Chan membawa langkahnya menuju kamar sang adik. Seperti biasa, di tangannya sudah terdapat nampan berisi sepotong sandwich dan segelas susu. Kali ini, ia sendiri yang bergelut di dapur menyiapkan makanan favorit adiknya itu untuk sarapan pagi ini. Sebab, jika ia membawa makanan yang dimasak oleh Olivia, ia yakin akan mendapatkan penolakan dari Gara seperti sebelum-sebelumnya. Memang luka di hati Gara begitu mempengaruhi banyak di hidup anak tujuh belas tahun itu. Ya, memang sejatinya Chan tidak pernah tahu betul seberapa besar luka menganga yang ada di dalam diri Gara. Namun, ia yakin pasti lebih besar dari luka-luka di sekujur tubuh Gara bekas pukulan Edward.
Semalam, ia meninggalkan Gara begitu saja di kamarnya sendiri dengan luka yang masih basah. Bukannya ia tega dan tak peduli dengan adiknya. Namun, ia sangat merasa bersalah atas apa yang menimpa Gara. Karena tubuhnya yang ringkih, Gara-lah yang menanggung imbasnya. Lalu, ia tidak bisa berbuat banyak untuk menolong adik semata wayangnya itu. Alih-alih menolong orang lain, untuk mengurus dirinya sendiri saja Chan tidak bisa. Ia hanya bisa mengandalkan Olivia dan Edward. Juga Gara yang tentu saja dituntut untuk menjaganya.
Chan mengetuk pintu kamar Gara dengan pelan. Ia tahu adiknya tidak suka diganggu saat tertidur. Dan sebisa mungkin Chan tidak melakukan sesuatu yang kemudian membuat Gara marah. "Dek, Abang boleh masuk, nggak? Abang bawain sarapan untuk Adek," seru Chan. Ya, meskipun seruannya jelas akan terdengar lirih.
Hening. Tak seperti biasanya Gara selalu menjawab. Chan kemudian memberanikan diri memutar kenop pintu kamar Gara. Ia takut jika adiknya kebablasan tidur dan terlambat berangkat ke sekolah. Dan yang lebih membuat takut adalah kondisi Gara. Chan takut jika adiknya mengalami sakit. Namun, ketika pintu itu terbuka. Chan hanya menemukan ruangan yang gelap. Hal itu membuat kening Chan mengkerut dalam. Chan tahu adiknya takut kegelapan. Jadi, tidak mungkin Gara mematikan lampu kamarnya jika masih di sana.
Dengan sebelah tangan yang bebas memegang pinggiran nampan, Chan meraba dinding untuk mencari saklar lampu. Ia menekannya dan menjadikan kamar dengan nuansa abu tua itu tampak benderang. Sepi. Tak ada Gara di sana. Ruangan yang selalu dijadikan tempat pulang adiknya itu juga sudah rapi, tak ada barang berserakan di lantai seperti yang terakhir ia lihat semalam sebelum meninggalkan kamar itu. Lalu, ke mana Gara?
Chan mengedarkan pandangan. Barangkali ia bisa menemukan sosok adiknya di lain tempat selain tempat tidur. Nihil. Bahkan, tak terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Itu artinya, Gara tidak ada juga di sana. Chan bergerak menuju balkon kamar. Chan hanya menemukan asbak yang sudah penuh dengan puntung rokok. Lagi-lagi Chan menggelengkan kepala melihat itu. Entah sejak kapan adiknya belajar mengonsumsi barang bernikotin itu.
Tak menemukan atensi adiknya di dalam kamar memaksa Chan ke luar. Ia tidak tahu ke mana perginya Gara pagi-pagi. Atau mungkin Gara pergi saat tengah malam?
Sebelum Chan sempat menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Atensi Mbok Fiah berhasil tertangkap sepasang mata sayu di balik kacamata tebal milik Chan. Chan tak ingin membuang waktu. Ia menyerukan nama pembantunya itu. "Mbok Fiah!"
Wanita yang rambutnya sudah berubah warna itu langsung menoleh. Kemudian, tersenyum dan langsung mendekati si sulung. "Iya, Mas Chan. Ada apa?"
"Mbok tahu di mana Adek? Chan cari di kamarnya nggak ada," tukas Chan.
"Oh, Mas Gara. Dia sudah berangkat pagi-pagi banget, Mas. Katanya ada tugas yang harus dikerjakan," terang Mbok Fiah sesuai informasi yang ia dapatkan dari anak bungsu majikannya pagi tadi.
