Mencoba Dekat

Gara pulang lebih pagi dari sebelumnya. Jam baru menunjukkan pukul delapan malam. Dan Gara sadari jam segini pasti kedua orang tua dan kakaknya tengah menghabiskan waktu. Lalu, ia akan melihat pemandangan itu dengan mata kepalanya sendiri sebab mau tak mau ia harus melewati satu ruangan yang selalu digunakan mereka untuk saling bercengkrama. Namun, diam di luar dengan embusan angin yang terasa dingin juga bukanlah pilihan yang tepat untuk Gara pilih. Gara sekarang berada di posisi dilema. Masuk atau tidak?

Setelah beberapa saat mengajak otaknya berpikir. Gara memilih untuk membuka pintu utama untuk masuk. Persetan dengan pemandangan yang akan membuat hatinya iri dan hancur itu. Lagi pula, ia sudah cukup terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Ia sudah tahu betul bagaimana cara meredam rasa sakitnya nanti. Merokok atau tidur dengan paksaan obat tidurnya. Ya, dua hal itu yang bisa Gara lakukan untuk lebih cepat mengurangi rasa sakit di batinnya dan menenangkan pikirannya.

Gara tak ragu lagi melangkahkan kakinya. Dan tepat sesuai dugaan, di ruang keluarga sudah ada Edward, Olivia, dan Chan di sana. Tawa renyah mereka memekakkan teling Gara dan sukses membuat amarah Gara memuncak. Rasanya ia ingin meneriaki tiga manusia itu karena sudah mengganggu ketenangannya. Tenang? Gara salah bicara. Ia tidak pernah merasa tenang setelah hari itu. Dan ia sudah kehilangan segalanya.

“Itu Adek, ya, Ma?” tanya Chan yang menyadari kedua orang tuanya langsung menghentikan tawa mereka. Ia tidak bisa melihat dengan jelas adiknya yang kini entah berada di mana. Lalu, dengan cepat Chan meraih kacamata yang sempat ia buka karena merasa lelah dan ia letakkan di atas meja. Lalu, memakai benda tersebut untuk kemudian membuat pandangannya tak lagi buram. Namun, yang Chan tangkap adalah Gara yang sudah berlalu. Ia menghela napas panjang. Pasti Gara merasa tidak enak sekarang melihat apa yang ia lakukan bersama ayah dan ibunya. Chan menunduk dalam. Ia merasa bersalah. “Adek pasti belum makan malam.”

“Sudahlah, Bang, jangan dipikirin,” ucap Olivia. Ia tahu apa yang dirasakan anak sulungnya itu. Sebab, Chan sering sekali menceritakan tentang perasaannya yang selalu gagal menjadi seorang kakak bagi Gara. Cerita-cerita yang mengalir dari bibir Chan kemudian berubah menjadi belati yang mengoyak ulu hati Olivia. Sejauh ini, rupanya sikapnya dan Edward sudah berhasil membuat bentangan yang sangat jauh di antara kedua putranya. Alih-alih berhasil membuat kedua putranya menjadi dekat seperti yang diharapkan. Chan dan Gara justru menjadi sepasang manusia asing yang tinggal di satu atap. Merasa bersalah? Tentu saja. Namun, rasa bersalahnya masih kalah oleh egonya. Di dalam pikiran Olivia, Gara selalu membawa kesialan dan membuat malu keluarganya.

“Tapi, Ma ….”

“Bang, Mama kamu benar. Jangan dipikirin. Nanti kamu malah drop lagi. Nanti kalau dia lapar, dia pasti makan sendiri. Gara kan bukan anak kecil,” sahut Papa memotong ucapan si sulung.

“Tapi, Pa, kalau Adek belum makan, bagaimana? Nanti Adek sakit.”

“Dia kan kuat, suka kelahi, nggak mungkin lah langsung sakit gara-gara nggak makan sekali.”

Chan hanya bisa menggelengkan kepala. Hati kedua orang tuanya sudah tertutup. “Papa sama Mama bisa nggak peduli. Tapi, Abang nggak bisa. Biar bagaimana pun, Gara adiknya Abang, Pa.” Chan langsung bangkit. Ia membawa langkah kakinya meninggalkan ruang keluarga untuk menyusul adiknya. Namun, langkah kaki Chan terhenti ketika ia dapati sang adik masih berdiri di balik dinding pembatas ruangan itu. “Adek.”

Gara menatap sebentar wajah kakaknya dengan tatapan berkaca-kaca. Lalu, ia tersenyum miring dan memundurkan tubuhnya secara perlahan. Setelah itu, Gara berlari dari hadapan kakaknya. Chan tak mau kalah. Meski, tubuhnya tak sekuat Gara. Ia terus berusaha.

Sebelum Chan sampai di depan pintu kamar Gara. Gara sudah lebih dulu menutup kasar pintu kamarnya yang sukses membuat Chan tersentak. Laki-laki dengan tubuh ringkih itu menyentuh dadanya yang berdetak kuat. Namun, sebisa mungkin ia abaikan rasa sakit itu. Ia mengetuk pintu kamar sang adik. “Dek, buka pintu, yuk. Abang mau bicara.”

Seperti biasa. Nihil. Tak ada tanggapan dari Gara.

Chan yang langsung kepikiran adiknya akan berbuat sesuatu yang menyakiti dirinya sendiri pun langsung bergegas menuju kamarnya. Ia mengambil kunci cadangan kamar sang adik yang selalu ia simpan rapi. Lalu, kembali dan membuka pintu kamar Gara.

Sepi. Itulah yang pertama kali Chan lihat. Tidak ada barang yang berserakan di lantai. Lalu, ke mana perginya Gara?

Beberapa saat menerka di mana keberadaan Gara. Chan melihat asap dari arah balkon kamar. Hal itu membuat Chan yakin bahwa adiknya ada di sana. Ia kemudian melangkahkan kaki ke arah balkon. Dan benar saja. Gara di sana dengan posisi duduk memeluk lutut dengan sebelah tangan. Sedang tangan lainnya ia gunakan untuk memegang sepuntung rokok yang sudah menyala.

“Ngapain lo ke sini? Nanti penyakit lo kambuh lagi, malah gue yang disalahin ibu bapak lo.” Gara sadar akan keberadaan kakaknya meski ia tak menoleh. Ia sempat mendengar pintu kamarnya terbuka dan ia yakin yang membukanya adalah Chan. Hanya kakaknya itu yang memiliki kunci cadangan kamarnya.

Ibu bapak lo? Tahu ‘kan kenapa Gara sampai mengatakan hal demikian? Tentu karena rasa sakit hati dan kecewanya pada kedua orang tuanya. Ia terlahir dari pasangan suami istri itu, tetapi keberadaannya malah tak dianggap.

“Dek, Adek nggak boleh bicara kayak gitu. Papa dan Mama orang tua kita,” ucap Chan. Ia mencoba mendekati Gara. Tak peduli jika asap rokok itu akan mengganggunya nanti.

Gara tertawa sinis. “Kita? Lo saja kali, Bang.”

“Dek, ….”

“Lo nggak perlu bicara lagi. Lo nggak bakalan paham bagaimana rasanya jadi gue.” Gara menoleh pada Chan yang sudah duduk di sampingnya. Memang Chan bodoh, laki-laki itu cari mati dengan duduk di samping Gara yang tengah merokok. Lalu, Gara segera membuat jarak agar Chan tak mengirup asap dari rokok yang tengah ia isap. Gara tidak ingin disalahkan lagi. Dan sebenci apa pun Gara pada Chan, jelas tidak akan mengubah takdirnya bahwa Chan adalah kakaknya. Hal itulah yang masih menjadikan Gara peduli pada Chan secara tak langsung.

“Memangnya Adek juga paham bagaimana rasanya jadi Abang?” Chan membuang pandang dan menatap kosong lurus ke depan. “Adek kira enak jadi Abang?” Chan terkekeh. “Nggak sama sekali, Dek.”

Gara terdiam. Ia menatap iba kakaknya.

“Abang harus berjuang melawan sakit yang nggak pernah kenal waktu untuk datang. Abang nggak bisa melakukan apa yang orang-orang lakukan. Bahkan, Abang nggak tahu tuh bagaimana rasanya dunia luar.”

Hening. Hanya deru angin malam yang terdengar.

“Adek. Adek bisa melakukan apa pun yang Adek inginkan tanpa takut sakit. Adek bisa menjadi siapa yang Adek inginkan. Adek bisa tidur dengan nyaman tanpa harus berpikir apakah besok akan bisa membuka mata lagi.” Chan menoleh pada adiknya. “Tapi, Abang nggak mau ngajak Adek tukaran posisi. Abang nggak mau Adek merasakan sakit yang Abang rasakan.”

