"Gar, si Angel tuh, pepetin gih!" Evano mendorong pundak Gara yang berjalan di depannya dengan pelan. Ia melihat Angel tengah berdiri bersama teman satu gengnya seraya mencuri pandang ke arah Gara.
Gara menepis tangan Evano dengan keras. Ia kemudian melihat ke arah Angel dan menatap gadis itu dengan malas. Jika pasangan pada umumnya, baru menjalin hubungan dalam beberapa hari harusnya dilewati dengan hati berbunga-bunga. Namun, tidak dengan seorang Gara. Ia justru sangat malas. Ya, tak perlu heran. Ia mengajak berpacaran Angel hanya untuk bersenang-senang saja. Bukan untuk sebuah keseriusan. "Buat lo saja. Gue sudah nggak butuh," balas Gara dengan santai dan melanjutkan langkahnya.
Hansiel tertawa melihat Evano yang mencebik kesal. Hansiel kemudian menepuk pelan lengan Evano. "Lo kalau mau bekasnya Gara, boleh pepetin si Angel, Van."
Evano dan Mazeen langsung menoleh ke arah Hansiel dan menatap laki-laki itu dengan tatapan bingung. "Maksud lo?" tanya Evano dan Mazeen bersamaan meski tak berjanjian sebelumnya.
"Lo pada nggak tahu kalau kemarin selesai main Gara nembak si Angel?" ujar Hansiel. Ia menatap bergantian Evano dan Mazeen yang berjalan di sampingnya. Sedang Gara berjalan tiga langkah di depan mereka. Ya, begitulah pemandangan setiap harinya. Gara seakan menjadi ketua geng di antara mereka berempat. Meski pada dasarnya mereka selalu memposisikan diri sama rata.
Evano dan Mazeen bergerak cepat menyamakan langkah dengan Gara. "Benaran, Gar?" tanya mereka berdua lagi secara bersamaan.
Gara hanya menganggukkan kepala. "Kalau lo pada kesemsem sama si Angel. Nggak apa-apa sekarang gue putusin dia," ujar Gara dengan begitu entengnya. Benar-benar Gara tak merasa bersalah dan berdosa dengan apa yang dikatakannya. Santai mengajak berpacaran, lebih santai lagi ketika memutuskan hubungan. Itulah Sagara Casildo Xander.
Sudah tidak heran lagi bagi Evano, Mazeen, ataupun Hansiel. Mereka sudah tahu betul bagaimana kelakuan Gara. Lalu, mereka hanya bisa geleng-geleng kepala atau tidak hanya tertawa garing sebagai tanggapan. Menasihati pun sudah tak ada artinya lagi. Gara selalu punya jawaban yang sukses membuat bungkam mereka sebagai sanggahan. Jadi, mereka hanya bisa menunggu waktu untuk membuat Gara sadar.
Gara memutar bola mata malas dan menghentikan langkahnya ketika Angel tiba-tiba mendekat. Gadis itu benar-benar genit. Dan Gara tidak suka.
"Hai, Gar. Mau ke kantin, ya?" tanya Angel dengan nada yang dibuat-buat manja.
Gara. Laki-laki itu sudah jijik melihat sikap Angel. Ia menatap Angel dengan tatapan berpura-pura suka dan mendekatkan wajahnya. "Kalau lo nggak mau gue putusin dan buat malu di sini, cepatlah menyingkir dari hadapan gue," ucap Gara dengan penuh penekanan. Setelah itu, ia kembali berdiri tegak dengan evil smirk yang sudah menghiasi wajah tampannya yang selalu menjadi bahan pujian orang-orang.
Angel dibuat ciut nyalinya. Lalu, dengan segera gadis itu berlalu membawa rasa kesalnya. Rupanya tidak mudah menjadi pacar seorang Gara, pikirnya. Namun, tak mengapa. Ia tetap bangga. Karena, menjadi bagian dari seorang Gara adalah impian para gadis-gadis di SMA Rajawali. Dan tentu saja merupakan satu keberuntungan bagi Angel.
"Sadis banget, Njir!" ujar Mazeen. Sedang kedua teman lainnya hanya tertawa. "Kenapa sih lo kayak gitu, Gar?"
"Dia genit. Gue nggak suka," jawab Gara dengan cepat.
"Terus kenapa lo nembak si Angel."
"Mau saja. Buat senang-senang doang kemarin. Buat ngilangin emosi setelah berantem sama si Raymond," jawab Gara lagi. Kemudian, tersenyum miring.
"Memang lo, ya, nggak tahu bedanya mana hati mana mainan," sahut Evano.