Chan menghela napas panjang. Tugas seperti apa yang Gara kerjakan sampai pergi ke sekolah pagi-pagi buta? Apakah adiknya itu tidak mengerjakan PR-nya? Akan tetapi, Chan tahu siapa Gara. Adiknya itu meskipun dikenal nakal dan petakilan, tidak pernah sampai melalaikan tugasnya. Chan merasa ada yang aneh dengan Gara pagi ini. "Hm, ya sudah, Mbok. Terima kasih," ujar Chan. "Mbok, boleh minta tolong taruh di atas meja sarapannya?"
"Iya, Mas Chan. Sini." Mbok Fiah mengambil alih nampan tersebut dari tangan si sulung. Lalu, bergegas lebih dulu turun ke lantai dasar di mana ruang makan berada. Dan Chan menyusul kemudian.
Langkah gontai yang lagi-lagi tuannya kehilangan semangat itu bergerak menuju ruang makan di mana sudah ada Edward dan Olivia di sana. Sapaan selamat pagi kedua orang tuanya tak ia indahkan sama sekali dan untuk pertama kali. Chan kecewa? Jelas! Meski ia tidak melihat langsung adegan semalam, tetapi Chan sudah bisa menerka apa yang terjadi. Apalagi setelah melihat luka lebam di tubuh adiknya sukses membuat rasa kecewa Chan semakin membara.
Kenapa dunia seolah berlaku tak adil untuk Gara? Anak itu masih terlampau muda untuk menerima kenyataan yang Chan sendiri tak bisa bayangkan bagaimana menyakitkannya. Ya, memang semuanya karena Chan yang ringkih. Andai saja kala itu ia tidak nekat merebut bola basket milik adiknya yang sekarang entah disita di mana oleh Edward. Mungkin cerita tentang gara-gara Gara tidak akan pernah ada. Dan hal-hal baik akan terus berpihak pada adiknya seperti dulu.
"Abang bikin sarapan sendiri, ya, Sayang?" tanya Olivia saat melihat nampan yang diletakkan Mbok Fiah di hadapan Chan. Namun, anak itu tak merespons ucapan ibunya. Chan hanya menggerakkan tangannya dan memasukkan sepotong sandwich yang harusnya disantap oleh Gara ke dalam mulutnya tanpa suara.
Olivia menatap Edward dengan tatapan penuh tanya. Namun, Edward hanya menggelengkan kepala. Edward sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan putra kesayangannya itu. Edward lantas menatap lekat Chan yang hanya menunduk seraya menikmati sarapannya. "Ada apa, Bang? Ada masalah?"
Suara Edward terdengar sangat lembut di indra pendengaran Chan. Sangat kontras ketika pria itu bicara dengan Gara. Dan, Chan. Anak itu masih tak mempedulikan pertanyaan Edward. Ia masih fokus dengan sandwich buatannya.
"Abang sudah selesai. Abang ke kamar dulu," ucap Chan setelah menyelesaikan sarapannya. Ia bangkit dari kursi dan beranjak pergi. Namun, cekalan pelan di lengannya berhasil menghentikan langkah Chan. Ia tak menoleh. Ia hanya menurunkan pandangan melihat siapa pemilik tangan itu.
"Kenapa, Ma?" tanya Chan tanpa berniat menoleh ke belakang.
"Kalau Mama atau Papa ada salah. Kami minta maaf, Bang. Tapi, jangan diam seperti ini. Mama dan Papa tidak tahu harus berbuat apa."
Chan tersenyum kecut. "Harusnya Papa sama Mama minta maaf ke Adek. Bukan Abang. Kalian sudah banyak membuat kesalahan sama Adek," ucap Chan dengan nada dingin. Ia kemudian menurunkan tangan Olivia yang berusaha menahannya.
Olivia terdiam. Ia menatap ke arah Edward. Lalu, bertanya-tanya. Apakah Chan tahu tentang kejadian semalam? Atau Gara yang mengadu?
"Jangan tanya dari mana Abang tahu tentang sikap Papa dan Mama. Abang tahu betul semuanya," ujar Chan. Ia kemudian membalik badan. Menatap kedua orang tuanya secara bergantian. "Apa yang Papa dan Mama lakukan hanya membuat Abang sama Adek semakin renggang. Kalian sudah membuat usaha Abang gagal total. Sekarang, Adek semakin benci sama Abang." Chan melampiaskan kekecewaannya.