Gara menghela napas panjang. Ia tidak boleh kasihan pada Chan. Lagi pula, jika terjadi apa-apa dengan kakaknya itu. Edward dan Olivia tentu akan bergerak cepat. Bagaimana dengan dirinya? Makan saja tidak pernah diingatkan.

“Jadi, maksud lo datang ke sini cuma buat curhat doang?”

Chan terdiam. Ia kira Gara akan berpikir setelah ini. Nyatanya, adiknya itu tak peduli.

“Lo salah orang sih kalau kata gue. Soalnya, gue bukan teman yang cocok untuk diajak curhat. Yah, orang gue saja nggak punya tempat buat cerita kok,” lanjut Gara dengan nada lirih. “Lo masih mending punya Papa Mama. Lah, gue? Formalitas saja punya orang tua.”

“Adek yang terlalu membentang jarak.”

“Gue? Lo yakin gue yang ngelakuin?” Nada suara Gara meninggi. “Kalau saja lo nggak nekat waktu itu. Kalau saja bokap nyokap lo bisa buka mata waktu itu, ini nggak bakalan terjadi, Bang. Mungkin hidup gue bakalan baik-baik saja kayak dulu. Tapi, ini semua gara-gara kalian. Bukan gara-gara Gara.”

Gara tidak ingin terpancing emosi. Ia ingin tenang sekarang. “Bang, mending lo ke luar deh dari kamar gue. Gue capek, Bang. Capek banget. Gue mau tenang.”

“Tapi, Dek ….”

“Gue mohon, Bang. Tinggalin gue sendiri,” pinta Gara dengan nada memelas.

Apa yang bisa dilakukan Chan selain mengiyakan permintaan adiknya. Ia terpaksa bangkit dan meninggalkan Gara. Namun, baru saja ia berdiri di dekat tempat tidur Gara. Sepasang indra pendengaran Chan menangkap suara isakan adiknya. Gara menangis lagi.

“Takdir gue kenapa seperti ini sih? Gue iri sama kehidupan teman-teman gue.”

Ketika Chan menoleh ke belakang. Ia mendapati Gara dengan wajah basahnya mendekat ke arah nakas tanpa menoleh padanya. Ia perhatikan adiknya itu dengan seksama. Hingga sepasang mata di balik kacamata tebal itu menangkap Gara mengambil sebuah botol dari laci. Obat? Obat apa yang dikonsumsi Gara?”

Chan dengan cepat bergerak dan mencegat tangan Gara yang sudah bersiap-siap memasukkan beberapa butir obat ke dalam mulutnya. “Obat apa ini?”

“Bukan urusan lo. Lepasin gue.”

“Abang tanya obat apa ini?” tegas Chan seraya menatap tajam adiknya.

Gara langsung ciut melihat tatapan sang kakak. Ia sebenarnya takut pada Chan jika kakaknya itu sudah marah seperti ini. Namun, ia tidak akan bisa tenang jika tidak mengonsumsi obat-obatan itu.

“Jawab, Sagara!”

“Obat penenang,” jawab Gara dengan santai lalu menepis tangan kurus Chan. Ia dengan cepat menelan obat-obatan itu tanpa bantuan air sedikit pun. “Hanya dengan obat ini gue bisa menikmati hidup gue,” ucap Gara dan langsung mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur.

Obat penenang? Sejak kapan adiknya itu mengonsumsi obat-obatan itu? Apakah selama ini adiknya mengalami tekanan mental yang lebih parah dari apa yang ia bayangkan selama ini? Jika memang demikian, sungguh kasihan adiknya. Chan menatap tubuh yang sudah terbaring di atas tempat tidur itu. Kini, ia hanya melihat wajah damai Gara yang sudah tenggelam dalam pejam. Secepat itu Gara tertidur.

Chan memperbaiki posisi tidur adiknya. Ia menyeka sisa air mata Gara yang tadinya membanjiri pipi anak itu. Lalu, ia mencium kening Gara dengan sangat lembut. “Maafkan Abang, ya, Dek, nggak bisa jadi kakak yang baik buat Adek. Tapi, Abang janji akan berusaha mengembalikan sikap Papa dan Mama sama Adek.”

Chan menyelimuti tubuh Gara hingga sebatas dada. Sejenak ia menatap wajah adiknya sekali lagi sebelum benar-benar meninggalkan kamar Gara. “Abang sayang Adek. Kembalilah seperti dulu, Dek. Abang rindu.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!