"Ajarin, Van. Soalnya gue sudah nggak tahu apakah hati gue masih atau nggak. Soalnya sudah lama juga dipermainkan sama ...." Gara menggantung kalimatnya. Ia tidak bisa mengatakannya. Ia tidak bisa bicara tentang orang-orang yang sudah mempermainkan perasaannya. Bukan lagi sekadar mempermainkan, tetapi sudah tidak peduli.
Hansiel yang paham akan Gara pun angkat suara. "Gar, karena kemarin tim kita menang. Boleh, ya, kalau gue sama lo yang nraktir nih bocah dua." Hansil mengalungkan sebelah lengannya di leher Gara. Sedang sebelahnya lagi ia gunakan untuk menepuk pelan lengan Gara.
Gara menganggukkan kepala. Sedang Evano dan Mazeen tertawa girang.
•••••
Gara dan ketiga temannya asyik menikmati hidangan masing-masing. Hidangan yang kata Gara selalu dibuat oleh ibu kantin dengan penuh cinta. Dan makanan kantin masih menjadi favoritnya daripada makanan di rumah. Apalagi buatan Olivia, ibunya sendiri. Gara enggan untuk memasukkan makanan buatan tangan Olivia ke dalam mulutnya. Namun, Chan yang selalu Gara anggap sebagai biang kerok atas apa yang menimpanya selalu maksanya. Alhasil, perdebatan hebat sampai pukulan keras tak ayal mendarat di tubuh Gara dari orang tuanya. Sudah biasa, tetapi tak membuat terbiasa.
Belum juga Gara sempat menghabiskan makanannya. Seseorang menabrak tangannya dari samping dan membuat sendok yang sudah berisi kuah bakso yang masih panas itu jatuh dan mengenai seragamnya serta sukses mengenai kulitnya. Gara lantas menggeram dalam hati. Ia mengangkat kepala dengan rahang yang sudah mengeras.
“Ups! Sorry, ya, Gar. Gue nggak sengaja.”
Gara menggebrak meja ketika melihat siapa yang sudah berbuat ulah dengannya. Ia berdiri dan tak peduli dengan tatapan seisi kantin sekolah yang menyorotnya. Entah dengan tatapan takut ataupun tatapan kagum. Sebab, meski sedang marah pun Gara tak pernah kehilangan pesonanya di mata para gadis-gadis itu. “Lo kalau mau cari masalah jangan kayak cewek dong main senggol tangan. Kayak gini nih.” Gara tanpa basa-basi melayangkan tinjuan di wajah Zeiden.
Zeiden. Salah satu siswa yang sering terlibat masalah dan perkelahian dengan Gara. Zeiden juga merupakan salah satu bagian dari tim saingan yang ada di SMA Rajawali. Ya, Zeiden dan Gara sudah seperti musuh bebuyutan. Setiap mereka bertemu, selalu saja ada hal yang menjadi masalah dan diperdebatkan. Maka, tak ayal jika mereka sering terlibat dalam perkelahian sehingga membuat para guru sampai bosan menghadapi sikap keduanya. Namun, untuk men-drop out kedua siswa itu para guru harus berpikir panjang. Bagaimana tidak? Zeiden dan Gara adalah dua siswa yang berpengaruh di SMA Rajawali. Zeiden si anak yang orang tuanya merupakan pemilik sekolah dan Gara si tengil yang jenius dan sering mengharumkan nama baik sekolah, baik dari segi akademik maupun non-akademik.
Zeiden yang tak mau kalah pun melawan pun melakukan hal yang sama. Hingga perkelahian besar pun terjadi.
Apakah tidak ada yang mau melerai?
Siapa yang berani melerai mereka berdua? Sebab, melerai sama dengan menjerumuskan diri ke dalam masalah. Maka, para siswa yang ada di kantin hanya bisa menonton perkelahian di antara Gara dan Zeiden.
Pukulan demi pukulan. Tendangan demi tendangan melayang di tubuh masing-masing. Kedua sudah babak belur. Hingga Hansiel dengan berani menarik tubuh Gara ketika Zeiden melayangkan tinjuan. Dan Hansiel berhasil menjadi korban Zeiden kali ini. Hal itu sukses membuat Gara semakin murka. Namun, Hansiel yang masih bisa menahan rasa sakit di bagian punggungnya pun dengan cepat melarang Gara. “Sudah, Gar. Lo nggak mau ‘kan kalau orang tua lo sampai dipanggil lagi ke sini cuma gara-gara lo ngeladenin dia,” ujar Hansiel.
“Beruntung lo kali ini. Sekali lagi lo cari masalah, gue pastiin yang pulang ke rumah tinggal nama lo saja,” ucap Gara dengan penuh ancaman dan tatapan nyalang yang sangat menyeramkan.
Zeiden berdecih. “Lo kira gue takut. Harusnya lo yang takut, karena setelah ini lo bakalan dikeluarkan dari sekolah.”
Gara tersenyum miring. “Dasar banci! Bocil! Bisanya cuma ngandalin kekuasaan orang tua saja.”
“Daripada lo yang nggak dipeduliin sama sekali sama orang tua lo sendiri,” balas Zeiden yang tak mau kalah. Hal itu sukses membuat amarah Gara kembali terpancing. Gara mendorong tubuh Hansiel yang menahannya dan langsung memukul Zeiden berulang kali.
Hansiel yang tidak ingin Gara bermasalah lagi tak menyerah. Ia kembali menarik tubuh Gara. “Lo mau bunuh dia, Gar? Percuma! Masalah lo nggak akan berakhir di situ saja,” ucap Hansiel. Dan kali ini ia membawa pergi Gara. “Urus bayaran makanannya,” ujar Hansiel yang membuat Evano dan Mazeen terdiam.
“Yah, bukannya ditraktir. Malah berakhir nraktir kita nih,” ucap Evano. Kendati demikian, ia dan Mazeen tetap mengurus perihal bayaran makanan yang belum sempat mereka habiskan.
Hansiel membawa Gara ke toilet setelah ia menawarkan langsung ke UKS, tetapi jelas ditolak oleh Gara. Di sana Gara membersihkan luka di wajahnya, terlebih di bagian sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Hansiel yang melihat Gara meringis pun ikut bergidik ngeri. Pasti sangat sakit sekali.
“Harusnya lo nggak terpancing ucapan Zeiden barusan, Gar. Lo tahu ‘kan dia paling senang lihat lo kebawa emosi kayak tadi,” ucap Hansiel. Ia menatap Gara dari pantulan bayangan di cermin toilet sekolah.
Gara tidak menjawab. Siapapun yang menyeret perihal masalah pribadinya pasti akan ia habiskan dengan brutal. Tak peduli jika ia harus masuk penjara atau mati lebih dulu. Ia tidak pernah suka. Apalagi yang dibahas tentang bagaimana perlakuan orang tuanya.
Gara membasahi rambutnya dan menyugarnya ke belakang. “Gampang, ya, Hans, lo bicara kayak gitu. Coba lo berada di posisi gue.”
Hansiel terdiam. Ya, mungkin memang benar apa yang dikatakan Gara. Ia terlalu gampang berucap. Ia tidak tahu bagaimana persis rasanya berada di posisi Gara. Namun, apa yang ia lakukan hanya untuk menghindari Gara dari masalah nantinya.
“Sudahlah, Hans. Balik ke kelas, yuk!” Gara melangkah lebih dulu dan disusul oleh Hansiel.
˚˚˚˚˚
“Hidup gue bakalan nggak tenang, Ra,” ucap Flora. Ia takut sekarang setelah tadi sempat menyaksikan pertengkaran antara Gara dan Zeiden. Setelah ini, ia pasti akan terus dilibatkan oleh Gara nantinya.
“Bakalan lebih nggak tenang kalau lo nggak ngikutin kemauannya Gara,” balas Sora.
“Terus gue harus bagaimana, Ra?”
“Ikutin kemauannya Gara lah, Flo.”
Flora refleks menoyor kepala Sora. “Lo nggak bisa apa kasih gue solusi biar bisa lepas dari Gara. Belum mulai saja gue udah dibuat takut sama dia. Dia seram banget, Ra, pas bertengkar tadi.” Flora membayangkan bagaimana menyeramkan seorang Gara ketika marah. Lalu, ia juga membayangkan bagaimana jika Gara melakukan kekerasan padanya.
“Aarrrggh!” teriak Flora seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Lo kenapa?” tanya Sora panik mendengar teriakan Flora yang begitu tiba-tiba.
“Bagaimana nanti kalau Gara mukulin gue, Ra?” Flora mulai meracau, karena bayangannya tentang sikap keras Gara.
Sora tertawa kecil. “Nggak mungkinlah Gara berani mukulin lo. Selama ini, dia nggak pernah main tangan sama cewek, Flo. Ya, kalau main hati mah sudah nggak bisa dihitung lagi berapa banyak korbannya,” terang Sora. Ya, memang ia tak berbohong. Setengil-tengilnya Gara, sebrutal-brutal kelakuannya, Sora tak pernah mendengar Gara sampai terlibat masalah karena main kasar pada perempuan. Mungkin itulah nilai plus yang dimiliki siswa pemilik nama Sagara Casildo Xander itu.
Meski Sora sudah menjelaskan. Flora tak juga berhenti merasa takut. Ia membayangkan hal-hal buruk akan terjadi padanya. Hingga ia teringat bagaimana Gara memukul Zeiden dengan brutal ketika Zeiden menyebut orang tua laki-laki itu. Lantas, ada masalah apa sebenarnya yang dialami Gara?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments