"Ketemu di perempatan arah rumah gue."
Kening Hansiel mengkerut saat membaca pesan yang dikirimkan Gara padanya. Aneh sekali, pikir Hansiel. Tadi sore, anak itu memilih pulang lebih dulu tanpa alasan yang jelas. Lalu, sekarang tiba-tiba mengirim pesan untuk menemuinya di perempatan. Tak biasanya Gara seperti ini. Biasanya anak itu jika sudah pulang ke rumah, tidak akan lagi ke luar. Dan ini benar-benar tumben sekali.
Jika Hansiel bertanya ada apa. Percuma. Gara pasti tidak akan membalas pesannya. Sebab itu, Hansiel yang baru saja ingin turun ke meja makan untuk makan malam bersama keluarganya pun harus mengurungkan niatnya. Ia harus turun untuk meminta izin pergi.
Di anak tangga terakhir, Hansiel melihat atensi kakaknya yang sepertinya akan beranjak ke ruang makan. Ia memanggil sang kakak dengan keras. "Teteh!" Hansiel berlari kecil mendekati kakaknya.
"Kenapa, Hans?"
Hansiel menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal sama sekali. Sebenarnya, ia tidak enak hati jika harus pergi di waktu yang seharusnya ia ikut berkumpul dengan keluarganya. Namun, bohong juga jika ia mengatakan tidak khawatir pada Gara. Anak itu ke luar malam-malam pasti karena sedang ada masalah.
"Kenapa sih, Hans? Aneh banget," ucap Shareena yang melihat tingkah adiknya tampak aneh.
"Hans boleh pinjam mobil Teteh?"
"Mau ke mana?" Shareena menatap selidik adiknya. "Jangan bilang mau keluyuran."
Hansiel menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak kok, Teh. Hans mau nyusul Gara."
"Bohong. Padahal, sore tadi Teteh lihat Gara pulang dari sini."
Hansiel langsung memperlihatkan pesan yang dikirimkan Gara padanya. "Teteh percaya 'kan sekarang sama Hans?"
Shareena terdiam sejenak. Meski pada akhirnya mengangguk.
"Hans takut terjadi apa-apa sama Gara. Kali ini saja, Teh." Hansiel memohon pada kakaknya.
"Ambil sendiri di kamar Teteh. Teteh malas balik," ujar Shareena dan meninggalkan adiknya.
"Wah! Teteh baik deh. Terima kasih," seru Hansiel dan bergegas ke kamar sang kakak untuk mengambil kunci mobil. Sebenarnya, bisa saja ia menggunakan motornya. Hanya saja, ia malas harus terkena angin malam yang bisa-bisa membuatnya mengalami demam nanti. Maka, untuk cari aman, Hansiel memilih untuk meminjam mobil milik kakaknya.
Hansiel membawa mobil sang kakak melaju di tengah jalan yang gelap. Ia melajukan kendaraan roda empat itu dengan kecepatan tinggi, sebab khawatir pada kondisi Gara. Sebagai seseorang yang sangat dekat dengan Gara, Hansiel jelas merasakan bahwa ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu hingga memintanya bertemu. Namun, untuk lebih jelasnya Hansiel tidak tahu apa yang terjadi. Sebab itulah ia ingin segera tiba dan melihat Gara secara langsung.
Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh menit untuk Hansiel tiba di tempat yang sudah diberitahu oleh Gara. Ia meminggirkan mobil yang ia kendarai di pinggir jalan. Lalu, ke luar dan melihat Gara yang duduk di trotoar dengan kepala tertunduk dalam. Apa yang dilakukan anak itu di pinggir jalan, pikir Hansiel. Ia lantas mendekat dan menepuk pundak sahabatnya. Betapa kagetnya Hansiel melihat darah yang sudah mengering di sekitar wajah Gara. "Astaga, Gar! Lo kenapa? Itu muka lo kenapa ada darah sih?"
Gara menyentuh pelipisnya yang terluka akibat benturan di lantai kamarnya. "Luka kebentur lantai," jawab Gara dengan santai.
Hansiel lebih kaget lagi melihat tangan Gara yang juga terluka. "Tangan lo juga tuh kenapa?"
"Habis nonjok kaca lemari. Gue kira bakalan sekuat pesulap. Nyatanya nggak," jawab Gara terdengar ngawur. Ia kemudian tertawa mendengar ucapannya sendiri.
"Becandaan lo nggak lucu, Bangs*t!" Hansiel kesal. Jelas. Ia yang sudah terlanjur khawatir justru diajak bercanda oleh Gara.
