Perdebatan Larut Malam

Seperti biasa. Gara hanya akan pulang ke rumah ketika jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hal itu ia lakukan untuk menghindari pertemuan dengan ayah dan ibunya. Juga, untuk menghindari luka yang akan disiram lagi dengan air garam. Hingga rasa sakitnya menyeruak hingga ke permukaan dan sangat mengganggu. Lalu, ingin mengadu, tetapi pada siapa. Gara tak punya tempat untuk bicara tentang kesakitannya. Ia hanya memiliki satu teman selama ini. Adalah dinding kamarnya yang mungkin sudah bosan mendengar keluh kesah tentang kesakitannya. Juga tentang rasa lelahnya yang sudah tidak terhitung lagi. Namun, takdir dan semesta mengharuskannya terus melangkah meski ia sudah ingin menyerah.

Gara memarkirkan motor sport-nya di garasi dengan rapi. Membiarkan kendaraan roda dua itu beristirahat dulu sebelum keesokan harinya ia bawa kembali untuk menemani perjalanannya yang kadang tak memiliki tujuan. Setelah itu, ia beranjak untuk memasuki rumah mewah yang sejak kecil ia tinggali meski dengan suasana yang sekarang sudah sangat begitu kontras. Langkah kaki Gara begitu pasti bergerak. Lalu, tangannya membuka pintu utama. Ia masuk tanpa rasa takut seperti biasanya. Sebab, ia yakin Edward dan Olivia sudah menikmati alam mimpinya dengan indah. Begitu juga dengan Chan yang tentu saja setelah mengonsumsi obat-obatannya, Chan langsung istirahat.

Baru saja sebelah kaki Gara memijak anak tangga pertama. Tiba-tiba lampai di lantai bawah itu menyala. Gara tersentak dan refleks menoleh ke belakang. Lalu, yang pertama kali ia lihat adalah Edward yang sudah berdiri dengan tegap dan bersilang dada. Dari mana datangnya pria itu? Bagaimana bisa Gara tidak menyadari keberadaannya?

“Dari mana saja kamu sampai pulang larut begini?”

Suara berat Edward terdengar mengerikan di telinga Gara. Apalagi dengan melihat tatapan Edward kali ini yang sepertinya sudah siap menerkamnya hidup-hidup. Nyali Gara langsung ciut. Seperti kerupuk kulit yang terkena air. “Dari rumah Hansiel, Pa,” jawab Gara dengan nada takut. Ia menundukkan kepala dalam. Senakal apa pun Gara di sekolah. Di rumahnya, ia tak memiliki keberanian untuk bertingkah di hadapan Edward. Ia selalu takut berhadapan dengan pria itu. Sebab, apa pun yang ia lakukan hanya dipandang salah oleh Edward dan berakhir dengan Edward yang memukulnya.

“Kamu punya rumah sendiri. Kenapa kamu malah pulang ke rumah orang lain?”

Gara terdiam. Rumah? Ia menyisir bagian rumah yang bisa tertangkap sepasang almond eyes-nya. Apakah tempat ini pantas disebut rumah? Jika memang iya, kenapa Gara tidak mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan di rumahnya? Kenapa tidak ada lagi rasa nyaman dan aman ketika ia berada di tempat ini? Yang ada hanya ketakutan demi ketakutan yang tak bisa ia ungkapkan pada siapapun.

Edward melangkahkan kakinya dengan lebar mendekati Gara yang masih terpaku berdiri di anak tangga yang menghubungkan ke kamarnya di lantai dua. Dengan kasar Edward meraih dagu Gara dan mengangkat wajah putra bungsunya itu. Lalu, tertawa sinis melihat luka di wajah Gara. Setelah itu, ia mendorong dengan kasar tubuh Gara hingga terjungkal ke belakang yang menyebabkan Gara mengerang kesakitan, karena punggungnya yang berhasil mendarat dengan sempurna pada tangga.

“Mau jadi apa kamu nanti, Gara, kalau yang kamu kerjakan cuma bikin ulah saja di sekolah? Papa mahal-mahal membiayaimu agar bisa membanggakan keluarga. Bukan malah bikin malu karena ulahmu.”

Gara masih belum bisa mencerna dengan baik apa yang diucapkan oleh ayahnya, sebab ia yang sibuk meredam rasa sakit di tubuhnya.

“Kenapa kamu diam?” Edward mendaratkan kakinya tepat di bagian perut Gara. Namun, kali ini Gara berhasil menahan erangannya agar tak ke luar. Ia tidak ingin mengganggu istirahat orang-orang di rumah itu. Khususnya, seorang laki-laki yang ia anggap biang kerok itu. Meskipun Gara membenci Chan, tetapi Gara masih terus memikirkan kakak semata wayangnya itu. Ia memang iri dengan Chan. Namun, ia tidak bisa untuk tidak peduli dengan Chan. Hati nuraninya sebagai seorang adik tidak pernah hilang sedikit pun. Meski ia sering menunjukkan sikap buruk di hadapan Chan.

“Harusnya kamu bisa buat Papa bangga, Gara.”

Gara memberanikan diri menatap wajah ayahnya yang sudah merah padam karena emosi yang memuncak. Rahangnya mengeras. “Memangnya Papa bisa menghargai kerja keras Gara selama ini? Memangnya Papa bisa melihat bagaimana usaha Gara sejauh ini? Medali di dinding kamar Gara apa pernah Papa lirik sebentar saja? Sertifikat yang menumpuk di atas meja belajar Gara pernah Papa baca?” Gara tersenyum miring. Detik berikutnya ia meringis karena rasa nyeri di sudut bibirnya. Namun, ia tak peduli. Ia ingin melampiaskan semua isi hatinya sekarang. Siapa tahu Edward akan sadar. Meski terdengar mustahil.

“Oh, iya, ya. Gara lupa. Papa kan nggak pernah sudi lagi masuk di kamar Gara. Wajar dong Papa nggak tahu apa-apa tentang pencapaian anak bungsu Papa,” sambung Gara. “Mau Gara bawa ke hadapan Papa, nggak, semua yang sudah Gara dapatkan selama ini biar bisa bikin Papa bangga?”

Edward terdiam. Benar apa yang dikatakan Gara. Sejak hari itu, ia tidak pernah lagi masuk ke kamar Gara meski hanya sebentar saja.

“Kenapa Papa diam? Mau membenarkan ucapan Gara, ya?” tanya Gara seakan bisa membaca pikiran ayahnya. Ia tak lagi menatap Edward dengan tatapan benci. Namun, sebaliknya. Gara menatap ayahnya dengan tatapan sendu. “Papa maunya Gara harus seperti apa sih biar Papa bisa melihat Gara seperti seorang anak? Bukan seperti seorang musuh yang kemudian Papa jadikan pelampiasan amarah Papa.”

Edward masih terpaku. Baru kali ini ia melihat Gara berani melawannya.

“Papa masih menuntut Gara untuk menjadi sempurna? Gara sudah berusaha kok, Pa. Tapi, Papa nggak pernah menghargai itu.” Gara menjeda ucapannya. Lalu, ia memperbaiki posisinya meski yang ia lakukan hanya menimbulkan rasa sakit di tubuhnya. “Gara sudah belajar dengan baik. Gara sudah berusaha menjaga Abang sesuai perintah Papa sama Mama. Tapi, apa Papa berubah? Nggak kok. Perlakuan Papa masih saja sama. Jadi, untuk apa Gara melakukan hal itu lagi?”

“Jadi, kamu masih terus mau melakukan hal-hal yang membuat malu keluarga?”

“Kenapa sih harus malu, Pa? Bukannya Papa sudah nggak bisa nganggap Gara seperti bagian dari keluarga ini?”

Plak!

Satu tamparan mendarat di pipi Gara. Dan itu sangat keras sekali hingga kepala langsung menoleh ke samping. Ia memegang pipi bekas tamparan sang ayah. Lalu, memejamkan mata menikmati rasa sakitnya.

“Kamu memang nggak bisa diharapkan, Gar. Kamu bisanya cuma ngelawan dan membangkang.”

“Iya, Pa. Memang apa pun yang Gara lakukan selalu salah ‘kan di mata Papa.”

“Papa nggak akan nyalahin kalau kamu nggak salah.”

Kali ini Gara lepas kendali. Ia bangkit dan berdiri menghadap sang ayah. “Makanya ajarin Gara hal yang menurut Papa benar. Bukan hanya bisa mukul Gara setiap hari. Bisa, nggak?!”

Edward sudah mengangkat tangannya hendak memukul Gara kembali. Namun, yang ia lihat Gara begitu pasrah. Gerakan tangannya lantas berhenti begitu saja tanpa ia kehendaki. Bola mata itu, persis seperti bola matanya. Tatapan itu, sendu sesendu-sendunya.

“Kenapa, Pa? Mau pukul Gara lagi?” Gara tersenyum miring. Pandangannya sudah memburam, karena gradasi air yang tercipta di pelupuk matanya. “Pukul, Pa. Ayo! Bila perlu bunuh Gara sekalian! Biar nggak ada lagi anak yang Cuma bisa bikin Papa malu. Ayo Pa!” teriak Gara dengan keras. Ia sudah tak mempedulikan siapapun lagi sekarang. Ia sudah benar-benar di titik terlelah.

Edward yang tidak bisa menahan emosinya lagi lantas melayangkan pukulan di wajah Gara. Ia juga menendang bagian perut Gara dengan brutal. Hingga erangan Gara terdengar sangat jelas. Lalu, dahak Gara terdengar menyakitkan.

“Papa! Apa yang Papa lakukan? Papa bisa membunuh Gara jika seperti ini.” Olivia memekik dari arah lantai dua dan berlari mendekati Gara. Tanpa sadar ia membantu putra bungsunya itu bangkit.

“Dia pantas mendapatkan semua itu, Ma. Dia sudah bikin Papa malu.”

“Nggak begini caranya, Pa. Papa sudah keterlaluan,” ucap Olivia menyalahkan Edward. Ia memang benci pada Gara. Namun, ia tak pernah sebrutal itu melayangkan pukulan pada putra bungsunya. Dan kali ini adalah perlakuan yang paling keras seorang Edward yang ia lihat.

Gara yang tubuhnya sudah tak berdaya mencoba mencari ke mana tenaganya pergi. Ia menepis tangan Olivia yang menyentuh tubuhnya. “Gara bisa sendiri, Ma,” ucap Gara dan bangkit. Sekali lagi ia menepis tangan Olivia yang lagi-lagi berusaha menyentuhnya. “Nggak usah peduliin Gara, Ma. Gara nggak mau berharap lebih.”

Olivia dan Edward terdiam. Mereka hanya bisa menatap punggung yang sudah basah bekas keringat itu menjauh dari hadapan mereka. Ada rasa sedih yang sebenarnya bergejolak di dalam hati keduanya melihat si bungsu. Namun, jika mengingat kejadian dua tahun lalu, mereka seakan kehilangan akal pikiran. Mereka akan terus menyalahkan Gara.

Gara. Laki-laki itu berjalan tertatih menuju kamarnya hanya dengan bermodalkan berpegangan pada dinding rumah untuk menjaga tubuhnya agar tak ambruk. Belum sempat ia membuka pintu kamar. Ia mendengar suara pintu terbuka dari ruang berbeda. Ia menoleh sejenak. Lalu, tatapannya bertubrukan dengan sepasang bola mata sayu yang selalu kehilangan binar di balik kacamata itu. Gara hanya tersenyum tipis dan tak lama ia menggerakkan bibirnya untuk mengucapkan sesuatu.

“Semua ini gara-gara lo.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!