“Lo ….” Ucapan Gara menggantung ketika melihat tatapan gadis yang menabraknya itu. Ia tenggelam dalam tatapan yang begitu teduh dan hangat milik gadis itu. Gara tidak tahu siapa gadis yang berdiri di hadapannya saat ini. Baru kali ini ia melihatnya. Namun, detik berikutnya Gara sadar dari keterpakuannya pada sepasang bola mata bulat itu. Indah sekali dengan irisnya yang begitu pekat. Gara kini kembali menatap gadis itu dengan tatapan yang sangat tajam.
“Maaf, gue nggak sengaja,” ucap gadis itu dengan tulus seraya menundukkan kepalanya. Ini memang salahnya karena tidak hati-hati dan terlalu tergesa-gesa agar segera tiba di kelasnya.
Gara tersenyum meremehkan. “Enteng banget lo bilang maaf.” Gara meraih dagu gadis itu dan mengangkatnya hingga tatapan mereka kembali bertubrukan satu sama lain. Namun, Gara dibuat tertegun oleh perlakuan gadis itu yang langsung menepis tangan Gara. Baru kali ini ada gadis yang berani melakukan hal seperti itu padanya.
“Lo kira lo siapa berani-beraninya nyentuh gue?” tanya gadis itu tanpa merasa takut sedikit pun. Ia bahkan dengan sangat berani membalas tatapan Gara yang kini sedang murka.
“Lo nggak tahu gue siapa?”
“Nggak. Dan gue juga nggak harus tahu tentang lo,” balas gadis itu teramat santai.
Terdengar aneh jika ada yang mengatakan tidak tahu siapa Gara. Sebab, di SMA Rajawali, siapa yang tak mengenal sosok tengil Sagara Casildo Xander yang pesonanya sudah tidak diragukan lagi? Dan baru kali ini, Gara mendengar siswi SMA Rajawali tidak tahu siapa dirinya.
Hansiel, Evano, dan Mazeen hanya bisa menahan tawa mereka menyaksikan apa yang terjadi di hadapan mereka kini. Ya, meskipun bohong juga jika mereka tak mengatakan kaget mendengar jawaban dan melihat gadis itu yang dengan berani melawan Gara. Pasalnya, tak ada satupun manusia berjenis kelamin perempuan yang berani menghadapi Gara.
“Dan lo tahu apa yang sudah lakukan tadi?”
Gadis itu menganggukkan kepala pasti. “Dan gue sudah katakan kalau gue nggak sengaja. Gue juga sudah minta maaf sama lo.”
Gara menurunkan pandangan dan melihat name tag gadis itu. Ia tersenyum tipis. Nyaris tak terlihat. “Seren Flora Eden,” ucap Gara menyebut nama gadis itu. “Lo kira cukup hanya dengan minta maaf?” Gara menunjukkan evil smirknya. Ia kemudian mendekatkan wajahnya dengan gadis yang kerapkali disapa Flora itu. Flora refleks mundur. Namun, ditahan oleh tangan kekar Gara. “Nggak semudah itu.”
Gara lantas mendorong pelan tubuh Flora. Ia berjalan memutari Flora dengan langkah pelan. “Pertama, lo sudah nabrak gue. Kedua, lo sudah mengotori seragam gua. Jadi, lo harus bertanggung jawab atas kedua hal itu.”
Flora masih memilih diam. Ia masih menunggu Gara untuk melanjutkan kalimatnya.
“Sebagai bentuk tanggung jawab lo, lo harus ngikutin apa pun yang gue perintahkan sama lo selama satu bulan.”
“Pertama, gue nggak sengaja. Kedua, baju lo cuma kotor dan bisa dicuci. Jadi, lo nggak perlu berlebihan seperti itu,” balas Flora yang merasa Gara sudah sangat berlebihan. Padahal, ini hanya perkara sepele saja. Namun, Gara justru membesar-besarkan masalahnya. Bodohnya juga tiga teman yang berada di belakang Gara hanya menonton dan tak berkutik. Flora rasanya ingin mengumpat mereka bertiga. Namun, Flora masih sadar diri. Ia hanya seorang gadis. Bisa-bisa keempat manusia itu akan mengeroyoknya jika ia bertingkah. Ah, tidak. Flora tidak ingin mendapatkan masalah di minggu pertamanya menginjakkan kaki di SMA Rajawali.
Kali ini rahang Gara mengeras. Gadis itu benar-benar sudah memancing emosinya.
“Atau gue juga bisa beliin seragam basket yang baru buat lo kalau memang lo keberatan,” sambung Flora.
Gara tertawa sinis. “Gue nggak butuh dibeliin sama lo. Orang tua gue kaya. Mereka masih bisa beliin seragam baru buat gue,” balas Gara. Padahal, tidak semudah itu juga. Meskipun ia tidak pernah kekurangan uang sebab sejahat apa pun Edward, pria itu tetap memberikan jatah bulanan Gara yang sebenarnya sangat lebih dari cukup.
“Kalau begitu, tinggal lo minta saja sama orang tua lo. Bukan malah membesar masalah sepele.”
Gara tidak bisa menahan emosinya. Ia langsung menyentuh kedua pundak Flora dengan kuat. Lalu, ia menatap gadis itu dengan lekat. “Gue mau lo ngikutin perintah gue selama satu bulan. Kalau nggak, jangan harap lo bisa hidup tenang di sekolah ini,” ucap Gara dengan tegas dan penuh ancaman.
Flora. Gadis itu terdiam. Bukan karena takut akan ucapan Gara. Namun, karena sepasang bola mata milik Gara yang menatapnya itu. Meskipun wajah Gara sudah merah padam yang Flora yakini sedang menahan amarah, tetapi tidak dengan sorot mata laki-laki itu. Tatapannya sendu dan sayu. Ada luka yang terpancar dari sorot mata Gara. Itu yang bisa Flora tangkap meski hanya bertatap hanya dalam hitungan detik.
Gara melepaskan pegangannya di pundak Flora. Lalu, ia menyilangkan tangan di depan dada. “Dan ingat, lo nggak akan bisa lepas dari gue sebelum lo menjalankan apa yang gue minta,” tegas Gara pada Flora yang hanya terdiam. Ia tidak tahu apa arti diamnya gadis itu. Takut? Tentu saja tidak. Sebab, Flora baginya adalah gadis paling berani seantero SMA Rajawali. Juga satu-satunya siswi di sekolah itu yang tampak tidak tertarik sama sekali padanya. Terlalu aneh bagi Gara.
Setelah berucap, Gara dan ketiga temannya berlalu meninggalkan Flora yang masih terpaku. Entah kenapa Flora merasa penasaran pada sosok Gara. Apa yang ditunjukkan laki-laki itu begitu kontras dengan sorot matanya.
¶¶¶
“Lho, katanya mau beli minum ke kantin. Balik-balik kok tangan kosong?” Sora menatap Flora dengan tatapan menginterogasi. Namun, yang ditatapnya hanya diam dan langsung mendaratkan bokongnya di kursi. “Lo kenapa? Lo baik-baik saja?” Sora mulai khawatir melihat sikap Flora. Meskipun belum sampai satu pekan ia mengenal Flora, Sora merasa sangat cocok berteman dengan gadis itu. Tak hanya manis, Flora juga sangat baik dan tak pandang bulu untuk berteman. Flora juga sangat ramah dan murah senyum. Bagi Sora, Flora seperti matahari yang bisa menyinari kegelapan. Bisa memberikan cahaya bagi suasana yang gelap.
“Gue nggak tahu siapa itu Gara. Tapi, gue ngerasa gue sedang dalam masalah,” jawab Flora dan menatap lawan bicaranya.
Pupil mata Sora melebar mendengar nama yang disebutkan Flora. “Gara? Lo nggak tahu siapa Gara?” tanya Sora heran.
Flora menganggukkan kepala.
Sora menepuk pelan keningnya. “Gara itu si kapten basket lho, Flo. Dia itu most wanted di sekolah ini. Yakin lo nggak tahu?”
“Nggak. Gue anak baru di sini. Lagian, nggak penting juga buat gue tahu siapa Gara,” balas Flora. Padahal, setelah melihat sorot mata Gara tadi, Flora sudah mulai penasaran tentang sosok Gara yang sebenarnya. Ingat! Gara yang sebenarnya, bukan Gara si most wanted di SMA Rajawali.
“Terus, lo dalam masalah maksudnya bagaimana, Flo?”
Flora memangku dagu dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja. Lalu, gadis berambut hitam yang dikuncir satu itu mulai menceritakan apa yang terjadi sebelumnya tanpa tertinggal sedikit pun. “Padahal, gue nggak sengaja, Ra. Tapi, si Gara ngotot banget mint ague jadi budak dia selama satu bulan. Rasanya gue sial banget harus ketemu tuh cowok,” ujar Flora menutup ceritanya tentang apa yang menimpanya hari ini.
Alih-alih merasa kasihan pada Flora. Sora justru memekik girang. “Oh, Seren Flora Eden! Beruntung banget sih lo bisa dekat dengan Gara tanpa menjatuhkan harga diri lo jadi cewek.” Sora menangkup wajah Flora dan menatap gadis itu dengan tatapan berbinar. “Lo satu-satunya cewek paling beruntung di sekolah ini, Flo. Lo satu-satunya cewek yang diminta Gara seperti itu. Biasanya dia bakalan balas dendam dan bikin orang lain malu kalau bikin kesalahan sama dia,” tutur Sora selanjutnya.
Flora menepis tangan Sora dari wajahnya. “Apaan sih lo? Beruntung dari mananya coba? Gue mau dibikin jadi budak sama dia tau, nggak.” Flora kesal pada Sora. Bisa-bisanya gadis itu begitu girang melihat Flora yang pastinya akan bermasalah hidupnya tiap hari dibuat oleh Gara. “Lo mau tukar posisi, nggak, sama gue? Nggak apa-apa deh tiap hari gue traktir lo makan di kantin.”
Sora memutar bola matanya malas. Flora memang secepat itu mengenal karakternya yang suka sekali makan gratis. Namun, perihal Gara, meski Sora termasuk salah satu cewek yang sering meneriakkan nama laki-laki itu. Untuk menggantikan posisi Flora, ia tidak akan pernah ingin. “Kalau gue gantiin lo. Belum tentu ceritanya bakalan sama, Flo.”
“Terus?”
“Ya mau nggak mau lo harus ikutin permainannya Gara. Dari pada hidup lo dibikin nggak tenang.”
Aish! Benar-benar menyebalkan. Kenapa Ferdinand—ayah Flora—harus memindahkan Flora ke SMA Rajawali? Padahal, masih banyak sekolah lain yang bisa dijadikan tempat menimba ilmu. Jika sudah begini, bukannya Flora bisa tenang belajar. Ia justru akan dihantui oleh bayang-bayang Gara. Bodohnya Flora, ia tidak sempat membuat perjanjian dengan laki-laki itu agar tidak mengganggunya saat belajar. Ya, Gara adalah siswa nakal yang sering membolos. Bagaimana jika nanti Gara memintanya ikut? Bisa-bisa Flora dikubur hidup-hidup oleh Ferdinand. Oh, tidak! Kenapa ia harus dipertemukan dengan laki-laki sejenis Gara? Flora merasa frustrasi. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang selain mengikuti alur cerita yang dibuat oleh bocah tengil, tetapi most wanted itu.
“Gue ngerasa kayak bokap gue ngejebak gue di lubang buaya tahu, nggak, sih?” ucap Flora dengan nada lemas. Mungkin hari ini adalah hari terakhir ia menjadi pelajar yang normal. Besok sampai satu bulan ke depan, ia merangkap menjadi babu Gara. Dan itu tidak pernah Flora bayangkan sebelumnya. Bahkan, membayangkan bertemu dengan Gara saja tidak pernah. Namun, memang takdir tidak bisa ditebak.
Sora tertawa. Ia kemudian merangkul pundak Flora. “Jangan kayak gitu. Nanti lama-lama lo biasa sama si Gara. Terus lo jadi cinta benaran.”
“Sora Freesia, please deh. Ini dunia nyata. Bukan novel bucin yang sering lo baca.”
“Ya siapa tahu ‘kan, Flo,” balas Sora. “Lagian nih, lo kan cantik. Si Gara ganteng. Gue rela deh lepasin si Gara buat lo.” Sora tidak sedang membual. Jika Gara dan Flora bersama, mereka bisa dinobatkan jadi best couple. Sora yakin itu.
“Aish! Makin ngawur saja ucapan lo,” kesal Sadina. Lalu, bangkit dan beranjak dari ruang kelasnya.
“Mau ke mana?” tanya Sora.
“Mau cari tempat biar waras!” balas Flora dengan suara yang naik beberapa oktaf. Tak peduli jika suaranya akan mengganggu siswi lain yang masih tersisa di dalam kelas.
Sora tertawa keras mendengar jawaban Flora. Ia kemudian menyusul gadis itu dengan cepat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 46 Episodes
Comments