Pasangan suami istri itu hanya bisa terdiam.
"Harusnya bukan Adek yang Papa dan Mama salahkan. Semuanya salah Abang. Abang yang sudah merebut bola Adek dan main," terang Chan tentang sebuah peristiwa yang menjadi awal mula kisah sekarang. Kisah yang semuanya hanya merujuk pada kalimat "gara-gara Gara".
"Kamu nggak perlu ngebela dia, Bang. Papa lihat sendiri dia membiarkan kamu main," ucap Edward menentang pernyataan Chan.
"Apa yang terlihat tak selalu sama seperti yang dipikirkan. Itulah kenapa Papa harus memfungsikan telinga Papa untuk mendengarkan," balas Chan dengan berani. Ia melihat Edward dengan wajah yang sudah merah padam menahan amarah. Ia tahu ayahnya bukan tipekal orang yang suka ditentang. Namun, jika Chan tidak melakukannya, itu artinya ia tidak bisa membela adiknya sendiri.
"Papa mau marah?" tanya Chan terdengar menantang. "Abang bukan Adek yang nggak berani melawan Papa. Karena, Abang bukan Adek si bodoh itu." Kesal. Chan kesal dengan kebodohan adiknya yang hanya pasrah atas perlakuan Edward.
Edward menggebrak meja makan dan sukses membuat Chan dan Olivia tersentak. "Apa kamu sudah diracuni sama anak pembawa sial itu, Chan?"
Chan terdiam. Hentakan di dalam detak kehidupannya itu berhasil menciptakan denyut nyeri yang teramat. Ya, Anemia Sel Sabit yang ia derita itu sudah berhasil merusak jantungnya juga. Hal itu membuat Chan semakin tersiksa hampir setiap detiknya. Seperti saat ini, misalnya.
Tangan Chan refleks menyentuh bagian yang menciptakan dentuman menyakitkan itu. Sedang Olivia menatap Edward dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa Edward lupa akan pantangan Chan. "Papa keterlaluan," ujar Olivia dan meraih tubuh Chan.
Chan yang tak memiliki daya pun pasrah. Lalu, ia berbisik lirih. "Apa jika Adek sakit, sikap Mama akan seperti ini juga?" Ia pandang wajah khawatir Olivia. "Adek sakit, Ma. Adek juga butuh perhatian Mama."
"Hm, Bang. Mending sekarang Mama bantu Abang ke kamar, ya. Minum obat dan istirahat."
Embusan napas kasar Chan terdengar. Ibunya terlalu pandai mengalihkan topik. Apalagi tentang Gara. Wanita itu kentara sekali selalu menghindari pembahasan tentang si bungsu. "Kalau Abang pergi, Mama nggak akan punya siapa-siapa lagi selain Adek," lirih Chan dan sukses membuat hati ibunya mencelos. Begitu juga dengan Edward yang sayup-sayup bisa mendengar ucapan Chan.
"Abang akan sembuh. Mama nggak akan biarin Abang pergi ke mana-mana," ucap Olivia dengan cepat. "Abang akan selalu di sini sama Mama dan Papa."
"Adek?"
Olivia lagi-lagi dibuat bungkam. Apakah sekarang ia harus memaafkan Gara? Namun, melihat wajah anak itu saja sudah berhasil membuat amarah Olivia memuncak. Ia teringat bagaimana Chan yang dulu dibuat meregang nyawa oleh kecerobohan Gara.
"Pasti Mama nggak mau sama Adek, 'kan?" Chan berusaha melepaskan pegangan tangan ibunya. Ia tersenyum miring. "Ya sudah, Ma. Memang susah menjelaskan pada orang yang tak menggunakan hati," sambung Chan dengan nada sarkas. Ia kemudian berjalan tertatih meninggalkan dua manusia yang kerapkali menciptakan luka di hati dan fisik adiknya.
Olivia. Hanya bisa tertegun melihat wajah kecewa si sulung. Ia merasa gagal menjadi seorang ibu. Namun, memaafkan Gara bukan juga perihal sepele.
Edward. Pria itu masih dengan wajah marahnya. Ia tidak suka dengan sikap Chan yang kini sudah berani melawannya. Apalagi hanya untuk membela Gara si pembawa sial dan pembuat onar di dalam keluarga Xander.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments