadi. Laki-laki itu sudah menunggu Flora di parkiran sekolah. Ia sudah meminta ketiga temannya untuk pergi lebih dulu. Namun, Gara tak memberitahu jika kali ini ia akan pergi bersama Flora. Gara sendiri tidak tahu kenapa ia tiba-tiba mengajak gadis itu pergi. Ucapannya lolos begitu saja tadi pagi. Dan Flora tidak bisa menolak, karena gadis itu jelas merasa terikat karena perjanjian yang tercipta akibat ketidaksengajaan yang dibesar-besarkan oleh Gara.
Gara mengedarkan pandangan sebab sejak lima belas menit yang lalu ia sudah menunggu. Ia tidak tahan saja dengan godaan gadis-gadis genit di sana. Hal yang sungguh membuat Gara muak.
Gara menghela napas panjang ketika melihat Flora datang dengan wajah kusutnya. Namun, entah kenapa Gara merasa hal itu terlihat sangat lucu. Detik berikutnya, ia sadar akan isi kepalanya dan menepisnya cepat.
“Lama banget lo,” cibir Gara.
“Lo kira-kira dong. Gue kan harus beresin buku-buku gue dulu,” balas Flora tak mau disalahkan. Ia kemudian menatap motor sport yang terparkir di hadapannya. Lalu, beralih menatap Gara dengan alis terangkat. “Lo nggak lagi bercanda ‘kan mau ngajak gue naik motor?” tanya Flora dengan suara terdengar sangat ragu. Bukannya Flora tidak mau. Namun, ia masih mengingat bagaimana kondisi Gara yang sempat mengalami demam tinggi.
“Terus mau lo naik apa? Helikopter?” Gara tersenyum miring. “Kira-kira juga dong. Ini sekolah memang gede. Tapi, sayang nggak ada helipad-nya.”
“Gar, gue nggak mau, ya, mati muda,” ucap Flora lagi.
“Maksud lo apaan sih? Yang mau bunuh lo juga siapa?”
Flora melirik name tag Gara. “Sagara Casildo Xander, lo lupa, ya, bagaimana kondisi lo? Kalau lo kenapa-napa di jalan gue juga yang bakalan kena. Sudah, ah, gue nggak mau pergi.”
Gara langsung menarik lengan Flora. Ia mendekatkan wajahnya dengan Flora dan menatap lekat bola mata gadis itu. “Sebelum lo kenapa-napa. Gue yang sudah memastikan lo akan baik-baik saja,” ucap Gara dengan pasti dan tanpa terdengar keraguan di setiap kata yang mengalir dari bibir bak buah cherry itu.
Flora tertegun. Ia kepayahan menelan salivanya. Wajah Gara begitu dekat dengannya. Ia bahkan bisa merasakan deru napas laki-laki itu menyentuh permukaan kulitnya. Sungguh baru kali ini Flora terjebak dalam situasi seperti ini. Dan itu sukses membuat jantung berdegup kencang. Belum lagi dengan cara bicaranya Gara yang terdengar jauh berbeda dari biasanya.
“Ayo naik.”
Flora tersentak mendengar suara berat itu. Ia lalu menaiki motor Gara. Hal itu tentu saja sukses menjadi pusat perhatian siswa-siswa yang masih tersisa di area parkir. Tak ayal juga ada yang memanfaatkan moment tersebut dengan mengambil foto Flora dan Gara.
“Pakai ini untuk melindungi kepala lo. Dan ini untuk melindungi aurat lo.” Gara menatap ke arah paha putih mulus Flora yang terekspos sebab rok gadis itu yang terbilang pendek.
Flora mengarahkan pandangan ke arah di mana pandangan Gara jatuh. Ia kemudian meraih dua benda yang diberikan Gara padanya dan memakainya.
Gara membawa motornya meninggalkan area sekolah. Ia tak mempedulikan tatapan orang-orang padanya. Namun, tidak dengan Flora. Gadis itu merasa ceritanya akan dimulai hari ini. Cerita yang akan berbeda dari sebelumnya. Sebab, banyak mata yang menangkap bagaimana ia berboncengan dengan seorang preman sekolah, tetapi tetap mencari incaran para siswi.
“Jangan takut. Gue yang akan tanggung jawab kalau ada yang ganggu lo setelah ini,” ucap Gara dengan nada suara yang ia naikkan beberapa oktaf agar terdengar oleh Flora dan tak tenggelam oleh deru angin. Ia tahu Flora pasti merasa tidak nyaman. Gara menarik tangan Flora dan melingkarkan tangan gadis itu di perutnya. “Gue mau ngebut. Jadi lo harus pegangan.”
Flora hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu oleh Gara. Ya, Flora juga tidak mau tergelincir di tengah jalan raya hanya karena tidak mau berpegangan pada laki-laki itu.
˚˚˚˚˚
"Katanya mau ke toko. Eh, malah parkir di apotek," celetuk Flora ketika turun dari motor sport milik Gara. Ia mencebik kesal. Rasanya laki-laki tengah mempermainkannya.
"Lo bisa, nggak, sih nggak usah banyak protes?" Gara menyentil pelan hidung kecil, tetapi runcing milik Flora. "Lo tunggu di sini. Gue nggak lama," ucap Gara dan meninggalkan Flora sendiri.
Flora mengibaskan tangannya di depan wajah sebab merasa kepanasan, sebab siang ini hari begitu terik. Padahal, tak lama lagi musim akan segera berganti. Ia mendengus kesal karena yang tak kunjung ke luar dari apotek. Hingga ia memutuskan untuk menyusul Gara. Namun, sebelum keputusannya terlaksana, atensi Gara lebih dulu muncul. Dan itu berhasil membuat Flora bernapas lega.
"Lama banget sih."
"Salahin saja petugasnya sana," balas Gara dengan santai dan langsung menaiki motornya. Ia menuntun Flora untuk naik juga. Lalu, membawa kendaraan tersebut melaju kembali membelah jalanan jantung kota Surabaya.
Tak jauh dari apotek, Gara kembali berhenti tepat di sebuah toko buku terbesar di Surabaya. Ya, toko buku langganan Gara tentunya. Gara dan Flora lalu berjalan bersama memasuki bangunan bertingkat dua tersebut.
"Eh, Gara. Sudah lama, ya, nggak datang ke sini," sapa salah satu pegawai yang ada di toko buku itu. Hal itu jelas membuat Flora bingung. Gara si badboy dan preman sekolah. Siapa yang tak tahu itu? Namun, terkesan mengherankan, bukan, jika seseorang yang terkenal dengan kenakalannya ternyata sering datang ke toko buku? Bahkan, Flora saja yang notabene adalah gadis yang rajin dan selalu menjadi juara kelas hanya beberapa kali saja mengunjungi bangunan yang dipenuhi buku-buku itu. Flora semakin penasaran. Siapa sebenarnya sosok Gara?
"Iya, Kak. Gara baru sempat," balas Gara dan tersenyum manis. Manis sekali. Senyuman yang pernah laki-laki itu pertontonkan dengan sembarangan. Dan Flora, adalah gadis pertama yang bisa menikmati senyum langka itu.
Gara. Di mata Flora, laki-laki itu kini tampak seperti sesosok misterius. Apa yang selama ini ia ketahui tentang Gara begitu terbalik dengan apa yang ia lihat sekarang. Siapa yang bisa diperlakukan dengan sopan oleh seorang Gara? Hanya laki-laki berpakaian seragam toko itu saja. Ya, itu yang Flora lihat pertama kali. Sebab, pada guru saja Gara masih bisa bersikap petakilan.
"Kak, buku yang Gara cari bulan lalu apa sudah ready stock?" tanya Gara pada laki-laki yang biasa ia panggil Kak Andreas itu.
"Buku Genetika, Gar?"
Gara menganggukkan kepalanya pasti. Hal itu lagi-lagi sukses membuat Flora bingung. Bagaimana bisa anak IPS justru mencari buku tentang genetika? Terlalu kontras dengan jurusan yang diambil, bukan?
"Nggak usah bingung kayak gitu. Nggak lucu."
"Yang mau ngelawak di depan lo juga siapa sih?" kesal Flora. Ia mengembuskan napas kasar. Entah kenapa Gara selalu membuat kesal hatinya. Everybody! Selamatkan Flora dari kelakuan Gara.
Andreas hanya bisa menahan tawanya melihat kelakuan Gara dan Flora. Ia tidak tahu ada hubungan apa di antara remaja yang berdiri di hadapannya itu. Mungkin ada hubungan spesial, pikir Andreas. Sebab, baru kali ini Gara membawa seorang gadis bersamanya. Namun, jika memang iya, kelakuan dua remaja itu seperti saling memusuhi satu sama lain. Ah, sudahlah. Biasa anak remaja seperti itu. Paling-paling ending ceritanya mereka akan sama-sama jatuh cinta, pikir Andreas lagi.
"Sudah ada, Gar. Di rak buku sana, ya," ujar Andreas seraya menunjuk rak panjang yang di bagian selatan toko buku itu. "Mau Kakak yang ambilkan atau ambil sendiri?"
"Biar Gara ambil sendiri saja, Kak," balas Gara dan pergi menuju rak yang ditunjuk Andreas. Ia tak berniat mengajak Flora dengannya.
"Kalian pacaran?" Andreas membuka suara lagi setelah kepergian Gara. Ia menatap Flora dan tersenyum tipis.
Flora dengan cepat menggelengkan kepala. "Nggak. Siapa juga yang pacaran sama preman sekolah macam Gara."
Andreas terkekeh. Ia kemudian mengulurkan tangannya ke arah Flora. "Gue Andreas."
Flora menatap sejenak tangan Andreas. Lalu, menjabatnya. "Flora."
"Ada banyak hal yang nggak orang ketahui tentang Gara. Kenakalan yang orang-orang lihat itu hanya sebuah alasan mencari kesenangannya sendiri. Itu menurut gue," terang Andreas seraya melihat Gara yang sibuk memilih buku-buku dan menumpuknya di tangan. "Kalau memang kenakalan itu benar-benar mendarah daging di dalam diri Gara. Apa lo percaya kalau anak nakal, badboy, dan preman sekolah mau menginjakkan kaki di tempat seperti ini?"
Flora terdiam. Dalam hati gadis berambut sebahu itu membenarkan ucapan Andreas.
"Lo tahu 'kan bagaimana prestasi Gara di sekolah?"
Flora lagi-lagi menggelengkan kepala. "Gue anak baru di SMA Rajawali."
Andreas mengangguk paham. "Pantas saja lo nggak tahu. Kalau gue cerita, lo pasti nggak bakalan percaya bahwa anak seperti Gara bisa mengharumkan nama sekolah."
Kening Flora mengkerut dalam. Apakah iya?
"Maksud lo bagaimana?"
"Nanti lo juga akan tahu sendiri," balas Andreas. "Gue cuma mau bilang sama lo. Lo hanya butuh waktu untuk bisa membuka topeng yang digunakan oleh Gara setiap hari. Dan jika lo sudah berhasil, jangan sekali-kali merasa kasihan," terang Andreas. Lalu, ia permisi undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya.
Flora hanya bisa terdiam. Ia tertegun mendengar ucapan Andreas di kalimat terakhirnya. Topeng? Apakah yang selalu Gara tunjukkan hanya kepura-puraan?
Flora tersentak ketika pundaknya tersenggol pelan.
"Selain ngoceh, lo doyan ngelamun juga?"
Flora masih terdiam.
"Nih bantu gue bawa bukunya ke meja kasir," ucap Gara dan memberikan sebagian buku yang sudah ia tumpuk untuk di bawa ke kasir.
"Lo yakin mau beli buku sebanyak ini?"
"Menurut lo?" Gara pergi begitu saja.
Flora menatap satu per satu judul buku yang ada di tangannya. Dari sekian buku yang ia pegang, hanya ada satu buku yang berhubungan dengan jurusan laki-laki itu. Sisanya hanya buku-buku yang menjurus pada dunia medis dan kedokteran. Aneh. Tentu saja.
Mungkin benar apa yang dikatakan Andreas. Flora hanya butuh waktu untuk membongkar sisi lain seorang Gara. Dan Flora memutuskan untuk melakukannya. Ia penasaran dengan laki-laki itu. Ia penasaran dengan sosok Gara yang sebenarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments