Ma, ayo kembali!

Langkah Mbok Fiah terhenti ketika tak sengaja pandangan jatuh ke luar rumah. Ia melihat bak sampah yang tutupnya masih terbuka. Wanita paruh baya itu mendengus kesal seraya menyeret langkahnya ke luar. Ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru untuk mencari siapa dalang di balik tempat sampah yang tak tertutup itu. Namun, yang ia temukan hanya sepi. Mbok Fiah menghela napas kasar dan hendak menutup benda tersebut meski tak ada bau yang tercium dari sana. Namun, gerakannya terhenti ketika melihat benda bundar berwarna keemasan di dalam sana. Tanpa berpikir panjang, Mbok Fiah meraih benda itu dan menatapnya dengan lekat. Berbekal ilmu membaca yang masih ia miliki meski hanya mampu menyelesaikan pendidikan sampai sekolah dasar, Mbok Fiah membaca deretan huruf melingkar yang mengikuti bentuk benda tersebut.

"Punya siapa, ya?" Mbok Fiah bertanya-tanya sendiri. Ia kemudian menurunkan pandangan lagi ke dalam bak sampah. Ia melihat gumpalan kertas di dalam sana. Lalu, meraihnya dan membukanya. Mbok Fiah mengernyitkan keningnya ketika membaca nama sang tuan muda di sana. "Ini kan punyanya Mas Gara. Kenapa ada di sini?" tanya Mbok Fiah lagi pada angin sore yang menjadi temannya menyaksikan penemuan benda-benda di bak sampah itu. Ia kemudian masuk dan berniat untuk mengembalikan barang itu pada tuannya. Namun, langkahnya terhenti mendengar seruan sang tuan besar.

"Mbok!"

Mbok Fiah menoleh ke belakang. "Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita paruh baya itu dengan sopan.

"Itu mau dibawa ke mana, Mbok?" tanya Edward seraya menunjuk benda di tangan pembantunya itu.

"Oh, ini punyanya Mas Gara, Pak. Saya mau kembalikan ke Mas Gara. Tadi saya temuin ini di bak sampah depan," terang Mbok Fiah.

"Buang saja, Mbok. Toh tadi saya lihat dia sendiri kok yang membuang barangnya," titah Edward. Ia tidak mengarang. Memang ia melihat sendiri bagaimana putra bungsunya meremas sertifikat dan membuat medalinya itu ke tempat sampah di teras depan. Namun, yang tidak Edward ketahui adalah alasan si bungsu membuang benda-benda yang sudah didapatkan berkat kerja kerasnya. Ah, sudahlah. Memikirkan Gara hanya akan membuat emosinya memuncak saja. "Dia nggak butuh barang itu, Mbok." Edward berlalu setelah itu.

Mbok Fiah tertegun. Benarkah? Namun, kenapa Gara justru berusaha keras?

Mbok Fiah rupanya tak mengindahkan ucapan sang tuan. Ia membawa langkah kakinya meniti anak tangga satu per satu untuk menuju kamar si bungsu. Namun, lagi-lagi langkah Mbok Fiah terhenti ketika mendengar suara pintu kamar yang tak jauh dari pijakannya terbuka. Ia melihat sosok laki-laki dengan tubuh kurus itu ke berdiri di ambang pintu. Mbok Fiah yang sangat tahu kondisi putra sulung dari pasangan Edward dan Olivia itu lantas mendekat. "Mas Chan mau ke mana? Ada yang bisa Mbok bantu, nggak?"

Chan menggelengkan kepala. Lalu, mengulum senyum di balik bibir tipis yang selalu terlihat tanpa rona itu. "Chan cuma bosan di kamar, Mbok," balas Chan. Perhatiannya kemudian ditarik paksa oleh benda di tangan sang pembantu. "Mbok, itu apa?" tanya Chan penasaran.

Mbok Fiah menatap sejenak benda di tangannya. "Oh, ini punyanya Mas Gara, Mbok temuin di tempat sampah depan, Mas. Kata Bapak, memang sengaja dibuang sama Mas Gara. Tapi, ...." Mbok Fiah menggantung ucapannya. Ia ragu untuk mengatakan tentang keraguannya pada sang tuan. Ia takut jika Chan akan merasa tersinggung.

"Ada yang Papa bilang sama Mbok?" tanya Chan yang mulai penasaran. Kening laki-laki itu mengkerut dalam.

"Hm, kata Bapak, Mas Gara nggak butuh lagi makanya dibuang di tempat sampah," terang Mbok Fiah.

Kini Chan bisa membaca apa yang terjadi. "Kasih ke Chan saja, Mbok. Biar Chan yang kasih ke Gara nanti."

Mbok Fiah memberikan dua benda yang ia temukan di tempat sampah itu pada Chan. Hanya pada Chan, wanita paruh baya itu percaya tentang kasih sayang yang tulus pada Gara. Pada Edward dan Olivia, Mbok Fiah tak mempercayai itu.

"Terima kasih, ya, Mbok," ucap Chan dengan sopan. "Chan masuk dulu."

Mbok Fiah mengangguk dan membiarkan Chan kembali ke kamarnya. Padahal, baru saja laki-laki pemilik tubuh ringkih itu mengatakan bosan di kamar. Namun, sekarang Chan sudah memilih untuk masuk kembali.

Chan mendaratkan bokongnya di bibir tempat tidur. Ia menatap dua benda yang kini sudah berada di tangannya dengan tatapan lekat dari sepasang bola mata sayu di balik kacamata full frame itu. Senyum Chan mengembang. Adiknya memang pintar dan berbakat. Tak hanya dari bidang akademik saja. Di bidang non-akademik pun Gara juga tak perlu diragukan lagi. Sayang, hal itu tak mendapatkan pengakuan lagi dari Edward dan Olivia.

Apa yang ada di dalam genggaman tangannya kini adalah salah satu bukti bahwa Gara memang anak yang membanggakan keluarga. Namun, kesalahan yang tak pernah dilakukan, tetapi tetap melekat di kepala orang tuanya bahwa itu sebuah kesalahan fatal membuat apa yang dilakukan Gara tak terlihat. Usahanya yang keras menjadi juara kelas. Latihannya yang ketat untuk menjadi bintang lapangan. Juga usahanya menjadi adik yang sempurna. Chan melihat itu dengan jelas. Namun, bukan pengakuannya yang dibutuhkan Gara. Bukan sama sekali.

Chan mengingat ucapan Mbok Fiah bahwa medali dan sertifikat itu dibuah oleh Gara. Begitulah cerita yang didapatkan dari Edward. Itu artinya Edward sudah mengetahui tentang pencapaian Gara ini.

Chan bangkit. Ia bergerak ke luar dan turun menuju kamar orang tuanya yang ada di lantai dasar. Namun, sebelum ia tiba di kamar itu. Chan melihat atensi sang ibu berjalan menuju dapur. "Mama!" seru Chan dan berhasil menghentikan langkah kaki Olivia. Wanita itu menoleh.

"Kenapa, Sayang?" Olivia menyentuh punggung Chan dan mengelusnya dengan lembut ketika ia menangkap napas anak sulungnya terlihat berat. Ia tahu kenapa Chan seperti ini. Karena, anak itu yang menuruni tangga dengan cepat pastinya. Sebab itulah, ia dan Edward menawarkan pada Chan untuk pindah kamar saja ke bawah. Namun, ditolak begitu saja oleh Chan.

Chan mengatur napasnya sebelum angkat suara. "Huh!" Chan mengembuskan napas. "Ma, ini medali Adek. Mama tahu nggak kalau Adek juara lagi?" Chan berbicara dengan nada bangga. Lagi pula, kakak mana yang tidak bangga memiliki adik yang pintar dan bisa mengharumkan nama sekolah.

Olivia terdiam. Sebelumnya, ia sudah melihat benda yang disodorkan Chan padanya. Namun, tak ia pedulikan sama sekali. Ia meraih benda itu kemudian. Alasannya jelas bukan karena Gara. Namun, karena ia tidak ingin membuat Chan kepikiran dan akan membuat kondisi putra sulungnya menurun. Itulah yang memaksa Olivia.

Wanita itu mengulum senyum paksanya. "Oh, ini punya Gara, ya?"

"Iya, Ma. Adek hebat, ya, Ma, bisa meraih juara satu. Abang bangga deh sama Adek," ucap Gara dengan tatapan berbinarnya. "Andai saja Abang bisa kayak Adek, ya, Ma." Suara itu terdengar lirih. Berbeda dari sebelumnya.

"Abang juga hebat kok. Abang adalah pejuang yang tangguh. Kalau Abang nggak hebat, Abang nggak bakal bisa tumbuh menjadi laki-laki yang selalu menjadi alasan Papa dan Mama berjuang," terang Olivia. Ia merangkul tubuh kurus Chan dengan hangat. Ia mengangkat kepala untuk kemudian bisa menatap wajah pucat itu, sebab Chan yang tinggi sudah melampaui tinggi sang ibu.

"Bang," panggil Olivia. "Berhenti menganggap dirimu lemah, Sayang. Di mata Papa dan Mama, Abang adalah anak hebat dan kuat," sambung Olivia yang kini paham maksud aura yang terpancar di wajah si sulung.

Chan tidak ingin terjebak dalam drama melankolis. Tujuannya menemui sang ibu adalah untuk memberikan bukti tentang kehebatan adiknya. Dan ia sudah melakukannya. Benda itu sudah berada di tangan sang ibu. "Ma, itu medali Adek Mama simpan, ya," ujarnya yang hanya dibalas senyuman tipis Olivia. Entah artinya iya atau tidak. Susah membaca dan mengartikan ekspresi yang ditunjukkan ibunya. Ya, ibunya kepalang pandai berpura-pura di hadapannya.

"Ma, boleh Abang minta sesuatu sama Mama?"

Berbeda dengan Gara. Jika Chan yang meminta sesuatu, tak perlu bagi Olivia berpikir lama untuk mengiyakan permintaan putranya. Begitu juga dengan Edward. Semua hal selalu diperlakukan berbeda di antara Chan dan Gara.

"Boleh, Sayang."

"Kembali, Ma. Kembali seperti dulu. Kembali menjadi sosok Mama yang hangat dan pengertian untuk Adek. Dia butuh itu, Ma," pinta Chan dengan nada memelas. Ia kasihan melihat Gara. Kasih sayang yang dulu didapatkan kini telah sirna. Berganti menjadi benci dan berakhir dengan caci maki. Bahkan, tak ayal diakhiri dengan penyiksaan diri. Chan tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya berada di posisi Gara. Dan ia tak punya daya untuk menolong.

Sejenak Olivia hanya memilih diam. Hingga sentuhan lembut di punggung tangannya berhasil menyentaknya kembali. Ia menatap sepasang mata sayu di balik kacamata itu.

"Adek nggak butuh uang, Ma. Adek butuh pengakuan. Papa dan Mama nggak pernah tahu 'kan bagaimana perjuangan Adek untuk menjadi seperti apa yang Papa Mama inginkan?" Chan menatap lekat ibunya. "Kita nggak pernah tahu sampai sejauh mana kemampuan Adek bertahan dengan situasi seperti ini. Jadi, sebelum terlambat. Ayo, Ma, kembalilah."

Olivia hanya bisa membuang pandang. Ia tidak tega melihat tatapan penuh permohonan putra sulungnya. Ia adalah seorang ibu. Nalurinya tak bisa berbohong bahwa rasa sayangnya pada Chan dan Gara itu sama. Namun, egonya yang berdiri kokoh tak bisa mengalahkan nalurinya sebagai seorang ibu. Egonya melahirkan benci yang membuncah dan menutup mata hatinya. Melihat Gara sama seperti mengungkit kembali ingatannya akan kejadian dua tahun di lapangan basket di halaman depan. Sungguh! Jika benar saat itu Chan kehilangan nyawa. Mungkin Gara juga tidak akan ada sampai detik ini. Sebab, nyawa akan dibalas nyawa.

"Nanti jika Abang pergi. Hanya Adek yang Papa dan Mama punya. Lalu, apakah saat itu Adek masih seperti sekarang? Menjadi pengemis kasih sayang dan pengakuan orang tuanya sendiri." Tegas Chan berkata. "Sebelum itu terjadi dan membuat Mama menyesal. Sadarlah, Ma."

"Nggak akan ada yang membiarkan Abang pergi. Abang akan tetap di sini sama Mama."

"Who know's? Siapa yang tahu Abang akan sampai kapan bertahan di sini?" Chan berkata lirih. Ia juga tak ingin pergi sampai bisa memastikan adiknya bahagia. Kalaupun sewaktu-waktu ia terpanggil menghadap penciptanya, dari atas langit ia akan mengirimkan do'a agar ayah dan ibunya memberikan apa yang menjadi hak Gara. Kasih sayang yang hilang kembali. Lalu, Gara memiliki alasan untuk menjadi sempurna dengan sesungguhnya.

Olivia terdiam. Ia menatap tajam putranya. "Jangan bicara ngawur, Chandra Callisto."

Chan membungkam. Ibunya terlihat sangat marah. Terdengar dari wanita itu yang menyebut namanya.

"Kembali ke kamarmu sekarang. Istirahat," ucap Olivia terdengar seperti mengultimatum.

Chan kalah. Kalah. Tak mampu berkutik lagi. Ia gagal. Gagal membawa ibunya kembali.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!