"Gue nggak becanda. Gue memang habis nonjok kaca lemari gue. Terus luka," ujar Gara seraya menunjukkan tampang polosnya. Hal itu membuat Gara mendapatkan toyoran pelan di kepalanya.
"Ngadi-ngadi memang. Sadar diri lo manusia biasa. Nyawa cuma satu dipermainkan," kata Hansiel masih dengan rasa kesalnya. Ie kemudian duduk di samping Gara. "Apa saja yang luka? Perlu ke rumah sakit, nggak?" tanya Hansiel.
"Lebay banget, Anjir. Luka kayak gini doang musti banget ke rumah sakit," balas Gara. Padahal, ia sudah merasa pusing karena luka yang tercipta malam ini. Luka yang mengeluarkan banyak darah sepertinya. Sebab itulah, ia memilih berhenti dan tidak melanjutkan perjalanannya yang tanpa arah. Kemudian memutuskan untuk menghubungi Hansiel menemuinya.
Ya, selelah apa pun Gara dengan jalan hidupnya. Jelas ia tidak ingin mati muda. Terlalu bahagia Edward dan Olivia jika ia mati secepat itu. Biarlah ia menikmati hidup dengan sesuka hati meski harus berurusan dengan dua manusia yang hatinya sudah buta itu. Persetan jika nanti kedua orang tuanya akan murka dan memarahinya lagi. Paling tidak, Gara bisa menikmati waktu yang ia miliki.
"Gue bantu obatin deh, yuk! Gue takut nanti malah infeksi."
"Ke rumah sakit?"
"Nggak. Ke kantin sekolah," jawab Hansiel ngarang. "Mobil kakak gue noh. Di sana ada kotak obat," sambung Hansiel seraya menatap ke arah mobil berwarna hitam pekat itu. Ia menarik tubuh Gara yang bergeming. Susah memang menghadapi Gara yang keras kepala. Menghadapi manusia sejenis harus memiliki amunisi yang kuat, yaitu kesabaran ekstra dan tidak baperan. Jika kedua hal itu tidak dimiliki, jangan coba-coba untuk mengendalikan Gara. Bisa-bisa akan terjadi perang dunia ke sekian dan harus baku hantam dengan Gara.
Hansiel mengeluarkan kotak obat milik Shareena dan mulai membersihkan luka di pelipis Gara terlebih dulu. Beruntungnya, Gara begitu patuh dan hanya diam membiarkan Hansiel melakukan apa saja yang diinginkan sahabatnya itu. Tak ada ringisan yang terdengar. Mungkin karena Gara sudah kebal dengan rasa sakit di fisiknya yang nyaris setiap hari ia rasakan. Namun, hal itu justru membuat Hansiel khawatir. Khawatir kalau-kalau nanti Gara tidak akan segan menyakiti dirinya sendiri.
"Gar, lo kalau mau cerita, cerita saja. Jangan diam dan simpan semuanya sendiri," ujar Hansiel tanpa menghentikan gerakan tangannya yang mengobati luka milik Gara. "Itu sama saja dengan menyakiti diri lo sendiri."
Gara masih bergeming. Ia tidak tahu harus memulai dari mana ceritanya. Yang terjadi padanya malam ini terkesan tiba-tiba dan tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sebab, ia merasa tak melakukan kesalahan apa pun.
"Lo lupa, ya, gue siapa? Gue sahabat lo, Gar. Gue memang nggak bisa bantu lo banyak. Tapi, paling nggak gue bisa jadi teman bercerita lo." Hansiel dengan tulus mengucapkannya. Setelah menempel luka di pelipis Gara dengan plester. Hansiel meraih tangan Gara yang juga terluka. Ia mulai membersihkannya dengan telaten.
"Jujur, gue nggak tahu harus mulai cerita dari mana. Gue saja bingung kenapa ini bisa terjadi." Gara tidak berbohong.
"Maksud lo bagaimana?"
"Ya, gue ngerasa ini tiba-tiba banget, Hans. Gue nggak sempat mempersiapkan diri bakalan dapat serangan dari nyokap gue."
Kening Hansiel mengkerut. Ia semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Gara.
"Biasanya gue sudah bisa menduga bakalan kena marah, caci maki, atau pukulan bonyok gue. Ya, lo pahamlah karena gue bikin kesalahan. Tapi, ini gue nggak ngerasa bikin kesalahan apa pun," terang Gara. Kali ini ia bercerita tanpa beban pada Hansiel. Biasanya, ia akan menyembunyikan apa pun yang terjadi padanya. "Gue pulang sore. Gue cuma ngasih medali yang gue dapat. Bonyok gue nggak terima, ya, gue nggak bisa maksa. Gue buang tuh medali sekalian sertifikatnya. Nggak ada gunanya juga 'kan kalau gue simpan. Yang sudah ada saja nggak bisa gue urusin kok."
Hansiel masih terdiam mendengar cerita sahabatnya. Ia masih ingin mendengar lebih jelas kronologi yang menimpa sahabatnya kali ini. Ya, memang Hansiel sering mendapatkan luka di tubuh Gara. Namun, Gara tak pernah mengungkap kronologinya. Paling-paling Gara hanya mengatakan karena kesalahannya.
"Coba deh lo pikir. Salah gue di mana coba?" Pandangan Gara menerawang jauh menembus kaca mobil. Meski yang terlihat hanya jalanan dengan penerangan seadanya dari lampu kendaraan yang berlalu-lalang—tampak remang-remang.
Hansiel masih belum mencerna dengan baik penuturan Gara. Ia memang membaca bahwa tidak ada yang salah. Lantas, apa yang membuat anak itu kembali mendapatkan pukulan?
"Kata gue ini salah si Biang Kerok sih. Tapi, lagi-lagi gue yang kena imbasnya." Gara melanjutkan ucapannya.
Biang Kerok. Hansiel tahu siapa yang dimaksud Gara. Adalah Chan. "Bang Chan kenapa?"
"Dia yang kasih Nyokap gue tuh medali. Eh, malah Nyokap gue nuduh gue memperalat si penyakitan itu agar bisa mendapatkan perhatian. Padahal, gue nggak pernah tuh kayak gitu. Bicara sama dia saja gue malas," ujar Gara dengan nada suara yang santai. Namun, tetap saja terdengar ada luka yang tersembunyi di sana.
"Gar, bisa nggak sih lo nggak bilang si penyakitan sama Bang Chan. Biar bagaimana pun, Bang Chan itu kakak lo." Hansiel mencoba menasihati Gara. Ia sendiri tidak enak mendengar Gara menyebut Chan penyakitan. Lantas, bagaimana dengan Chan sendiri? Pasti sakit sekali. Apalagi yang mengatakan itu adalah orang terdekatnya.
"Kan memang benar dia penyakitan," balas Gara.
Hansiel terdiam. Ia masih belum mengajak Gara bicara sekarang. Anak itu masih diselimuti amarah. Bisa-bisa ia yang saling baku hantam nantinya.
Gara menyandarkan tubuhnya. "Btw, gue lelah, Hans."
"Ya sudah sih istirahat."
"Gue lelah dengan jalan hidup gue, Hans. Tapi, mati muda juga gue nggak mau sih. Nggak lucu 'kan kalau orang setampan gue harus mati muda?"
Meski Gara menyelipkan candaan dalam kalimatnya. Hal itu tak bisa menutupi lukanya. Hansiel merasakan itu. Bagaimana Gara yang ingin menyerah, tetapi keadaan memaksanya untuk tetap berjuang.
"Gue kapan bisa bahagia, ya? Masak iya Tuhan nggak kasihan sama gue sih? Masak Tuhan nggak tahu bagimana lelahnya gue?"
"Tuhan tahu lo kuat. Tuhan tahu lo mampu. Kalau lo lelah, lo bisa istirahat, Gar. Tapi, jangan nyerah." Hansiel menyentuh pundak Gara dan menepuknya pelan.
"Tapi, kalau gue nggak sanggup lagi. Tolong jangan paksa gue lagi, ya, Hans. Sumpah gue capek banget," ucap Gara seraya menatap Hansiel dengan tatapan penuh permohonan.
Hansiel menganggukkan kepala dengan pelan. Ya, meski ia sendiri ragu apakah ia bisa membiarkan Gara menyerah begitu saja. "Hm, mau ke cafe, nggak? Biar kepala lo nggak mumet."
"Motor gue?" tanya Gara dengan tampang polosnya.
"Hubungi suruhan bokap lo lah. Suruh ambil ke sini."
"Sialan!" Meski Gara mengumpat. Ia tetap melaksanakan sahabatnya itu. Ia menghubungi salah satu kaki tangan Edward untuk mengambil motornya. Ya, enaknya menjadi Gara memang ia bisa bebas menggunakan apa pun milik Edward.
"Bagaimana?"
"Aman."
"Gas nih?"
"Hu'um."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments